I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
52. Tawaran Mendadak



Joel menunggu didepan pintu apartemen Ariel dengan gelisah. Untuk kesekian kalinya ia melihat jam tangannya lalu mendesah pelan.


"Kenapa dia belum juga kembali? Setelah mengantar Christina, aku langsung ke taman untuk menemuinya, tapi baik dia dan Bram tak terlihat. Aku pikir dia segera pulang, tapi kenyataannya_,,," Joel bergumam disertai hembusan nafas berat.


Ingin marah tapi ia sadar tak memilki hak untuk itu. Sementara itu, diluar apartemen, mobil Bram terlihat berhenti didepan gedung apartemen.


"Aku sangat berterima kasih untuk hari ini, Bram," ucap Ariel dengan tulus.


"Kamu tidak perlu berterima kasih untuk hal sederhana seperti itu, Ariel. Aku dengan senang hati akan melakukannya lagi jika memiliki kesempatan," sambut Bram.


"Tapi, aku memiliki satu pertanyaan untukmu," ucap Ariel mengeser duduknya sambil menatap Bram.


"Apa itu?" tanya Bram.


"Apakah kamu sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Ariel.


"Aku tak mengerti," sambut Bram mengerutkan keningnya.


"Apa yang terjadi denganmu hari ini? Apa yang membuatmu begitu kesal? Ketika kamu datang pagi ini, kamu terihat jelas sedang marah, apa penyebabnya?" cecar Ariel.


Bram tertegun, menatap lekat mata Ariel yang kini berada tepat didepannya, dimana jarak mereka hanya beberapa senti.


"Apakah aku sejelas itu memperlihatkan emosiku?" tanya Bram.


"Kamu cukup baik dalam menyembunyikan perasaanmu, tapi jangan kau pikir bisa menyembunyikan itu dariku," jawab Ariel.


"Apakah karena itu juga kamu menerima ajakanku hari ini?" tanya Bram tersenyum kecut.


"Terlepas dari apa alasannya aku menerima ajakan darimu, aku sangat menikmati hari ini," jawab Ariel.


"Namun, dari pada itu, aku ingin tau apa alasannya," imbuhnya.


"Hanya tentang pekerjaan," kilah Bram.


"Akan lebih baik jika kamu mengatakan, itu bukan hal yang harus kutahui, alih-alih kamu harus berbohong padaku," sindir Ariel.


"Tapi aku bisa mengerti jika kamu tidak ingin menceritakannya, aku tidak akan mendesakmu, sekali lagi terima kasih untuk hari ini," ucap Ariel.


"Maaf," ucap Bram lirih.


"Tapi, jujur aku juga sangat menikmati hari ini, terima kasih karena kamu mau menemaniku hari ini," sambung Bram.


"Selamat malam, Bram," ucap Ariel.


"Selamat malam, Ariel," balas Bram.


Ketika Ariel akan keluar dari mobil, Bram menahan tangan Ariel, membuatnya kembali berbalik menatap Bram.


"Ada apa?" tanya Ariel bingung.


Bram terdiam sejenak sebelum menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan cepat, menatap Ariel yang masih menunggunya bicara.


"Apakah kita akan tetap berteman, Ariel?" tanya Bram penuh harap.


"Tentu, kita bisa tetap berteman, sama seperti saat ini" jawab Ariel.


"Apakah salah jika aku mengharapkan lebih dari itu?" tanya Bram lirih dengan kepala tertunduk.


"Aku tidak akan mengatakan itu hal yang salah. Akan tetapi kamu tau jelas bagaimana hal itu akan berakhir bukan?" jawab Ariel balas bertanya.


"Tidak bisakah kita memperbaiki ini dan kembali seperti dulu?" harap Bram.


"Kamu tau bahwa hal itu tidak mungkin kan?" sambut Ariel dengan lembut.


"Aku sungguh-sumgguh menyesali apa yang telah terjadi dimasa lalu, Ariel. Aku menyesalinya setiap waktu yang kujalani hingga kini," ungkap Bram.


"Aku terjebak, tidak peduli berapa banyak aku mencoba untuk berubah menjadi lebih baik, tidak ada yang melihatku untuk siapa aku sebenarnya seperti ketika kamu melihatku,"


"Aku tau, aku berjanji untuk tidak akan mengatakan hal seperti ini lagi. Aku berusaha untuk menepatinya. Tapi_,,,"


Bram mengantung kalimatnya, kepalanya tertunduk semakin dalam, lalu mengeleng pelan. Memaksakan sebuah senyum dibibirnya meski itu terlihat seperti sebuah senyuman patah.


