I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
64. Kebersamaan yang kembali



Perlahan Joel membungkuk dan mendekatkan wajahnya, mengunci tatapan matanya pada Ariel agar tidak berpaling. Jarak wajah mereka kian menipis, hingga Joel bisa melihat bulu mata Ariel bergerak karena hembusan nafasnya. Hingga, Ariel menutup kedua matanya.


"DUG,,,!!!"


"Heii,, apa yang sedang kalian berdua lakukan? Aku tau kalian didalam," seru Charlie sembari memukul pintu.


Gerakan Joel terhenti saat mendengar teriakan Charlie, membuat Ariel membuka kembali matanya, lalu tersenyum geli.


"DUG,,,!"


Lagi, Charlie memukul pintu dengan suara lebih keras.


"Cih,,, dia benar-benar menganggu," gerutu Joel.


Ariel terkekeh pelan, lalu berjinjit dan mengecup lembut pipi Joel.


"Cepatlah selesaikan mengenakenakan pakaianmu, aku akan menungggu di luar. Jangan sampai Charlie merusak pintu," bisik Ariel.


"Sebentar," cegah Joel menahan tangan Ariel saat dia berbalik.


"Apa?" tanya Ariel mengerutkan keningnya.


Joel berjalan menuju meja disamping tempat tidurnya, menarik laci meja dan mengeluarkan kotak kecil hitam dengan pita silver diatasnya. Ia memberikan kotak itu pada Ariel saat kembali berada didepan Ariel.


"Untukmu," ucap Joel.


"Untukku?" ulang Ariel, tangannya menyambut kotak itu, masih menatap Joel bingung.


"Aku membelinya beberapa hari lalu, tapi aku lupa membawanya saat aku berkunjung ke apartemenmu, dan baru sekarang mengingatnya," terang Joel.


"Jadi, aku bisa membukanya sekarang?" tanya Ariel.


"Tentu saja," jawab Joel.


Ariel membuka kotak itu dan terpana dengan apa yang ada didalamnya. Sebuah kalung perak dengan mata kalung berbentuk semanggi bardaun empat.


Ariel menjalankan jarinya diatas kalung itu, lalu tersenyum.


"Indah," komentar Ariel. "Terima kasih banyak Joel," ucap Ariel tersenyum senang.


Ariel mengeluarkan kalung itu dan berniat langsung memakainya, namun Joel lebih dulu mengambil alih dan membantu Ariel memasangkannya dileher Ariel.


"Bagaimana?" tanya Ariel meminta pendapat saat kalung telah terpasang dilehernya.


"Cantik," jawab Joel tersenyum puas.


"Aku atau kalungnya?" goda Ariel.


"Keduanya," jawab Joel kembali menarik Ariel dalam peluknnya.


"Tapi, dalam rangka apa kamu memberiku hadiah?" tanya Ariel.


"Hemm,,," Joel bergumam dan berpikir. "Awalnya hanya ingin memberikannya karena kamu pernah memberiku hadiah dan aku belum membalasnya. Tapi, sekarang itu terlalu sederhana jika aku ingin memberimu sesuatu karena kamu kekasihku," papar Joel.


"Jadi kamu membeli ini sebelum kita menjalin hubungan?" sambut Ariel.


"Benar, dan aku lupa untuk memberikannya lebih cepat," jawab Joel.


"Lalu, kenapa memberikan ini sekarang?" tanya Ariel.


"Karena itu akan terlihat lebih indah jika kau yang memakainya, dan ternyata itu benar," jawab Joel tersenyum.


"Aku rasa, makna dari semanggi berdaun empat itu nyata, karena aku mendapatkan keberuntungan dengan mendapatkanmu," imbuhnya.


"Hooo,,, sejak kapan kamu bisa bersikap semanis ini?" cibir Ariel.


"Entahlah," jawab Joel menaikan bahunya. "Satu hal yang aku tau hanyalah, aku akan melakukan apapun untukmu," lanjutnya.


Joel kembali mendekatkan wajahnya, menarik Ariel lebih dekat kearahnya, sementara tangan Ariel melingkar di leher Joel. Saat wajah mereka semakin dekat,


"DUG,,,!!!"


Sekali lagi, suara keras pintu menyela mereka, membuat Joel mengeram kesal.


"Apa yang sedang kalian lakukan? Hei,,, keluar!!" teriak Charlie dari balik pintu.


"Sepertinya kita memang kehabisan waktu sekarang. Aku akan keluar, dan kamu juga cepatlah menyusul," pinta Ariel.


