I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
99. Cemburu yang salah



Langkah cepat kaki Joel menuju ruangan dimana Ariel biasa melatih tidak terlihat seperti biasanya. Wajahnya memperlihatkan rasa khawatir namun juga bertanya-tanya.


Ketika ia mencapai pintu, tangannya perlahan membuka pintu dengan hati-hati. Namun gerakanya terhenti ketika Joel melihat Bram sudah berada disana.


Bram tampak mengusap punggung Ariel dengan usapan lembut. Sementara Ariel duduk menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Darahnya mendidih hanya dengan mlihat hal itu. Tanpa mengatakan papaun, Joel pergi dari tempat itu begitu saja.


"Begitu rupanya. Kau bercerita padanya namun tidak ingin mengatakan apapun padaku? Kalau begitu, apa artinya aku bagimu?" geram Joel mengepalkan tangannya.


Joel memacu mobil menuju rumahnya. Memutuskan untuk pulang tanpa mencari tau apa yang dibicarakan Ariel dan Bram.


Sementara itu, di dalam ruangan, bukan hanya Bram dan Ariel yang berada disana. Ken, Gina, Oliver dan semua yang Ariel latih juga tengah berkumpul disana.


"Hey,,, tenanglah. Aku akan membantumu," ucap Bram menenangkan sembari mengusap lembut punggung Ariel.


"Tidak Bram, kau sudah terlalu sering membantuku. Kali ini aku tidak bisa membiarkanmu melakukannya lagi," tolak Ariel.


"Lalu apa? Aku temanmu, Ariel. Sahabatmu. Aku tidak memiliki niat lain selain membantu sahabatku," tutur Bram.


"Aku akan mengatasinya sendiri. Toh masalah ini akan benar-benar berhenti dibahas jika aku mengganti semua alat musik yang rusak," jawab Ariel tersenyum kecut.


"Tapi, bukan kakak satu-satunya yang harus menganti semuanya," tukas Ken.


"Semua terjadi disaat aku ada disini, itu artinya akulah yang bertanggung jawab untuk semua yang terjadi. Ini sudah jam pulang, kalian bisa pulang," ucap Ariel seraya bangun dari duduknya.


Pandangannya tertuju pada beberapa alat musik yang telah rusak total, dan telah dikumpulkan di sudut ruangan untuk dipindahkan ke gudang.


Siang ini, setelah Ariel meninggalkan bistrot dan masuk ke ruang latihannya, Gerry beserta anak didiknya berkumpul disana.


Pertengkaran mereka masih berlanjut saat Ariel tiba. Saling tuding dan melempar kesalahan. Menunjukkan bukti yang mereka temukan, serta salah satu dari mereka melihat satu sama lain keluar dari ruang latihan yang bukan ruangannya. Tapi, Ariel tau, bukan mereka yang ia latih yang memulainya.


Alat musik rusak karena tubuh seseorang telah menindihnya, lebih tepatnya seseorang didorong dan terjatuh disana. Bukan hanya alat musik yang ada diruang latihan miliknya, namun juga di ruang latihan Gerry. Dan semua kerusakannya sama, termasuk jenis alat musiknya.


Namun, meminta jalan keluar dengan pihak studio juga tidak menguntungkan bagi Ariel. Dimana itu juga bisa berakibat pada karirnya sebagai pemusik, juga pada mereka yang Ariel latih.


"Jika hanya untuk membeli alat musik baru, aku bisa melakukannya," ucap Bram.


"Tidak, Bram. Aku menghargainya, tapi aku menolaknya," ucap Ariel


'Bram tidak bisa terlibat apapun yang berhubungan denganku disini, atau Mr.Evrad akan tau Bram berada disini,' batin Ariel.


"Tapi_,,,"


"Aku masih mampu untuk membelinya, Bram. Dalam hal ini akulah yang harus menyelesaikan masalahnya, kau tidak seharusnya berada didalamnya," potong Ariel.


"Apakah membantu seorang teman adalah hal yang salah?" tanya Bram tidak puas.


