I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
101. Dijbak



"Kapan kamu memotretku? Aku bahkan tidak menyadarinya," tanya Joel sembari memperlihatkan ponsel Ariel dengan walpaper foto Joel disana.


Foto yang berhasil Ariel curi saat mereka berada di pantai ketika Joel membawa papan surfing dengan satu tangan, dan satu tangannya yang bebas tengah menyisir rambutnya.


Seolah baru saja tersadar dengan hal itu, wajah Ariel mulai bersemu merah dan berusaha merebut ponselnya kembali. Namun, Joel justru menjauhkan ponsel itu darinya.


"Kembalikan ponselku," pinta Ariel berjinjit untuk meraih ponselnya.


"Jawab dulu," pinta Joel tersenyum geli.


"Ukh,,, tubuh tinggimu terkadang menyebalkan," sungut Ariel tidak bisa mencapai ponsel ditangan Joel yang terangkat.


Joel hanya mengangkat tangan dengan ponsel digenggamannya. Meskipun Ariel sudah berjinjit, tetap saja tidak bisa mencapai ponsel digenggaman Joel.


"Jangan menyalahkan tinggi badanku, tidakkah kamu merasa bahwa kamulah yang kurang tinggi disini?" goda Joel terkekeh pelan.


"Joel,, berikan,!" pinta Ariel terus berusaha meraih ponsel miliknya.


"Jawab dulu, kapan kamu mengambilnya?" pinta Joel.


"Jika kamu bisa mencuri fotoku, kenapa aku tidak?" jawab Ariel.


Ariel melompat untuk meraih ponselnya, namun keseimbangannya goyah ketika ia mendarat dan menabrak Joel. Sedangkan Joel yang tidak siap dengan hal itu terhuyung kebelakang dan jatuh bersama Ariel diatasnya.


'BRRUUKKK,,,,!!!'


"Auuhh,,," erang Joel memegangi kepalanya.


Ariel yang berada diatas Joel juga memegangi dahinya, hingga pandangan mereka bertemu.


"Apakah kamu terluka?" tanya Joel.


Ariel mengeleng pelan, sesaat kemudian mereka tertawa. Ariel segera menyingkir dari atas badan Joel.


"Masih tetap ceroboh," sindir Joel seraya bangun.


"Hei,,, kamu sendiri yang memulainya," sahut Ariel.


"Tapi aku tidak memintamu untuk melompat," balas Joel.


"Ukh,, itu kan,,," Ariel gagal meneruskan kalimatnya, membuat Joel tertawa.


"Jadi, apa?" tanya Joel.


"Apa?" Ariel balas bertanya.


"Baiklah, itu artinya kamu tidak ingin ponselmu kembali," jawab Joel memasukan ponsel Ariel kedalam saku celananya.


"Menurutmu, kapan lagi aku memotretmu selain ketika kita liburan?" jawab Ariel.


"Aku tau," jawab Joel tersenyum jahil.


"Aku hanya mengodamu," imbuhnya.


'Awas saja, aku akan balas nanti,' batin Ariel.


"Ayo pulang, aku akan mengantarmu," ajak Joel seraya berdiri.


"Aku membawa mobil sendiri, Joel," jawab Ariel menyambut uluran tangan Joel.


"Aku baik-baik saja pulang sendiri," imbuhnya.


"Kalau begitu, besok aku akan menjemputmu setelah pulang bekerja, dan kita bisa ke tempat David," ucap Joel.


Ariel mengangguk setuju. Mereka berdua keluar dari ruang latihan dengan Joel yang mengenggam tangan Ariel. Mereka tidak menyadari ketika melangkah keluar, Bram berdiri dibalik pintu, memperhatikan mereka sejak Joel masuk kedalam.


Bram hanya tersenyum getir melihat hubungan mereka berkembang. Rasa iri menyusup kedalam hatinya ketika melihat betapa mudahnya Joel merubah wajah Ariel yang semula tampak tertekan berubah dengan senyum manis di wajahnya.


'Aku tau aku kalah, dan selamanya akan tetap kalah darinya. Aku merasakan sesak dihatiku ketika melihatmu bersamanya, namun hatiku menjadi lebih sakit ketika aku melihat wajah sedihmu, Ariel,'


Bram menghela nafas panjang. Tersenyum untuk dirinya sendiri, lalu beranjak pergi.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


Dihari berikutnya, saat malam hari.


Nighclub adalah tempat yang akan selalu dipenuhi oleh orang-orang yang menginginkan kesenagan atau sekedar melupakan masalah yang tengah mereka hadapi.


Di meja bar, orang yang sama dimana ia selalu datang hampir setiap malam dan duduk ditempat yang sama tengah meneguk minuman ditangannya.


