
Jesica tersenyum haru saat melihat tindakan Joel yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Sesekali ia melirik Bram seolah ingin memastikan apakah Bram baik-baik saja.
Diluar dugaannya, Bram justru tampak tetap tenang, bahkan tersenyum sembari bertepuk tangan seolah ia mendukung penuh hubungan Joel dan Ariel.
"Omong-omong, aku penasaran dengan harapan yang kau tulis, Bram," ucap Jesica ditengah riuhnya suasana karena sorakan semua orang.
Bram menoleh, menatap manik mata jesica selama beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya. Merenugkan kembali saat dimana ia menuliskan harapannya sebelum menerbangkan lentera bersama Jesica.
'Andai aku di beri kesempatan satu kali lagi untuk jatuh cinta padanya, aku tak akan melepaskannya seperti yang pernah aku lakukan seumur hidupku,' Bram menulis sembari melirik Jesica yang berada didepannya.
Disaat yang sama, Jesica juga menuliskan harapan yang sama.
'Aku tak tau akah pantas untuk mengatakan bahwa aku sangat berharap dia bisa kembali mencintaiku, dan itu bukan karena alasan yang sama seperti dulu, tapi karena hatinya sendiri. Maka aku akan menjaga cintaku dengan sungguh-sungguh,'
"Apapun itu, aku hanya ingin itu menjadi nyata," jawab Bram.
"Kau tak berharap hubungan Ariel rusak bukan?" tuduh Jesica.
'PLETAK,,,!!!'
"Aaww,,,"
Suara erangan Jesica terdengar bertepatan dengah Bram yang menjitak kepalanya.
"Konyol," sembur Bram. "Seberapa bren*gsek sebenarnya aku dimatamu?" sambungnya.
"Sakit,,," keluh Jesica mengusap kepalanya.
"Aduh,," rintih Bram.
Jesica membalas dengan menginjak kaki Bram dengan satu hentakan kuat. Membuat ia mengaduh sembari memegangi kakinya yang disambut tawa puas Jesica.
"Sungguh menyenangkan," ledek Jesica menjulurkan lidahnya.
Jesica meninggalkan Bram dan menghampiri Ariel. Merangkul mereka berdua dengan suka cita dihatinya.
"Pesta kalian harus meriah, aku tidak mau tau dan tidak ingin mendengar penolakan," ucap Jesica memeluk erat sahabatnya.
"Yap,,, kita jadikan pesta pernikahan mereka nanti menjadi pesta termeriah yang pernah ada," timpal Bram merangkul Joel.
Mereka menikmati sisa festival sebelum akhirnya mereka pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
"Tidak bisa!" Jesica membantah dengan suara tegas.
"Mereka akan memakai pakaian dari butik yang kupilih, karena yang aku pilih adalah yang terbaik," sambungnya.
"Jangan seenaknya!" sanggah Bram tidak kalah tegas.
"Aku juga memiliki kenalan yang membuka butik, dan itu sangat bagus. Mereka akan memilih butik yang ku pilih," sambungnya.
"Kenapa mereka harus memilih butikmu disaat butik yang ku pilih lebih baik?" balas Jesica.
"Justru butik yang kupilih jauh lebih baik dari butikmu," jawab Bram.
"STOPPP,,,!!!!"
Suara serentak Joel dan Ariel menghentikan perdebatan yang terjadi. Mereka berempat tengah berkumpul disebuah cafe untuk membahas tentang pernikahan Joel dan Ariel.
Joel serta Ariel menutup kedua telinga mereka saat perdebatan tak berujung itu berlangsung lama dimana tak satupun dari mereka mau mengalah.
"Kenapa kalian tidak menikah saja alih-alih memperdebatkan acara yang bukan milik kalian?" gerutu Ariel.
"Kalian bahkan sangat suka menarik perhatian semua orang dimanapun kalian berada," timpal Joel.
"Aku akan mengurus ini bersama, Joel. Untuk kalian," Ariel menunjuk Jesica dan Bram bergantian. "Duduk dan diam saja, tidak perlu ikut campur. Kalian hanya meledakkan kepalaku dengan terus bersikap seperti anak-anak," ucap Ariel mulai kesal.
"Kita pergi, Joel. Biarkan saja mereka disini, kalian hanya perlu menunggu undangannya, itu saja," ucap Ariel sudah berdiri dari duduknya.
Ariel beranjak dari tempatnya diikuti Joel yang segera mengandeng tangannya. Meninggalkan Bram dan Jesica yang tampak tertegun selama beberapa saat, hingga mereka berdua serentak bangun dari duduknya untuk mengejar sahabat mereka.
"Eehh,, tunggu,, tunggu,, tunggu,," Jesica meraih tangan Ariel dan menghentikan langkahnya.
"Jangan marah! Baik,, baik,, kalian yang memutuskan," ucap Jesica mengalah.
Berdiri didepan sahabatnya dengan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Hal yang sama juga dilakukan Bram yang menghentikan Joel.
"Setidaknya kau bisa memanfaatkanku, Joel. Ayolah! Aku akan membiarkanmu untuk memilih, dan tidak akan meributkannya jika bukan pilihanku yang kau pilih," bujuk Bram.
Ariel meletakkan telapak tangan di wajahnya, sementara Joel menghembuskan nafas panjang.
"Akan ku pikirkan, tapi untuk hari ini tolong pergilah," pinta Ariel.
"Ehh,,,? Kenapa?" protes Jesica.
