
Taman kota terlihat ramai walau terik sinar matahari menyinari pengunjung yang berkeliaran menyusuri tiap sudut taman.
Disalah satu sisi taman, Joel tengah berjalan bersama Christina disampingnya. Sesekali, Christina dengan sengaja menyentuh jari tangan Joel, namun tetap menahan diri untuk tidak mengenggam tangan Joel.
'Sepertinya akan bagus jika aku bisa bersama Ariel saat ini,' batin Joel.
'Tapi, lagi-lagi aku terjebak bersamanya,' imbuhnya sembari melirik Christina.
"Hei,,, Joel, lihat itu!" seru Christina menunjuk arah dengan telunjuknya.
"Apa?" Joel mengikuti arah yang ditunjuk Christina.
Disana ada sebuah orkestra jalanan yang sedang berlangsung. Namun hanya sedikit orang yang mau menonton pertunjukan mereka.
"Bukankah itu sangat disayangkan? Mereka bermain tanpa ada yang menonton untuk sekedar mendengarkan permainan mereka. Padahal mereka melakukan itu untuk menunjang hidup mereka," ucap Chritina merasa iba.
"Mau kesana untuk melihat?" tawar Joel.
"Aku mau sekali," sambut Christina girang.
"Ayo," Christina melangkah lebih dulu seraya menarik tangan Joel.
Joel yang sedikit kaget dengan gerakan tiba-tiba Cristina hampir menjatuhkan kacamatanya.
"Pelan-pelan saja. Kamu bisa saja terjatuh jika terburu-buru seperti itu," tegur Joel seraya membetulkan posisi kacamatanya.
"Aku hanya tidak sabar," sambut Christina tersenyum lebar.
"Dan aku sangat berterima kasih padamu karena kamu mau menemaniku jalan-jalan hari ini," tutur Christina lembut.
'Dia lembut dan sedikit manja. Bahkan dia juga sangat memperhatikan penampilannya, siapapun pria yang berada didekatnya tidak akan menolak. Tapi, kenapa aku lebih suka ketika Ariel bertingkah seenaknya padaku? Dibandingkan dengan dia yang bersikap seperti ini justru membuatku merasa tidak nyaman,?' batin Joel.
'Sepertinya aku harus bisa meolak ajakannya lain kali, alih-alih aku merasa terbebani seperti ini,' pikirnya.
"Itu bukan masalah," jawab Joel.
"Dari pada itu, apakah kau sudah mendapatkan teman baru? Setidaknya itu juga bisa membuatmu bisa bersenang-senang bersama mereka," tanya Joel.
"Bahkan tidak satupun yang mau berteman denganku selain kamu, Joel," jawab Christina lirih.
"Kamu hanya perlu membuka diri, aku yakin banyak dari mereka yang akan senang berteman denganmu," hibur Joel.
"Entahlah," jawab Christina menaikkan bahunya.
"Aku hanya merasa jauh untuk menjangkau mereka," imbuhnya.
"Kau tau? Aku juga mengalami hal yang sama denganmu, tapi semua berbeda ketika kamu bisa membuka hati sedikit saja untuk mereka yang akan berteman denganmu," hibur Joel.
"Terakhir kali aku mengambil langkah itu, mereka justru ingin mencelakaiku," ungkap Christina lirih.
Joel tertegun untuk beberapa saat mendengar pernyataan Christina. Namun tiba-tiba, ia tercekat saat mereka tiba di dekat orkestra yang tengah berlangsung, matanya menagkap Bram tengah bersama Ariel.
'Ariel? Bersama Bram?' batin Joel.
'Bagaimana bisa? Kenapa?' pikirnya.
Dari tempat Joel berdiri, ia melihat Ariel sesekali tertawa sembari memukul bahu Bram ketika Bram mencoba memainkan Flute . Mereka berdiri dekat pemain orkestra yang memainkan Organ.
'Kenapa dia harus berpenampilan seperti itu ketika bersama Bram,' keluh hatinya.
Rambut terikat dengan helaian rambut yang berada digaris pipinya menambah sisi manis dari Ariel kian terlihat.
"Bukankah permainan mereka bagus?" ucap Christina.
"Benar, sayangnya hanya sedikit yang menikmati permainan mereka,." sambut Joel.
Dari sudut pandang Ariel, ia mendekati orang yang memainkan Organ dan Flute yang berada di sisinya.
"Ingin mencoba memainkannya?" tawar Bram menunjuk Organ.
"Apakah kau juga akan memainkan Gitar atau Contrabass mungkin?" tantang Ariel.
"Kalau Gitar aku tak masalah. Tapi, Contrabass? Aku tak bisa menjamin telinga mereka yang mendengar akan baik-baik saja setelahnya," ucap Bram.
"Konyol," sambut Ariel tertawa.
"Hei,, aku sangat ingin mencoba Flute. Apa kau bisa memainkannya?"tanya Bram.
"Aku hanya tau dasar nya saja. Tapi, untuk menghasilkan melodi yang pas, aku belum menguasainya," jawab Ariel.
"Kalau begitu,,,"
Bram mendekati pemain Flute untuk meminjamnya sebentar, lalu mencoba untuk meniupnya.
Suara melengking yang dihasilkan Bram sontak membuat Ariel memukul bahunya.
"Aku masih menyayangi telingaku, jadi lebih baik hentikan!" pinta Ariel sembari merebut Flute dari tangan Bram.
"Yah,, bukankan setiap orang harus memulai disetiap tempat?" sambut Bram menaikkan bahunya.
"Kau benar, itulah masalahnya. Jika kamu ingin memulai, mintalah pada mereka untuk mengajarimu memainkan itu," saran Ariel.