"Tapi, aku lebih tidak ingin kamu menciptakan jarak yang lebih jauh lagi dari ini. Perasaanku padamu masih sekuat pertama kali kita bertemu, Ariel," ungkap Bram.


Ariel terdiam selama beberapa saat, hatinya tersentuh dengan ketulusan yang Bram tunjukkan padanya. Namun, perasaannya tidak ada sedikitpun untuk Bram. Ia juga tidak ingin memperlihatkan perasaan palsu pada Bram, karena dirinya juga menyadari itu hanya akan mengoreskan luka baru.


"Aku minta maaf jika aku bersikap kejam padamu. Tapi, aku tidak bisa lagi memberi ruang untukmu didalam hatiku. Meski aku mengatakan aku ingin, namun hatiku menolak," tutur Ariel hati-hati.


Ariel masih membiarkan tagan Bram mengengam pergelangan tangannya.


"Aku tau, dan aku juga bisa melihat apa alsannya dari matamu meski kamu belum menyadarinya," ucap Bram tersenyum paksa.


"Setelah hari ini aku benar-benar akan berhenti untuk mengatakan hal bodoh seperti ini lagi. Aku sudah kehilanganmu satu kali, jadi aku tidak ingin kembali kehilangan teman sepertimu," papar Bram.


"Aku juga tau, ini bukan pertama kali aku menjanjikan hal seperti ini, hanya saja aku tidak menyangka akan membutuhkan waktu lebih banyak, dan hal yang sangat aku tidak ingin itu terjadi adalah kamu membenciku,"


"Kita akan tetap berteman kan?" harap Bram.


"Aku sudah pernah bilang padamu bukan? Kita tetap berteman hari ini, nanti dan akan tetap begitu seterusnya," jawab Ariel tersenyum tulus.


"Itu, sangat berharga, Ariel. Terima kasih," balas Bram.


Sekali lagi Bram tersenyum. Dan kali ini senyuman itu terasa lebih hangat. Bram melepaskan tangan Ariel dan mengulurkan tangannya dengan posisi jari tangan menghadap keatas.


Ariel tersenyum dan mengaggukan kepalanya, menerima tangan Bram dengan senang hati.


Tak lama setelah itu, Ariel masuk ke gedung apartemennya setelah mobil Bram hilang dari pandangannya. Ketika pintu lift terbuka, ia dikejutkan dengan Joel yang berdiri didepan pintu apartemennya.


"Itulah tepatnya yang ingin kutanyakan padamu. Apa yang membuatmu begitu lama untuk pulang?" jawab Joel balas bertanya.


Ariel mengerutkan keningnya, menatap Joel yang terlihat kesal akan sesuatu. Mendesah pelan, Ariel berbalik berlawanan dengan pintu apartemennya.


"Ikut aku!" pinta Ariel mulai melangkah.


"Kemana?" tanya Joel.


"Diam dan ikut saja," tegas Ariel melangkah meninggalkan apartemen.


Ariel melangkah keluar, dan saat itulah ia baru menyadari keberadaan mobil Joel.


Memilih berjalan kaki, Ariel melangkah menuju taman terdekat. Tak lama kemudian, Joel berada disamping Ariel, mengimbangi langkahnya.


"Hei,,, aku pernah dengar ada arcade tak jauh dari sini. Mau kesana?" tawar Ariel.


Joel menatap Ariel tanpa suara, memberikan tatapan bertanya dan bingung dalam waktu yang sama.


"Haaa,,," Ariel mendesah pelan menyadari tatapan Joel padanya.


"Kenapa kau terlihat begitu kesal? Apakah terjadi sesuatu ketika kamu bersamanya?" tanya Ariel.


"Apakah itu satu-satunya pertanyaan yang ada didalam pikiranmu?" jawab Joel balas bertanya.


"Banyak pertanyaan yang ada didalam pikiranku, Joel. Salah satunya, kenapa kamu berada didepan pintu apartemenku," ucap Ariel tenang.


"Dan jangan gunakan alasan karena kamu khawatir. Aku bahkan tidak memiliki niat untuk membunuh diriku sendiri, kau tau?" sambung Ariel.


"Apakah itu lucu bagimu?" sambut Joel dingin.


Ariel menghentikan langkahnya, menatap Joel seolah tidak lagi mengenalinya. Joel juga menghentikan langkahnya ketika menyadari Ariel berada dibelakangnya.