Joel hanya mengangguk, meski terlihat jelas diwajahnya ia meredam kekesalan yang secara tidak langsung dibuat oleh Charlie.


Ariel berbalik dan memutar kunci, lalu melangkah keluar, mendapati Charlie masih berdiri didepan pintu.


"Apa yang sedang kau lakukan didalam?" selidik Charlie.


"Hanya membantunya sebentar," kilah Ariel.


"Benarkah?" sambut Charlie menyipitkan matanya.


"Apa yang kamu pikirkan?" balas Ariel melipat tangannya.


"Hanya berpikir logis," jawab Charlie menaikkan bahunya.


"Menurutmu, apa yang akan orang pikirkan ketika pria dan wanita berada didalam satu kamar yang sama?" sindir Charlie.


"Woww,,, pantas saja kau manjadi polisi, kamu sangat cocok untuk melakukan introgasi kepada tersangka," jawab Ariel tenang.


"Hahhh,,, baiklah," desah Charlie. "Jika kamu bisa menjawab dengan setenang ini, itu artinya memang tidak terjadi apapun," sambungnya.


"Kalimatmu barusan lebih terdengar bahwa kamu berharap terjadi sesuatu," sambut Ariel.


"Begitukah? Atau kamu memang akan melakukan sesuatu?" balas Charlie.


Ariel menaikkan bahunya, bersikap acuh meski detak jantungnya belum sepenuhnya bisa ia kendalikan. Mengingat kembali saat wajah Joel berada sangat dekat dengannya membuat wajah Ariel bersemu merah.


Ariel melangkah keluar diikuti Charlie dibelakangnya. Saat itulah Ariel melihat Bram datang dengan beberapa bawaan ditangannya.


"Kamu datang? Apakah Charlie memaksamu?" sambut Ariel.


"Hei,,, apa maksudnya itu?" sembur Charlie.


"Karena kamu tadi terkesan mendesaknya untuk datang," jawab Ariel.


"Tidak, aku memang ingin datang sekaligus mengucapkan selamat padanya," jawab Bram menyela.


"Tapi, aku memiliki satu pertanyaan," tambahnya.


"Apa?" tanya Ariel.


"Oh,, kau berpikir aku tidak akan menyukai kehadiranmu? Apakah begitu?" potong Joel.


Joel muncul dari dalam rumahnya memotong kalimat yang akan Bram lontarkan. Berjalan menghampiri mereka dan berdiri disamping Ariel.


"Normalnya, itu sikap yang akan kau tunjukan padaku," jawab Bram asal.


"Entah kenapa sekarang aku menyesal telah menyarankan pada Ariel untuk mengundangmu," balas Joel.


"Woww,, itu kejutan. Kau? Mengundangku?" ulang Bram menyipitkan matanya tak percaya.


"Joel memang memintaku untuk mengundangmu, Bram," sela Ariel.


"Aku terkesan," sambut Bram tersenyum skeptis.


"Haruskah aku memberimu hadiah untuk itu?" lanjutnya.


"Oh,,, satu mobil saja untukku. Terima kasih sudah menawarkan," sambut Joel.


"Kau benar-benar tau cara memanfaatkan seseorang," cibir Bram.


"Aku hanya menjawab saat kau menawarkannya, apa yang salah dengan itu?" balas Joel.


"Hei,, cukup," sela Ariel tertawa.


"Kenapa kalian suka sekali bertengkar karena hal konyol?" imbuhnya.


"Baiklah, aku akan diam," jawab Bram.


"Ah,,, ini,, untukmu,, selamat atas prestasimu," ucap Bram menyodorkan sebuah paper bag pada Charlie.


"Aku tidak tau apa yang kamu sukai, jadi aku hanya bisa memilih hal netral saja yang berkaitan dengan pekerjaanmu," ucap Bram.


"Terima kasih, Bram. Aku sangat menghargainya," sambut Charlie menerima pemberian Bram.


Mereka akhirnya memulai acara mereka. Mereka duduk di kursi kayu dengan meja panjang didepan mereka dan ditemani dengan nyala api unggun yang tidak jauh dari mereka.


Beberapa pasangan lain yang kebetulan lewat turut bergabung menikmati pesta kecil yang mereka buat. Pasangan itu bahkan tak henti-hentinya memuji kudapan yang Joel buat, membuat Joel tersipu.


Selama kegiatan itu, Ariel menyadari bahwa Joel dengan sengaja tidak memperlihatkan hubungan mereka berdua didepan Bram ataupun Charlie, seolah Joel ingin menjaga perasaan seseorang.


