I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
95. Pantai Belharra



Deburan ombak yang menghantam bebatuan terdengar cukup keras. Sangat cukup untuk menghilangkan nyali siapapun yang belum berpengalaman untuk melakukan surfing.


Namun hal itu berbeda dengan orang yang sudah menguasai surfing. Ombak tinggi dan besar seolah menjadi tantangan tersendiri untuk memacu ardenalin yang ada didalam diri mereka.


Seperti halnya yang di rasakan Joel siang itu, ia justru tampak bersemangat saat melihat gulungan ombak tinggi dan kuat yang terbentang didepannya.


"Bisakah kau mengurungkan niatmu untuk surfing, Joel? Aku sempat mendengar dari penduduk lokal ombak di musim gugur seringkali berubah-ubah," ucap Ariel menatap ngeri dengan ombak yang ada didepan mereka.


"Ini adalah ombak sempurna, kau tau?" sambut Joel antusias.


"Tapi batu karang disana terlihat bisa merobek kulit siapa saja yang mendekat," ucap Ariel.


"Hanya untuk mereka yang gagal mengendalikan papan surfing mereka," jawab Joel tenang.


"Baiklah, aku percaya kau tau persis dengan apa yang kamu lakukan, hanya saja tetap perhatikan saja keselamatanmu," harap Ariel.


"Kamu ingin berenang?" tawar Joel.


"Ha ha,, lucu sekali. Tidak terima kasih," sambut Ariel meninju main-main lengan Joel.


"Ayolah, setidaknya kamu bisa bermain air untuk bersenang-senang," bujuk Joel.


"Aku lebih ingin mengunjungi kota tua jika dibandingkan dengan berenang, tapi aku tidak menolak untuk menikmati suasana pantai saat ini," jawab Ariel.


"Baiklah, tunggulah disini, aku akan pergi ke tempat penyewaan barang," ucap Joel sembari mengusap lembut wajah Ariel.


Ariel mengangguk dan membiarkan Joel pergi sementara dirinya menunggu.


Sebelumnya, mereka pergi ke hotel untuk meletakkan barang bawaan mereka sekaligus menganti pakaian mereka, dan bergegas menuju pantai hanya dengan membawa sedikit barang keperluan mereka selama berada dipantai. Joel kembali setelah menghilang beberapa menit lalu dengan papan surfing dan sebuah payung besar ditangannya.


Memilih tempat yang menurutnya aman, Joel membuka payung ditangannya dan menancapkan payung itu ke pasir, memungkinkan untuk Ariel berlindung dari sinar matahari.


Ariel melepaskan topi pantainya setelah berada dibawah naungan payung, sementara Joel melepas kemejanya.


"Selamat bersenang-senang, Bunny," ucap Ariel mengedipkan sebelah matanya.


"Kamu yakin tidak ingin bergabung bersamaku?" tawar Joel lagi.


"Itu sama saja kau membunuhku," sambut Ariel melemparkan segengam pasir pada Joel.


"Ha ha ha,,, tentu saja aku tidak akan membiarkan hal itu," jawab Joel.


"Tidak, bersenang-senanglah, aku akan menunggu disini. Gunakan waktu liburmu sebanyak yang kamu inginkan," ucap Ariel tersenyum hangat.


"Aku sangat beruntung," ujar Joel mengusap puncak kepala Ariel.


"Aku tinggal sebentar, beritahu aku jika ada yang menganggumu,"pesan Joel.


"Tentu, pergilah," ucap Ariel mendorong Joel.


Joel pergi dengan wajah ceria, tidak bisa sedikitpun menyembunyikan antusiasme dari wajahnya.


"Dasar, dia jadi terlihat mengemaskan karena bersikap seperti anak kecil yang baru saja mendapat es krim, sepertinya aku bisa merencanakan liburan lagi lain kali," gumam Ariel mengeleng-gelengkan kepalanya.


Ariel meletakkan kain diatas pasir untuk alas ia duduk, mengumpulkan barang-barang Joel dan miliknya sendiri disampingnya dan mulai memperhatikan Joel yang sudah masuk kedalam air dengan menaiki papan surfingnya.


Sejenak, Joel tampak diam, seolah menunggu seseuatu. Tepat saat gulungan ombak besar datang, Joel berdiri dan mulai mengerakkan papan dikakinya seolah baginya itu bukanlah diatas air.


Gerakannya tampak seperti dia sedang menari diatas air, hingga tanpa sadar Ariel membuka rahangnya, terpukau dengan apa yang dilakukan Joel.