"Kenapa kamu tidak mencoba saja?" tanya Bram.
"Apa?" jawab Ariel balas bertanya.
"Tapi, bagaimana jika itu justru menganggu pertunjukan mereka?" tanya Ariel.
"Tidak akan," sambut Bram percaya diri.
Bram mengatakan sesuatu kepada pemain Organ yang disambut dengan senyum ramah, lalu mengangguk memberikan persetujuan.
Para pemain orkestra menghentikan permainan mereka untuk beristirahat sejenak.
Pria yang memainkan Organ mempersilahkan Ariel untuk mendekat. Ketika ia telah berdiri diposisinya, saat itulah matanya menangkap Joel tengah bersama Christina.
Ariel berusaha menenangkan hatinya ketika tatapan mereka bertemu. Dengan senyum dibibirnya, Ariel mengedipkan mata pada Joel tanpa disadari Christina yang berada didekatnya.
'Joel hanya menemani Christina, jadi lebih baik aku tak memikirkan hal yang belum pasti,' batin Ariel menenangkan hatinya.
Sementara itu, Joel memilih pergi meninggalkan tempat itu sebelum Christina menyadari keberadaan Ariel dan Bram.tidak ingin malam saat festival terulang lagi.
'Melihatnya tersenyum padaku seperti itu, cukup untuk sedikit menenangkan hatiku. Ariel akan mengatakan alasan dia bersama Bram hari ini jika aku menanyakannya,' pikirnya.
Suara Organ mengalun dengan lembut. Joel sangat yakin itu adalah permainan Ariel.
"Ah,, Joel,, bisakah kita kembali sebentar? Melodinya lebih bagus dari yang tadi. Ini benar-benar lembut. Ayo kita lihat lagi," pinta Christina.
Joel menoleh kearah pertunjukan orkestra berlangsung, dan terlihat banyak orang mulai berdatangan untuk menikmati musik yang mengalun lembut.
Tak lama kemudian, suara gitar mulai mengiringi. Menambah suasana musik kian meriah, hingga alat musik lain terdengar kembali. Menambah kemeriahan permaian musik mereka.
"Maaf, Christina. Jika kamu ingin kembali kesana, aku tidak ikut," tolak Joel.
"Kenapa? Apakah kamu tidak menyukainya?" tanya Christina.
"Aku menyukainya, hanya saja aku merasa sedikit aneh dengan badanku sendiri," kilah Joel.
"Apakah kamu sakit?" tanya Christina cemas.
"Hanya merasa tidak enak, dan akan membaik dengan sendirinya," jawab Joel.
"Kamu yakin? Mau duduk untuk minum?" tawar Christina.
"Yah,, tentu," jawab Joel
Joel memilih duduk dibangku yang berada disudut taman, tepat berada dibawah pohon.
Christina merapatkan duduknya dengan Joel. Sesekali melirik untuk melihat wajah Joel dari dekat.
'Dia benar-benar tampan. Bahkan kacamata yang dia kenakan tidak mengurangi ketampanan yang dimilikinya,' batin Christina.
'Tapi, kenapa sulit sekali mendekatinya? Apakah dia menyukaiku? Dia selalu bersikap lembut padaku. Jika aku mengungkapkan perasaanku, apakah dia akan menerimanya?' pikir Christina.
Ponsel Christina menyadarkannya dari lamunannya. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan melihat "MOM" dilayar ponsel.
"Ya, Mom?" sambut Christina menempelkan ponsel ditelinganya.
"Sekarang? Tidak bisakah ditunda? Kenapa mendadak sekali?" protes Christina.
"Baiklah,, baik, aku segera kembali," jawab Christina sedikit kesal.
"Apa sesuatu terjadi?" tanya Joel etelah panggilan berakhir.
"Aku harus pulang. Ibuku memintaku untuk ikut keluar kota hari ini juga selama beberapa hari," papar Christina.
"Aku akan mengantarmu," sambut Joel.
"Maaf, Joel. Padahal aku yang meminta padamu untuk menemaniku disini. Tapi, justru aku yang pergi meninggalkanmu," sesal Christina.
"Keluarga selalu menjadi utama dalam keadaan apapun. Aku sangat mengerti hal itu," hibur Joel.
"Ayo," Joel menawarkan tangannya yang segera disambut dengan senang hati.
Christina mengenggam lembut tangan Joel menuju mobil Joel yang berada di area parkir. Hingga mobil itu pun menjauh dari taman.
"Apakah terjadi hal buruk?" tanya Joel memecah keheningan selama perjalanan.
"Tidak, hanya saja, ini tentang nenekku yang sangat ingin bertemu denganku," jawab Christina.
"Ah,,, begitu. Senang mendengarnya bahwa tidak terjadi hal buruk pada keluargamu," sambut Joel tersenyum hangat.
Mobil Joel memasuki perumahan dan berhenti didepan sebuah rumah berpagar.
"Terima kasih sudah mengantarku, Joel," ucap Christina.
"Bukan masalah," jawab Joel.
Christina membuka pintu mobil, sebelum keluar ia menoleh kearah Joel yang tersenyum padanya. Dengan gerakan cepat, Christina mendaratkan ciuman singkat dipipi Joel, dan keluar tanpa menoleh lagi. Menyembunyikan semburat merah di pipinya.
Christina segera masuk kedalam rumah. Meninggalkan Joel yang masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Tangannya mengusap pipinya, senyuman diwajahnya tiba-tiba menghilang tanpa bekas.
"Apa-apaan," gerutu Joel.
Joel meninggalkan rumah Christina dengan hati yang berkecamuk. Melajukan mobilnya menuju taman, berharap Ariel masih disana.
...>>>>>>>--<<<<<<<...