I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
115. Kembali



Waktu terus berlalu dalam keheningan hingga Charlie tiba di pantai. Ia membelalakan matanya saat melihat apa yang ada didepannya.


Wanita yang tidak ia kenal, Jesica, Bram, Joel, dan,,,,, Ariel yang berada dalam pelukan Joel, terkulai tak bergerak.


Wajahnya sangat pucat, tubuhnya terasa dingin saat Charlie mendekati mereka dan menyentuh tangan Ariel.


Ken yang saat itu mendengar apa yang dikatakan Jesica mengikuti Charlie karena khawatir jatuh terduduk diatas pasir ketika melihat hal itu.


"B-Bagimana bisa,,,," suara Charlie tercekat, tidak sanggup untuk meneruskan kalimatnya.


"Tanyakan pada mereka berdua," jawab Bram menunjuk Jesica dan Christina.


Charlie menghampiri Jesica dan Christina, memberi mereka pertanyaan yang sama, namun tak satupun dari mereka menjawab pertanyaan yang diajukan.


"Kamu mungkin sahabatku, Jes, tapi aku akan tetap bersikap adil dengan mengesampingkan hal itu," ucap Charlie.


"Kau bahkan menuduhku, dari matamu aku tau kau menganggap akulah yang melakukanya. kalau begitu, lakukan saja tugasmu," jawab Jesica datar.


Charlie menghela nafas panjang, mengarahkan kembali pandangannya pada sosok Joel yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Tangannya mengeluarkan ponsel untuk menghubungi rekan kerjanya dan meminta dikirimkan tim investigasi serta ambulance.


Mereka serentak menghampiri Joel, berniat untuk membujuk Joel agar melepaskan Ariel. Namun Joel enggan melepaskan Ariel dari pelukannya.


"Joel,,, tolong,,,setidaknya tubuhnya harus dibersihkan," bujuk Charlie.


"Aku bisa mengerti perasaanmu, tapi kamu juga pasti tau apa yang harus kita lakukan pada Ariel, bukan?" sambungnya.


Joel hanya bergeming, ia justru semakin mengeratkan pelukannya. Mendekap kekasihnya yang ia tau tidak akan pernah ia dengar lagi suaranya. Sampai Joel merasakan suhu dingin tubuh Ariel sedikit berkurang.


Perlahan ia melepaskan pelukannya, berharap apa yang ia rasakan adalah benar, berharap itu bukanlah mimpi dan hanya ingin membuat dirinya merasa senang meski itu sesaat. Pria yang tidak lagi memakai kacamata itu memandangi wajah Ariel dengan penuh harap. Ia kembali membaringkan tubuh Ariel, dan kembali memberikan nafas melalui mulutnya.


"Kumohon,,,," harap Joel sembari menekan dada Ariel beberapa kali.


"Joel,,, tolong hentikan!" cegah Charlie menyentuh bahu Joel.


"Tidak,,, tubuhnya kembali,,, hangat,," ucap Joel terus menekan dada Ariel. "Aku,,, merasakannya," imbuhnya.


Apa yang dikatakan Joel membuat mereka melebarkan mata mereka, mengarahkan pandangan mereka pada Ariel dengan penuh harap. Joel kembali mengulang memberikan nafasnya. Terus menekan dada Ariel.


"Bernafaslah,,,," harap Joel tanpa menghentikan gerakannya.


"Ayolah,,, bernafas,,,,"


Hingga,,,,


"UHUKKk,,,uhuk,,,,,"


Ariel terbatuk mengeluarkan air dari mulutnya, dan perlahan mulai membuka matanya. Sebelum Ariel berhasil mencerna apa yang baru saja terjadi, Joel membelai wajah Ariel dengan lembut dan menarik perlahan tubuh Ariel kepelukannya dengan hembusan nafas lega.


"Terima kasih tuhan,,," desah Joel lega.


"Terima kasih,,," bisik Joel di teinga Ariel.


"Terima kasih sudah kembali,," ucap Joel lagi.


Ariel mengerjapkan matanya, melihat teman-temannya kini mengelilingi dirinya dengan kelegaan yang teramat jelas diwajah mereka. Ia bergerak untuk melepaskan diri dari Joel, namun gagal saat merasakan lemas disekujur tubuhnya. Seolah tenaganya telah terkuras habis, ia bahkan tidak bisa menahan tubuhnya sendiri agar dalam posisi tegak.


"Uhuk,, A-A-Apa yang t-terjadi?" tanya Ariel bingung.


Tenggorokannya terasa seperti baru saja menelan terlalu banyak air hingga tidak bisa lagi menelannya.


"Kau sukses menakuti semua orang," jawab Bram dengan suara kesal.


Bram berkata dengan nada kesal, namun Ariel dapat melihat dengan jelas kecemasan dan kelegaan disaat yang sama pada wajahnya. Bahkan di wajah semua orang yang tengah mengelilingi dirinya.


