
Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
"Bram,,,!!!" desis Ariel kaget.
"Bagaimana kau bisa tau aku ada disini? Seberapa jauh sebenarnya kamu menyelidikiku?" tanya Ariel tidak suka.
"Tidakkah kau tau, menguntit termasuk tindakan ilegal,?" sambungnya.
"Aku hanya tau tentang dimana kamu berkerja, Ariel. Aku tau dengan batasanku sendiri, Ariel," sambut Bram tersenyum.
"Lalu apa yang kau lakukan disini?" tanya Ariel lagi.
"Aku hanya ingin mengajakmu makan siang," jawab Bram. "Apakah itu salah?" sambungnya
"Aku menolak, terima kasih tawarannya," sambut Ariel.
"Itu tidak adil. Bukankan kemarin kamu sudah sepakat bersedia berkencan denganku?" protes Bram. "Aku sudah tidak menjadi penganggu saat kamu pergi bersamanya," sambungnya.
"Memang benar, tapi aku tidak harus menerima tawaran itu dalam waktu dekat," kilah Ariel.
"Kalau begitu, kapan kamu bersedia pergi denganku?" tanya Bram.
"Besok? Lusa?" tanya Bram lagi.
Ariel meletakkan telapak tangan diwajahnya dan mendesah pelan.
"Jika aku menemanimu makan siang kali ini, apakah kau akan berhenti mengangguku setelahnya?" tanya Ariel.
"Tidak,!" jawab Bram tegas.
"Apa maumu sebenarnya, Bram???" geram Ariel. "Tidakkan kau merasa sikapmu sudah melebihi batas?" imbuhnya.
"Aku ingin mendapatkanmu kembali," jawab Bram tenang.
"Jika kau masih saja mengatakan omong kosong ini, aku benar-benar akan memastika kau tidak lagi bisa menemuiku, Bram," ancam Ariel.
"Aku benar-benar masih mencintaimu, Ariel. Kumohon beri aku satu kesempatan lagi," pinta Bram.
"Kau sudah mencampakkanku, kau juga sudah menyia-nyiakan kesempatan yang pernah kuberikan. Dan sekarang, waktumu telah habis, Bram," jelas Ariel.
"Aku tetap bersedia berteman denganmu, namun dengan syarat kamu tidak lagi membahas hubungan yang sudah kau hancurkan," tegas Ariel.
"Tidak,,, kumohon beri aku waktu. Satu bulan saja, Ariel. Satu bulan untuk membuktikan perasaanku. Dan jika sampai waktuku habis, dan kamu tetap tidak mencintaiku lagi, maka aku akan berhenti," pinta Bram.
"Aku tidak mau," jawab Ariel.
"Maka aku akan terus menganggumu hingga kamu mengatakan ya atau hingga kamu benar-benar mencintai orang lain yang juga mencintaimu," ancam Bram.
"Kau_,,," desis Ariel kesal.
"Kamu hanya perlu memilih," sambut Bram.
"Apa yang mendorongmu hingga melakukan hal sejauh ini? Apa kau melakukan taruhan lagi?" tebak Ariel.
"Aku bersumpah ini bukan soal taruhan, tapi aku benar-benar menyesali perbuatanku terhadapmu," terang Bram.
"Lalu, bagaimana dengan dia?" sambut Ariel.
"Hubunganku dengannya telah berakhir, Ariel. Dia tidak lagi berada dalam kehidupanku," jawabnya.
"Dan kau ingin menjadikanku sebagai batu loncatan saat kamu patah hati?" balas Ariel sinis.
"Tidak,,,! Bukan begitu," sanggah Bram.
"Saat aku bersamanya, aku justru selalu mengingatmu. Aku tidak bisa melupakanmu. Dan saat dia mengkhianatiku, hatiku tidak sesakit saat aku menyadari semua kesalahanku, dan sikapku yang telah menggoreskan luka di hatimu," ungkap Brap.
"Kata-kata yang kau ucapkan justru terdengar seperti semua terjadi karenaku," cibir Ariel.
"Aku tidak bemaksud begitu, Ariel," sangkal Bram.
"Hal itu justru membuatku sadar bahwa aku sebenarnya masih mencintaimu. Bahkan perasaanku menjadi lebih besar dari perasaanku padamu dulu," terang Bram.
"Cukup,,!!" tukas Ariel. "Sekarang aku benar-benar muak mendengarmu mengatakan hal itu. Pergi dari sini sekarang,!" usir Ariel.
Ariel berdiri dengan tangan menunjuk pintu. Matanya menyala penuh amarah menatap Bram yang masih saja berdiri dengan tenang.
Bram justru melangkah maju menghampiri Ariel dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Apa yang sedang ingin kau lakukan,?" tanya Ariel dengan tatapan tajam.
