I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
128. Menghilangkan Trauma



Satu kalimat itu cukup untuk membuat Ariel bergidik. Gerakan tangannya yang tengah menyuap makanan terhenti di tengah jalan, dan menurunkan kembali tangannya, digantikan dengan wajah muram.


"Kenapa kesana?" tanya Ariel ragu.


"Ingat apa yang pernah aku katakan tentang Flyboarding?" jawab Joel balas bertanya.


Ariel tidak merespon pertanyaan Joel. Sebaliknya, ia justru berharap itu hanyalah lelucon yang dikatakan Joel hanya untuk mengoda dirinya.


"Aku sudah mendaftarkanmu untuk bergabung dalam kegiatan Flyboarding bersamaku," ungkap Joel. "Dan penerbangan pesawat kita adalah nanti malam," imbuhnya.


Sekali lagi. Kalimat yang sangat tidak ia harapkan untuk ia dengar, seolah memberi Ariel sebuah penegasan bahwa Joel tidak sedang bercanda. Ariel terus menatap Joel dengan tatapan yang ia sendiri tidak bisa mengartikannya.


"Aku tidak mau," jawab Ariel dengan suara kaku.


Joel bangun dari duduknya, segera menangkap apa yang di rasakan Ariel saat ini. Tangannya terulur mengusap lembut puncak kepalanya.


"Sweety,,, dengarkan aku," ucap Joel lembut.


Tangannya mengeser kursi tempat Ariel duduk, dan berlutut didepannya. Tangannya beralih mengusap lembut pipi Ariel.


"Aku sedikitpun tidak pernah berpikir untuk membuatmu merasakan perasaan takut itu lagi, tapi, satu-satunya cara agar perasaan takut itu pergi darimu hanyalah dengan cara kamu melakukan apa yang selalu kamu hindari,"


"Aku janji akan membuatmu tetap aman, dan tidak akan pernah membiarkan apapun terjadi padamu," tutur Joel.


Ariel tetap bergeming, menghindari sebanyak mungkin kontak mata dengan suaminya. Bayangan ketika seseorang menekan kepalanya di dalam air kolam berputar ulang didepan matanya, bahkan ketika dirinya jatuh ke laut kembali mengisi ingatannya.


Perasaan ketika air laut memenuhi paru-parunya, usaha sia-sia yang ia lakukan agar tetap berada di permukaan air justru membuat ia semakin terseret lebih dalam, hingga semuanya berubah menjadi gelap gulita.


"Hey,,, Sweety,,," panggil Joel dengan suara lembut.


"Berhenti memikirkan hal buruk. Itu tidak akan terjadi lagi. Tidak selama aku berada disisimu, dan aku tidak akan pernah membiarkan orang lain kembali melakukannya, okey?" ucap Joel.


"Tapi aku_,,,"


"Tak masalah jika kamu tidak mau bermain Flyboarding. Kalau begitu, kita hanya perlu menikmati liburan disana, itu saja," potong Joel.


Tangannya beralih mengenggam tangan Ariel.


"Aku hanya ingin menunjukan padamu, hal yang kamu takuti bukanlah hal yang sebenarnya kamu takuti. Kamu hanya takut pada orang yang melakukan hal itu padamu,"


"Dan dalam hal melawan seseorang, aku tidak meragukanmu bawa kamu bisa menghadapinya,"


"Aku ingin menunjukan, meski kamu tidak bisa berenang sekalipun, bukan berarti kamu tidak bisa bersenang-senang dengan hal yang berhubungan dengan air,"


"Jika kamu masih tetap tidak ingin melakukanya, tidak apa-apa, maka kita hanya perlu melakukan hal lain di sana,"


Semua perkataan lembut Joel pada Ariel, perlahan menghapus sedikit perasaan takut di dalam hatinya. Membuatnya yakin sepenuhnya bisa mempercayai semua yang Joel katakan, bahwa tak akan ada hal buruk yang akan terjadi.


Akhirnya, Ariel mengangguk pelan, menghadirkan senyum lebar di bibir Joel. Dia pun berdiri dan mengecup kening Ariel.


"Aku janji ini akan sepadan, dan kamu tidak akan kecewa," ucap Joel.


"Sekarang, selesaikan makan siangmu! Kita bisa jalan-jalan setelahnya jika kamu ingin," sambungnya.


Mereka kembali melanjutkan makan siang mereka. Memutuskan untuk duduk santai di sofa panjang setelah selesai dengan makan siang mereka.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


Disisi lain diwaktu yang sama, seseorang yang pagi itu di bicarakan Jesica bersama Evrad tengah menatap layar komputernya dengan wajah serius. Pria yang di kenal banyak orang dengan nama Adonis dan di kenal Ariel sebagai Darcie.


"Maaf, tuan saya menyela anda sebentar. Saya sudah mendapatkannya," ucap pria yang selalu bersamanya sekaligus sebagai tangan kanannya.


