
Joel masih berdiri ditempatnya setelah panggilan Charlie berakhir. Mendengus kesal karena Charlie memutuskan panggilannya begitu saja sebelum dirinya menyelesaikan ucapannya.
Terdiam dan berpikir keras memikirkan kemungkinan buruk yang mungkin bisa terjadi. Matanya masih menatap ponsel ditangannya. Mengingat kembali apa yang baru saja Charlie ucapkan, kemudian mendesah panjang.
"Kenapa dia harus datang lagi? Aku memang sempat melihatnya sekali, tapi aku tidak menyangka dia akan terus datang," keluh Joel .
Joel mendesah dan memasukan ponselnya ke saku celanannya. Matanya beralih menatap pantai yang telah sepenuhnya gelap menandakan malam kian merangkak naik.
Joel melangkah mendekati pagar pembatas, tidak melepaskan pandangannya dari pantai. Hingga dirinya tidak menyadari seseorang tengah menghampirinya.
'Aku sengaja memilih tempat ini karena aku menyukainya. Selain tempat ini masih berada dikawasan pantai, tapi juga untuk menghilangkan dia dari pikiranku,' ungkap hatinya.
'Dan ketika aku sudah sepenuhnya lepas darinya, dia datang lagi dan mengatakan hal yang tak masuk akal,' keluh hatinya.
Sentuhan lembut dibahunya membuat Joel terlonjak kaget dan segera menoleh kebelakang, hanya untuk mendapati Ariel menatapnya khawatir.
"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Ariel.
"Tidak ada," jawab Joel cepat. Namun memalingkan wajahnya dengan cepat.
"Joel,,,?" panggil Ariel.
Tangannya meremas pelan bahu Joel sembari menariknya, memaksa Joel menghadapnya.
"Kau bisa bicara padaku kapan saja, kau tau itu bukan?" tanya Ariel saat Joel menghadapnya.
"Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakannya, tapi jangan berbohong padaku," harap Ariel.
Joel menatap Ariel untuk beberapa saat. Hatinya bergejolak ketika membayangkan hal buruk yang bisa saja di lakukan Jesica padanya.
'Ariel tidak ada hubungan apapun dengan Jesica. Jika dia sampai mencelakai Ariel seperti yang Charlie katakan, aku benar-benar tidak akan memaafkannya dan aku juga tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Ariel,' batin Joel.
"Joel,,,?" panggil Ariel lagi.
"Hemm,,?" Joel hanya bergumam sebagai tanggapan.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ariel.
Joel kembali terdiam. Tak tau apa yang harus dikatakan. Tiba-tiba Ariel menarik tangannya dan berjalan cepat menuju rumah Joel.
"Kau tau? Semakin lama kau disini, semakin besar kau memberi Bram peluang untuk menghancurkan dapurmu," ucap Ariel tersenyum.
"Oh,, sial,, aku hampir melupakannya," sambut Joel menepuk dahinya.
Ariel tertawa pelan, namun hatinya mencari cara untuk membuat perasaan Joel lebih baik.
Begitu Joel berada didalam, dirinya disambut dengan pemandangan yang membuatnya mengosok matanya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dapurnya telah rapi. Makanan yang telah selesai ia masak terhidang rapi diatas meja. Bahkan masakan yang belum selsai ia kerjakan telah siap di atas meja bergabung dengan makanan lain.
"Apakah kamu yang menyelesaikan semua ini, Ariel?" tanya Joel menatap Ariel yang masih tetap tersenyum kearahnya.
"Aku hanya membantu sedikit, Bram-lah yang lebih banyak membereskan semuanya," ungkap Ariel.
"Dia?" Joel melebarkan matanya dengan jari telunjuk menunjuk ke arah Bram.
"Hei,,, apa maksudnya reaksi itu?" sahut Bram melipat tangannya.
"Hanya bertanya, ternyata kau bisa melakukan hal lain selain menghancurkan sesuatu," sindir Joel.
"Akan ku anggap itu sebagai pujian," sambut Bram.