Perlahan, Ariel melangkah maju mendekati Joel. Jarak mereka yang semakin dekat membuat jantung Joel berdetak lebih cepat.


Joel membeku saat jarak mereka hanya beberapa senti. Ariel mendongak menatap mata Joel, tangannya terulur melepaskan kacamata yang Jeol kenakan.


"Apa yang membuatmu begitu marah? Raut wajah ini jelas berbeda dengan ketika kau melihatku bersama Bram. Hal itu jelas membuktikan bukan Bram yang membuatmu kesal," tutur Ariel.


Joel merasakan Ariel kembali memasangkan kacamata padanya. Jarak wajah mereka menjadi lebih dekat ketika Ariel memakaikan kacamata pada Joel dengan sedikit berjinjit.


Joel bahkan bisa melihat bulu mata Ariel sedikit bergerak karena hembusan nafasnya. Beberapa kali Joel menelan ludahnya, berusaha mengendalikan diri.


"Apa kamu masih tidak ingin bicar_,,,"


Kalimat Ariel terputus saat Joel tiba-tiba menagkup wajahnya dan mencium bibirnya. Ariel terkesiap, mencoba untuk mendorong Joel, namun tangan Joel bergerak lebih dulu mencengkram pergelangan tangan Ariel, dan menarinya lebih dekat.


Waktu seolah berjalan lambat, cengkraman tangan Joel merenggang bersamaan dengan Joel manarik wajahnya, menatap lekat mata Ariel yang masih terlihat jelas sebuah keterkejutan dimatanya, lalu ia meletakkan dahinya dibahu Ariel.


"Kamu bisa menamparku jika kamu marah padaku," bisik Joel.


Hening. . . .


Ariel tetap bergeming. Diamnya Ariel membuat Joel mengangkat wajahnya, hingga tatapan mereka kembali bertemu.


Ketika Ariel hendak membuka suara, sebuah suara dari belakangnya lebih dulu menyela.


" Excusez moi, mademoiselle, monsieur, [ permisi, nona, tuan] " ucap salah satu dari dua pria yang menghampiri Ariel dan Joel.


Mereka berdua mengarahkan pandangan mereka kearah dua pria yang tersenyum sopan. Ariel balas tersenyum ramah, sementara Joel tersenyum bingung.


"Bonjour, [ Hallo]," sapa mereka menganggukan kepala mereka.


"*Désolé, si je dérange, [Maaf jika saya menganggu],"


"Es-tu la même femme que dans le parc cet aprés-midi? [ Apakah anda wanita yang sama seperti di taman sore ini*?]" tanyanya.


"Haa,,, apa yang kalian katakan?" sambut Joel bingung.


"Oh seigneur [ ya tuhan]," ucap pria itu menepuk dahinya.


"Maaf, saya lupa. Tanpa sadar saya menggunakan bahasa negara saya," sesalnya.


"Cela n'a pas d'importance, [ itu tidak masalah]" sambut Ariel ramah.


"Je comprends. Tu peux continuer, [ Saya mengerti. Anda dapat melanjutkan," lanjut Ariel.


"Merci mademoiselle, tu es trés bon, [ terima kasih nona, anda sangat baik]" jawabnya tersenyum hangat.


Joel mengarahkan pandangannya pada Ariel, takjub dengan cara Ariel berbicara menanggapi mereka. Namun ia juga terkejut dengan fakta yang ada.


"Ah,, sebelum itu, perkenalkan, saya Albert, dan ini saudara saya Darrel. Kami adalah salah satu pemain orkestra jalanan yang berada di taman siang ini," papar Albert.


"Kami tadi melihat permainan Orgen anda,dan jujur kami terpukau dengan cara anda memainkannya," ungkap Darrel.


"Baiklah, lalu apa alasan anda berdua mendatangi saya?" tanya Ariel ramah namun tidak menurunkan kewaspadaannya.


"Kami ingin mengajak anda bergabung bersama kami dalam grup orkestra kami, dimana kami telah mendaftar untuk pertunjukan musik di Paris," ungkap Albert.


"Kami memiliki piano, namun tidak ada yang bisa memainkannya. Jika dilihat dari cara anda memainkan Orgen, saya yakin anda bisa menguasai piano dengan cepat," sambung Darrel.


"Bisakah anda mempertimbangkan ini, nona?" tanya mereka bersamaan.


Ariel terdiam, sementara Joel hanya diam menunggu tanpa mengerti apa yang dibicarakan Ariel dan dua pria didepannya.


...>>>>>>>--<<<<<<<...