"Ahh,,, sudah lama sekali rasanya aku tidak merasa sebebas ini," desah Bram.


Kini, mereka tengah duduk diatas pasir beralas tikar, menghadap lautan didepan mereka. Sisa makanan yang berada di atas meja mereka abaikan untuk sementara waktu.


"Sepertinya kau memiliki beban yang berat," celetuk Joel yang duduk didekat Bram dengan Ariel sebagai pemisah mereka, sedangkan Charlie berada disisi lain Bram.


"Pada dasarnya, setiap pekerjaan memiliki tekanannya masing-masing," sambut Bram.


"Baiklah, aku harus setuju dengan yang satu itu," jawab Joel tertawa.


"Hanya saja, setiap orang memiliki caranya sendiri menghadapi tekanan yang ada di depan mereka," timpal Ariel.


"Aku menyayangkan mereka yang justru melampiaskan kepada hal yang akan merugikan mereka ketika mereka mesara tertekan," sambung Charlie.


"Padahal, dengan menikmati waktu seperti ini saja, sudah cukup untuk membantu melepaskan sebagian beban yang ditanggung seseorang," lanjutnya


"DEG,,,!"


Bram tersentak, seolah apa yang baru saja di katakan Charlie adalah sindiran pedas yang di tujukan untuknya.


"Tinggu sebentar, aku lupa menghubungi seseorang," ucap Charlie seraya berdiri.


"Aku segera kembali," imbuhnya.


Charlie melangkah pergi dengan ponsel ditelinganya. Tak lama setelah itu, Joel berdiri.


"Aku akan memeriksa pai yang tadi aku panggang, sepertinya sekarang sudah matang," ucap Joel.


Setelah mengatakan hal itu, Joel pergi. ia terlihat masuk kedalam rumah dengan langkah terburu-buru.


Keheningan menyelimuti diantara Ariel dan Bram. Hingga salah satu dari mereka memutuskan untuk memecah keheningan.


"Apa alasanmu sering mabuk belakangan ini, Bram?" tanya Ariel.


Bram menoleh dengan cepat, menatap Ariel dengan tatapan tak percaya. Yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah Ariel tau belakangan ini Bram memang sering mabuk untuk melupakan apa yang berkecamuk didalam pikirannya.


"Alasanku bisa mengetahuinya adalah karena aku melihat matamu berbeda dari biasanya dan aku juga mencium bau alkohol darimu," ungkap Ariel.


"Tapi, aku tidak mengerti dengan alasannya," imbuhnya.


Bram terdiam sejenak untuk berpikir, mencari alasan yang masuk akal untuk diterima.


"Itu karena pekerjaanku beberapa hari terakhir terasa berat, ditambah dengan desakan kedua orang tuaku," kilah Bram.


Bram mengatakan hal itu dengan menatap laut, enggan menoleh menatap Ariel yang ia sadari tengah menatapnya. Ariel akan tau dengan cepat jika itu hanya alasan tanpa dasar yang ia buat.


"Apa lagi yang mereka desak darimu? Sejauh yang aku lihat, kamu telah memiliki banyak pencapaian," sambut Ariel tak mengerti


"Andai aku tau alasannya, aku akan mengatakannya, Ariel," jawab Bram terenyum kecut.


"Tapi, setelah berada dikota ini, aku bisa sedikit terlepas dari kekangan mereka, karena perusahaan kali ini, aku yang mengelola sepenuhnya tanpa campur tangan mereka," papar Bram.


"Mungkin alasanku terdengar klise, tapi aku justru tak memiliki keluhan atas sikap mereka," sambungnya.


Ariel terdiam sejenak, memandangi wajah Bram yang masih tidak menatapnya.


Ariel tau bagaimana hubungan Bram dengan kedua orang tuanya. Meski mereka merestui hubungan mereka saat itu, mereka tidak pernah berhenti menekan Bram untuk kepuasan mereka sendiri.


Tapi, Ariel juga tau keadaan itu telah berubah. Yang membuatnya tidak mengerti adalah kenapa Bram harus berbohong padanya?


"Bram,,?" panggil Ariel.


"Uhm..?" jawab Bram.


Bram melirik sekilas dan melihat kalung yang dipakai Ariel.


Ariel menghembuskan nafas panjang, dan melempar pandangannya kearah laut.


"Usahamu berbohong sangat buruk," sindir Ariel.


"Ukh,,, terkadang sangat menyebalkan saat kau mengenalku terlalu baik," sambut Bram tertawa canggung.


"Siapa yang berbohong?" sela seseorang dari belakang mereka


...>>>>>>>--<<<<<<<...