"Oh,,, ambil saja. Aku yakin kau sangat jarang dipuji orang lain," balas Joel. "Jika mengingat sifat aroganmu," sambungnya.
"Terserah,! Katakan saja sesukamu," jawab Bram mengalihkan pandangannya.
"Sejujurnya, Bram tidak menyukai sesuatu yang berantakan," sela Ariel. "Itu sebabnya dia bekerja lebih banyak dariku," ungkap Ariel. "Dan dia bisa melakukannya dengan cepat," imbuhnya.
Joel tersenyum tulus, dan menatap Bram yang masih berpaling darinya. Joel segera mendekati Bram dan meletakkan tangannya dibahu Bram.
"Terima kasih," tutur Joel tulus.
"Jangan salah paham," tukas Bram. " Aku melakukannya karena Ariel, bukan kamu," sambungnya.
"Benarkah?" tanya Joel menaikan alisnya. " kalau begitu, ku tarik kembali kata-kataku," sambungnya sembari menurunkan tangannya dari bahu Bram.
"Ternyata kau adalah orang yang suka menarik ucapan begitu mudah," sindir Bram.
"KRRUYYUUKKK. . . . . . .!!!"
Suara geraman perut Bram terdengar nyaring. Tawa pun pecah memenuhi ruangan dimana mereka berada.
"Baiklah,,, kurasa ada yang sedang benar-benar lapar disini, ayo kita makan!" ajak Joel.
"Berisik,!" sungut Bram.
Ariel masih tertawa sembari memegangi perutnya. Memunculkan rona merah diwajah Bram.
"Arielll,,,!" protes Bram.
"Ups,, Maaf," sambut Ariel berusaha menahan tawa dengan menutup mulutnya.
"Ayo kita makan," ajak Ariel.
Mereka segera duduk mengitari meja makan. Ariel menyendokan beberapa makanan kedalam piring Joel. Tak mau kalah Bram turut menyodorkan piringnya, berharap Aiel juga mengambilkan makanan untuknya.
Dengan senang hati, Ariel juga menyendokan makanan untuk Bram dan untuk dirinya sendiri.
"Kau tidak menambahkan sesuatu kedalamnya kan, Joel?" selidik Bram.
"Khusus untukmu, aku hanya menambahkan obat cuci perut," jawab Joel seenaknya.
Bram melempar serbet disamping piringnya dan mendarat tepat mengenai kepala Joel.
"Kau adalah dokter yang buruk," ujar Bram.
"Dan sejauh ini aku tidak pernah mendengar keluhan dari para pasienku," sambut Joel percaya diri sembari melempar kembai serbat pada Bram.
"Aku bahkan tak sudi menjadi pasienmu," balas Bram.
"Dan aku bahkan tidak pernah berharap kau menjadi pasienku termasuk dalam mimpiku," jawab Joel.
"Adakah yang pernah mengatakan padamu bahwa kau benar-benar sombong?" dengus Bram.
"Itu bukan sombong, tapi aku hanya percaya pada diriku sendiri," sambut Joel.
"Tck,,," decak Bram.
Seoalah baru saja menyadari sesuatu, Bram menoleh perlahan kearah Ariel yang sedari tadi hanya diam.
Joel pun melakukan hal yang sama, dan bersiap untuk meminta maaf.
Mereka menoleh kearah Ariel secara bersamaan, hanya untuk melihat Ariel tengah menatap mereka berdua secara bergantian dangan menopang dagunya.
Mereka lebih heran lagi, Ariel menatap mereka dengan senyum terhias di wajahnya.
"Kenapa kalian berhenti?" tanya Ariel menaikkan alisnya.
"Maaf,," ucap Bram dan Joel.
Ariel gagal menahan tawanya. Membuat mereka berdua lebih bingung dan saling pandang.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya mereka berdua bersamaan.
"Entahlah," jawab Ariel disela tawanya. " Aku hanya merasa hubungan kalian berubah secara bertahap, dan aku menikmatinya. Walaupun kadang memang mengesalkan," terang Ariel.