Joel melepaskan pelukannya, dan tetap menopag tubuh Ariel agar tetap bersandar padanya. Kerutan didahi Ariel muncul saat ia mendongak dan melihat mata Joel sembab.


"Ehh,,, kamu,,, menangis?" tanya Ariel dengan suara lemah.


"Seperti anak kecil yang kehilangan permen," timpal Bram.


"Diam,!" sambut Joel memalingkan wajahnya.


Mereka tertawa singkat, memperlihatkan kelegaan di wajah mereka membuat Ariel tersenyum sembari mengelengkan kepalanya.


"Ariel,,, aku tidak bermaksud merusak suasana, tapi katakan padaku siapa yang melakukannya?" tanya Charlie hati-hati.


Ariel menatap dua orang yang tampak gelisah ditempatnya berdiri dan enggan membalas tatapannya.


"Jessi,,,,"


Suara lemah Ariel berhasil membuat semua mata tertuju padanya, termasuk Christina. Ia menatap Jesica dan Ariel secara bergantian dengan tatapan tak percaya.


Semua orang yang berada disana memberikan tatapan penuh intimidasi yang sama pada Jesica. Bram baru akan membuka suara ketika Jesica lebih dulu berbicara.


"Cih,,, semua menjadi terasa menyebalkan," rutuk Jesica.


Jesica membalas tatapan mata Ariel, perlahan senyum lembut tumbuh disudut bibir Ariel,membuat Jesica tersentak.


"Aku yang melakukannya, lalu kenap_,,,"


"Terima kasih," potong Ariel.


Jesica jatuh terduduk, hingga perlahan air matanya bergulir membasahi pipinya. Sementara mereka (Joel, Bram, Charlie, Ken) menatap Ariel dangan pandangan bingung,


"Menyebalkan," umpat Jesica.


"Kepekaan perasaanmu sungguh mengerikan, apa kau sadar akan hal itu?" ucap Jesica.


"Bukankah itu juga yang kamu lakukan?" balas Ariel.


Jesica tersenyum kecut, lalu memalingkan wajahnya.


"Sejak kapan kamu menyadarinya?" tanya Jesica.


"Sejak aku tetap memanggilmu dengan nama yang kugunakan hanya untukmu," jawab Ariel.


"Fakta bahwa aku yang menjadi penyebab kamu seperti ini tetap ada, Ariel," sanggah Jesica.


"Fakta bahwa kamu khawatir saat aku terjatuh juga tidak bisa ku abaikan, dan kita berdua tau kemampuanmu didalam air tidak cukup untuk menyelamatkan sesorang," balas Ariel.


"Bagaimana mungkin, orang yang khawatir padaku akan mencelakaiku? bahkan,,, kamu menggunakan cara gila hanya untuk memastikan aku tidak mengalami hal yang jauh lebih buruk,"


"Bisakah kamu berhenti berpura-pura membenciku? Dan berhenti membuatku salah paham hingga menilai kamu mengkhianati persahabatan kita disaat kamu tidak melakukannya?"


"Kamu masih tetap sahabat terbaikku, Jessi," ucap Ariel. "Dan aku merindukan sahabatku yang dulu juga sekarang," tambahnya.


"Karena hal itu juga yang membuatku percaya kamu memiliki alasan atas apa yang kamu lakukan selama ini," papar Ariel


Setelah sekian lama, Jesica akhirnya memberikan senyum tulus diwajahnya. Banyak pertanyaan memenuhi pikiran mereka, namun mereka tidak memiliki waktu untuk bertanya lebih jauh ketika tim yang di hubungi Charlie tiba disana.


"Bisakah kita menganggap ini adalah kecelakaan saja?" harap Ariel.


"APAA,,,?" seru Charlie


"Kau gila?" sembur Jesica.


"Tidak bisa," jawab Joel.


"Mustahil," ucap Bram.


Mereka memberikan jawaban penakan yang berbeda secara serentak.


"Tolong,,,," harap Ariel menatap satu persatu teman-temannya..


"Serahkan itu pada Charlie," jawab Joel. "Untukmu, sebaiknya kamu istirahat," imbuhnya.


"Aku setuju, untuk urusan disini, serahkan saja padaku. Aku hanya membutuhkan mereka berdua sebagai saksi," ujar Charlie.


"Dan aku akan menemuimu jika itu memang diperlukan," imbuhnya.


"Tapi aku tidak mau_,,,"


"Aku tidak membawamu ke rumah sakit, karena aku tau kamu tidak menyukainya," potong Joel.


"Tapi, kamu istirahat dirumahku, aku akan meminta asistenku untuk mengirimkan perlengkapan medis kemari," jelas Joel.


"Jadi, apakah kami bisa pergi lebih dulu?" tanya Joel.


"Yah,, pergilah," jawab Charlie.


"Tunggu dulu," cegah Ariel.


"Pergilah istirahat! Aku tidak ingin mentolelir apapun," tegas Charlie membuat Ariel terdiam.


