
"Haruskah saya memberitahu dia tentang ini, tuan?" tanyanya.
"Tidak! Dia tidak perlu tau tentang ini, Sam," jawab Bram.
"Tapi tuan, bagaimana jika tuan besar melakukan hal diluar dugaan?" sambut Sam cemas.
Bram terdiam, apa yang dikatakan Sam memiliki kemungkinan tertinggi untuk saat ini jika ia mengingat kembali bagaimana sosok ayahnya.
"Jika aku memintamu untuk mencari semua data tentang perusahaan Ayah, apakah kau akan melakukannya, Sam?" tanya Bram.
"Sejak awal saya melayani tuan muda, jadi saya akan tetap bersama anda. Anda bisa meminta saya melakukan apapun dan saya akan melakukannya," jawab Sam dengan ketegasan pada suara dan diwajahnya.
"Terima kasih," ucap Bram tersenyum.
"Cari semua data perusahaan yang Ayah kelola, termasuk ketika aku yang mengelola perusahaannya, aku akan mencari sendiri apa kelemahan Ayahku," ucap Bram.
"Dan, tolong pastikan Ayah tidak tau tentang perusahaan yang aku dirikan sendiri, aku mungkin bisa menggunakan apa yang aku miliki untuk melawannya," pinta Bram.
"Baik," jawab Sam patuh.
Sam mulai menjalankan mobilnya meninggalkan manison keluarga Bram. Sesekali Sam melirik Bram yang duduk di kursi penumpang disampingnya, lalu tersenyum tipis.
Didalam lubuk hatinya, ia sangat bersyukur bekerja melayani Bram dan bisa bertahan selama beberapa tahun.
Sosok Bram sangatlah berbeda dengan ayahnya. Bram tidak pernah menganggap dirinya sebagai bawahannya, namun menganggap dirinya sebagai sahabat.
Namun, hal yang masih belum bisa ia lakukan adalah, ketika Bram memintanya untuk memanggil langsung namanya tanpa tambahan tuan didepannya. Hingga kini, ia tetap tidak bisa jika memanggil atasannya dengan nama langsung karena ia sangat menghormati tuan mudanya.
"Apakah aku memiliki jadwal penting satu minggu kedepan, Sam?" tanya Bram memutus lamunan Sam.
"Tidak ada, tuan. Anda memang memiliki jadwal meeting lusa, namun anda bisa menyerahkan hal ini kepada saya jika anda tidak ingin kekantor," jawab Sam.
"Bisakah kau pesankan tiket ke Paris untuk besok? Aku ingin menenangkan pikiranku," pinta Bram tanpa menoleh.
"Apakah anda tidak ingin kembali ke apartemen anda, tuan? karena saya melihat anda terlihat lebih baik ketika berada disana," tutur Sam hati-hati.
"Tidak, kita tidak perlu kembali kesana. Aku merasa ayah akan mengawasiku sekarang, jika aku kembali, maka ayah akan tau dimana aku tinggal dan apa yang aku lakukan. Termasuk alasan kenapa aku berada disana," jelas Bram.
"Saya mengerti, saya akan mengatur perjalanan anda," jawab Sam.
"Berada di tempat yang berbeda dengannya (Ayah) ternyata terasa lebih menyenangkan dari yang ku kira," gumam Bram.
"Saya akan mengatakan hal yang sama kepada anda, tuan," sambut Sam tersenyum kecil.
Bram tesenyum dengan mata tertuju pada layar ponselnya.
'Dan hal menyenangkan yang melebihi apapun adalah aku bisa bertemu dengannya disana. Karena kota ini adalah kota dimana aku mengoreskan luka dihatinya,' batin Bram.
Ia memandangi foto Ariel dari ponselnya tanpa bisa menghilangkan senyum dari wajahnya.
'Setelah aku menemuinya dan pergi tanpa pamit saat itu, aku belum melihatnya lagi. Bagaimana keadaannya? Apakah dia sudah lebih baik dari terakhir kali aku melihatnya?'
