
Haiiii.... Apa kabar kalian sayangnya aku?
Semoga sehat terus yaa.
Maaf nih telat up hihii
Like sama Votenya dibanyakin lagi yaa biar cepet nih upnya. Duh nyuruh itu mulu? Like, Vote dan Komen amat sangat berarti untuk ku, itu semua kekuatan buat aku untuk tetap semangat lanjutin cerita.
Yaudah semoga suka ya sama eps kali ini.
Selamat Membaca✨
***
Setelah acara makan malam bersama selesai, mereka berdua pergi ke kamar untuk beristirahat. Melliza duduk diatas ranjang, kemudian Alvi merebahkan dirinya dan memposisikan kepalanya pada paha Melliza.
Kali ini ada yang ingin dia bahas, bukan tentang Melliza yang sempat ingin menunda kehamilannya. Karena Alvi memaklumi itu dan lagi Melliza pun sudah mengambil keputusan yang tepat jadi tidak perlu lagi bagi Alvi untuk mempermasalahkan hal tersebut.
Kali ini Alvi ingin membahas bulan madu mereka yang tertunda. Mereka sama sekali belum membahas tujuan honeymoon mereka. "Sayang, maaf ya kita belum bisa pergi honeymoon" ucap Alvi menatap dari bawah wajah Melliza.
"Iyaa ga masalah, lagian kan kita udah bahas soal ini. Aku mengerti ko sayang" ucap Melliza menunduk menatap suaminya dan mengelus wajah tampan itu.
"Kalau gituh nanti kamu mau kemana honeymoonnya?" tanya Alvi.
"Aku terserah kamu aja sayang" jawabnya.
"Jangan terserah aku gituh dong" ucap Alvi karena dia ingin mewujudkan semua keinginan istri cantiknya itu.
"Aku pengen ke Maldives deh terus ke Swiss, Paris, London, Itali banyak deh" ucap Melliza yang asal bunyi menyebut semuanya, kecuali Maldives dan Swiss.
"Oke nanti kita ke tempat yang barusan kamu sebutin" ucap Alvi tersenyum, Melliza hanya menaikan alisnya tak percaya dengan ucapan sang suami.
"Kenapa? Aku beneran, cuman kita ga bisa lama-lama karena aku kan harus kerja" ucapnya lirih.
Belum sempat Melliza menjawab ucapan Alvi, tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Alvi langsung berdiri dan membukanya. "Ada apa, Bi?" tanya Alvi pada pelayan yang sudah ada di depan pintu kamar mereka.
"Di panggil sama bapak den, disuruh kebawah sama non Melliza juga" ucapnya.
"Ohiyaa nanti kita ke bawah" ucap Alvi kemudian menutup kembali pintu kamar.
"Ada apa sayang?"tanya Melliza.
"Ga tau, kita disuruh kebawah sama Papah" ucap Alvi dan akhirnya mereka berdua menghampiri Putra dan Mitha yang sudah menunggu di ruang keluarga.
Kini mereka semua sudah duduk disofa, Alvi sendiri tidak tau ada hal apa yang ingin dibicarakan oleh Ayahnya.
"Mah, tolong ambilkan yang tadi" ucap Putra pada istrinya.
Alvi menatap Melliza lalu dibalas oleh senyuman dan anggukan agar Alvi segera membuka isi amplop tersebut. Saat dibuka isinya ternyata dua buah tiket pesawat tujuan Male, Maldives dengan layanan First Class.
Putra sengaja memberikan itu untuk hadiah pernikahan mereka. Tak hanya itu dia pun telah memesan resort dengan harga permalam yang fantastis. Resort senilai enam puluh tujuh juta permalam telah dia pesan untuk anaknya honeymoon selama empat hari.
Kedua mata Melliza sangat berbinar senang ketika melihat itu semua. Sungguh Maldives adalah tempat yang ingin dia kunjungi untuk destinasi bulan madunya. Alvi pun sama senangnya, karena akhirnya dia bisa pergi ke tempat yang istrinya ingin tuju.
"Papah ga tau, mungkin kalian punya tempat tujuan yang berbeda. Tapi Papah rasa Maldives sangat pas untuk bulan madu kalian" ucap Putra karena takut jika mereka tak suka dengan hadiah yang dia berikan.
"Makasih banyak Pah. Tentunya kita berdua suka" ucap Alvi yang diangguki dengan senyuman oleh Melliza.
"Iyaa Pah kita suka ko, terima kasih banyak ya Pah" ucap Melliza senang.
Kemudian Putra pun mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya. Amex Black Card sebuah kartu paling eksklusif yang dikeluarkan oleh salah satu Bank terbesar di AS. Konon kartu kredit tersebut hanya dimiliki oleh orang yang sangat kaya. Karena untuk memiliki kartu tersebut harus berpenghasilan satu juta dollar AS setiap tahunnya.
"Ini kalian pakai kartu kredit Papah, setelah dari Maldives mungkin kalian masih ada rencana untuk pergi ke negera lain. Kalian pakai saja ini" ucapnya memberikan itu pada Alvi.
"Tau aja Papah" ucap Alvi senang dalam hati.
Baru saja Alvi ingin menolaknya karena merasa jika dirinya sudah berkeluarga maka dia harus mandiri dan tidak boleh bergantung kepada orangtuanya seperti ini. Tapi seolah tau jika anaknya akan menolak dengan cepat Putra menyanggahnya.
"Ga ada penolakan, ini hadiah pernikahan kalian".
Alvi pun menerimanya. Sedangkan Melliza hanya terdiam berpikir jika kartu yang barusan dikeluarkan dan diberikan pada Alvi adalah kartu kredit khusus untuk orang-orang yang sangat kaya raya. Ini bahkan pertama kalinya Melliza melihat langsung kartu kredit tersebut.
"Mertua gue beneran kaya banget" gumamnya dalam hati merasa dirinya sangat jauh berbeda dengan Alvi.
Tapi untung saja walaupun keluarga Alvi sangat kaya raya tapi semua anggota keluarganya sangat baik dan rendah hati. Mereka tak pernah membahas atau membeda-bedakan status sosialnya.
Walaupun begitu dan keluarga Melliza sendiri berasal dari keluarga yang ada tapi tetap saja Melliza merasa jika dirinya masih jauh berbeda dari Alvi.
"Makasih banyak loh Pah" ucap Alvi.
"Ini semua ga gratis loh" ucap Putra yang membuat ketiga orang disana kaget dan bingung.
"Sebagai imbalannya, setelah pulang honeymoon kalian harus kasih Papah cucu" ucapnya yang seketika membuat mereka lega dan tertawa.
***
Sampai disitu dulu yaa..
Jangan lupa di LIKE, KOMEN, VOTE & SHARE.
MAKASIH LUVV 💛💛💛