"Ini tentang tanggung jawab, Bram. Jika dalam keadaan seperti ini aku mengandalkan bantuan seseorang, itu hanya membuat mereka mempertanyakan kemampuanku, dan dengan mudah menendangku keluar. Tak peduli dengan apapun yang sudah ku raih, mereka hanya akan melihat satu kesalahan yang telah kuperbuat," terang Ariel.


"Meskipun pada kenyataannya bukan kamu yang melakukan kesalahan?" tanya Bram tidak terima.


"Ya, mereka tidak akan melihat hal itu, mereka hanya akan menilai berdasarkan apa yang mereka lihat," jawab Ariel.


"Bagaimana jika kita bisa membuktikan bahwa bukan kamu yang merusak alatnya?" tanya Bram.


"Maka itu bisa menghilangkan semua pandangan buruk yang sudah beredar," jawab Ariel.


"Kami saja yang mengantinya," sela murid Ariel.


"Aku tau kalian tidak bersalah dalam hal ini, tapi kalian salah jika menghadapi mereka dengan amarah," ucap Ariel.


"Kami tidak bisa menerimanya karena mereka menjelekkan kakak," timpal yang lain.


"Aku menghargainya, sekarang pulanglah. Ini sudah melewati jam pulang kalian. Untuk sementara, besok kalian tidak bisa berlatih," ucap Ariel.


"Tapi_,,,"


"Pulanglah,!" tegas Ariel.


"Baik,,,"


Mereka serentak menjawab dengan suara lesu, dan mmilih untuk menurut. Semua murid Ariel keluar dengan langkah gontai, termasuk Ken dan Bram juga turut keluar setelah Ariel memaksa mereka keluar dengan alasan ingin sendiri.


Sementara itu, disisi lain,


Joel berhenti didepan rumahnya, namun tidak segera keluar dari mobil. Pikirannya terus tertuju pada Ariel.


'Sh*it,,,' umpatnya dalam hati sembari memukul kemudi.


"Aku tidak bisa tenang sedikitpun, apa alasan Bram berada disna? Kebetulan? Kebetulan macam apa yang terjadi seperti ini?" cecar Joel.


"Tapi, bagaimana jika disana mereka tidak sedang berdua? Tapi, bersama dengan beberapa orang yang Ariel latih?" gumam Joel.


"Argghh,,, bodoh!!!" rutuknya.


"Kenapa baru terpikirkan sekarang?" ucapnya lagi sembari mengacak-acak rambutnya.


Joel memutar mobilnya, bergegas kembali menemui Ariel di studio.


"Apapun yang terjadi, akan lebih baik jika aku bertanya terlebih dahulu daripada memikirkan jawaban yang tidak pasti," gumam Joel.


Dibelakang mereka Bram juga melangkah keluar seorang diri. Wajahnya juga tak kalah kusut dengan Ken beserta teman-temannya.


Dengan hati bertanya-tanya, Joel keluar dari mobilnya dan menghampiri Bram.


"Apakah ini kebetulan? Apa yang sedang kau lakukan disini, Bram?" tanya Joel.


Pertanyaan Joel seolah menarik lagi diri Bram ke dalam kenyataan, dan segera mengarahkan pandangannya pada Joel.


"Ah,,, kau datang tepat pada waktunya," sambut Bram tersenyum kecut.


"Apa maksudmu?" tanya Joel mengerutkan keningnya.


"Aku datang karena baru saja menyelesaikan urusanku di tempat yang tak jauh dari sini, dan ingin melepas lelah dengan melihat mereka latihan. Tapi, aku justru melihat mereka sedang mendapat masalah," terang Bram.


"Ah,, ternyata benar kak Joel,"


Tiba-tiba, suara Ken menyela mereka dari belakang Joel.


"Ken? Kamu belum pulang?" tanya Joel.


"Kami semua bahkan baru saja keluar setelah kak Ariel yang memaksa kami keluar," jawab Ken.


"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Joel.


"Lebih mudah menjelaskannya jika kau menemuinya langsung, dia masih didalam," jawab Bram.