'Aku pergi keluar kota beberapa hari , dan hebatnya justru wajahmu yang selalu kuingat,' batin Bram.
"Anda bisa beristiratah di hotel ini sementara saya akan mengatur jadwal penerbangan anda besok," ucap Sam.
Suara Sam menarik Bram kembali ke kenyataan, membuyarkan semua lamunannya.
"Kau tidak harus kembali, kamu tetap bersamaku ke Paris. Urusan kantor, aku bisa memantaunya dari sini," ujar Bram sebelum keluar dari mobil.
"Tapi, tuan_,,,"
"Kau selalu berkerja keras, Sam. Dan jarang menikmati liburan. Anggaplah besok adalah liburan dalam tugasmu," potong Bram cepat.
"Baik," sambut Sam tidak lagi bisa membantah.
Sam terus menatap punggung Bram saat dia memasuki hotel. Ada percikan kesedihan dimata Sam ketika melihat sosok Bram yang sekarang.
"Padahal, dulu tuan terlihat sangat bahagia ketika bersama nona Ariel, dan dia berubah berbeda saat bersama nona Jesica. Tapi, entah kenapa, aku merasa sekarang tuan sangat berbeda, seolah tuan telah kembali bertemu dengan nona Ariel, namun juga kehilangan diwaktu yang sama"
"Tapi itu tidak mungkin, nona Ariel tidak mungkin disana,"
Sam mengelengkan kepalanya, menghilangkan semua hal yang berkecamuk didalam pikirannya, lalu kembali menjalankan mobilnya.
>>>>>>>--<<<<<<<
##Jardin Du Palais Royal Garden.
Sebuah taman berlanskap di istana dengan air mancur besar, jalan setapak yang di kelilingi pohon rindang dan hamparan bunga.
Disalah satu sudut taman, beberapa orang pemain orkestra jalanan tengah memainkan alat musik mereka. Mereka yang terdiri dari sebelas orang tampak bermain dengan selaras, saling mengiringi menggunakan alat musik yang berbeda-beda.
Violin. Biola, Cello, Contrabass, Flute, Basson, Orgen, Gitar.
Meski tiap alat musik yang berbeda, namun mereka bisa memainkannya dengan seirama. Beberapa pejalan kaki yang datang ke taman menghentikan langkah mereka untuk menikmati permainan mereka.
Banyak dari mereka memasukkan beberapa lembar uang kedalam koper Cello yang telah disiapkan.
Mereka berhenti bermain untuk beristirahat ketika mereka merasa lelah, dan duduk berkumpul untuk meihat berapa banyak uang yang mereka hasilkan.
"Hari ini kita mendapatkan lebih banyak dari kemarin," ucap salah satu dari mereka.
"Kita bahkan akan tampil di Palais Garnier," timpal temannya dengan samangat.
"Hei, Albert! Kau mengatakan menemukan seseorang yang akan memainkan piano. Kapan dia datang?" tanya teman lain dari mereka.
"Seharusnya dia sudah tiba pagi ini," jawab Albert.
"Apa kau yakin dia bisa bermain?" cibir yang lain.
"Aku yakin. Dia bisa memainkan Orgen dengan sangat baik. Meskipun dia bilang baru belajar, tapi dia bisa bermain dengan baik," terang Albert.
"Apa kau sudah gila," sembur salah satu dari mereka, satu orang yang tampak sedikit arogan.
"Kau pikir pertunjukan kita memiliki waktu untuk dia berlatih atau belajar di saat pertunjukan kita akan dilakukan besok malam," sambungnya dengan suara kesal.
"Kau bahkan memberi dia dua tiket masuk," timpal yang lain, tampak sama arogannya.
"Hei, hentikan! Jangan bertengkar," sela Darrel.
"Tentu saja kau akan membelanya, dia saudaramu," cibirnya.
"Percaya saja padanya, aku yakin dia tidak akan mengecewakan kita," ucap Albert merasa tidak senang orang yang dia tunjuk di sudutkan bahkan sebelum mereka bertemu.
