I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
82.Curiga atau menuduh?



Disisi lain, Bram memasuki sebuah nighclub dan duduk dikursi yang ada didepan meja bar. Meminta bartender membuatkan minuman untuknya.


Sesekali ia mengusap sudut bibirnya yang tampak sedikit sobek dengan memar disekitarnya lalu mendengus kesal. Segera setelah bartender menyodorkan minuman untuknya, Bram meneguk minuman itu sampai tandas dalam satu tegukan, dan kembali meminta minuman pada bartender.


"Sungguh menyedihkan, kau terus datang kemari hanya ingin melupakannya alih-alih berusaha merebut dia darinya,"


Suara sarkas seorang wanita membuat Bram menoleh dan mencibir setelahnya saat mengetahui siapa wanita itu.


"Sekarang aku bertanya-tanya untuk apa kau menemuiku disini," sambut Bram datar.


"Jika aku mengatakan itu kebetulan, kurasa kau tak akan percaya," jawabnya disertai tawa ringan.


"Kau bahkan bukan orang yang bisa di percaya, Jesica. Tidakkah kau menyadari itu? Bahkan orang yang pernah menjadi sahabatmu pun pergi meninggalkanmu," cibir Bram.


"Hal itu cukup menjadi urusanku, kau tak perlu membuang waktumu untuk masuk kedalamnya," sambut Jesica tenang.


Bram melirik Jesica yang duduk disampingnya, mulai menyesap minumannya yang diberikan bartender setelah beberapa saat lalu memesannya.


Wajahnya tampak tenang, dan tidak ada sedikitpun emosi didalamnya setelah mendengar apa yang di katakan Bram.


"Apakah itu juga termasuk rencanamu untuk mendapatkan Joel kembali?" sindir Bram.


"Entahlah," Jesica menaikan bahunya dengan acuh.


"Apapun yang aku lakukan, hasilnya tetap sama," sambungnya.


Bram kembali menurunkan pandagannya dari Jesica, kembali menatap minuman didepannya.


"Katakan padaku, Bram!" ucap Jesica tiba-tiba.


"Apa?" sambut Bram tanpa menoleh.


"Ada apa dengan wajahmu? Apakah kau baru saja menghajar atau dihajar seseorang?" tanya Jesica.


"Sejauh yang aku tau, kau terampil dalam hal itu, dan sangat jarang bisa menerima balasan. Tapi, luka di wajahmu menunjukan lawanmu seimbang denganmu atau satu tingkat dibawahmu," tambahnya.


"Itu bukan hal yang harus kau ketahui," jawab Bram datar.


Jesica kembali mengangkat bahunya, dan menyesap minumannya lagi. Namun sesekali melirik Bram yang tampak memikirkan sesuatu.


"Apakah kau akan berubah pikiran?" tanya Jesica.


"Tentang?" sambut Bram menaikkan alisnya.


"Bantuanku mendapatkan Ariel," jawab Jesica. "Tawaran itu masih berlaku," imbuhnya.


Bram terdiam selama beberapa saat, mengeluarkan beberapa lembar uang dimeja, lalu beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Jesica tanpa menjawab pertanyaannya.


Jesica tersenyum tipis melihat punggung Bram yang semakin menjauh, kembali menyesap minumannya.


"Hei,, tuan,, anda terlalu banyak memberikan uangnya," seru bartender.


"Biarkan saja, dia akan lebih sering datang kamari setelah ini, anggap saja itu tip untukmu," sela Jesica yang juga mengeluarkan uang lebih untuk bartender.


"Kuharap, kau bisa membantuku suatu saat nanti ketika aku membutuhkannya," ucap Jesica mengedipkan matanya sebelum bartender itu mengeluarkan suaranya.


Tanpa memperdulikan reaksi bartender yang tampak bingung, Jesica beranjak dari duduknya, meninggalkan nighclub yang sering ia kunjungi, dan tanpa di duga juga tempat yang sering dikunjungi Bram.


>>>>>>>--<<<<<<<


Langit masih tampak gelap saat Joel merasakan seseorang mendekatinya.


Hal terakhir yang ia ingat adalah seseorang berusaha membawa Ariel, hingga membuatnya meningkatkan kewaspadaannya.


Ketika ia merasakan tangan itu hampir menyentuhnya, dengan gerakan cepat ia mencekal pergelangan tangan orang yang mendekatinya dan memutar tubuhnya. Membuat posisinya berubah diatas sedangkan orang yang ada ditangannya dibawah.


"Ukh,,, Joel,,, ini sakit,,," rintihnya.


Seolah baru saja ditarik oleh kesadaran, Joel membuka matanya.


Ia melihat Ariel terbaring disofa dibawah kungkungannya, satu tangannya berada diatas kepala dalam cekalan tangannya.


Matanya melebar saat menyadari tangan yang ia cekal adalah tangan yang terluka, memperlihatkan wajah Ariel yang meringis menahan sakit.


Joel segera melepaskan tangan Ariel, lalu menyingkir, berdiri didepannya dan melihat selimut terongok disamping sofa.


"M-Maaf,,, maafkan aku," sesal Joel.


Joel segera membantu Ariel duduk, lalu berlutut didepannya untuk memeriksa lukanya.