"Aku bahkan merindukan saat kamu marah padaku seperti ini," Bram berkata sambil terus mendekati Ariel.
Ariel mundur dan tersudut kedinding. Bram meletakkan kedua tangannya disisi tubuh Ariel, mengurung diantara kedua tangannya. Matanya menatap lekat mata Ariel, dan terus mendekat.
Memikirkan satu-satunya cara untuk terlepas dari Bram, dengan kuat, Ariel mengigit lidah Bram.
Hal itu sontak membuat Bram menarik wajahnya. Tidak sampai di sana, Ariel mengayunkan tangannya dengan amarah memenuhi hatinya.
PLAKK,,,!!!
Suara tamparan keras memenuhi ruangan, membuat Bram memegangi pipinya dan tersenyum getir.
"Aku tidak keberatan jika kamu melakukannya lagi untuk meluapkan semua emosi yang ada di dalam dirimu," sambut Bram tersenyum sedih.
"Kau gila, Bram!" hardik Ariel.
"Pergi dari tempat ini, SEKARANG,,!!!" sentak Ariel.
"Jangan kau pikir rasa sakit yang kau berikan, akan sembuh begitu saja dengan kau bersikap manis padaku selama satu bulan. Hal itu tidak akan pernah terjadi," tegas Ariel.
"PERGI,,,!!!" usir Ariel.
Dengan berat hati, Bram akhirnya pergi dari tempat dimana Ariel berada. Namun, dalam hatinya tetap tidak ingin menyerah begitu saja, dan bertekad akan terus datang menemui Ariel walaupun dia akan diusir.
Ariel duduk dan menghembuskan nafas dengan kasar, mencoba menenagkan dirinya. Meletakkan telapak tangan menutupi wajahnya dan mendesah pelan.
"Kenapa kau harus datang lagi dengan tingkah seperti ini, Bram?" keluh Ariel.
"Kenapa kau harus menunjukan lagi sikap itu padaku?" sambungnya, lalu mengusap wajah dengan telapak tangannya.
TOK,,,
TOK,,,
TOK,,,
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Ariel. Dengan cepat Ariel mengatur nafasnya dan menenagkan hatinya.
Pintu terbuka menunjukan tiga laki-laki dangan wajah bersalah dibelakangnya. Ariel mengerutkan keningnya dan meminta mereka masuk.
"Ada apa? Latihan kalian dimulai setelah makan siang," terang Ariel.
"Kami ingin minta maaf pada kak Ariel. Kami bersalah. Dan kami menjadi lebih bersalah saat kakak bertanya dan kami justru berbohong," ucap salah satu dari mereka dengan kepala tertunduk.
"Jadi kalian mangakui kesalahan atau sekedar mengaku salah karena tidak ada pilihan?" tanya Ariel datar.
"Kami mengakui kesalahan kami, dan kami bersedia menanggung resikonya, serta bertanggung jawab atas kesalahan yang kami lakukan," timpal yang lain.
Ariel menatap wajah mereka bergantian lalu tersenyum.
"Aku menerima permintaan maaf kalian," sambut Ariel.
"Sungguh? Kakak memaafkan kami?" tanya mereka bersamaan.
"Ya, tentu saja aku memaafkan kalian, lagi pula kalian muridku. Anak didikku. Jika terjadi sesuatu pada kalian, akulah yang bertanggung jawab," terang Ariel.
"Lalu Cello-nya,,,?" perkataan mereka mengantung.
"Aku yang akan mengurusnya, untuk sementara, kita gunakan Cello yang ada di gudang. Walaupun itu sedikit usang, aku bisa menyetel nadanya agar sesuai dangan musik yang akan kita bawakan untuk latihan," jelas Ariel.
"Aku akan membawa Cello ini ke tempat reparasi. Dan jika itu sampai memakan waktu lama, kita gunakan Cello yang ada di apartemenku," sambungnya.
"Kakak memiliki Cello di apartemen?" seru mereka serentak.
"Ya, apakah itu aneh?" sambut Ariel tersenyum heran.
"Woww,,"
"Waahhh,,"
"Kerenn,,"
Mereka memberikan reaksi sama namun mengucapkan kalimat yang berbeda secara bersamaan.
Ariel tersenyum sembari mengelengkan kepalanya.
"Sekarang, keluarlah. Aklu sendang ingin sendiri," pinta Ariel.
"Kembalilah kesini setelah jam makan siang," lanjutnya.
"Baik, kami mengerti," jawab salah satu dari mereka.
Mereka membungkkukan badan lalu berbalik pergi meninggalkan Ariel dengan nafas lega.
Ariel duduk bersandar dan memejamkan matanya setelah mereka menutu pintu. Mengantrol emosinya agar tidak meledak di depan orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan hal yang membuatnya kesal.
...>>>>>>>--<<<<<<<...