I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
61. Hubungan baru



Siang hari, seseorang menekan bel apartemen Ariel saat ia tengah sibuk dengan partitur didepannya.


Pakaian santai tanpa lengan dengan celana pendek dan rambut yang dijepit asal terlihat berantakan tidak membuat Ariel terganggu saat ia berjalan menuju pintu dengan kertas ditangannya.


Ia menyelipkan pena dari tangan ke telinganya ketika hendak membuka pintu. Matanya masih menatap kertas di tangannya saat pintu terbuka.


"Ada yang bisa saya bant_,,,"


Kalimat Ariel terputus saat mengangkat wajahnya dan melihat Joel berdiri didepan pintu sedikit melebarkan mata saat menatap dirinya.


"Akh,,," pekik Ariel kaget


"BAAMM,,,,!!!"


Ariel segera menutup pintu dengan panik. Sama sekali tidak menyangka bahwa Joel akan datang saat siang. Ia hanya tau ini masih jam bekerja untuk Joel.


Selama beberapa saat, Joel tertegun menatap Ariel dengan penampilan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


'Bagaimana dia bisa tetap terlihat manis dengan penampilan seperti itu?' batin Joel.


"Hei,, Ariel, buka pintunya! Kenapa kamu menutupnya lagi sebelum aku masuk?"


Suara teriakan Joel terdengar dari balik pintu disertai ketukan pelan pada pintunya.


'Kenapa dia harus datang disaat aku seperti ini? Aku benar-benar terlihat berantakan,' rutuk Ariel dalam hati.


"A-Apa yang kau lakukan disini?" balas Ariel yang juga mengeraskan suaranya.


"Apakah kita akan berbicara dengan cara saling berteriak seperti ini, Ariel?" tanya Joel.


"Tunggu,, beri aku waktu sepuluh menit saja," pinta Ariel.


"Waktuku tidak sebanyak itu, buka pintunya sekarang," perintah Joel.


"A-Apa? Tunggu, kalau begitu lima menit," pinta Ariel lagi.


"Sekarang Ariel!," tegas Joel.


"Setidaknya beri aku waktu untuk menganti pakaian," harap Ariel.


"Tidak perlu, aku tidak akan lama disini karena harus kembali bekerja," jawab Joel.


"Lagi pula, kamu sudah mengenakan pakaian, bukan dalam keadaan tanpa pakaian," seloroh Joel.


"Joell,,,!!!" seru Ariel.


"Ha ha ha, bukalah, aku tidak mengigit," goda Joel.


"Aku justru semakin tidak ingin membukanya setelah mendegarmu mengatakan itu," sambut Ariel.


"Aku benar-benar akan kehabisan waktu jika kamu tidak segera membuka pintunya," ucap Joel.


"Tapi_,,,"


"Aku janji tidak akan mengeluhkan apapun," potong Joel cepat.


Ariel merapikan sedikit pakaiannya dan perlahan membuka pintu. Memperlihatkan lebih jelas Joel yang berdiri didepan pintu dengan paper bag di satu tangannya.


"Kamu masih tetap cantik, apa yang kamu khawatirkan?" ucap Joel mendekatkan wajahnya kewajah Ariel.


"Diam,,,!!" sungut Ariel memalingkan wajahnya.


'Ukh,,, memalukan,' rutuk Ariel dalam hati.


Wajah Ariel mulai bersemu merah, membuat Joel semakin ingin mengodanya. Dengan gerakan cepat, Joel memberikan ciuman cepat di bibir sebelum melangkah masuk. Hal itu membuat Ariel tersentak dan segera mengikuti Joel dengan matanya.


"Joel,,!!" protes Ariel menutupi bibir dengan punggung tangannya.


"Aku datang hanya ingin mengantarkan makan siang, sekaligus makan siang bersamamu," jelas Joel mengabaikan protes yang Ariel ajukan.


Saat Joel menuju meja counter untuk menyiapkan makan siang, ia melihat meja yang ada didepan sofa banyak dengan lembaran kertas atasnya, berserakan memenuhi meja.


Kertas yang diremas berbentuk bola juga ada dibeberapa sudut lantai, terlihat jelas bahwa itu dilempar dengan asal.


"Apa yang terjadi dengan apartemenmu? Terakhir ku lihat, tidak sekacau ini," tanya Joel heran.


