
Readers aku sempat-sempatin up nih sesuai keinginan kalian walaupun kondisi tubuhku kurang sehat.
Jadi tolong yaa di vote yang banyak pake poin, tolong di like juga nih eps ini sama eps sebelumnya, terus komen deh yaa.
Selamat Membaca, semoga suka✨
***
"Alvin ke kamar dulu deh Mah, mau nelpon Melliza" ucap Alvi berdiri berniat pergi ke kamarnya. Seketika itu pula tangannya ditahan oleh Mitha.
"Jangan nelpon Melliza terus, biarin dia sama keluarganya. Kangen-kangenan sebelum nanti sama kamu dibawa pergi" ucap Mitha membuat Alvi kembali duduk disampingnya.
"Bentaran doang Mah. Alvin kangen, lagian cuman pengen tau dia lagi ngapain aja ko" Mitha yang mendengar ucapan anaknya terus menggelengkan kepala karena sudah mendengar puluhan kali Alvi mengatakan kangen pada Melliza.
"Yaudah telpon aja disini, Mamah ga percaya kalau cuman bentaran" ucap Mitha yang dibalas decikan oleh Alvi.
"Sayang kamu itu harus mengerti, Melliza itu anak satu-satunya dikeluarganya. Mamah aja sekarang merasa belum rela, apalagi dia anak perempuan jadi pasti akan lebih sulit untuk kedua orang tuanya melepaskan Melliza. Udah jangan ganggu quality time dia sama orangtuanya, waktunya dia nanti akan lebih banyak sama kamu ko"
Mendengar penuturan sang ibu membuat Alvi sedikit mengerti, memang benar sepertinya dia tidak boleh menelpon Melliza keseringan. Pasalnya setiap kali dia menelpon, Melliza tak pernah menolaknya. Sekalipun dia sedang bersama orangtuanya.
Wanita itu pasti saja menjawab telpon darinya terlebih dahulu, walaupun sebenarnya panggilan dari Alvi itu hanya sebatas menanyakan hal yang sedang wanita itu lakukan.
"Udah deh mending sekarang kamu latihan ijab-kabul gih dengan satu nafas, biar nanti lancar. Jangan sampai nanti gugup, malu-maluin Papah sama Mamah" ucap Mitha.
Alvi pun mengikuti perintah Mitha, dia pergi ke dalam kamarnya dan berlatih mengucapkan ijab-kabul agar saat hari pernikahan tiba semua berjalan dengan lancar.
Beberapa kali Alvi mengucapkan kalimat yang ada disebuah kertas. Latihan dengan membaca saja sudah membuatnya gugup dan berulang kali harus mengulangnya. Bagiamana nanti yang disaksikan oleh banyak orang yang hadir.
"Baru latihan aja udah deg-degan ginih, apa kabar nanti? Lo harus bisa Vin, jangan malu-maluin" ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Alvi terus berlatih mengucapkan kalimat yang akan nanti dia ucapkan didepan penghulu. Akhirnya setelah beberapa kali mencoba Alvi berhasil mengucapkannya dengan lancar.
Sejenak setelah berhasil mengucapkan kalimat itu, tampak sebuah senyuman diwajah Alvi. Bukan hanya senang karena telah berhasil berlatih tapi dia pun tersenyum malu ketika mengingat bagaimana dulu dia begitu munafik untuk mengakui perasaannya.
Bahkan dulu dia begitu menghindar dan memperlakukan Melliza dengan tidak baik karena hanya ingin menolak perasaan yang dia rasakan. Tapi beruntung saja dia masih diberikan kesempatan untuk bisa mengungkapkan perasaannya hingga kini tinggal beberapa hari lagi status mereka akan berganti menjadi sepasang suami-istri.
**
Dirumah Melliza, kini Raka dan Icha sedang duduk ditaman belakang sambil membuka beberapa album foto yang berisikan foto Melliza ketika masih kecil.
Bukan tidak menerima, hanya saja sebagai seorang ayah, Raka masih belum percaya jika dia harus melepaskan putri semata wayangnya kepada Alvi yang akan menjadi suami dari anaknya.
"Mamah juga Pah. Perasaan baru kemarin Mamah ngelahirin dia, Mamah ngajarin dia buat bicara, Mamah yang nemenin dia kemana-mana. Tapi tinggal menghitung jari anak kita bakalan jadi istri orang Pah" ucap Icha tak sadar meneteskan air mata.
Tak lama Melliza pun datang menghampiri mereka dengan membawa tiga gelas minuman beserta cemilan untuk dirinya dan kedua orang tuanya.
"Loh Mamah sama Papah kenapa?" tanyanya ketika melihat kedua raut wajah orang tuanya sedih.
"Ga apa-apa sayang, Mamah sama Papah lagi flashback pas kamu kecil. Kita ga nyangka kalau kamu bakalan nikah secepat ini" ucap Icha.
"Syaa.." ucap Raka menatap kedua mata anaknya.
"Kenapa Pah?" tanya Melliza bingung karena ayahnya menggantungkan kalimatnya.
"Kalau nanti Alvi macam-macam sama kamu, kalau dia nyakitin kamu dalam bentuk apapun, baik itu fisik atau batin. Kamu harus bilang sama Papah, ga boleh ada yang kamu sembunyiin dari Papah" ucap Raka masih menatap anaknya dan diangguki oleh Melliza.
"Janji ya sama Papah?"
"Iyaa Pah, aku janji" jawab Melliza mengulurkan jari kelingkingnya dan kini bertautan dengan jari kelingking sang Ayah.
"Papah tenang aja Alvi ga bakalan nyakitin Melliza" sambungnya kembali.
"Misalnya sayang, namanya manusia ga ada yang tau. Papah cuman ga rela kalau putri Papah disakitin, Papah cuman pengen melindungi kamu dari segala hal yang mencoba nyakitin kamu"
Ucapan Raka membuat Melliza menitikan air matanya, dia begitu beruntung memiliki Raka sebagai ayahnya yang selalu siap menjadi pelindung baginya. Melliza pun begitu bersyukur karena Icha menjadi ibunya yang selalu mengajarkannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
"Makasih Pah, Mah udah jadi orang tua Melliza" ucap Melliza memeluk kedua orangtuanya.
***
Visual Alvi pas tadi lagi senyum dikamar nih.
Jangann lupa di Like eps ini dan sebelumnya, Komen dan vote yang banyak pake poin yaa...
Terimakasih💛💛💛