
Joel masih duduk diruangannya, sibuk menulis sesuatu dalam buku yang cukup besar dan tebal.
Ia melepas kacamatanya dan menekan dua jari diantara kedua matanya, lalu mendesah pelan.
Joel melihat jam tangannya, lalu tersenyum mengetahui ia bisa pulang karena dokter lain pasti sudah datang di jam itu.
Membayangkan wajah Ariel dan berharap bisa bertemu hari ini, Joel segera membereskan barang-barangnya.
Tepat saat ia akan melepas jas dokternya, suara ketukan pintu terdengar, dan ia juga tau, itu bukan suster.
"Hahhh,,,, sepertinya harus tertunda lagi," keluh Joel pelan mengurungkan niat melepas jas dokter dari tubuhnya.
"Masuk,," ucapnya.
Joel mendapati seorang wanita mengenakan topi dan masker hitam dibalik pintu. Suara batuk dari wanita itu mau tak mau membuat Joel merasa tidak tega.
"Uhuk,,Uhukk,, permisi dokter, apakah saya datang diwaktu yang tidak tepat?" tanyanya.
"Ah,, tidak. Mari silahkan," sambut Joel mempersilahkan wanita itu duduk.
"Saya hanya,, Uhuk,,uhuk,, merasa dokter seperti mengatakan agar saya menemui dokter lain," ucapnya di akhiri dengan batuk yang dramatis.
'JLEBB,,,!!!'
'Tepat sasaran sekali orang ini, ugh,, tidak,, tidak,, biar bagaimanapun juga, dia adalah pasien yang harus di tolong,' batin Joel menyemangati dirinya sendiri.
"Ah,, begitu. Tolong maafkan saya, sepertinya pikiran saya teralihkan untuk sesaat. Silahkan duduk," pinta Joel.
Wanita itu duduk, suara seraknya membuat Joel merasa tidak enak karena memperlihatkan raut wajah yang membuat sang pasien tidak nyaman.
"Baiklah, sekarang, apakah anda datang terkait batuk anda?" tanya Joel.
"Iya, benar. Saya batuk dalam beberapa hari, tenggorokan saya terasa terbakar," keluhnya.
"Maaf sebelumnya, bisa tolong ulurkan tangan anda?" pinta Joel.
Wanita itu menurut mengulurkan tangannya, dan sedikit bergrak tidak nyaman dalam duduknya.
Saat Joel melihat tangan wanita itu, hingga menyentuh tangan, ia merasa tidak asing ketika memeriksa denyut nadinya. Ia mulai mencari celah untuk mengetahui siapa wanita yang ada didepannya.
Tepat saat Joel selesai memeriksa denyut nadi wanita didepannya, saat itu juga Joel melihat sesuatu yang berkilau di leher wanita itu, sebuah kalung yang sangat ia kenali karena dirinyalah yang memberikan kalung itu, dan sengaja memilih kalung yang hanya satu-satunya ditoko yang ia datangi. Dan tampaknya kalung itu gagal disembunyikan oleh wanita didepannya.
Joel tersenyum tipis, menatap wanita bermasker didepannya.
'Mencoba mengodaku? Mari kita lihat sejauh mana kamu bisa berpura-pura, Ariel,' batin Joel.
"Apakah anda sebelumnya mengkonsumsi obat yang bukan dari rumah sakit atau dokter?" tanya Joel mengikuti permainan Ariel.
"Hanya obat dari klinik, uhuk,,uhuk,, dan sama sekali tidak membantu," terangnya.
"Begitu,," Joel menjawab dan mulai menuliskan sesuatu.
Diam-diam Joel meminta seorang suster melalui pesan untuk mengantarkan beberapa barang keruangannya untuk mengalihkan perhatian.
Tak lama setelah itu, suara ketukan pintu membuat Joel bangun dari duduknya, tersenyum ramah dengan mengatakan akan menunjukan beberapa obat yang mungkin sama dengan yang telah di konsumsi sebagai alibi.
"Tunggu sebentar, saya akan menunjukan contoh obat, mungkin salah satunya adalah obat yang anda konsumsi, dan saya bisa mengetahui kenapa obat itu tidak bekerja pada anda," tutur Joel.
"Baik, dokter," jawabnya menganggukan kepala.
Wanita itu yang tidak lain adalah Ariel berusaha sekuat tenaga menahan tawa saat Joel mendekati pintu dan seorang suster memberikan sebuah kotak berisi obat kepada Joel.
Mengucapkan terima kasih, suster itu pergi dan Joel menutup pintu. Hal yang tidak Ariel ketahui adalah, Joel saat itu juga mengunci pintu.
Seringai lebarnya terlukis jelas diwajah Joel saat kembali mendekati Ariel yang kini duduk memunggunginya.
Berdiri tepat dibelakangnya, Joel memutar kursi itu, membuat Ariel menghadap dirinya, dan membungkukkan badanya, mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Ariel, dan melepaskan kacamata yang dipakainya
"Hemmm,,, Mata ini membuat saya teringat pada seseorang, anda memiliki mata yang indah, nona," ucap Joel tersenyum.
Merasa penyamarannya telah terbongkar, Ariel balas tersenyum dibalik maskernya.
"Apakah begitu?" balas Ariel dalam suara normal.
"Apakah itu berarti anda akan mempertimbangkan untuk menjadi kekasih saya dokter?" tanya Ariel menggoda. "Saya akan senang memiliki kekasih tampan seperti anda," imbuhnya.
