
"Pesanan meja nomor tujuh,"
Suara itu sedikit mengejutkan Ariel yang saat itu sedikit melamun.
"Melamun lagi?" tegur orang yang lebih tua dari Ariel sembari berkacak pinggang.
"Maaf kak," sambut Ariel tersenyum polos.
"Antarkan ini, jangan sampai kita mendapat rating buruk dari pelanggan," ucapnya.
"Baik kak," jawab Ariel meletakkan dua jari dipelipisnya sembari mengedipkan satu matanya.
"Silahkan pesananya," ucap Ariel ramah pada pasangan yang ia antar pesanannya.
"Boleh tanya sesuatu adik manis?" tanya pelanggan pria.
"Tentu, tuan," sambut Ariel tersenyum.
"Berapa usiamu?" tanyanya.
"Uhm,,, sembilan tahun, tuan," jawab Ariel sedikit mengingat sembari meletakkan satu jari dipipinya.
"Kamu tidak bersekolah?" tanyanya.
"Saya sedang libur, tuan," jawab Ariel.
"Sopan sekali," sambut pelanggan wanita tersenyum hangat.
"Apakah kamu disini bekerja?" tanyanya.
"Iya, saya bekerja," jawab Ariel polos.
"Orang tuamu?" tanya pelanggan pria.
"Saya tidak memilikinya," jawab Ariel membuat pasangan itu terkejut.
"Tapi saya memiliki kakak yang sangat baik, dia ada disana," sambung Ariel menunjuk seniornya.
"Kakak? Jadi kalian tinggal berdua?" tanyanya lagi.
"Tidak," Ariel mengeleng.
"Dia kakak yang membantu saya belajar disini, senior saya," jelas Ariel.
"Dimana kamu tinggal?" tanya pelanggan wanita.
"Sepuluh menit berjalan kaki dari sini," jawab Ariel.
"Boleh tau siapa namamu manis?" pelanggan wanita lagi bertanya.
"ARIELL,,,"
Suara kakak seniornya memanggil Ariel membuat pasangan muda itu menoleh.
"Saya sudah dipanggil," ucap Ariel menoleh kearah meja bar.
"Pergilah," ucap pelanggan pria dengan ramah.
Ariel tersenyum sembari menganggukan kepalanya, lalu membukkukan sedikit badannya.
"Selamat menikmati," ucap Ariel sebelum pergi.
Ariel kembali mengantarkan tiap pesanan sesuai nomor meja. Hingga tanpa ia sadari, malam telah datang dan waktunya untuk kedai burger tempatnya bekerja tutup.
"Kak, apakah hanya ini sampah yang perlu dibuang?" tanya Ariel.
"Ya, hanya itu, sampah lain sudah dibuang mereka," jawabnya.
Ariel mengangguk, lalu membawa kantong sampah itu keluar dari pintu samping. Ia melemparkan sampah kedalam tong yang ada disana, lalu menutupnya.
Kepalanya menoleh kesana kemari seolah ingin memastikan tidak ada siapapun. Senyum lebarnya mengembang, ia mengeluarkan sebuah tongkat yang disembunyikan dibalik tong sampah dan mulai mengatur tiap tutup tempat sampah dengan posisi berbeda.
Tangannya mulai bergerak dengan memukul tiap tutup itu. Pada awalnya suaranya terdengar sangat berantakan, namun setelah beberapa kali ia memindahkan tiap posisinya, suara yang dihasilnya terdengar unik.
Hingga ketika Ariel selesai bermain, suara tepuk tangan terdengar dari balik punggungnya.
"K-K-Kenapa kakak-kakak ada disini?" tanya Ariel terkejut melihat para seniornya serta atasannya.
Kepalanya tertunduk takut.
"Uhm,,, kak,, aku janji tidak akan mengulanginya, jadi aku masih boleh bekerja disini kan?" tanya Ariel menatap atasannya.
Atasannya mendekati Ariel, lalu berlutut didepannya untuk menyamakan tinggi mereka.
"Kenapa tidak bilang kalau kamu suka musik?" tanyanya tersenyum hangat.
"Itu,,, aku cuma penasaran,,,," jawab Ariel.