"Ada hal yang ingin kubicarakan, hanya berdua!" tegas Ariel.
"Ya dan tidak," jawab Ariel membuat dua sahabat didepannya bingung.
"Hei, aku sudah bilang kan, aku yang akan mempersiapkan semuanya," sanggah Jesica.
"Semua persiapan, undangan, gedung atau apapun itu, kamu bisa menyerahkan semuanya padaku," timpal Bram.
"Kau bukan satu-satunya di sini yang akan mengurus itu," cetus Jesica.
"Kau juga bukan satu-satunya yang berhak menentukan apa yang mereka inginkan," balas Bram.
"Hei,,, aku memiliki hak itu, mereka sahabatku," sanggah Jesica.
"Mereka juga sahabatku," balas Bram tak mau kalah.
Mereka kembali berdebat, seolah tidak ada ruang untuk bernafas tanpa pertengkaran kecil yang menjadi besar jika dihadapkan pada mereka berdua.
Ariel menarik tangan Joel, diam-diam menjauh dari mereka dan meninggalkan mereka berdua. Mereka pergi kesebuah taman dengan berjalan kaki. Ingin menikmati ketenangan yang sangat jarang mereka dapatkan sejak Joel melamar dirinya.
"Maaf, andai aku memiliki orang tua ataupun saudara, mungkin kamu tidak akan menghadapi hal ini," sesal Ariel.
Joel hanya diam, namun ia menghentikan langkahnya, membuat langkah Ariel terhenti akibat tangan Joel yang menariknya. Tangannya beralih ke bahu Ariel, meminta kekasihnya untuk menatapnya.
"Jangan lupakan satu hal, aku juga tidak memilki siapapun disini," ucap Joel tersenyum.
"Dan kamu yang akan menjadi satu-satunya yang aku miliki," imbuhnya sembari menyelipkan rambut yang tertiup angin kebelakang telinga Ariel.
"Bisa dikatakan, meski menyebalkan setiap kali mereka bertengkar, namun tak bisa di pungkiri mereka telah menjadi keluarga tanpa ikatan darah,"
"Dan untuk saat ini hanya mereka yang selalu ada untukku, juga untukmu," papar Joel.
Ariel tersenyum, lalu mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Joel.
"Terkadang aku bertanya-tanya jika mengingat bagaimana Jesica beberapa bulan lalu, kenapa Jesica tidak menceritakan semuanya sejak awal? Kenapa dia tidak terbuka sejak awal? Bukankah itu justru akan menghindarkan salah paham yang berkepanjangan?" ucap Joel sedikit menerawang.
"Jika aku berada di posisi Jessi, aku akan melakukan hal yang sama," sahut Ariel.
"Mengapa begitu?" tanya Joel.
Ariel berbalik, kembali meneruskan langkahnya dengan jari tangan mereka yang saling terjalin.
"Dia berada di posisi belum memiliki kekuatan apapun untuk melindungi apa yang penting baginya,"
"Andai sejak awal Jessi menceritakan kebenaran itu padaku, tuan Evrad akan menghindarinya, dan Jessi kehilanagan kesempatan untuk mencari kelemahan dari dalam,"
"Dan kesempatan untuk lepas sepenuhnya dari tuan Evrad akan berubah menjadi mustahil, bahkan Bram juga tidak akan memiliki kesempatan untuk melawan,"
"Dannn,,,,,"
Ariel menghentikan langkahnya dan berdiri didepan Joel. Tersenyum penuh arti.
"Apa?" Joel menaikkan alisnya penasaran.
"Aku tidak akan pernah bertemu denganmu," jawab Ariel.
"Haiss,,,," desah Joel sembari meletakkan kedua tangannya di pinggang Ariel, lalu menariknya mendekat.
"Aku berharap, aku berada di altar sekarang," ucap Joel menatap lekat manik mata Ariel dengan kerinduan.
"Bersabarlah, dan itu akan sepadan dengan waktu yang kamu habiskan untuk menunggu," sahut Ariel menjulurkan lidahnya.
"Dasar penggoda kecil,!" desis Joel menarik Ariel lebih dekat kearahnya.
"Ishh,,," tangan Ariel mendorong dada Joel menjauh.
"Ini di tempat umum, lepaskan tanganmu!" pinta Ariel dengan nada peringatan.
"Kalau tidak, apa?" tantang Joel menyeringai lebar.
"Ohh,,, menantangku rupanya?" sambut Ariel.
Tangan Ariel bergerak cepat mencengkram kerah baju Joel, lalu menariknya mendekat ke wajahnya. Saat jarak mereka semakin dekat dengan jarak beberapa senti saja dan bibir mereka hampir bersentuhan, seringai lebar terbentuk di bibir Ariel.
"Anda terlalu berharap, dokter," ujar Ariel tersenyum jahil.
Ariel mendaratkan kecupan cepat di pipi Joel, lalu mendorongnya dan berlari menjauh dengan mengeluarkan suara tawa puas. Meninggalkan Joel yang tengah mengerjapkan matanya karena terkejut.
"Awas kau," dengus Joel setelah beberapa saat tertegun.
Joel segera mengejar keksihnya yang tertawa meledek dirinya. Disaat ia ingin menggoda kekasihnya, saat itu juga kekasihnya membalas dan membuat dirinya yang tidak bisa berkutik. Disaat yang sama, dirinya juga selalu merasa setiap hari adalah hari yang baru bagi mereka berdua.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
To be Continued...