
Keesokan harinya Melliza kini sedang sibuk memilih pakaian yang akan dikenakan nya, setelah mencoba beberapa pakaian akhirnya pilihan dia jatuh pada gaun putih yang sederhana dan sedikit terbuka tapi membuat Melliza terlihat sangat cantik dan pas untuk dia gunakan, selanjutnya Melliza mulai merias wajahnya dengan sedikit make up yang tetap natural dan membuat Melliza terlihat fresh.
Alvi sekarang sedang mengendarai mobilnya menuju apartement Melliza, hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit kini Alvi sudah sampai.
📞 "Lu dimana? cepatlah turun"
📞 "Baiklah tunggu sebentar"
Akhirnya Melliza pun keluar dari apartement nya, menemui Alvi dan langsung masuk ke dalam mobil.
Sedangkan Alvi hanya menatap Melliza, penampilannya membuat Alvi kagum dan membuat matanya selalu ingin memandangi wajah Melliza.
Melliza yang merasa tak nyaman dipandangi Alvi segera bertanya pada nya.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan penampilan ku?"
Alvi langsung mengalihkan pandangannya, karena kaget atas pertanyaan dari Melliza.
"Lain kali lu ga usah pake baju seksi gituh, kecuali kalau lu niat buat ngegoda cowo tajir, kaya cewe lain di luar sana" kata Alvi ketus.
Alvi berbicara seperti itu karena dia kikuk dengan pertanyaan Melliza, sebenarnya Alvi sangat menyukai penampilan Melliza, hanya saja Alvi tidak ingin Melliza menjadi sorotan para pria di luar sana.
Tapi perkataan Alvi itu membuat Melliza tersinggung dan hati nya merasa sakit, dengan nada lirih Melliza mencoba merubah pandangan Alvi terhadap dirinya.
"Maaf tapi saya ga seperti yang anda pikirkan, lain kali berpikir dulu sebelum berbicara" kata Melliza dengan menatap Alvi
Alvi melihat mata Melliza mulai berkaca kaca dengan suara lirih,membuat diri nya sadar akan apa yang telah dia ucapkan menyakiti hati Melliza. Namun kesadarannya itu tidak membuat Alvi berani mengucapkan kata maaf pada Melliza, sehingga dia hanya terdiam dan sesekali menengok ke arah Melliza yang sedang melihat ke arah luar jendala mobil untuk menutupi rasa kesal dan sedih nya atas perkataan Alvi tadi.
Suasana yang hening membuat Alvi mengendarai mobil nya dengan sangat cepat, waktu yang harus di tempuh selama tiga puluh menit. Namun dengan waktu lima belas menit kini Alvi telah sampai di tempat acara reuni nya.
Alvi turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam di ikuti dengan Melliza di belakangnya.
"Berjalan sejajarlah jangan dibelakang ku, aku ingin kamu menjadi pasangan ku malam ini. Bukan sebagai sekretaris ku" ucap Alvi menatap Melliza dingin.
Andre yang kaget melihat Alvi datang bersama Melliza segera menghampiri mereka.
"Loh ko lu bisa datang sama Melliza sih?" tanya Andre bingung.
"Ya suka-suka gua lah, mau datang sama siapa juga"
"Kamu terlihat sangat cantik Melliza" kata Andre dengan menatap Melliza
Melliza hanya tersenyum kepada Andre, tak lama para teman Alvi menghampiri mereka, Melliza merasa tak nyaman jika harus berada diantara laki-laki sedangkan dia tidak kenal mereka, akhirnya Melliza pun meminta izin kepada Alvi untuk pergi ke toilet.
Saat akan masuk ke toilet, Melliza mendengar suara perempuan sedang bergosip menyebut nama Alvi dan itu membuat Melliza diam di depan toilet mendengarkan obrolan mereka.
"Ko tadi Alvi datang bukan sama Clara sih?"
"Yaelah lu kemana aja, Alvi sama Clara udah pisah sekitar dua tahun lalu"
Ketika mendengar perkataan itu Melliza bergumam dalam hatinya.
"Hah terus yang waktu itu ulang tahun, dia nyuruh gua bantu pilihin kalung buat siapa? Ibu nya? Tapi gua rasa ga mungkin, soalnya kalung dan cake yang gua pesen itu ga pas buat seorang ibu. Ohh buat pacar baru kali ya? Tapi kenapa dia nyuruh gua nemenin dia ke sini kalau dia punya pacar?"
Lamunan Melliza terhenti, ketika kembali mendengar obrolan dua perempuan itu kembali.
"Hah lu serius? Jadi yang tadi pacar baru Alvi? Jangan-jangan Alvi sama Clara putus gara-gara itu cewe? Secara gituh Alvi tampan, kaya lagi. Banyak yang ngejarkan jaman kuliah dulu juga"
"Kaya nya bukan deh, gua denger sih Clara yang putusin Alvi karena dia mau fokus ngelanjutin S2 nya di London jadi itu yang buat mereka udahan"
Setelah mendengar tidak ada pembicaran lagi, Melliza akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam toilet. Dan kedua perempuan tersebut hanya tersenyum ke arah Melliza, begitupun Melliza tersenyum kembali.