
Ariel jatuh terduduk ketika merasakan kakinya seolah kehilangan tenaganya hingga ia tidak bisa menopang tubuhnya sendiri, membuat pintu kamar segera terbuka.
"Suara apa itu tadi? Apa kamu baik-baik sa--ja?"
Joel tertegun sesaat ketika melihat Ariel jatuh terduduk. Bukan karena ia tidak ingin segera membantu, melainkan bagaimana keadaan Ariel saat itu membuat ia harus bisa mengendalikan perasaannya.
"Kenapa kamu harus turun dari tempat tidur? Tubuhmu masih lemah," ucap Joel seraya membantu Ariel kembali duduk dan membetulkan posisi jaket di badan Ariel.
"Aku basah air laut, itu hanya akan mengotori pakaian dan tempat tidurmu," sanggah Ariel.
"Itu hal sepele, Ariel. Kenapa kamu harus memikirkan hal sederhana itu? Kamu tidak perlu memikirkannya, okey?" sambut Joel.
"Pakai saja, lalu berbaring dan tidurlah," pinta Joel.
Joel membalikkan badannya, tidak lagi keluar meninggalkan Ariel sendiri.
"Pakai sekarang, aku tidak akan keluar, dan lagi aku tidak bisa melihatmu dalam posisi ini," pinta Joel.
Ariel menghela nafas panjang, namun menuruti permintaan Joel. Tangannya menurunkan jaket yang ia pakai, lalu mengantinya dengan sweeter yang Joel berikan padanya.
"Aku sudah selesai," ucap Ariel.
Joel berbalik dan tidak bisa menahan tawa saat Ariel mengangkat kedua tangannya sembari menatap Joel dengan alis terangkat.
"Sekarang apa? Apakah aku kehilangan kedua tanganku atau hal lain?" tanya Ariel.
Sweeter yang Ariel kenakan terlalu besar untuk tubuh kecilnya. Bagian lengan sweeter bahkan lebih panjang dari tangannya sendiri.
"Setidaknya itu akan membuatmu tetap hangat," sambut Joel setelah tawanya mereda.
"Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa karena itu memang sweeter dengan ukuran tubuhku," sambung Joel terkekeh pelan.
Joel menaikkan kaki Ariel keatas tempat tidur, menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Istirahatlah!" ucap Joel mengusap puncak kepala Ariel.
"Aku tidak ingin tidur," ucap Ariel.
"Tapi kamu membutuhkannya," sanggah Joel.
"Tapi aku tidak mau melihat mimpi itu lagi," jawab Ariel.
"Mimpi?" ulang Joel mengerutkan keningnya.
Ariel mengangguk pelan. Tangan Joel terulur meraih tangan Ariel, meremasnya dengan lembut dan penuh kasih.
"Maukah kamu menceritakannya?" harap Joel.
"Setidaknya, jika itu terasa menjadi beban untukmu, bagikan beban itu padaku, kamu tidak harus menanggung beban itu sendiri," tutur Joel lembut.
Ariel terdiam sejenak sebelum menarik nafas panjang sebelum berkata.
"Aku bermimpi kembali kemasa laluku," ungkap Ariel.
"Masa dimana aku berusia sembilan tahun, dan itu mengingatkanku dengan alasan kenapa aku tidak pernah ingin belajar ataupun ingin tau tentang apapun itu yang berhubungan dengan berenang,"
Joel mendengarkan tanpa menyela saat Ariel diam sejenak untuk mengambil nafas.
"Saat itu ada pria dewasa yang selalu datang kerumahku hanya untuk merampas uang yang kuhasilkan dari bekerja, orang itu juga selalu membawa tongkat ditangannya,"
"Kapanpun dia menginginkannya, dia mengunakan tongkat itu untuk memukulku jika tidak mendapatkan uang dan menengelamkan aku di kolam,"
Jeda keheningan berlangsung selama beberapa saat.
"Aku hampir tidak lagi mengigat hal itu sampai hari ini, tapi entah kenapa mimpi itu datang. Cara bagaimana pria itu menarik paksa dan melemparku ke kolam_,,,"
Joel mencondongkan tubuhnya dan mendekap Ariel dengan erat.
"Jangan di teruskan, cukup itu saja. Maafkan aku," bisik Joel membuat Ariel terdiam.
"Apa kau tau? Aku juga bermimpi kamu mengatakan maaf berulang kali," ucap Ariel terkekeh pelan.
"Aku juga melihatmu menangis," imbuhnya.
"Oh diamlah,!" sambut Joel.
"Jangan ingatkan aku lagi bagian itu. Aku benar-benar takut kehilanganmu. Maaf karena aku tidak bersikap dewasa, dan aku hanya terpaku pada diriku sendiri hingga melupakanmu," sesal Joel.
"Aku tidak menempatkan rasa cemburuku dengan benar, aku terus saja merasa khawatir bahwa kamu akan meninggalkanku,"
"Maaf,,,"
Joel terus berkata dangan nada penyesalan yang dalam. Apa yang dikatakan Joel membuat Ariel teringat tentang Mr.Evrad. Dan ia sadar hal itu harus dibicarakan saat ini juga. Perlahan Ariel mendorong Joel menjauh.
"Aku,,, tidak tau apakah aku bisa tetap bersamamu," ucap Ariel.
"Apa maksudmu?" sambut Joel terkejut.
"Aku menyesal telah mengatakan kata-kata kasar padamu, aku minta maaf karena aku tidak percaya padamu sejak awal, apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan aku?" tanya Joel sembari mengenggam tangan Ariel.
