
Hari demi hari berlalu, hingga tiba hari dimana Ariel dan Joel memilih pakaian pernikahan mereka.
Ariel beberapa kali harus menganti gaun yang ia kenakan dengan Jesica sebagai penlai. Hal serupa juga di alami Joel dimana ia beberapa kali menganti setelan tuxedo yang ia coba.
Tirai di buka, memparlihatkan Ariel dengan gaun dengan desain putri kerajaan. Kedua tangan Jesica bergerak cepat menjadi tanda silang dengan gelengan kuat kepalanya.
"Ewww,,, Nooo,," sambut Jesica tidak rela dengan kernyitan tajam di dahinya.
Ariel mendengus kesal, meminta bantuan pegawai yang melayani dirinya untuk melepaskan gaun. Perlu waktu hampir setengah jam untuk melepaskan gaun dan memakai gaun dengan model berbeda.
"Sepertinya aku benar-benar membuatmu bekerja keras," ucap Ariel memecah keheningan.
"Ini sudah menjadi tugas saya, nona. Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal ini. Saya justru akan senang jika anda menemukan gaun yang benar-benar untuk anda kenakan di hari besar anda nanti," sambut sang pegawai.
"Terima kasih, itu sungguh sangat berarti," balas Ariel.
"Dengan senang hati, nona," sambutnya dengan senyum ramah.
"Baiklah, mari kita lihat bagaimana pendapat sahabat anda," ucapnya.
Ariel sudah memperlihatkan wajah lelah saat pegawai itu kembali membuka tirai. Jesica tengah membalas pesat saat tirai dibuka, hingga Ariel tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak mengeluh.
"Hentikan,, aku menyerah,," keluh Ariel.
"Berapa banyak lagi gaun yang harus aku coba?" imbuhnya.
Entah sudah gaun keberapa yang ia coba, Jesica terus saja mengelengkan kepalanya. Dan itu sungguh melelahkan lebih dari apapun. Mendengar suara Ariel, Jesica segera mengangkat wajahnya, detik berikutnya matanya melebar.
"SEMPURNA,,!!" pekik Jesica tersenyum puas.
Jesica memberikan tatapan takjub, seolah orang yang berdiri didepannya bukan lagi sahabatnya. Gaun itu menempel sempurna di badan Ariel. Mendengar hal itu, Ariel menghembuskan nafas lega, merasa penderitaannya berakhir.
"Sekarang, kita akan lihat bagaimana reaksinya melihatmu memakai ini," ucap Jesica tersenyum misterius.
"Maksudmu?" tanya Ariel tak mengerti.
"Anda sungguh tidak menyadari bagaimana penampilan anda saat ini, nona?" sambut pegawai yang membantu Ariel mengenakan gaun.
"Apakah aku terlihat aneh?" tanya Ariel tak mengerti sembari memandangi dirinya sendiri.
"Astaga,,, terkadang menyebalkan saat kau sendiri bahkan tidak menyadari betapa cantik penampilanmu," gerundel Jesica.
"Pantas saja dia tergila-gila padamu_,,, Aaww,,,"
Jesica mengaduh saat Ariel mencubit pinggangnya.
"Diamlah!" rutuk Ariel dengan wajah memerah sesekali melirik pegawai yang membantu mereka masih berada disana berusaha menahan tawa.
"Pastikan saja kau tak melakukan ini padanya, atau malam pertamamu akan han_,,,hamph,,"
Suara Jesica terputus saat Ariel membungkam mulut Jesica menggunakan tangannya.
Wajah Ariel kian memerah tatkala Jesica berbicara secara terang-terangan.
"Cukup! Tolong jangan bicara apapun lagi,!" pinta Ariel memohon.
Jesica menyemburkan tawa, merasa sangat menikmati menggoda sahabanya. Melihatnya tampak memohon seperti itu, mau tak mau membuat Jesica berhenti sementara untuk menggodanya.
Pegawai itu tersenyum sembari mengelengkan kepalanya melihat tingkah dua sahabat yang menjadi pelanggannya hari ini. Disaat yang sama, ia juga sependapat dengan Jesica.
Pegawai itu kagum pada Jesica yang sangat teliti dalam memilih gaun untuk sahabatnya, dan benar, gaun itu sungguh sempurna saat Ariel mengenakannya.
