
Tepat pukul delapan malam Alvi dan Melliza sedang makan malam di restoran mewah, Melliza merasa suasana malam ini sungguh sangat romantis ditengah meja terdapat beberapa lilin dan juga bunga mawar merah serta deruan suara ombak yang membuat kesan dinner ini semakin romantis dan memberikan ketenangan.
Dari pertama datang sampai setelah menghabiskan makanannya, Melliza terus menatap dan memperhatikan suasana sekitarnya. Dia tidak tau jika restoran ini telah dibooking oleh kekasihnya.
"Aku perhatiin dari tadi kamu nengok kanan kiri terus, kenapa?" tanya Alvi heran dengan tingkah kekasihnya.
"Um.. Ga kenapa-kenapa sih. Cuman aneh aja, restoran ini makanannya enak suasananya romantis ginih masa pelanggannya kita doang" ucap Melliza polos.
Melihat respon kekasihnya yang tertawa malah membuat Melliza menjadi bingung. "Kamu kenapa ko malah ketawa?" Tanya Melliza.
"Ya kamu sih lucu" balas Alvi tersenyum manis.
"Iyaa udah tau ko kalau aku itu cantik, lucu, pinter lagi. Paket komplit kan?" tanyanya.
"Hmm iya" ucap Alvi malas.
"Tapi sayang ga bisa bedain mana restoran yang udah dibooking sama yang ga laku" ucap Alvi santai.
Melliza terkejut dia tak berpikir jika Alvi telah membooking restoran mewah ini hanya untuk mereka berdua. Pikun, Melliza lupa jika kekasihnya ini pria kaya. Sehingga dapat dengan mudah bagi Alvi untuk membooking restoran ini.
"Kenapa harus dibooking segala?" tanya Melliza polos.
"Aku ga mau ada yang ganggu kita, lagian kita juga jarang kaya gini kan? Apa salahnya kalau kita kaya ginih" Ucap Alvi mencium punggung tangan Melliza.
"Kamu cantik banget deh Syaa" ucap Alvi setelah melepaskan ciumannya pada punggung tangan Melliza.
Mendengar itu lagi membuat Melliza merasa senang, namun dia mencoba menahan senyumnya karena malu sedari tadi Alvi terus mengatakan itu dan terus menatapnya intens.
Sementara itu Tania dan Andre memilih berjalan-jalan menelusuri kota Bali di malam hari, mereka sengaja tak ikut bergabung dengan Melliza dan Alvi karena tak ingin mengganggu, cukup meresa mengekori pasangan itu dikantor saja.
Lagian jika Andre ingin ikut bergabung pun pasti Alvi akan melarang dan marah kepadanya karena telah mengganggu momen romantisnya. Andre tau diri, dengan ikut pergi ke Bali bersama Tania gratis pun dia sudah sangat senang.
Sekarang Melliza dan Alvi sedang berjalan kaki menuju hotel, mereka tak perlu menaiki mobil karena restoran tadi berada di samping hotel tempat mereka menginap. Dan disepanjang jalan Alvi menanyakan perkembangan persiapan menjelang pernikahan.
Melliza menjelaskan kepada Alvi jika mereka hanya perlu melakukan foto prewedding besok lalu setelah itu surat undangan akan disebar oleh orang-orang suruhan Melliza. Mereka juga perlu melalukan feeting baju satu kali lagi. Setelah itu mereka tinggal menunggu hari H tiba.
Setelah sampai di hotel ternyata Tania dan juga Andre belum kembali, Alvi memilih menunggu mereka di sofa sambil menonton tv sedangkan Melliza pergi ke kamarnya karena dia akan melakukan rutinitas malam perempuan, yaitu membersihkan wajahnya dari sisa-sisa makeup sebelum nanti dia tertidur.
Belum juga selesai, pintu kamar terbuka dan ternyata itu adalah Tania yang sudah kembali pulang. Tania pun melangkahkan kakinya menuju Melliza.
"Gimana nih lancar kan dinner sama calon suami?" Tanya Tania sambil mengikuti aktivitas yang tengah Melliza lakukan di depan cermin yaitu menghapus makeup.
"Lancar dong, Ka Tania abis dari mana? Aku kira kakak udah ada di hotel" ucap Melliza.