Joel meraih salah satu kertas yang diramas didekat kakinya, lalu membukanya. Beberapa not balok yang tertulis rapi namun juga banyak coretan didalamnya.


Dikertas lain, not balok yang dihubungkan dengan beberapa garis yang tidak ia mengerti. Dahinya mengernyit untuk membaca tulisan kecil dibawah tiap not.


"Ini apa?" tanya Joel.


"Pratitur," jawab Ariel.


"Aku sedang melakukan aransemen untuk lagu yang akan dibawakan Ken untuk tampil," jelas Ariel.


"Haa,,, sepertinya kepalaku akan meledak jika menghadapi ini setiap hari," celetuk Joel menatap kertas ditangannya dengan berkedip beberapa kali.


Disudut lain meja, terdapat tiga cangkir kopi yang telah kosong. Melihat hal itu, Joel segera menatap Ariel.


"Apakah kamu meminum kopi sendirian?"sembari menunjuk cangkir.


"Itu tak akan baik untuk tubuhmu. Ini bahkan masih setengah hari," lanjut Joel.


"Aku terbangun jam tiga pagi, dan tidak bisa tidur. Lalu ingat kalau aku belum memilih lagu untuk Ken. Tapi, hal itu justru berakhir buntu," terang Ariel tertawa canggung.


"Dan belum makan?" tanya Joel.


Ariel mengeleng pelan.


"Aku bahkan baru sadar sekarang sudah siang," jawab Ariel.


Joel meletakkan paper bag dimeja counter dan mengeluarkan isinya. Mulai menyiapkan untuk makan siang, sementara Ariel duduk dikursi bulat yang ada didepan meja.


"Sepertinya aku datang disaat yang tepat," ucap Joel.


"Seharusnya kamu menghubungiku lebih dulu jika mau datang," protes Ariel. "Setidaknya aku bisa sedikit merapikan tempat ini," lanjut Ariel.


"Dan tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk melihatmu seperti ini?" goda Joel menatap Ariel dari atas sampai bawah.


Celana pendek dan atasan tanpa lengan memperlihatkan kulit putih bersihnya, rambut coklat panjangnya yang dinaikkan dan dijepit dengan asal, helaian rambut yang gagal di jepit menjuntai di garis pipinya.


"Maaf, aku lebih memilih untuk datang dengan cara ini," imbuh Joel dengan seringai diwajahnya.


"Baiklah, kita makan dulu, setelah ini aku harus kembali ke rumah sakit," ucap Joel menyodorkan sepiring makanan pada Ariel.


"Kapan kamu memiliki waktu untuk memasak?" tanya Ariel sebelum menyuap makan siangnya.


"Ehmm,, kentang?" gumam Ariel sambil mengunyah makanannya.


"Pagi hari sebelum berangkat, dan tempat makanan yang aku bawa bisa dihubungkan ke listrik untuk menjaga makanan tetap hangat," terang Joel.


Joel mulai menyuap makanannya sendiri, sambil terus mencuri pandang kearah Ariel yang tengah menikmati makanan buatannya dengan lahap. Hal itu membuat dirinya senang hanya dengan Ariel menyukai apa yang ia buat dengan tangannya sendiri.


"Ehm,,, Ariel,?" panggil Joel.


"Uhm,,?" Ariel menaikan alisnya menatap Joel masih mengunyah makanan dimulutnya.


"Apa-apakah,,, apakah sekarang,,,kita,,,,ehmm,,, itu,,," Joel mengosok belakang lehernya dengan canggung.


"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?" tanya Ariel.


"Ukh,,, itu,,, aku hanya,,, ingin tau. Uhmm,, apakah sekarang kita,,,"


Joel kembali kehabisan kata-kata dan mengantung kalimatnya. Menatap mata Ariel, lalu menunduk.


"Joel,,?" panggil Ariel.


Joel mengangkat wajahnya dan melihat Ariel tengah menatapnya.


"Kenapa sekarang kamu jadi terihat seperti kepiting rebus?" tanya Ariel tidak bisa menahan tawanya. "Padahal saat datang kamu terlihat percaya diri sekali," imbuhnya.


"Ariel,,,!" protes Joel.


"Pft,, maaf,, ha ha ha,, baik,, baik,, aku dengarkan. Katakan,!" pinta Ariel menghentikan tawanya dan melipat tangannya dimeja.


"Apakah sekarang kita,,, ekh,, bukan, apakah sekarang kamu,,,," Joel kembali merasa gugup.