Dia kembali mengisi gelas kosongnya dengan botol minuman yang berada disamping gelas, lalu meneguknya sampai habis dalam satu tegukan. Orang yang tidak lain adalah Bram mengusap kepalanya, lalu tersenyum kecut.


Sepulang dari kantor, tanpa menganti pakaiannya, ia duduk di sebuah nighclub masih dengan kemeja serta dasi di lehernya.


"Permisi,"


Suara lembut wanita dibelakangnya membuat Bram menoleh kearah sumber suara, namun tidak bisa mengenali siapa wanita yang telah menyapanya.


"Ya?" sambut Bram menaikkan alisnya.


"Apakah kursi disampingmu kosong?" tanyanya.


"Ya, silahkan saja jika kamu memang mau duduk," jawab Bram sekenanya.


ia kesulitan untuk mengenali siapapun yang menyapanya karena sudah cukup mabuk. Namun dalam hatinya ia merasa mengenali siapa wanita itu. Suaranya terasa familiar baginya, namun tetap saja Bram gagal untuk mengingat siapa wanita yang kini duduk disampingnya.


"Terima kasih," ucapnya lembut.


Bram memilih untuk tidak menghiraukan wanita itu. Ia kembali meneguk minuman didepannya ketika pikirannya kembali teringat tentang Ariel.


"Sepertinya kamu sedang memiliki masalah," ucap wanita itu membuka suara.


"Dan itu bukan hal yang harus kau ketahui," sambut Bram datar.


Bram menekan pelipisnya, sekali lagi merasa pernah mendengar suara wanita yang tengah duduk disampingnya, namun kembali gagal mengingatnya.


"Aku tau, tapi menceritakan sesuatu yang membuat hatimu sesak kepada orang lain akan membuat sesak dihatimu berkurang," jawab wanita itu.


Dalam cahaya remang-remang, Bram masih berusaha untuk mengenali siapa wanita disampingnya. Namun, keadaan mabuk membuat dirinya hanya melihat sesuatu yang tampak buram.


"Itu berhubungan dengan wanita, wanita yang kamu cintai namun dia tidak mencintaimu?" ucap wanita itu dengan nada santai.


Bram tercekat selama beberapa saat, namun kembali memasang ekspresi datarnya.


"Pft,,, Ah maaf,, sepertinya dugaanku benar," sambut wanita itu terkikik pelan.


"Aahh,,, terkadang cinta bisa menjadi sangat kejam. Akupun mencintai seseorang dan dia mencintai orang lain, bahkan mengatakan hal itu didepan wajahku," papar wanita itu.


"Aku tidak tertarik mendengar ceritamu," sambut Bram datar.


"Kejam sekali. Ucapanmu terlewat pedas, tuan," sambutnya tersenyum.


Wanita itu meletakkan tangannya diatas paha Bram, mendekatkan bibirnya ditelinga Bram sembari berbisik lembut dengan tangan yang bergerak perlahan dipaha Bram.


"Aku bisa membantumu jika kamu mau, mendapatkan wanita yang kamu cintai, atau jika kamu menginginkan pelarian sekalipun, aku juga bisa membantumu," bisiknya.


"Singkirkan tangan kotormu dariku," dengus Bram dengan suara marah.


Wanita itu segera mengangkat tangannya dengan wajah takut. Tatapan mata Bram berubah buas, seolah tidak mengijinkan siapapun menyentuhnya. Sebuah tatapan yang memberikan tekanan pada siapapun yang melawan tatapannya.


"Maaf, aku hanya ingin membantumu merasa lebih baik," ucapnya.


"Aku tidak butuh bantuan darimu, dan aku juga tidak akan menilai apapun tentangmu, jadi menyingkirlah," tegas Bram dengan penuh penekanan.


"Baiklah,, Baiklah,, aku tidak lagi mencampuri urusanmu. Tapi, saetidaknya bisakah kita bertukar pikiran? Hanya sebatas teman untuk berbincang singkat," ucap wanita itu tidak menyerah.


Sang bartender menyodorkan gelas kepada si wanita yang disambut dengan senyum manis diwajahnya. Secara perlahan, wanita itu menyesap minuman miliknya, sesekali melirik kearah Bram yang belum memberikan respon apapun.


"Dia menolakmu meskipun kamu telah menunjukkan ketulusan cintamu padanya, namun dia memilih orang lain. Apakah tebakanku salah?" tanya wanita itu tanpa melihat kearah Bram.


Bram menoleh cepat dan melihat wanita itu tengah menatap gelas didepannya, memutar gelas itu untuk memainkan isinya.


"Dengan alasan kamu tidak berada dihatinya," ucap wanita itu lagi, kali ini dengan senyum kecut.