"Jalan-jalan liat suasana Bali malam hari, rame banget deh Syaa. Ohya aku juga tadi beli ini loh, bagus ga?" ucap Tania sambil menunjukkan straw bag yang tadi dibelikan oleh Andre.
"Cute banget, ah aku mau Kak" rengek Melliza seperti anak kecil kepada Ibunya yang meminta dibelikan sesuatu.
"Tadi aku niatnya mau nelpon kamu Sya, ngasih tau takutnya kamu pengen tapi dilarang Andre, takut ganggu kalian katanya" ucap Tania jujur, karena sebenarnya dia berniat membelikan straw bag untuk Melliza, hanya saja gadis itu ingin memastikan model seperti apa yang Melliza suka karena banyak sekali model straw bag yang dijual disana.
"Yaudah ga apa-apa, besok kak Tania temenin aku ya beli yang seperti itu" ajak Melliza diangguki oleh Tania.
***
Pagi hari Melliza lebih dulu terbangun dari pada Tania. Bukannya karena rajin, tapi memang karena pagi ini ada meeting dengan Fotografer dan juga Fashionstylist mengenai foto prewedding yang akan mereka lakukan sore hari ini.
Setelah selesai mandi Melliza segera menelpon Alvi, tak mungkin dirinya mengetuk pintu kamar Alvi karena itu akan mengganggu tidurnya Andre juga. Setelah lima kali menelpon akhirnya panggilan itu dijawab oleh kekasihnya. Dia segera memberitahunya untuk segera bersiap karena Melliza tak ingin terus-terusan hanya dirinya dan Ibu Alvi yang mengurus konsep pernikahan mereka.
Mereka berdua pun kini sudah berada di restoran hotel tempat mereka menginap, katanya orang yang akan mereka temui itu akan sampai sekitar lima belas menit lagi jadi mereka berdua memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Tapi Alvi terus saja menggerutu kesal karena dia merasa masih mengantuk.
"Mana sih mereka lama?" kesal Alvi sambil memasukan sepotong buah kedalam mulutnya.
"Lima belas menit lagi nyampe ko" jawab Melliza.
"Aku kan masih ngantuk, lagian kan kata kamu udah di obrolin juga. Kenapa harus meeting lagi? Kamu aja sendiri ya, aku balik ke kamar" ucap Alvi yang malah membuat Melliza kesal dengan sikap Alvi yang acuh tak acuh pada persiapan pernikahan mereka.
"Sebenarnya yang mau nikah sama aku itu siapa sih? Kamu atau Mamah kamu? Aku itu nyoba ngertiin kamu ya, kamu beberapa kali aku ajak ga bisa. Aku ga masalah karena aku tau kamu sibuk, cape dan kamu juga tau aku pun sibuk. Tapi kali ini kita lagi nyantai ginih kamu tetep aja kaya gituh" Ucap Melliza dengan nada kesal dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kata-kata itulah yang sebenarnya sudah tersimpan lama dalam hati Melliza setiap kali Alvi menolak untuk mengurus persiapan pernikahan mereka. Alvi sebenarnya bukan tak peduli, dia hanya orang yang tidak suka ribet, Alvi memutuskan untuk tidak ikut campur dalam hal ini karena dia yakin walaupun dirinya ikut andil memilih, pasti Melliza dan Ibunya tak akan sesuai dengan keinginan Alvi.
Sekarang Melliza mulai merasa kesal, dia sekarang malah berpikir jika Alvi tak benar-benar ingin menikah dengannya, entahlah pikiran yang tadinya selalu positif kini malah menjadi buruk. Melliza berdiri mencoba pergi dari sana, namun Alvi segera menahan tangan Melliza dengan tangannya.
Tadinya Melliza akan mencoba menepis tangan itu, tapi dia melihat dua orang yang akan menghampiri mereka dan orang tersebut memanggil namanya. Alhasil Melliza pun mengurungkan niatnya dan menyapa kedua orang tersebut. Ya mereka adalah orang yang ditunggu Melliza dan akhirnya datang juga. Dia adalah Fotografer dan Fashion stylist mereka.
