I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
102. Masuk kedalam jebakan



Ariel menutup pintu sekaligus mengunci pintu apartemennya ketika baru saja pulang dari tempat David bersama Joel.


David menjelaskan adanya kendala ketika Ariel tiba disana dan menunda pengantaran alat musik yang ia pesan. Alat musik akan diatar dalam dua hari kedepan.


Setelah meletakkan tasnya, ia segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Mengisi bathub dengan air hangat, lalu merendam tubuhnya untuk menghilangkan lelah yang ia rasakan.


Setelah beberapa menit, Ariel keluar dari kamar mandi, lalu mengeringkan rambutnya dan mengenakan romper sebelum naik ketempat tidur. Tangannya mulai sibuk dengan ponselnya, mengirim pesan dengan wajah berseri.


[[ Apakah kamu sudah sampai rumah? @Ariel ]]


[[ Lihat ini, siapa yang baru saja aku pikirkan dan akan mengirim pesan, tapi kau mendahuluiku, @Joel ]]


[[ Aku sudah di rumah, dan baru saja selesai dengan meditasi malam, @Joel ]]


[[ Sepertinya aku bergerak lebih cepat darimu, @Ariel ]]


[[ Benarkah? terdengar seperti meditasimu memerlukan banyak waktu, @Ariel ]]


[[ Hanya dua detik lebih cepat,, dan kau tau? Waktu berendammu bahkan membutuhkan waktu lebih banyak dariku, @Joel ]]


[[ Tunggu,, tunggu,, darimana kamu tau kalau aku berendam? Kau tidak memasang kamera atau semacamnya dikamarku bukan? @Ariel ]]


[[ Hei,,, itu tuduhan mengerikan, @Joel ]]


[[ Kalau begitu, katakan! @Ariel ]]


[[ Hanya menebak berdasarkan kebiasaanmu, @Joel ]]


[[ Sekarang aku harus mengatakan, instingmu mengerikan, @Ariel ]]


[[ Terima kasih, aku menikmati pujiannya, @Joel ]]


[[ Itu bukan pujian, Bunny! @Ariel ]]


[[ Ha ha ha,,, hei ini sudah larut. Istirahatlah, @Joel ]]


[[ Itu juga berlaku untukmu, @Ariel ]]


[[ Aku tau, Sweety. Sekarang, tidurlah. Mimpi indah, Sweety @Joel ]]


[[ Mimpi indah, Bunny @Ariel ]]


Senyum lebar terus menghiasi wajah Ariel bahkan ketika ia selesai membalas pesan dari Joel.


Meletakkan ponsel di nakas, Ariel menarik selimut hingga mencapai leher dan membalikkan badannya membelakangi nakas.


Ia baru saja akan tertidur ketika suara ponsel menginterupsi dirinya yang akan tertidur. Tanganya meraih ponsel dan melihat nama Bram muncul di layar ponselnya.


"Apa dia sudah gila? Kenapa menghubungiku selarut ini?" gerutu Ariel namun tetap mengeser ponsel untuk menjawab.


"Ada apa, Bram? Ini sudah sangat larut, tidak bisakah kau menghubungiku besok pagi saja?" sambut Ariel sedikit kesal.


"Mohon maaf nona, saya telah menganggu anda,"


Ariel mengerutkan keningnya, lalu melihat ponselnya untuk memastikan siapa yang menghubungi dirinya.


Nama Bram masih terlihat jelas di layar ponselnya, meski ia beberapa kali mengosok matanya, tetap saja nama Bram masih tertera di layar ponsel. Namun suara yang berbicara bukanlah Bram.


"Dengan siapa saya berbicara?" selidik Ariel.


"Saya seorang bartender nona, saya minta maaf menghubungi anda larut malam seperti ini, namun teman anda berada disini dan dalam keadaan mabuk,"


"Saya tidak memiliki pilihan lain selain memeriksa ponsel miliknya dan melihat nomor anda paling banyak dihubungi disini, jadi saya memutuskan untuk menghubungi anda," terangnya.


"Tidak bisakah kamu menghubungi orang lain? Mungkin nama asisten ada disana?" tanya Ariel.


"Saya tidak berani melangkah lebih jauh lagi dari ini, nona. Yang saya lakukan saat ini sudah cukup melanggar privasi pelanggan kami, jadi tolong bantu saya," pintanya dengan suara memelas.


"Saya juga tidak ingin keadaan mabuknya sekarang justru akan menganggu pelanggan kami yang lain, tapi kami juga tidak bisa bertindak seenaknya mengingat tuan ini pelanggan tetap kami dan tidak pernah bertindak buruk ditempat kami," paparnya.


