
Dirumah sakit, Joel memang tetap melakukan tugasnya, namun beberapa kali Joel kehilangan fokusnya. Sikapnya jauh berubah dibandingkan sebelumnya.
Tidak ada lagi senyum hangat yang biasa ia tunjukkan setiap kali memriksa kondisi pasiennya. Bahkan ketika jam istirahat, Joel hanya mengurung diri di ruangannya.
Beberapa kali Joel memeriksa ponselnya yang berubah hening. Tidak ada lagi sapaan konyol yang biasa ia terima setiap harinya, rengekan manja yang mengusik dirinya setiap pagi namun tetap menyukai hal itu.
"Aku merindukannya, tapi_,,," gumam Joel pelan, lalu tersenyum getir.
Joel membuka ponselnya, melihat kembali foto kebersamaan mereka satu per satu, entah berapa banyak foto yang ia simpan diponsel miliknya hingga ia juga mencetaknya dan meletakkannya dikamar.
Banyak hal yang telah mereka lalu bersama terputar kembali didepan matanya. Sekeras apapun Joel mengusir bayangan itu, hal itu justru membuat kilasan kenangan itu memeluknya semakin kuat.
Pesan dan panggilan Ariel benar-benar berhenti setelah Joel mengatakan kalimat itu didepan rumahnya sendiri.
[[ Temui aku satu minggu kedepan, maka aku akan mendegarkanmu, tapi jangan terlalu berharap untuk aku mempercayainya, ]]
Kalimat itu seolah menjadi bumerang baginya dimana kini ia sangat merindukan suaranya.
Waktu terus berlalu hingga tanpa ia sadari hari telah berubah sore, pertanda jam kerjanya telah berakhir. Ia segra membereskan barang-barangnya dan beranjak keluar meninggalkan ruangannya.
Langkahnya terhenti ketika Joel melihat sosok yang ia kenal menghampiri dirinya.
"Aku sempat berpikir kamu sudah pulang," sapanya dengan senyum manis diwajahnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini Christina?" tanya Joel.
"Menemani ibuku yang membuat janji dengan dokter Seth," jawab Christina.
"Apakah ibumu sakit?" tanya Joel.
"Tidak," jawab Christina mengeleng pelan. "Hanya kontrol biasa, ibuku selalu datang kemari setiap bulannya, dan memiliki janji rutin bersama dokter Seth sejak kami dikota ini," ungkap Christina.
"Ah,, begitu rupanya," sambut Joel.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku ada urusan lain," ucap Joel.
"Tunggu, Joel," cegah Christina.
"Ya?" sambut Joel.
"Aku minta maaf soal tempo hari, aku tidak seharusnya melakukan itu. Mungkin saja itu tidak seperti dugaanku, dan aku dengan seenaknya memotret tanpa ijin hanya karena tidak sengaja melihat mereka, maafkan aku," sesal Christina.
"Tidak apa-apa," sambut Joel.
"Apakah kalian bertengkar?" tanya Christina.
"Tidak," kilah Joel.
"Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya," sambut Christina.
Joel hanya tersenyum tipis, lalu pamit dan meninggalkan Christina. Tanpa ia sadari, Joel justru mengarahkan mobilnya menuju studio dimana Ariel melatih.
Joel melihat Ariel baru saja keluar dari studio, namun tidak segera pergi melainkan berdiri sembari sesekali melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya seolah menunggu seseorang.
Tak berselang lama, dari belakangnya Ken muncul dan berdiri disampingnya melakukan hal yang sama, menunggu.
Penasaran dengan apa yang di tunggu Ariel, Joel tetap disana mengawasi Ariel dari kejauhan. Hingga Joel mendapatkan jawabannya.
Sebuah truk besar berhenti tepat didepan studio dimana David berada didalam truk itu yang segera melompat turun dengan senyum lebar khas miliknya.
"Apakah aku terlambat?" tanya David.