Ia kembali berpikir apakah waktu yang pas untuk menanyakan hal itu? Apakah itu terlalu terburu-buru?


"Tidak,, lupakan saja," ucap Joel cepat.


Joel kembali makan makanan didepannya dalam diam.


Ariel mencondongkan wajahnya, tangannya terulur dan meletakkannya di pipi Joel. Menuntunnya agar menatapnya.


"Kau tau? Aku merasa buruk ketika kamu datang dan aku dalam penampilan seperti ini. Rasanya seperti_,,,"


"Aku menyukai apapun penampilanmu, Ariel. Di mataku, kamu tetap cantik dengan penampilanmu," potong Joel.


"Karena kamu bisa membuatku merasa nyaman dalam waktu cepat dan aku tetap menjadi diriku sendiri," sambung Ariel.


Joel tersenyum tipis, membalas tatapan mata yang Ariel tunjukkan untuknya.


"Apakah hubungan kita adalah kekasih? Itukah yang ingin kamu katakan?" tanya Ariel tersenyum lembut sembari menurunkan tangannya.


"Kamu,,, tidak keberatan tentang itu?" tanya Joel sedikit ragu.


"Maksudku,,, aku tidak ingin memaksa atau mendesakmu untuk menjalin hubungan yang tidak kamu ingink_,,,"


"Apakah kamu ragu dengan perasaanku padamu?" potong Ariel.


"Apa,?? Tentu saja tidak, kenapa kamu menanyakan hal konyol itu?" tukas Joel.


"Itulah tepatnya yang ingin kutanyakan. Kenapa kamu menanyakan hal konyol?" jawab Ariel balas bertanya.


"Tapi, jika kamu memang ingin tetap menanyakannya, maka jawabannya adalah 'Ya'," tutur Ariel tersenyum.


Joel meletakkan tangannya diatas tangan Ariel, lalu meremasnya dengan lembut.


"Kau tau? Kupikir aku tidak bisa lebih bahagia lagi setelah kemarin, tapi kamu membuktikan bahwa aku salah. Aku merasa lebih bahagia dari kemarin saat ini," ungkap Joel.


"Entah kenapa, aku sekarang bisa mengatakan hal yang sama untukmu," jawab Ariel.


Mereka membersihkan meja dan peralatan makan mereka setelah selesai.


"Joel,,!" panggil Ariel saat Joel didepan pintu bersiap pergi.


"Ya? Apa?" jawab Joel berbalik.


"Jika kamu sedang bekerja, jangan datang ke apartemenku_,,,"


"Kenapa? Kamu tidak menyukainya?" potong Joel.


"Aku bahkan belum menyelesaikan apa yang ingin ku katakan," sungut Ariel.


"Aku yang akan menemuimu di rumah sakit, jadi kamu tidak perlu menemuiku jika kamu ingin kita makan siang bersama," jelas Ariel.


"Tapi_,,,"


"Kamu memiliki tanggung jawab besar yang berhubungan dengan nyawa seseorang, Joel. Jangan abaikan tentang fakta itu," potong Ariel.


"Aku tau kamu mengambil jam istirahat dan ada dokter lain, tapi tidak selamanya keadaan sesuai dengan keinginan, bukan?" tambahnya.


"Baiklah," jawab Joel lesu sembari memalingkan wajahnya.


"Hei,," Ariel mendekati Joel,


Ariel mengulurkan tangannya, menuntun Joel untuk menatapnya, lalu melingkarkan tangannya dileher Joel.


"Terus terang, sisi kekanakanmu itu terlihat manis," goda Ariel tersenyum.


"Kamu bisa menemuiku kapan saja setelah bekerja atau ketika kamu libur. Dan aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan menemuimu jika aku sedang libur atau setelah bekerja,"


"Akan aku usahakan untuk menyesuaikan jadwalku dengan jadwal milikmu, apakah itu cukup untuk membuatmu merasa lebih baik?" tanya Ariel.


Joel melingkarkan tangannya dipinggang Ariel, dan menariknya mendekat.


"Jauh lebih baik," jawab Joel membungkukkan badannya.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke rumah sakit sekarang," imbuhnya.


Joel mencium kening Ariel dan beranjak pergi seraya melambai ringan saat ia masuk kedalam lift yang segera dibalas Ariel dengan senyum tersungging di bibirnya.


...>>>>>>>--<<<<<<<...