"Aku masih tetap ingin hubungan ini kembali," ucap Joel penuh harap.
"Aku akan melakukan apa saja, apapun yang kamu inginkan aku akan melakukan_,,,"
"Sshhh,,,"
"Beri aku waktu untuk menyelesaiakan urusanku dengan Mr.Evrad," ucap Ariel tersenyum lembut, namun di saat yang sama juga tersenyum sedih.
"Semua berita itu telah tersebar, bagaimana jadinya jika aku tetap bersamamu? Reputasimu sebagai dokter yang sudah kamu bangun selama bertahun-tahun akan hacur dalam hitungan detik, dan aku tidak ingin itu terjadi," terang Ariel.
"Aku tidak peduli, semua orang bebas berkomentar apapun, yang terpenting bagiku adalah aku bisa tetap bersamamu," sanggah Joel.
"Tapi aku peduli, Joel. Lebih dari sangat peduli," balas Ariel.
Joel tertunduk lemas, tidak tau bagaimana caranya untuk menerima apa yang baru saja Ariel katakan.
"Bekerja samalah, dan beri aku waktu untuk menyelesaikan urusanku dengan Mr.Evrad," pinta Ariel.
"Tidak perlu,"
Suara Jesica tiba-tiba terdengar menyela mereka berdua. Ia berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat dan senyum jahil diwajahnya menatap Ariel dan Joel bergantian. Dibelakang Jesica ada Bram dengan wajah kesalnya.
"Kau tidak perlu berurusan lagi dengan orang menyebalkan itu, itu sudah selesai," ungkap Jesica.
"Maksudmu?" tanya Ariel bingung.
"Aku sudah membungkam media. Yahh,,, berkat Bram juga sebenarnya," Jesica menaikkan bahunya seolah tidak rela karena mengatakan bantuan dari Bram.
"Dengan semua bukti yang Bram kumpulkan membuatku bisa bergerak lebih mudah untuk menendangnya dari dunia bisnis," papar Jesica.
"Hei,,, dia tetap ayahku," sembur Bram.
"Dan kau menyebutnya si tua menyebalkan," balas Jesica.
Bram terdiam seketika, merasa tersudut.
"Tuan Evrad telah masuk daftar hitam, dan dia tidak akan bisa menganggumu lagi, semoga saja anaknya juga tidak," ujar Jesica melirik Bram sekilas.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan alih-alih hanya memberiku sindiran," sungut Bram.
"Aku terkesan kau sadar bahwa aku sedang menyindirmu," balas Jesica.
"Kau,,,," desis Bram kesal.
"Lihatlah siapa yang kembali ke sikap menyebalkannya," cibir Bram.
"Ahh,, terima kasih, kau baik sekali masih ingat dengat sikapku," sambut Jesica. "Itu membuatku tersentuh," imbuhnya.
"Ugh,,,,"
Bram mendengus kesal tidak bisa menimpali kata-kata Jesica, sementara Ariel dan Joel saling pandang lalu menghela nafas panjang sembari meletakkan telapak tangan didahi mereka dan terkekeh pelan.
"Uhm,,, Jessi, bisa katakan padaku bagaimana caramu melakukannya?" tanya Ariel.
Jesica mengalihkan pandagannya dan menghadap Ariel. Ia mulai melangkah mendekat dimana Ariel duduk bersandar di atas tempat tidur dengan Joel di sampingnya.
"Ingat saat kita bertemu di bistrot yang tidak jauh dari studio?" tanya Jesica.
Ariel mengangguk pelan.
"Berkat kamu tidak mengatakan apapun padaku dan tidak menunjukkan rasa tidak sukamu ketika melihatku, itu membuatku lebih mudah mendekati tuan Evrad,"
"Aku perlu berpura-pura menjadi bonekanya agar aku bisa leluasa masuk kedalamnya. Dan hal yang sama juga di lakukan Bram untuk mendapatkan semua bukti apa saja hal ilegal yang dilakukan"
"Tentu saja itu sedikit sulit karena aku juga harus mempertahankan perusahaan yang Bram kelola, karena cara yang dia gunakan bersih,"
"Dan kau tau? Ada satu server asing yang membantu menghapus semua informasi pribadimu, namun aku gagal menyelidiki siapa orang itu,"
Penjelasan Jesica berhasil membuat Joel tercengang. Banyak pertanyaan yang terlintas dalam pikirannya, namun rasanya sulit untuk mengungkapkan semuanya.
"Kenapa kamu melakukan sampai sejauh itu, Jessi?" tanya Ariel.
"Sejak kapan,,?"
"Bagaimana,,,?"
Hal serupa juga dirasakan Ariel dan Bram. Berbagai pertanyaan muncul dalam benak mereka, menatap Jesica seoal ingin meminta jawaban namun juga tidak bisa mengeluarkan satupun pertanyaan.
"Hahhh,,,," desah Jesica.
Jesica mendesah panjang menyadari sudah waktunya bagi dirinya untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.
"Baiklah,,, aku akan katakan semuanya karena ini sudah benar-benar selesai," ucap Jesica.
Jesica menarik kursi yang berada tidak jauh dari tempat tidur, sementara Bram duduk ditepi tempat tidur yang berada dibelakang Joel.
"Kuharap,, ini tidak mempengaruhi apapun karena yang akan aku katakan, kita berempat berada dalam satu lingkaran yang sama," papar Jesica.
....
....
.
.
To be Continued...