"Aku bahkan tak msalah jika kau terlambat beberapa jam lagi," seloroh Ariel.
Ariel tampak tertawa, namun Joel juga melihat tawa itu berbeda dari sebelumnya.
"Kenapa wajahnya seperti itu? Tidakkah kau seharusnya tersenyum puas setelah berhasil membuat permainanmu berjalan lancar?" gumam Joel sinis.
Dengan beberapa orang lain yang turun dari truk beserta Ken, mereka menurunkan beberapa alat musik.
"Ahh,, benar juga, alat musik itu datang hari ini," gumam Joel.
Joel kembali memperhatikan Ariel dalam diam. Ia hampir saja keluar dari mobil ketika melihat Ariel tiba-tiba terhuyung saat berjalan menjauh dari truk dan berhasil ditangkap Ken yang berada didekatnya.
"Kak, kalau kakak sakit, kenapa tidak istirahat saja? Kakak semakin pucat," tegur Ken dengan suara khawatir.
"Aku baik-baik saja, hanya tidak berselera makan pagi ini," kilah Ariel menegakkan tubuhnya.
"Kau sungguh keras kepala," sela David.
"Oh diamlah,,! Selesaikan saja pekerjaanmu," perintah Ariel seenaknya.
David tertawa singkat tanpa merasa tersinggung dan kembali melanjutkan pekerjaannya menurunkan semua alat musik yang di pesan Ariel.
"Masuklah lebih dulu, Ken! Aku segera menyusul setelah menyelesaikan ini," pinta Ariel.
"Baik," jawab Ken.
Ken begegas masuk kembali kedalam studio, sementara Ariel meminta David duduk di kursi panjamg sembari mengeluarkan amplop coklat yang cukup tebal dari dalam tasnya.
"Katakan saja jika jumlahnya tidak sesuai, aku akan memberimu lagi jika kurang," ucap Ariel.
"Haiss,,, tak perlu. Aku percaya padamu." sambut David tersenyum.
"Kau bisa menghubungiku lagi jika memerlukan sesuatu. Dengan senang hati aku akan membantumu," ucap David.
"Itu sangat berarti bagiku, terima kasih banyak, David," sambut Ariel.
"Bukan masalah. Tapi, katakan sesuatu padaku!" pinta David.
"Apa?" tanya Ariel.
"Hei,,, apa yang membuatmu berpikir begitu?" sambut Ariel tertawa ringan.
"Entahlah." jawab David menaikkan bahunya.
"Sinar wajahmu jauh berbeda dengan saat kau datang menemuiku bersamanya," lanjutnya.
"Kepekaanmu sungguh mengerikan," jawab Ariel memberikan tatapan ngeri.
"Akan ku ambil itu sebagai pujian," sambut David tertawa.
"Yah,,, bukankah setiap hubungan akan seperti itu? Kami hanya salah paham, dan itu akan membaik," kilah Ariel.
'Semoga,' lanjut Ariel dalam hati.
"Caramu menyikapi masalah tampaknya sedikit lebih baik darinya," ucap David.
"Kau berpikir keras dalam diam namun menyelesaiakan masalahmu, sedangkan dia lebih berasumsi sendiri dan mengeluarkan emosinya," tambahnya.
"Hei,,, apa kau sadar di depan siapa kau menjelekkannya?" sambut Ariel memasang wajah pura-pura marah.
"Ha ha ha,,, maaf,, aku sengaja (tersenyum lebar). Lagipula, dia tidak disini untuk mendengarkan," jawab David seenaknya.
"Tapi aku disini, ingat?" balas Ariel.
"Baiklah,, tapi aku tidak akan meminta maaf untuk itu," jawab David tertawa renyah.
"Kau tidak akan berpaling ke tempat lain untuk membeli alat musik atau sekedar reparasi karena perkataanku kan?" tanya David penuh harap.
"Konyol!" sambut Ariel meninju lengan David.