Disisi lain, Joel juga mulai sedikit kesal karena harus terus menganti setelan tuksedo.
"Apakah kau dendam padaku atau apa? Tidakah ini terasa cukup?" gerutu Joel saat memakai setelan entah yang keberapa.
"INI DIA,,,!!" sambut Bram bersemangat.
"Akhirnya,,," sambut Joel bersiap melepaskan tuxedonya.
"Eitss,, tunggu dulu," cegah Bram.
"Biarkan dia melihatnya, aku yakin dia akan membuka mulutnya," ucap Bram seenaknya.
"Apakah dia perlu melihatnya?" sambut Joel bingung.
"Hanya memastikan apakah dia menyukainya atau tidak, jika dia tidak menyukainya, maka bersiaplah untuk mencoba setelan lain," ucap Bram.
"Kau pasti bercanda," sambut Joel tak percaya.
"Kau tidak ingin merusak hari besarmu sendiri, bukan?" tanya Bram.
"Tentu saja tidak," sambut Joel cepat.
"Kalu begitu, biarkan dia melihatnya," ucap Bram lagi.
Bram meminta Joel berdiri di balik tirai, lalu menjulurkan kepalanya. Di saat yang sama, Jesica juga menjulurkan kepalanya. Membuat pandangan mereka bertemu.
Jesica mengedipkan matanya, tanda Ariel telah siap, sedangkan Bram menunjukan ibu jari dan telunjuk yang bertemu membentuk lingkaran, tanda Joel juga telah siap.
Para pegawai yang membantu mereka dibuat mengelengkan kepala, sesekali terkekeh pelan melihat kelakuan mereka terhadap calon pengantin
Para pegawai membuka kedua tirai secara bersamaan. Membiarkan mereka saling melihat penampilan baru mereka pada pasangannya.
Apa yang dikatakan Bram benar, tanpa sadar Ariel membuka rahangnya selama beberapa detik, terpesona dengan penampilan Joel dengan balutan tuxedo hitam di tubuhnya.
"Wwow,,," desisnya terkagum.
Tak hanya Ariel, hal serupa juga terjadi pada Jesica. Ia terpesona dengan penampilan Joel yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Bahkan Bram turut menatap tanpa berkedip. Para pegawai yang membantu merekapun menunjukan reaksi sama, hingga mereka memiliki kalimat yang sama dalam pikiran mereka.
"Mereka pasangan menakjubkan,"
Usaha Bram Jesica memberikan hasil seperti yang mereka harapkan, bahkan lebih dari itu. Karena mereka berhasil membuat pasangan yang akan segera menikah itu terpesona satu sama lain dengan penampilan baru yang mereka berdua ciptakan.
Joel melangkah mendekat, tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari wanita yang berdiri didepannya, merasa berapa kalipun ia telah melihat Ariel mengenakan gaun, tetap saja ia selalu di buat terpesona.
Jesica memberi isyarat pada para pegawai untuk memberikan Joel dan Ariel sedikit privasi. Ia juga menarik tangan Bram agar meninggalkan ruangan itu untuk sementara waktu.
Menyadari semua orang telah pergi meninggalkan ruangan, Joel tersenyum tipis. Tangannya bergerak menarik pinggang Ariel, dan melingkarkan kedua tangannya disana.
Ariel terkesiap saat Joel melingkarkan kedua tangan di pinggangnya, seolah baru saja tersadar dari lamunannya.
"Apa yang kamu pikirkan, Sweety? Kamu berada disini dan di tempat lain di waktu yang sama," goda Joel tersenyum tipis.
"A-Aku,,, t-tidak,,," Ariel mulai tergagap.
Tangannya mendorong dada Joel, namun Joel justru mengeratkan kedua tangannya, membuat mereka menjadi lebih dekat.
"Mereka melihat kita, Joel," tegur Ariel mengingatkan dimana mereka berada.
"Benarkah?" sambut Joel menaikan alisnya.
"Kalau begitu biarkan saja mereka melihat," imbuhnya.
Kedua mata Ariel melebar sempurna, dan segera ia menyadarinya bahwa ruangan itu telah kosong, membuat Ariel menyipitkan matanya menatap Joel yang mengeluarkan tawa kemenangan dan seringai lebar diwajahnya.
"Kamu sengaja?" tuduh Ariel.
"Itu tuduhan tanpa alasan," sambut Joel tenang.