"Awas kau, Bram! Kau benar-benar minta ditampar untuk sadar," gumam Ariel mengeram kesal.


"Bisakah anda datang, nona?" tanyannya penuh harap.


"Baik,,, Baik,, aku akan kesana. Dimana tepatnya bar yang kamu maksud?" tanya Ariel.


"The Del Monte," jawabnya.


"Baiklah, aku akan kesana. Pastikan dia tidak pergi kemanapun, tolong jaga sebenatar lagi hingga aku tiba," harap Ariel.


"Baik, nona," jawab bartender.


Ariel meletakkan ponselnya, dengan kesal menendang selimut dan menganti pakaiannya dengan mini dress selutut dan melapisi bagian luarnya dengan cardigan.


Tak lupa Ariel menyambar ponsel dan tasnya untuk berjaga-jaga. Setelah membawa kunci mobilnya dan mengunci apartemen, Ariel pergi menuju nightclub yang disebutkan bartender padanya.


Sementara itu, Bram yang masih duduk di nightclub tampak mencengkram kepalanya. Pandangannya berputar, hawa panas itu secara perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Sial,,, ini,,, efek obat sialan itu," gumamnya pelan.


"Siapa yang memasukkan obat seperti itu kedalam minumanku?" geramnya dengan suara pelan.


Tangan Bram mengepal, berusaha bangun dari duduknya dan ingin cepat pergi dari tempat itu agar tidak terjadi hal yang tidak dia inginkan.


Ketika Bram bangun dari duduknya, sang bartender menahan lengannya, membuat hawa panas ditubuhnya kian menguat.


"Tolong tunggu sebentar, tuan. Saya sudah menghubungi seseorang untuk menjemput anda. Akan berbahaya jika anda pergi dengan keadaan mabuk berat seperti ini," ucap bartender.


'Siapa yang dia hubungi? Bagaimana aku bisa tidak sadar ketika dia mengambil ponselku?' batin Bram meraba saku celananya dan mendapati ponselnya sudah tidak pada tempatnya.


Bram menepis pelan tangan bartender itu, lalu kembali duduk saat merasakan kepalanya mulai terasa berat. Sekuat tenaga menahan hasrat yang mulai meluap dari dalam dirinya.


'Ku harap, yang dia hubungi adalah Sam,' batin Bram seraya meletakkan kepalanya dimeja, menahan gejolak yang tengah ia rasakan yang terasa menyiksa dirinya.


Tak sampai tiga puluh menit bagi Ariel untuk sampai disebuah nightclub yang dimaksud sang bartender. Ariel mengernyit tatkala ia berada di dalam.


Suasana berisik dari musik yang menghentak, cahaya remang-remang dari kelap-kelip lampu yang berwana menyala secara bergantian, dan lantai dansa yang sedang di gunakan oleh beberapa orang penari Striptis membuat ia bergidik.


Ariel mengedardarkan pandangannya, berharap bisa dengan cepat menemukan Bram dan segera meninggalkan tempat yang menurutnya gila baginya.


Segera setelah melihat sosok yang meletakkan kepalanya dimeja bar, Ariel menghampirinya. Memastikan sekali lagi dengan menarik bahu pria itu.


"Dasar merepotkan," gerutu Ariel saat melihat Bram menutup matanya.


Ariel memanggil bartender yang menurut tebakannya adalah orang yang menghubunginya,lalu tersenyum.


'Suara Ariel? Apakah aku bermimpi? Tidak mungkin!' batin Bram merasa berat untuk membuka matanya.


"Ya?" sambut bartender tersenyum ramah menghampiri Ariel.


"Apakah kau yang menghubungiku menggunakan ponselnya?" tanya Ariel seraya menunjuk Bram.


'Apakah ini nona yang aku hubungi tadi? Dia sungguh cantik,' batin bartender selama beberapa saat terpesona dengan Ariel.


"Benar nona, apakah anda,,,,"


"Aku temannya," jawab Ariel.


"Nona Ariel?" tanya bartender memastikan.


"Benar," jawab Ariel.


"Terima kasih anda sudah datang," sambutnya tersenyum lega.


"Ini ponsel teman anda," ucapnya sembari menyodorkan ponsel Bram kepada Ariel.


"Terima kasih sudah menjaganya," ucap Ariel sembari menerima ponsel Bram dan memasukkan kedalam tasnya.


"Kalau begitu, Aku akan mengantarnya pulang," imbuhnya.


"Uhmm,,, bisa tolong bantu aku memapahnya menuju mobilku?" pinta Ariel.


"Dengan senang hati, nona," sambut bartender ramah.


Bartender itu segera memanggil dua orang yang berjaga disana untuk memapah Bram mengikuti Ariel. Setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi, Ariel meninggalkan tempat itu.