"Mendengarmu berkata begitu, aku jadi penasaran apakah sekarang perasaanmu sudah lebih baik?" tanya Bram pada Joel.
Joel tertegun...
Bukan dengan pertanyaan Bram, tapi mengingat sikap Bram yang selalu ditunjukan padanya, membuat Joel tidak menyangka Bram bisa mengetahui suasana hatinya.
"Apakah kau menceritakan sesuatu pada Bram, Ariel?" tanya Joel tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.
"Apa maksudmu? Kita masuk bersama-sama saat kau berada di luar dan aku menyusulmu. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk menceritakan apapun pada Bram," sanggah Ariel.
"Apakah sangat mengejutkan aku bisa menebak suasana hatimu hanya dari wajah menyebalkanmu itu?" sahut Bram sedikit kesal.
"Woww,,, Aku tersentuh," ucap Joel tanpa sadar.
"Terserah," sambut Bram mulai menyuap makanannya.
"Hemmm,,, masakanmu lumayan juga," puji Bram kembali menyuap makanan kedalam mulutnya.
"Ine Ehnak ( ini enak)," ucap Bram lagi dengan mulut penuh.
"Jangan bicara saat mulutmu penuh, Bram. Kau bisa tersedak," ucap Ariel mengingatkan.
"Tidhak akahn, (tidak akan)," jawab Bram.
"Biarkan saja, dia akan merasakannya setelah hal itu menimpanya, Ariel," sela Joel.
"UHUKK,,,,!!!"
Detik berikutnya setelah Joel selesai bicara, Bram tersedak dan menyemburkan makanannya kearah Joel hingga mengenai wajahnya.
"BRAMMM,,,,,!" teriak Joe geram.
"Maaf,, Maaf,," ucap Bram menyeka mulutnya. "Aku sengaja. Salahmu mendoakan aku tersedak," dalih Bram.
Ariel tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan mereka, sekaligus keakraban yang terbentuk diantara mereka.
Melihat Ariel tertawa, mereka berdua saling pandang beberapa saat sebelum akhirnya ikut tertawa.
Tawa mereka terhenti ketika tiba-tiba Ariel mencondongkan tubuhnya kearah Joel. Tangannya terulur kewajah Joel dan mengusap serbet diwajah Joel.
"Ada sedikit makanan menempel disini," ucapnya mengusap pelan wajah Joel dengan serbet.
Joel membeku saat wajah Ariel berada sangat dekat dengannya. Jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya, tidak bisa merespon apapun.
Seolah baru menyadari sikapnya, gerakan tangan Ariel terhenti dipipinya dengan mata menatap mata Joel.
'Ugh,,, menyebalkan. Setidaknya jangan bermesraan di depan wajahku,' Bram merutuk dalam hati.
Tidak tahan dengan apa yang dilihatnya, Bram melempar serbet miliknya kearah Joel lagi. Dan kembali mendarat dengan sempurna dikepala Joel.
"Apakah kau seorang bocah? Bagaimna bisa kau makan dengan belepotan begitu?" cecar Bram. "Dan lagi, kau bisa menggunakan seretmu sendiri, kenapa harus Ariel yang melakukanya?" sambungnya.
"Hei,,, kaulah penyebabnya, jangan melempar kesalahan pada orang lain disaat kaulah yang melakukannya," sambut Joel.
"Meski begitu, kau bisa melakukan hal itu sendiri," sahut Bram.
Ariel menarik tangannya, wajahnya merona setelah mendengar ucapan terakhir Bram.
"Penganggu," dengus Joel.
"Yah,,, sama seperti seseorang," balas Bram.
"Hei,, cukup. Kita tidak akan menyelsaikan makan malam dengan adu argumen kan?" sela Ariel setelah berhasil menenangkan hatinya.
Perkataan Ariel berasil menghentikan adu argumen yang sempat terjadi. Mereka akhirrnya mulai menikmati makan malam dengan suasana hangat. Obrolan kecil pun berlangsung dengan di selingi perdebatan kecil yang membuat mereka kembali tertawa. Menertawakan sikap mereka sendiri.