"Pertanyaanya adalah, apa yang kamu pikirkan hingga membuatmu tidak menyadari mereka meninggalkan ruangan ini di saat aku menyadarinya?" tanya Joel.
Suara tawa renyahnya mengisi keheningan disaat Ariel terbungkam karena tidak bisa menjawab. Namun Ariel tidak mengalihkan pandangannya dari Joel.
Tangan Joel perlahan bergerak naik hingga berhenti di tengkuk Ariel, ia mulai membungkuk dan mendekatkan wajahnya. Jarak wajah mereka semakin tipis, dan hampir terkikis sepenuhnya ketika suara pintu di buka terdengar diikuti suara Jesica.
"Baiklah,,, waktu habis," ujar Jesica.
Hembusan nafas kasar keluar dari Joel yang segera menjauh dari kekasihnya. Kembali gagal untuk mengecup bibir manis itu. Hal itu membuatnya harus kembali menunggu.
Ariel terkekeh pelan menyadari perubahan pada wajah Joel, dan ia tau pasti apa yang menjadi alasannya. Namun, ia juga merasakan hal sama, mereka harus menunggu.
Para pegawai yang membantu mereka kembali menutup tirai, dan melepaskan gaun yang di pakai Ariel serta tuxedo yang di pakai Joel.
Mereka meninggalkan butik setelah menjatuhkan pilihan mereka pada pakaian, dan beralih ke tempat lain. Seolah tidak memberikan Joel dan Ariel kesempatan untuk beristirahat.
Hingga hari itu berakhir saat hari telah berganti malam. Pada pagi harinya, hal yang sama kembali berulang meski bukan memilih gaun, namun untuk mempersiapakan sagala yang di perlukan untuk acara.
Dengan banyaknya hal yang perlu dipersiapkan membuat Ariel terkadang hanya pergi bersama Jesica yang setia menemaninya. Sedangkan Joel pergi bersama Bram.
Seperti hari itu, Jesica dan Ariel berpisah saat hari berubah malam. Jesica tidak langsung pulang dan memilih untuk duduk sebentar di sebuah cafe dengan secangkir kopi di mejanya.
"Haahh,,," desah Jesica menyandarkan punggungnya.
"Tak ku sangka, ini terasa sangat melelahkan. Dan dia tidak mengeluh? Dari mana tenaga yang dia dapatkan?" ucap Jesica sembari meletakkan punggung tangan di atas kedua matanya dengan posisi menengadah.
Seseorang telah berdiri dibelakang Jesica tanpa disadari olehnya, hingga orang itu menempelkan kaleng minuman dingin di salah satu pipi Jesica.
"Aahh,,," pekik Jesica terkejut saat hawa dingin menyentuh pipinya.
Jesica menyingkirkan tangannya hanya untuk melihat Bram tengah tertawa pusa menatapnya.
"Breng*sek kau Bram," sungut Jesica memukul pinggang Bram dengan kepalan tangannya.
"Mengejutkanku saja," gerutunya.
"Pukulanmu lumayan juga," sambutnya meringis mengusap pingangnya sendiri.
"Dengan senang hati aku akan memberikannya lagi padamu jika kau mau," jawab Jesica.
"Terima kasih, kau terlalu baik, jadi simpan saja untukmu," sambut Bram seraya menarik kursi yang ada didepan Jesica.
"Bagaimana dengan hari ini?" sambung Bram bertanya setelah ia duduk.
"Lebih baik dari kemarin, semua hampir selesai, dan aku akan membiarkan dia istirahat untuk besok," papar Jesica.
"Bagaimana denganmu?" balas Jesica bertanya.
"Semua lancar, hanya saja Joel seringkali mengambil jam lembur di rumah sakit karena keadaan darurat. Sama sepertimu, aku membiarkan dia istirahat besok," terang Bram.
"Lalu, kenapa kau tak pulang?" tanya Jesica.
"Aku hanya berpikir kamu mungkin tidak langsung pulang setelah seharian penuh dengan aktivitas yang melelahkan, dan berada disini, ternyata dugaanku benar," jawab Bram.
'DEG,,,!!!'
Pernyataan Bram terasa seperti pertanyaan bagi Jesica, namun ia tidak tau pasti apa yang ditanyakan Bram padanya.
.....
.
To be Continued...