"Aku bisa mendapatkan alat musik dan layanan reparasi terbaik darimu, bagaimana bisa aku pindah ke tempat lain?" imbuhnya.
"Ah,, aku baru saja ingat, aku memerlukan senar gitar. Tapi, aku akan datang sendiri saja kesana ketika memiliki waktu luang," ucap Ariel.
"Sekarang aku penasaran," ucap David menatap lekat mata Ariel.
"Berapa banyak sebenarnya alat musik yang bisa kau mainkan? Maksduku, yang kamu kuasai seperti saat kau bermain piano," tanya David.
"Hemm,,," Ariel bergumam pelan sembari menengadah.
"Terakhir kali kuingat, aku menguasai enam alat musik. Tapi, aku juga mepelajari alat musik yang belum pernah kumainkan dan bisa menguasainya,"
"Entahlah," jawab Ariel menaikan bahunya lalu tertawa.
"Baiklah,,, aku hanya akan memberi kesempatan pada lalat untuk menetap dimulutku jika kau mengatakan ini lebih jauh lagi," seloroh David membuat Ariel kembali tertawa.
"Aku pamit, sepertinya mereka juga sudah selesai," ucap David seraya berdiri.
David pergi sembari meletakkan dua jari dipelipisnya dan mengedipkan sebelah matanya, yang disambut gelengan kepala dari Ariel.
Setelah truk yang dibawa David pergi, Ariel berbalik dan masuk kedalam studio. Sementara Joel yang sejak tadi mengawasi Ariel hanya menghembuskan nafas panjang.
Matanya menerawang mengingat hari-hari yang telah ia lalui bersama Ariel. Tak satupun terasa apa yang dilakukan Ariel adalah kepalsuan. Semua hal yang Ariel tunjukan padanya selama ini tampak tulus. Tapi, entahlah.
Joel menarik tuas kemudi dan mulai menjalankan mobilnya lagi, meninggalkan studio dan kembali pulang ke rumahnya.
>>>>>>>--<<<<<<<
#Apartemen Bram.
Bram duduk dikursi yang berada diruang kerja pribadinya. Tumpukan dokumen berada dimejanya telah ia selesaikan dalam waktu singkat.
Tangannya kini tengah memegang dokumen pernikahan palsu dirinya dan Ariel yang dibuat ayahnya. Dahinya berkerut tajam, tidak bisa menemukan celah dari dokumen itu untuk dijadiakan titik salah dan berbalik membalas sang ayah.
"Sial,,," umpat Bram kesal.
Bram mencengkam rambutnya dengan gusar. Menghempaskan dokumen ditangannya keatas meja.
"Ini dibuat dengan sangat teliti dan rapi, semua orang akan percaya begitu saja hanya dengan ini," geramnya.
Bram menyandarkan punggungnya, terus berpikir untuk mencari jalan keluar.
"Apakah dia bersedia membantu? Itu mustahil ketika dia juga sangat ingin menghancurkannya," gumam Bram.
"Apakah tidak lebih baik jika kita juga membicarakan ini bersama nona Ariel, tuan?" tanya Sam yang sejak tadi diam sembari berkutat dengan komputernya.
"Tidak," jawab Bram menggeleng kuat.
"Aku tidak tau apa yang dia pikirkan, dan dia juga tengah menghadapi masalah yang aku timbulkan," larang Bram.
"Tapi, ini bukan salah anda sepenuhnya,"
"Saya merasa semua hal ini sangat janggal, dan saya merasa seseorang seolah sengaja ingin menghancurkan hubungan baru nona bersama pria itu," terang Sam.
"Itulah yang sedang aku pikirkan," sambut Bram.
"Si mata empat itu tidak akan mempercayai apa yang aku katakan tanpa bukti,"
"Haruskah saya menemui nona Jesica, tuan?" tanya Sam.
.....
....
.
.
To be Continued