"Semoga saja nona itu baik-baik saja. Dia tampaknya wanita baik-baik," gumam sang bartender pelan.


Ariel berterima kasih kepada orang yang telah membantu memapah Bram menuju mobilnya, dan segera duduk dibelakang kemudi.


"Bram,,," panggil Ariel sembari menguncang bahu Bram.


"Aku tidak tau dimana apartemenmu, katakan padaku dimana apartemenmu," pinta Ariel.


'Ini sungguh suara Ariel? Oh Tidak,,, tidak,,, Argh,,, kenapa hawa panasnya belum hilang,' keluh Bram dalam hati.


"BRAMMMM,,,,, Sadarlah,,," geram Ariel menguncang bahu Bram lebih kuat karena tidak mendapatkan jawaban.


Tangan Ariel mulai menepuk pelan pipi Bram, berharap bisa membangunkannya, namun hal itu justru membuat efek obat yang ada didalam tubuh Bram merespon dengan kuat sentuhan dari kulit Ariel.


"Katakan dimana apartemenmu? Aku tidak mungkin membawamu ke apartemenku dalam keadaan seperti ini," keluh Ariel.


"Bukankah kamu pernah datang keapartemenku, Ariel? Apakah kamu melupakannya?" rancau Bram tanpa sadar.


Kesadaran Bram perlahan diambil alih, efek obat membuat tubuhnya berubah menjadi haus akan sentuhan.


"Kapan aku ketempatmu? Kau mengigau?" ucap Ariel heran.


"Katakan saja dimana, merepotkan saja," sungut Ariel kesal.


"Kau membuatku keluar selarut ini dan berbelit-belit ketika di tanya. Apa kau ingin aku menurunkanmu di pinggir jalan?" gerutu Ariel. " Jika bukan karena kau sahabatku, aku benar-benar akan meninggalkannmu disini," imbuhnya.


"Kamu terlihat manis ketika marah, Ariel," sambut Bram tersenyum.


Ariel menoleh dan melihat mata Bram masih terpejam. Menghembuskan nafas panjang, Ariel kembali bertanya tentang alamat apartemen Bram dengan lebih pelan dan akhirnya dijawab dengan mulus.


"Kenapa tidak katakan saja sejak awal, dasar merepotkan," gerutu Ariel.


Ariel mulai menjalankan mobilnya menuju alamat yang disebutkan Bram padanya. Butuh waktu sekitar dari dua puluh menit bagi Ariel untuk menemukan apartemen yang dimaksud. Rahangnya terbuka begitu ia melihat apartemen yang ditempati Bram.


"Kau sungguh tinggal disini?" tanya Ariel yang tentu saja tidak mendapatkan jawaban.


Sebuah apartemen mewah yang terdiri lebih dari dua puluh lantai berdiri megah didepannya.


"Duniamu sungguh bertolak belakang denganku," gumam Ariel.


Ariel keluar dari mobil dan membantu Bram keluar, menjaga kepalanya agar tidak terbentur saat keluar.


"Pelan-pelan saja," ucap Ariel lembut.


Ariel mulai memapah Bram menuju apartemennya. Kembali bertanya dan anehnya dijawab dengan sangat lancar meskipun mata Bram terpejam.


"Aduhh,, Bramm,,, berjalanlah dengan benar, kau itu sangat berat," keluh Ariel dengan susah payah memapah Bram menuju lantai apartemennya.


Beberapa kali Ariel hampir terjatuh karena menahan tubuh tinggi Bram. Ariel bahkan beristirahat sejenak untuk mengambil nafas sebelum melanjutkan langkahnya dengan lengan Bram yang berada di bahunya.


Tepat ketika mereka tiba didepan pintu apartemen Bram, Ariel kembali bertanya kode pintu masuk aprtemen Bram.


"Berapa kodenya?" tanya Ariel.


"Tanggal ulang tahunmu," jawab Bram.


"Apa?" tanya Ariel kaget.


"Aku sungguh-sungguh, apakah kamu tidak percaya padaku? Hemm?" tanya Bram.


"Kalau begitu, aku buktikan. Lihat ini," ucap Bram seraya menekan tombol.


"1x xx xxxx,"


'CEKLEK,,,!!' pintu terbuka setelah Bram selesai menekan kodenya


"Lihat,! aku benar kan?" ucap Bram terenyum.


Ariel tercengang selama beberapa saat, namun segera melangkah masuk kedalam bersama Bram, dan pintupun terkunci otomatis.


....


....


.


.


To be Continued


Penjelasan singkat.


-Striptis\=> adalah tarian yang penarinya berangsur-angsur menanggalkan pakaiannya.