"Sayang sekali, saya sudah memiliki kekasih. Anda datang sedikit terlambat," jawab Joel.
Joel melepaskan topi yang dipakai Ariel, menyebabkan rambutnya tergerai, dan berlanjut melepaskan masker yang menutupi wajah Ariel.
"Tidakkah anda merasa kekasih anda akan cemburu jika melihat anda seperti ini dokter?" tanya Ariel memundurkan kepalanya.
"Hemmm,,, anda benar. Tapi itu membuat saya penasaran, seperti apa wajah cemburunya," sambut Joel.
"Anda sangat berani. Apakah itu berarti saya lebih cantik dari kekasih anda?" tanya Ariel menarik kerah baju Joel kearahnya.
"Setelah melihat anda, saya rasa dia menjadi lebih cantik sekarang," balas Joel.
Ariel tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Rayuanmu benar-benar bisa membuat siapapun yang mendengarnya bertekuk lutut padamu, Joel. Apakah kau sadar akan hal itu?" ucap Ariel mengakhiri permainannya.
"Jika kamu adalah salah satunya, aku dengan senang hati akan menerimanya," jawab Joel.
"Sepertinya penyamaranku sangat buruk," ucap Ariel disela tawanya.
"Aku hampir tidak mengenalimu dengan suara yang berhasil menipuku," sambut Joel.
"Pembohong besar," cibir Ariel. "Faktanya kamu mengenaliku dengan cepat," imbuhnya.
"Karena ini," ucap Joel menyentuh kalung di leher Ariel yang keuar dari balik bajunya.
"Sepertinya aku tidak menyembunyikan dengan benar kalung ini," sambut Ariel terkekeh pelan.
Joel menarik tubuh Ariel untuk berdiri, dan dalam satu sentakkan, ia menarik Ariel kedalam pelukannya.
"Berapa lama sebenarnya aku tidak melihatmu? Terasa sangat lama, dan itu benar-benar membuatku sangat merindukanmu," ungkap Joel setengah berbisik.
"Kamu bukan satu-satunya yang merasakan hal itu," jawab Ariel membalas pelukan Joel.
"Itu sebabnya aku datang menemuimu," imbuhnya.
"Maaf karena terlalu sibuk beberapa hari ini, dan sedikit mengabaikanmu. Sungguh aku tidak berniat untuk melakukannya," sesal Joel.
"Jika kamu bisa mengerti saat aku sibuk, akan sangat egois jika aku tidak bisa memahamimu," sambut Ariel.
Ariel melonggarkan pelukannya, sedikit mendorong badan Joel yang lebih tinggi darinya.
"Akan berbahaya jika seorang suster tiba-tiba masuk dan melihat kita bersama," ucap ariel mengingatkan.
"Aku sudah mengunci pintunya," jawab Joel enteng.
Joel kembali mendekatkan wajahnya, namun segera didorong Ariel dengan meletakkan jari tangan di pipi Joel dan memalingkan wajah Joel dari wajahnya.
"Dasar dokter mesum," ledek Ariel.
"Ayo keluar, sekaligus menunggu waktu untuk makan malam," bujuk Ariel.
"Baiklah," sambut Joel dengan suara lesu.
"Hei,,Bunny, jangan tutupi wajah tampanmu dengan ekspresi seperti itu, tidak cocok untukmu," goda Ariel, lalu tertawa.
Joel tersenyum lebar, dan melepas jas dokternya, lalu menyimpan dilemari khusus miliknya.
"Ayo jalan," Joel berkata seraya mengandeng Ariel keluar dari ruangannya.
Joel dengan sengaja menjalin jari tangan Ariel disela jari miliknya, seolah mengatakan kepada siapapun yang melihat mereka bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Tidak peduli dengan apakah ia akan menjadi bahan pembicaraan atau tidak, ia hanya tau ingin menghabiskan waktu bersama Ariel, orang yang ia cintai.
Ariel memberikan kunci mobilnya kepada Jole, karena hari ini Joel tidak membawa mobil, berencana menghabiskan waktu sore bersama menjelang makan malam, mereka sepakat pergi kepusat kota.
Mereka berdua berhenti disebuah bioskop, namun tidak segera keluar dari mobil, seolah mereka telah memilih pilihan yang salah. Selama beberapa saat, merekabsaling pandang, lalu tertawa.
"Kurasa kita memiliki suara yang sama tentang bioskop," ucap Joel di sela tawanya.
"Aku setuju, ayo ketempat lain," ajak Ariel.
Pada akhirnya mereka hanya berkeliling kota dan berakhir dengan makan malam di sebuah restoran. Mereka duduk di sudut yang tidak terlalu menjadi pusat perhatian, menunggu pelayan mengantarkan pesanan mereka dengan tangan yang saling bertautan.
Tanpa mereka berdua sadari, ada mata yang terus memandangi mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Orang itu terus duduk disana, mengawasi Ariel dan Joel selama beberapa menit.
Seseorang yang mengenakan topi untuk menutupi kepalanya, dan memakai jaket dengan kerah tinggi menutupi sebagian wajahnya. Matanya terus menatap kebersamaan Joel dan Ariel dengan tatapan tidak suka. Orang itu beranjak dari duduknya dengan wajah kesal, meninggalkan restoran.
...>>>>>>>>--<<<<<<<...