"Bagaimana kalau kamu mencoba sekali meminjam alat pada pemain orkestra yang setiap minggu bermain didepan kedai?" tawarnya.
"Boleh kak?" tanya Ariel.
"Aku akan mengantarmu besok, bagimana?" sambutnya.
"Tapi, biasanya kedai penuh saat dijam itu," sanggah Ariel.
"Kami bisa mengatasinya," jawab pekerja lain.
"Sekarang, pulanglah, ini sudah larut," ucap atasannya. "Bukankah besok kamu sudah mulai bersekolah lagi?" tanyanya.
Ariel mengangguk dengan senyum lebar dan berlari menuju rumahnya. Langkahnya terhenti saat melihat rumah kecil miliknya digledah oleh orang yang selalu menganggunya.
Orang yang selalu merampas tabungan hasil kerja kerasnya dan kerap memukuli tubuhnya.
Ariel melangkah mundur dengan wajah takut, mengurungkan niatnya untuk pulang. Namun orang itu lebih dulu melihatnya, membuat Ariel berbalik dan lari.
"Berhenti kau, bocah!"
Teriakan pria dewasa itu cukup untuk membuat Ariel semakin gemetar ketakutan. Ariel tersandung batu saat ia berlari tanpa memperhatikan apa yang ada dikakinya.
"Berikan uangmu!" bentaknya mencengkram tangan Ariel dengan kasar.
"Aku belum dapat," kilah Ariel gemetar.
"Kau mau menipuku?" bentaknya lagi.
"Aku sungguh belum dapat," jawab Ariel hampir menangis. "Uangnya dibayar minggu depan," imbuhnya.
Pria itu mendorong Ariel hingga jatuh tersungkur, melayangkan tangannya yang memegang tongkat kearah Ariel.
"Ahhh,,,, ampunn,," teriak Ariel.
Ariel meringkuk untuk melindungi kedua tangannya agar tidak terluka yang akan mengakibatkan ia tidak bisa bekerja. Kerena hal itu, punggungnya terus menerima tiap pukulan, hingga pukulan itu tiba-tiba berhenti.
Merasa aneh, Ariel mengangkat wajahnya dan melihat sosok pria lain berdiri didepannya menangkap tongkat itu dan melempar tongkat itu menjauh.
"Terima kasih, tuan," ucap Ariel sopan.
"Ariell,,,"
"Tuan tau nama saya?" tanya Ariel merasa mengenali suaranya.
Ariel memiringkan kepalanya untuk melihat lebih jelas wajah pria itu, namun ia hanya melihat kabut hitam menutupi wajah pria itu.
"Sweety,,,"
"Kembalilah,,, padaku,,,,"
Ariel mengerutkan keningnya merasa tidk asing dengan panggilan itu, sebelum ia berhasil mendapatkan jawabannya, pria yang memukulnya tadi mencekal pergelangan tangannya, menyeret Ariel dengan paksa.
"Lepas,,," teriak Ariel berontak.
Pria itu terus menyeret Ariel ke tempat yang sudah Ariel pikirkan sebelumnya hingga membuatnya merasakan takut yang lebih kuat.
'KOLAM'
"Tidak mau,,, aku tidak mau ke kolam,,, aku benci kolam,,,Lepaass," teriak Ariel terus berontak.
"Ambil semua uangnya, tapi jangan bawa aku ke kolam," pinta Ariel.
"Tidakk mau,"
Ariel terus memberontak sembari memukul tangan yang mencekal pergelangan tangannya, sayangnya usahanya sia-sia.
Pria itu melempar Ariel kedalam kolam, menengelamkan kepalanya setiap kali Ariel berhasil menaikkan kepalanya kepermukaan. Hingga pria yang tadi menolongnya kembali datang disaat ia hampir kehabisan nafas.
Tangannya meraih tangan Ariel dengan lembut, lalu memeluknya dengan erat.
"Tuan,,, saya tidak bisa,,,, bernafas,,,,"
Ariel memberontak, namun disaat yang sama ia mendengar suara isak tangis dari pria yang menolongnya.
"Tuan,,,?"
Ariel merasakan pelukan pria itu semakin kuat, isak tangisnya terdengar semakin jelas, hingga ia mencoba untuk mendorong pria yang tengah memeluknya agar menjauh.