"Maafkan aku,,, tanpa sadar aku_,,,"


"Apakah kamu bermimpi buruk?" potong Ariel.


"Aku hanya,,,, teringat dengan hal yang tidak menyenangkan. Jadi kupikir kamu,,," Joel kesulitan untuk mengatakan kebenarannya.


"Tidak perlu diteruskan," ucap Ariel. "Aku hanya ingin memberimu selimut, satidaknya agar kau tidak sakit setelah aku," imbuhnya.


Joel kembali tertunduk, menatap pergelangan tangan Ariel dalam diam.


"Eh,,,? Apa maksudmu?" jawab Joel balas bertanya, mengangkat wajahnya dengan enggan.


"Saat aku tidur, tanganku tidak seperti ini," ucap Ariel seraya menunjuk tangan yang diperban.


"Dan tidak terasa sakit, lalu bagaimana sekarang bisa seperti ini?" imbuhnya.


"Kamu mencabutnya sendiri tanpa kamu sadari," kilah Joel.


"Aku??" Ariel melebarkan matanya sembari menunjuk diri sendiri.


"Ya," jawab Joel singkat.


"Usahamu dalam berbohong cukup bagus," sambut Ariel dalam sekejap memasang wajah datar.


"Aku hanya menjawab pertanyaanmu," jawab Jeol.


"Kalau begitu, jelaskan tentang ini," ucap Ariel.


Tangan Ariel terulur menyentuh wajah Joel yang terluka, menelusuri garis rahangnya dan berakhir di sudut bibir Joel.


"Luka seperti ini hanya bisa didapatkan saat kau di hajar seseorang. Darah yang mengering, lebam, dan kacamatamu pecah,"


"Apakah kau memiliki penjelasan yang lebih logis lagi selain diserang seseorang?"


Ariel menagkup wajah Joel agar tidak berpaling darinya, menatap kedalam matanya dan kembali bertanya.


"Apakah yang kau katakan tadi itu adalah benar atau kau menutupi sesuatu lagi dariku dengan dalih tidak ingin membebani pikiranku? Dan tidak ingin membuatku khawatir?" tanya Ariel.


Joel terdiam, tidak bisa menyembunyikan apapun ketika Ariel terus menatapnya. Seolah tatapannya menembus kedalam hatinya, dan membaca semua pikirannya.


"Haahh,,," desah Joel. "Baiklah, kau mendapatkanku, sangat sulit menutupi apapun darimu," imbuhnya.


Ariel menurunkan tangannya, sementara Joel kembali menghembuskan nafas berat.


"Ada seseorang yang menerobos masuk kemari, dan aku sedang berniat pergi untuk membeli sesuatu, tapi segera kembali karena aku tidak sengaja meninggalkan dompetku," papar Joel.


"Aku memergokinya saat dia keluar dan akan membawamu_,,,"


"Dan kau menyerangnya?" potong Ariel.


"Ya,,," jawab Joel yang segera memalingkan wajahnya.


Ariel bangun dari duduknya, membuat Joel sedikit terkejut. Berpikir bahwa Ariel kembali marah padanya.


"Ariel, aku tidak bermaksud bertarung atau apapun, hanya saja aku tidak mungkin membiarkan dia membawamu. Dia bahkan melukaimu_,,,"


"Diam, dan duduk saja. Tunggu di sini sebentar," potong Ariel.


Joel kembali duduk di sofa, tak lama kemudian Ariel kembali dengan kotak obat dan wadah berisi air juga handuk kecil.


Ia meletakkan kotak obat dan wadah berisi air di meja, lalu duduk berhadapan dengan Joel. Dengan lembut, ia mulai membersihkan luka di wajah Joel yang terus menatapnya.


"Ukh,,," rintih Joel pelan.


"Terima kasih sudah melindungiku," ucap Ariel.


"Bukankah itu memang sudah seharusnya?" balas Joel.


Ariel tersenyum, matanya kembali fokus pada luka di wajah Joel dan mengoleskan obat disana.


Sesekali ia meniup lembut saat mengoleskan obat, berharap hal itu bisa mengurangi rasa sakit.


"Apakah ini sakit?" tanya Ariel cemas.


"Entah kenapa, setelah melihatmu rasa sakitnya hilang," jawab Joel menyeringai.


"Joel,,,"


Joel terkekeh pelan, tangannya menangkap tangan Ariel, membuat tatapan mereka saling terkunci.


"Bagaimana dengan demammu?" tanya Joel berusaha mengendalikan hatinya.


"Sedikit lebih baik dari sebelumnya, setidaknya pandangaku tidak berputar," jawab Ariel.


Joel menemelkan dahinya didahi Ariel, lalu mendesah lega.


"Syukurlah, setidaknya tidak sepanas sebelumnya," desah Joel lega.


"Ini masih malam, kembalilah kekamar dan istirahat," pinta Joel.


"Baiklah, tapi biarkan aku menyelesaikan ini," jawab Ariel menunjuk tangan yang masih dalam genggaman Joel.


Tersenyum simpul, Joel melepaskan tangan Ariel dan membiarkannya menempelkan plester luka. Selesai dengan itu Joel membiarkan Ariel kembali kekamarnya.


...>>>>>>>--<<<<<<<...