Pria itu berdiri dibelakang Darcie sembari menyodorkan tablet di tangannya.


"Seperti dugaan anda, orang bernama Evrad yang sebelumnya menyebarkan informasi pribadi nona Ariel, masih terus mengincar nona," ujarnya dengan sikap hormat.


"Hemmm,,, awasi terus orang itu! Jika dia kembali berulah, kau tau apa yang harus dilakukan, bukan?" sambutnya dengan suara dingin.


"Saya mengerti," jawabnya dengan patuh.


"Tapi, bolehkah saya mengajukan satu pertanyaan, tuan?" imbuhnya.


"Tentang kenapa aku melakukannya disaat dia telah menikah?" tebaknya.


"Uhm,,,benar. Ini seperti bukan anda disaat anda bisa di katakan belum begitu mengenal nona, namun anda melakukan hal sampai sejauh ini," ujarnya.


"Entahlah," jawab Darcie menaikan bahunya.


Jarinya masih terus mengulir tablet di tangannya, matanya dengan jeli membaca apa yang tertulis disana ketika tiba-tiba ia menghentikan jarinya dengan pandangan menerawang.


"Pernahkah kau merasakan rasa ingin melindungi seseorang yang begitu besar, Frank?" tanya Darcie.


"Sejauh yng saya rasakan, saya hanya merasakan hal itu terhadap adik saya," jawab Frank.


"Apakah alasan anda berhubungan dengan itu?" tebak Frank.


"Ya dan tidak," jawab Darcie.


Ia meletakan tablet di meja, lalu bangun dari duduknya, memasukan tangan kedalam saku celananya sembari berjalan ke arah jendela.


"Pertama kali aku bertemu dengannya, pertama kalinya juga aku menyentuh tangannya, aku merasa sangat ingin melindunginya dari siapapun yang menganggunya atau siapapun yang menghilangkan senyum itu dari bibirnya,"


"Aku sendiri tidak tau dari mana asalnya perasaan seperti ini. Tapi hatiku terus mendesakku agar aku melakukan apapun yang bisa membuatnya bahagia,"


"Dia mengenalku atau tidak, dia tau aku yang melakukannya atau tidak, bukan hal penting bagiku. Yang aku anggap penting sekarang hanyalah siapapun tidak akan aku ijinkan untuk menyentuhnya," tegas Darcie.


Frank terhenyak. Untuk pertama kalinya ia melihat tuannya dengan sikap seperti sekarang. Tuan yang ia kenal dan selalu ia layani adalah orang yang memiliki ambisi besar. Menghancurkan siapapun yang menjadi penghalang bisnisnya.


Sosok yang bahkan tidak akan berpikir dua kali ketika sudah mengatakan keinginannya. Tuannya bahkan tak pernah terlihat tertarik dengan wanita manapun yang berusaha mencari simpati darinya. Secantik apapun dia atau semenarik apapun wanita itu, tidak pernah ada wanita yang bisa mengerakkan hatinya.


Banyak orang menyebutnya sebagai pria berdarah dingin, yang bahkan sanggup menghabisi keluarganya sendiri. Meski kebenarannya adalah merekalah yang memulainya, namun pandangan orang tidak merubah apapun yang telah cacat.


Hal itu justru menguntungkan baginya dimana orang-orang akan berpikir dua kali jika ingin berhadapan dengannya.


"Katakan padaku satu hal, Frank!" ucap Darcie membuat Frank sedikit tersentak.


"Saya, tuan?" sambut Frank mengangguk.


"Saya belum berani untuk menafsirkan artinya," jawab Frank hati-hati.


"Namun, anda memiliki rasa peduli yang dalam terhadap nona Ariel, itu sudah jelas. Saya juga tidak bisa mengatakan itu cinta atau hanya kasih sayang biasa, karena sejauh yang sajuh yang saya ingat, anda akan bersikap sama ketika itu menyangkut almarhum adik anda,"


Darcie termenung memikirkan perkataan asistennya. Asisten yang telah bersamanya selama bertahun-tahun. Orang yang telah mengenalnya ketika mereka masih sama-sama bersekolah di tempat yang sama, meski demikian, dia selalu bersikap hormat pada Darcie. Ia kembali duduk di kursinya, menelusuri lagi apa yang telah di dapatkan Frank untuknya.


"Ariel Esther,,, dia bahkan memiliki kehidupan gelap di masa kecilnya tanpa mendapatkan perlindungan dari siapapun dan bertahan hidup sendirian dengan bekerja di kedai burger,"


"Dan orang yang pernah mempekerjakan dirinya juga sudah tidak ada yang tau dimana orang itu,"


"Benar, tuan," sambut Frank.