Joel mengangkat tubuh Ariel, lalu mengendongnya menuju rumah. Sementara Bram, Jesica, Ken, dan Charlie tetap berada disana untuk membahas lebih lanjut yang terjadi.


Menetapkan Christina sebagai tersangka. Sejak Ariel jatuh dari tebing, Christina tidak membuka suara sekalipun Charlie bertanya padanya. Ia hanya diam dengan kepala tertunduk.


'Joel menatapku dengan kebencian yang jauh lebih besar. Lalu apa gunanya sekarang? Dan wanita yang bernama Jesica adalah sahabat Ariel? Itu di luar perkiraanku. Aku tau siapa dia, dan bagaimana keluarganya. Aku tidak akan bisa menang melawannya,' batin Christina.


"Aku harus menghubungi pihak keluarganya, tapi dia sama sekali tidak mau membuka suara," keluh Charlie.


"Kurasa Joel tau sesuatu, entah itu rumah atau apa saja yang berguna. Hanya saja, kita tidak bisa bertanya sekarang," sambut Bram.


"Aku tau semua informasi tentangnya, dia salah satu orang yang sering berpindah pindah. Untuk alamat barunya dikota ini, aku belum mendapatkannya," lanjutnya.


"Kak,,," panggil Ken menyela percakapan mereka sembari menarik lengan baju Charlie.


"Apa? Aku sedang bertugas," sambut Charlie.


"Itu,,, Wanita itu,,, aku sekarang ingat, dia yang memasukan Afriodisiak kedalam minuman kak Ariel dan memberikan sisanya padaku yang kakak temukan di kamarku waktu itu," ungkap Ken.


Charlie menoleh cepat kearah adiknya, menatap lekat matanya untuk mencari adakah kebohongan disana. Namun, Ken justru membalas tatapan sang kakak untuk menunjukan dirinya bersungguh-sungguh.


"Kau bilang apa?"


Bram dan Jesica serentak bertanya pada Ken. Mata mereka berdua memancarkan kemarahan.


"Kau,,," desis Jesica marah menatap Christina.


"Aku tau aku tidak sepenuhnya dalam keadaan bersih dari kesalahan, tapi,, Afrodisiak? Apa kau gila?" bentak Jesica.


"Aku hanya mendengar sebagian dari yang kau katakan padanya, dan salah satunya penculikan, apa maksudnya?" tanya Jesica.


"Penculikan?" ulang Ken melebarkan matanya.


"Itu terjadi saat kak Ariel sakit," terang Ken.


"Waktu itu kami berkunjung ke apartemen kak Ariel dan melihat seseorang akan membawa kakak," papar Ken.


"Kekerasan, obat dan sekarang membunuh?"


"Wow,,, luar biasa. Akan ku pastikan kau tak akan hidup tenang," ucap Jesica.


"Mungkin kau bisa lepas dari hukum, tapi kau tak bisa lepas dariku," sambungnya.


Charlie menghela nafas panjang, menatap Jesica yang berubah dari sosok yang ia kenal sebelumnya. Sisi protektif yang pertama kalinya ia lihat dari seorang Jesica.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


Disisi lain.


Joel menurunkan Ariel diatas tempat tidur, detik berikutnya ia menatap Ariel dengan tatapan bingung sembari mengaruk kepalanya.


"Uhm,,,, itu,,,, apakah,,,"


"Itu,,, apakah,,, kamu bisa menganti pakaian sendiri?" tanya Joel tertunduk malu.


Seolah baru saja tersadar, Ariel memandangi dirinya sendiri. Tubuhnya hanya terbungkus jaket. Entah dimana pakaian yang ia kenakan sebelumnya Ariel tidak ingin bertanya lebih jauh. Ia hanya tau hal itu terjadi semata-mata untuk menyelamatkan dirinya yang tengelam.


"Aku bisa meminta Charlie datang sebentar untuk membantumu," ucap Joel lagi.


"Tidak," Ariel mengelengkan kepalanya. "Aku bisa melakukannya," sambut Ariel.


"Kamu yakin?" tanya Joel.


Ariel mengangguk.


"Ganti disini saja, tidak perlu kekamar mandi," ucap Joel.


"Sementara pakai ini dulu, apakah kamu keberatan?" tanya Joel hati-hati sembari memberikan sweeter miliknya.


"Terima kasih," sambut Ariel menerima sweeter yang diberikan Joel untuknya.


Joel keluar kamar untuk memberi Ariel waktu menganti pakaiannya. Awalnya Ariel merasa tidak enak jika ia harus memakai pakaian dalam keadaan kotor karena air laut, hingga ia memutuskan untuk ke kamar mandi sekedar membersihkan kaki dan tangannya.


'DUG,,,!!!'


Ariel jatuh terduduk saat merasakan kakinya seolah kehilangan tenaganya hingga tidak bisa menopang tubuhnya sendiri. Menyebabkan pintu kamar terbuka.


.....


....


.


. To be Continued...