"Dia bahkan belum datang," sindir yang lain lagi.
"Bukankah tadi Albert mengatakan dia seharusnya tiba pagi ini," jawab Darrel.
"Kata seharunya itu merujuk kearah yang belum pasti, bukankan begitu?" cibirnya.
"Dia pasti datang," tegas Albert.
"Bagaimana kalau tidak?" balasnya.
"Siapa yang akan bertanggung jawab? Kau tau jelas betapa itu sangat berarti bagi kita semua, bukan?" imbuhnya.
"Aku percaya padanya, dan aku yang akan bertanggung jawab," tegas Albert.
Teman-teman Albert hanya memberikan tatapan mencemooh, merasa tindakan Albert terlalu nekat, hingga sebuah suara menyela mereka, membuat mereka menoleh.
"Terima kasih karena kau percaya padaku, Albert,"
Suara wanita, namun terdengar tegas terdengar dari belakang Albert. Serentak mereka menoleh dan menatap heran pada pasangan pria dan wanita yang menghampiri Albert dengan senyuman yang membuat mereka terpana.
"Ariel,,," sambut Albert berbinar senang.
"Senang bertemu denganmu lagi, Albert, Darrel," ucap Ariel tersenyum simpul.
"Senang betemu denganmu, Ariel," sambut Darrel.
"Kapan kamu tiba?" tanya Albert.
"Pagi ini, hanya saja kami berkeliling sebentar karena tergiur dengan tawaran sopir taksi yang kami naiki," jawab Ariel.
"Ahh,, tentu saja, siapapun tak akan menolaak ketika mendapatkan tawaran itu saat pertama kali datang kemari," sambut Albert ramah.
"Oh,, sebentar,," ucap Albert beralih menatap teman-temannya.
"Mereka adalah orang yang aku ceritakan padamu sebelumnya,"
"Akan aku perkenalkan kamu pada mereka," imbuhnya.
Albert mengerakkan telapak tangannya menunjuk teman dari ujung kanan yang memegang Cello, memperkenalkan teman-temannya satu per satu.
"Dennis memainkan Cello, Aldric pemain Contrabass, Edgar memainkan Gitar, Marc memainkan Biola, Marius memainkan Violin, Abel dan Brice memainkan Basson, Eudes memainkan Gitar, Jhon dan aku memainkan Orgen, dan Darrel memainkan Flute,"
Albert menyebutkan nama dan alat musik yang dimainkan mereka dengan perlahan, sembari memperhatikan wajah Ariel apakah ia menjelaskan dengan benar atau tidak.
"Kamu tidak perlu mengingat apa alat musik yang mereka mainkan, aku tau itu perlu waktu," ucap Albert setelah selesai menyebutkan nama teman-temannya.
"Jangan khawatir, Albert. Aku mengingatnya," sambut Ariel ramah.
"Ehh,,, sungguh?" seru Albert terkejut, namun Ariel hanya tersenyum.
"Senang bertemu dengan kalian semua, perkenalkan aku Ariel, dan dia Joel," ucap Ariel sembari menunjuk Joel dengan telapak tangannya.
"Senang bertemu kalian," ucap Joel ramah.
"Jadi, maksudmu yang akan bermain dengan kita adalah wanita?" ujar Marc meninggikan suaranya.
"Benar," jawab Albert.
"Apa kau sudah gila,,!!!" dengus Marc menatap Ariel dengan tatapan meremehkan.
"Kau pikir, dia bisa apa?" timpal Marius.
Ariel merasakan Joel mengepalkan tangan disampingnya, namun dengan lembut, ia menyelipkan tangannya kedalam kepalan tangan Joel, lalu meremasnya dengan lembut, berharap itu bisa menenangkannya.
"Apa kau berencana menghancurkan grup kita dengan memasukkan wanita ini bermain bersama kita?" ujar Marc sinis.
.....
....
.
.
To be continued.
Penjelasan singkat.
- Lanskap\= lanskap adalah tata ruang di luar gedung. Di sebut juga dengn bentang lahan atau bentang alam