"Yang baru saya dapatkan hanyalah, rumah yang dulu di tempati nona ketika masih kecil, sekarang adalah sebuah nightclub yang di dirikan oleh tuan Evrad. Sekaligus dialah pelaku kekerasan yang di lakukan terhadap nona Ariel hanya karena ingin mengambil alih tanah yang nona tempati," papar Frank.


"Evrad,,, dia sungguh bertolak belakang dengan anaknya yang bernama Bram. Anak itu lebih memiliki sisi kemanusiaan dibandingkan ayahnya,"


"Dan siapa Jesica yang tertulis disini? Pemilik perusahaan NN Grup. Itu perusahaan yang cukup besar, bahkan lebih besar dari Evrad," tanya Darcie.


"Nona Jesica merupakan sahabat dari nana Ariel. Dan dialah yang hampir saja masuk kedalam server kita untuk menyelidiki tuan yang sudah membantu nona Ariel," papar Frank.


"Sahabat ya? Mari kita lihat, sejauh mana dia akan mencari tau. Jika dia terus merpihak pada Ariel, maka aku juga akan membantunya ketika dia kesulitan," ucap Darcie.


"Lalu, bagaimana dengan orang tua Ariel?" tanya Darcie.


"Saya sudah mencarinya, tuan. Namun saya tidak bisa mendapatkannya. Saya hanya mendapatkan satu informasi saja," terang Frank.


"Apa itu?" tanya Darcie.


"Nona di tinggalkan begitu saja di oleh kedua orang tuanya ketika berumur lima tahun dalam keadaan sakit," ungkap Frank.


"Cari tau!" titah Darcie.


"Ijinkan saya menyampaikan pendapat saya, tuan," harap Frank.


"Katakan!" sambut Darcie.


"Jika kita mencari tau lebih dalam tentang ini, saya hanya khawatir suatu saat nona akan mengetahuinya, dan melihat dari apa yang sudah kita ketahui, saya berasumsi nona Ariel lebih memilih untuk melupakan orang tuanya, atau itu hanya akan menghadirkan lagi trauma untuk nona Ariel," jelas Frank.


"Penjelasan yang sangat masuk akal," jawab Darcie.


"Selidiki saja dengan hati-hati, jika memang tetap tidak menemukan apapun, maka berhenti," ujar Darcie.


"Baik, tuan," jawab Frank.


"Ah,, saya lupa mengatakan satu hal, tuan," ucap Frank tiba-tiba.


"Nona Ariel dan suaminya memiliki rencana ke Karibia malam ini. Nama mereka sudah terdaftar dalam penerbangan malam ini dan bergabung dalam kegiatan Flyboarding," papar Frank.


"Bukankah dia tidak bisa berenang?" sambut Darcie tidak rela.


"Menurut penangkapan saya, suami nona Ariel mungkin ingin menghilangkan trauma yang nona Ariel rasakan setelah bertahun tahun nona pendam," jawab Frank.


Darcie diam sejenak dan berpikir, lalu mengarahkan pandangannya pada asistennya.


"Bukankah ada satu orang yang ingin menjalin kerja sama dengan kita dan belum ku balas?" tanya Darcie.


"Benar, tuan. Apakah anda_,,,"


"Ya, aturkan perjalanan untuk malam ini," potong Darcie.


"Dan kau juga ikut bersamaku," imbuhnya.


"Baik, tuan," sambut Frank.


"Satu lagi,"


Frank menunggu dengan sabar.


"Atur penerbangan yang sama dengan mereka,"


"EEHHHH,,,,????"


Frank terkejut, matanya melebar sempurna. Ia terus memandangi tuannya untuk memastikan apakah yang baru saja meminta untuk penerbangan biasa dan bukan kelas A adalah tuannya atau bukan.


"Jangan buat aku mengulanginya, Frank," tegas Darcie.


"B-baik,," sambut Frank.


Frank bergegas meninggalkan ruangan tuannya dengan wajah bingung. Sementara wajah Darcie justru berubah melembut.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


#Di Bandara malam hari.


Ariel duduk kursi pesawat dekat jendela bersama Joel di sampingnya. Ia mengarahkan pandangannya keluar jendela seolah memikirkan sesuatu. Sampai tangannya merasakan tangan lain meremas tangannya dengan lembut.


"Ingin berubah pikiran?" tanya Joel.


Ariel mengelengkan kepalanya, menyandarkan kepalanya di bahu Joel sebelum membuka suara.


"Tidak, aku tidak mau merusak hal yang sudah kamu atur meski kamu tidak keberatan dengan itu," ucap Ariel, lalu mendongak menatap wajah Joel.


"Aku ingin menikmatinya bersamamu," sambungnya


Sebelum Joel sempat menjawab, mereka mendengar suara yang terasa familiar bagi mereka. Mereka berdua segera mengeluarkan suara yang sama kala orang itu duduk di satu baris yang sama dengan kursi mereka.


"DARCIE,,,!"


.....


....


.


To be Continued.