"Eh,,,?"
Ariel tertegun saat melihat tangannya sendiri, ia merasa tangannya berubah lebih besar dari sebelumnya, ia juga merasakan suaranya telah berubah.
"Apa yang terjadi?" gumam Ariel pelan.
Perlu waktu beberapa saat hingga Ariel menyadari dirinya tidak lagi berada dalam pelukan pria tadi, melainkan ia melihat pria tadi memeluk tubuhnya yang telah terkulai didepan matanya.
"A-A-Apa ini?" desis Ariel bingung.
"Apa maksudnya,,,? Kenapa,,,? Bagaimana bisa,,,?"
Ariel melangkah mundur, berniat untuk pergi. Namun suara yang ia dengar berhasil menghentikan langkahnya dan membuat Ariel kembali mendekat.
"Sweety,,, Kumohon,,,, Kembalilah padaku,,,"
"Maafkan aku,,, aku minta maaf,,, jangan tingalkan aku,,,,"
"Arielll,,,,"
Ariel melangkah semakin dekat, mendekati sosok pria yang memeluk tubuhnya.
"Siapa,,,?"
"Itu bukan aku, aku disini," ucap Ariel pelan.
"Itu bukan aku, bohong,,,aku ada disini, tapi kenapa aku juga berada disana?" rancau Ariel bingung.
Pria itu mengangkat wajahnya, memperlihatkan wajah sedihnya yang basah oleh air mata, membuat Ariel tersentak kaget hingga jatuh terduduk menatap wajah yang sangat ia kenal.
"J-J-Joel,,,"
"Akh,,,,"
Ariel mengerang sembari mencengkram kepalanya, semua memori tentang dirinya bersama Joel berputar bagaikan sebuah film didepan matanya.
Kejadian malam ini, kedai burger dan orang yang selalu menengelamkan dirinya di kolam adalah kejadian masa kecilnya. Pertemuan pertama mereka, bagaimana Joel yang menyatakan perasaannya dan bagaimana Joel menunggu jawabannya.
"Kumohon,,,, kembalilah padaku,,,"
Suara Joel kembali terdengar, mambuat Ariel semakin kuat mencengkram kepalanya. Adegan saat dirinya didorong muncul didepan matanya.
Perlahan, Ariel mendekati Joel yang masih berlutut mendekap tubuhnya yang tidak lagi bergerak. Tangannya terulur dan meletakkannya dibahu Joel, membuat dia mengangkat wajahnya.
"Aku disini," ucap Ariel lembut.
"Yang ada ditangannmu, bukan aku," imbuhnya.
Meski berkata begitu, Ariel dapat melihat dengan jelas tubuh yang didekap Joel jelas tubuhnya. Itu adalah wajahnya. Namun wajah itu telah pucat dan tidak bernafas.
"Aku disini," ucap Ariel lagi.
Jari tangan Ariel menelusuri garis wajah Joel, dan menghapus air mata yang masih terus mengalir.
"Jangan pergi,,,, kumuhon,,," ratap Joel dengan suara bergetar.
"Aku tidak pergi kemanapun, aku bersamamu," jawab Ariel.
Joel meletakkan tubuh Ariel yang terkulai ketanah dengan hati-hati, lalu menarik tangan Ariel yang berada didepannya kedalam pelukannya.
"Maafkan aku,,,"
"Aku sudah memaafkanmu, Joel," sambut Ariel membalas pelukan Joel.
"Kembalilah padaku,,,,"
"Kamu satu-satunya tempat bagiku untuk kembali," jawab Ariel tersenyum.
"Aku mencintaimu,,, sangat,,,,"
Joel mengeratkan pelukannya, tidak ingin melepaskan Ariel untuk kedua kalinya. Ariel merasakan rasa hangat yang semula pergi meninggalkan dirinya kembali menghangatkan hatinya. Ia mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya didada Joel.
"Bangun,,,"
"Bangun Ariel,,,"
"Kumohon,,, buka matamu,,,,"
Entah suara siapa yang Ariel dengar, Ia hanya tersenyum dan mengangguk.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
To be Continued...