"Bukan salahnya dia bersikap begitu padaku," jawab Bram.


"Kau bahkan masih membelanya setelah dia membuatmu seperti ini, kau sungguh mencintai wanita itu, bukan?" wanita itu menghadap Bram.


"Sangat disayangkan, dia menolak pria tampan sepertimu. Apakah pria yang dia pilih lebih tampan darimu?" pancingnya.


Wanita itu terus berkata seolah tengah menggali apapun yang bisa ia dapatkan dari Bram.


"Karena aku pernah menyakitinya, menghancurkan hatinya," ucap Bram tanpa sadar.


Mabuk yang tengah melanda diri Bram membuat ia tidak sadar dengan apa yang ia katakan.


"Dia pernah sangat mencintaiku, dan aku mencintainya. Perbedaannya adalah, aku mengkhianati cinta tulusnya dengan bermain hati dengan wanita lain," jeda sesaat sebelum Bram melanjutkan.


"Dan,, Yah,, aku menjadi sosok bren*sek yang bahkan seharusnya tidak mendapatkan kata maaf darinya, tapi dia menghukumku dengan memaafkanku, menerimaku menjadi sahabatnya, membantuku di saat aku memiliki masalah. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikannya hanyalah mendukungnya bersama orang yang dia cintai sekarang," ungkap Bram.


Wanita itu membelalakan matanya setelah mendengar penuturan jujur dari Bram. Ia sungguh tidak menyangka dengan apa yang ia dengar. Entah itu hanya pura-pura terkejut untuk menarik perhatian atau benar-benar terkejut, hanya wanita itu yang tau. Namun, detik berikutnya wanita itu memasang wajah datar.


"Sungguh ironis," gumam wanita itu.


"Apakah kau yakin laki-laki itu mencintai wanita yang kau cintai?" tanya wanita itu lagi.


"Sajauh ini, aku bisa merasakannya," jawab Bram.


"Lalu bagaimana jika dugaanmu salah?" ucapnya.


"Aku akan menghajarnya jika dia sampai menyakitinya," ucap Bram.


"Menghajarnya tidak akan menyelesaikan apapun, kalaupun kamu membunuhnya tetap tidak akan merubah fakta dia mengoreskan luka lain di hati wanita yang kau cintai,"


"Menurutmu, apa yang akan terjadi dengan wanitamu?" ucapnya lagi.


Bram terdiam dan tampak berpikir keras. Perkataan wanita itu seolah telah berhasil memprovokasi dirinya. Hingga Bram tidak menyadari wanita itu telah memasukkan sesuatu kedalam minumannya tepat sebelum Bram meneguk minumannya.


"Aku tak peduli jika aku menjadi bonekannya asalkan dia tidak lagi merasakan rasa sakit yang pernah kuberikan," jawab Bram.


Bram meletakkan gelas kosong setelah meneguk minumannya. Kembali mengisinya dan meneguk lagi hingga mengosongkan isi botol.


Ketika Bram berniat untuk memesan satu botol minuman lagi kepada bartender, hawa panas tiba-tiba menyerang tubuhnya.


'ugh,,,apa ini? Kenapa rasanya panas sekali?' batin Bram.


Bram mulai bergerak tidak nyaman, melonggarkan dasi dilehernya, berharap bisa mengurangi hawa panas yang ia rasakan.


Wanita disamping Bram tersenyum begitu melihat reaksi Bram. Dengan gerakan hati-hati, ia meraih ponsel Bram, lalu mencari nomor ponsel untuk di hubungi.


Tangannya bergerak untuk memanggil bartender seraya menunjuk Bram,


"Sepertinya dia sdah sangat mabuk, dan aku tidak begitu mengenalnya. Bisakah kamu bantu menghubungi nomor ini?" pintanya.


"Tapi_,,," bartender itu tampak keberatan.


"Hanya nomor ini yang dia hubungi paling sering. Itu artinya nomor ini adalah nomor entah keluarga atau kekasihnya," ucap wanita itu beralasan.


"Itu lebih baik dibandingkan kamu membiarkan dia merancau di sini dan menganggu pengunjung lain,"


"Baiklah," jawab si bartender setelah berpikir sejenak.


"Jangan katakan kalau aku yang memintamu untuk menghubunginya, salah-salah jika itu kekasihnya dia akan cemburu," pinta si wanita.


"Saya mengerti, terima kasih sudah mengingatkan saya dan membantu," ucap si bartender.


Wanita itupun pergi meninggalkan nighclub, sementara si bartender menghubungi seseorang menggunakan ponsel Bram dengan nama ARIEL di layar ponselnya.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


....


....


To be Contiued