"Eh,,? Apa maksudmu?" tanya Joel bingung.


"Temui saja dia, dan kau akan tau apa yang terjadi. Saat ini, sepertinya dia sedang membutuhkanmu," terang Bram.


"Benar, kak Ariel menolak bantuan dari kami semua bahkan dari kak Bram. Tapi, kalau kak Joel sepertinya tidak akan di tolak," sambung Ken.


"Jika memang ada masalah, kenapa dia tidak mengatakan apapun?" sambut Joel.


"Masalahnya terjadi siang ini," jawab Gina mulai gemas melihat Joel yang terlalu banyak bertanya.


"Masuk saja, dan semua pertanyaan kakak akan terjawab," desak Oliver.


'Aku memikirkan sesuatu terlalu jauh disaat dia justru mendapat masalah, dari perkataan mereka, sudah jelas tadi Ariel juga bersama mereka, bukan hanya berdua bersama Bram,' batin Joel.


Joel sudah berdiri didepan pintu, tangannya terulur membuka pintu dengan hati-hati dan melangkah masuk.


Joel tertegun sesaat ketika melihat apa yang ada didepannya. Disisi ruangan, Ariel tengah duduk dikursi panjang dengan membelakangi pintu. Badannya membungkuk dengan dua tangan berada diatas pahanya untuk menopang tubuhnya, satu telapak tangan berada didahinya, wajahnya yang sedikit terlihat memperlihatkan raut wajah frustasi.


Namun juga tampak berpikir keras seolah beberapa beban berat menimpa kepalanya diwaktu yang bersamaan.


Dengan langkah hati-hati, Joel menghampiri Ariel, mengulurkan tangannya dan meletakan tangannya dibahu Ariel.


"Aku sudah bilang ingin sendiri, Bram. Pergilah!" ucap Ariel tanpa mengangkat wajahnya.


Tanpa mengucapkan apapun, Joel meremas lembut bahu Ariel, membuat Ariel perlahan mengangkat wajahnya.


"Joel,,,!" desis Ariel terkejut.


"Terkejut?" sambut Joel tersenyum.


Senyuman yang Joel berikan padanya justru membuat Ariel memutar tubuhnya dan memeluk Joel masih dalam posisi duduk.


"Kemana saja sebenarnya kamu pergi? Kenapa tidak menghubungiku sama sekali? Kamu bahkan tidak mengirim pesan satupun," cecar Ariel sembari memukul pelan pinggang Joel dengan kepalan tangannya.


'Tunggu, apa maksudnya sekarang? Tidak menghubungi? Tidak mengirim pesan satupun? Lalu siapa yang membalas pesan dariku menggunakan ponselnya?' batin Joel.


"Hey,,, Sweety, apa yang sudah terjadi? Kamu tidak biasanya bersikap seperti ini," ucap Joel lembut sembari membelai kepala Ariel.


"Aku minta maaf karena terlalu sibuk dan sudah mengabaikanmu. Tapi, aku juga tidak bermaksud begitu," sambungnya.


"Aku tau, dan aku juga mengerti, aku juga tidak bisa kesana karena keadaannya juga tidak memungkinkan," jawab Ariel.


Dengan hati-hati, Joel melepaskan pelukan Ariel dari pinggangnya. Tanpa melepaskan tangannya Joel duduk disamping Ariel, membimbing Ariel menghadapnya dengan mengarahkan dagu Ariel menggunakan dua jarinya.


"Katakan padaku, apa yang terjadi?" tanya Joel lembut, namun mengernyit didetik berikutnya.


"Kamu menangis?" tanya Joel lagi terkejut menyadari pipi Ariel basah dan matanya sembab.


"Aku tidak tau," jawab Ariel mengelengkan kepalanya.


"Padahal tadi aku baik-baik saja, tapi setelah melihatmu aku tidak tau kapan air mata ini keluar," ungkap Ariel seraya menghapus air matanya.


Selama beberapa saat, Joel tertegun, namun juga merasa senang mendengar pengungkapan Ariel.


....


...


.


.


To be Continued