Melliza pun mencoba seolah-olah tidak ada hal yang terjadi diantara dirinya dan Alvi dengan memasang senyuman yang hangat pada mereka. Mereka pun mulai membahas konsep yang waktu itu telah disepakati dan mereka menyarankan juga untuk Melliza dan Alvi agar menyiapkan plan ke tiga untuk lokasi pantai yang beda karena dikhawatirnya mereka tidak dapat mengambil foto sunset yang indah.
"Aku terserah kalian saja Kak" ucap Alvi pada Fotografer.
Mendengar itu akhirnya Alvi memberikan plan ke tiga untuk pantai yang akan mereka kunjungi yaitu Pantai Jimbaran. Ya mereka memasukan tiga list pantai untuk pemotretan mereka yaitu pantai Kuta, Pandawa dan Jimbaran.
Setelah segala sesuatu yang perlu dikonfirmasi selesai, mereka berdua pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Melliza lebih dulu berjalan dan tangannya ditahan oleh tangan Alvi membuat dia melirik orang tersebut.
"Apa?" tanyanya ketus.
"Maaf, aku ga maksud gituh. Bukannya aku ga peduli, tapi aku tadi beneran ngantuk Sayang. Aku beneran pengen nikah sama kamu ko. Kamu jangan berpikir yang macam-macam. Aku tuh nyerahin semua ke kamu karena aku percaya kamu sama mamah bakalan ngadain pesta pernikahan kita dengan sangat bagus. Serius" ucap Alvi dengan mengacungkan kedua jarinya ✌ tingkahnya seperti anak kecil menggemaskan.
Melliza pun menatap kedua bola mata Alvi, mencari tau kebenaran disana. Tampaknya Alvi memang berkata jujur, tapi Melliza tidak akan memaafkannya begitu saja. Dia tau Alvi seperti laki-laki pada umumnya yang akan merasa malas, jenuh atau bosan ketika menemani kekasihnya berbelanja atau hanya sekedar cuci mata. Oleh karena itu Melliza akan meminta Alvi menemaninya berkeliling mencari sesuatu yang menurut matanya menarik.
"Maaf dong" rengek Alvi sambil meyatukan tepak tangannya, memohon.
"Aku maafin, tapi ada syaratnya" ucap Melliza.
"Iyaa apa aja, aku turutin ko asal jangan aneh-aneh ya sayang" jawabnya tersenyum.
"Temenin aku jalan-jalan ya, aku mau nyari tas kaya Kak Tania. Semalam dia beli itu, dan itu sangat cute" ucapnya.
Melliza dapat melihat wajah Alvi yang berubah menjadi sedikit cemberut dan tampak berpikir.
"Yaudah ga apa-apa kalau kamu ga mau. Aku bisa minta temenin sama Kak Tania" ucap Melliza sambil pergi.
"Mau sayang, aku temenin ya" ucap Alvi.
"Serius?" tanya Melliza dan diangguki oleh Alvi.
Akhirnya kini mereka berdua pun sedang berjalan menyusuri kota Bali, disepanjang jalan terdapat toko-toko dengan barang-barang yang sangat menarik didalamnya, itu semua dapat di lihat oleh kedua mata Melliza melalui kaca toko tersebut.
Akhirnya Melliza pun memasuki toko tersebut dan melihat-lihat barang yang terpajang disekitar sana sedangkan Alvi hanya mengekorinya. Sebagai perempuan melihat-lihat barang seperti ini membuat Melliza merasa senang.
Melliza masih sibuk mencari barang yang dia suka dan menarik menurutnya, sedangkan Alvi sudah menggerutu di dalam hati karena Melliza sangat santai melihat-melihat.
"Lama banget, padahal tinggal pilih aja. Ambil satu dari setiap barang ga usah pikir-pikir dulu" ucap Alvi dalam hati .
Akhirnya Melliza pun membeli beberapa barang yang ada di toko itu, langsung saja dia menuju kasir dan saat kasir tersebut mengucapkan jumlah nominal yang harus dibayar Melliza segera membuka tasnya untuk mengambil dompet. Tapi dia mengurungkan niatnya karena Alvi melarangnya, semua belanjaan yang Melliza beli akan dibayar oleh Alvi. Memang sudah biasa seperti itu jika pergi dengan Alvi, dia tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun. Wajar saja kekasihnya itu kan kaya.
Jangan lupa di like dan vote teman-teman ku Tolong.
Terimakasih💕