"Woww,,, apakah surfing memang selalu menakjubkan seperti itu?" gumam Ariel.


Ariel mengeluarkan tabir surya dari dalam tasnya dan mulai mengoleskan dikulitnya. Namun pandangannya tak lepas dari Joel.


"Apakah papan itu menempel dikakinya atau apa? Bagaimana bisa papan itu bahkan sedikitpun tidak terlepas dari kakinya," gumam Ariel lagi.


"Hal itu menunjukkan bahwa kemampuannya sangatlah baik, bahkan bisa di bilang dia profesional,"


Suara seorang pria menyela Ariel yang tengah memperhatikan Joel, hingga Ariel menoleh kearah sumber suara.


"Maaf, saya tidak bermaksud menyela," ucapnya dengan senyum ramah.


Seorang pria telah berdiri dibelakang Ariel, tubuhnya yang atletis dan pakaiannya yang sama seperti yang dikenakan Joel. Kemeja tanpa kancing dan membiarkan dada bidangnya terpampang.


"Bolehkan saya duduk menemani anda, nona?" ucapnya ramah.


"Ah,,, tentu, silahkan," jawab Ariel tersenyum.


"Terima kasih," sambutnya dan segera duduk diatas pasir disamping Ariel.


"Maaf, jika saya tidak salah menilai, apakah ini pertama kalinya anda datang kemari?"tanyanya sopan.


"Benar, ini pertama kalinya," jawab Ariel.


"Begitu rupanya," sambutnya.


"Anda tampak manyukai surfing," ucapnya lagi seolah tidak ingin ada keheningan yang masuk diantara mereka.


"Saya mengaguminya,"


"Namun tidak ingin melakukannya?" sambung si pria.


"Benar," jawab Ariel tersenyum.


"Karena anda tidak bisa berenang?" tanyanya lagi.


"Eh,,?" Ariel menoleh cepat dan menatap pria di sampingnya.


"Tolong jangan salah paham, ini hanya berkaitan dengan pekerjaan yang saya lakukan," jelasnya dengan senyum hangat yang tak lepas dari bibirnya.


"Pekerjaan?" ulang Ariel mengerutkan keningnya.


"Pekerjaan saya adalah penjaga pantai, bekerja selama beberapa tahun membuat saya memahami tubuh seseorang apakah dia seorang profesional, pemula ataupun tidak bisa sama sekali, itu bisa dilihat dari bahasa tubuh mereka,"


"Mengesankan," puji Ariel.


"Apakah itu artinya, anda bekerja di pantai ini?" tanya Ariel.


"Tidak persis seperti itu, saya bekerja di pantai lain, namun terkadang saya bisa ditugaskan disini dalam beberapa bulan, jadi tanpa sadar saya terbawa suasana ketika saya berada dipantai," terangnya.


"Ahh,, begitu, saya mengerti," jawab Ariel mengangguk paham.


"Tapi, bagaimana anda bisa tau kalau saya baru pertama kali ketempat ini?" tanya Ariel bingung.


"Saya tidak sengaja mendengar anda bertanya tentang pantai ini kepada penduduk lokal," jawabnya.


"Begitu rupanya," jawab Ariel.


"Saya tau banyak tentang tempat ini jika ada yang ingin anda ketahui," ungkapnya.


"Saya Lanzo, apakah anda keberatan jika saya menanyakan nama anda nona?" ucapnya mengulurkan tangan.


"Lanzo? Italy?" cetus Ariel melebarkan matanya yang disambut dengan senyum geli Lanzo.


'Dia tampak manis ketika terkejut seperti itu,' batin Lanzo.


"Ariel," sambut Ariel menerima uluran tangan Lanzo.


Ariel merasakan gengaman tangan Lanzo padanya terasa erat, namun memilih untuk diam karena ia juga sadar setiap tempat memliki caranya sendiri ketika bertemu dengan orang asing yang baru dikenalnya.


"Bagaimana anda bisa tau jika saya berasal dari Italy?" tanya Lanzo melepaskan tangannya.


"Nama anda," jawab Ariel.


"Dan sejujurnya, itu hanya menebak," imbuhnya.


"Ha ha ha,,, anda seorang penebak terbaik yang pernah saya temui," puji Lanzo.


Ariel hanya menaikan kedua bahunya dan tersenyum, kembali mengarahkan pandangannya ke pantai.


"Tak banyak orang yang bisa menaklukkan ombak besar tadi, ombak yang datang di pantai ini bahkan sedikit sulit di prediksi, terlebih di musim gugur," ucap Lanzo mengisi keheningan.


"Tak jarang beberapa orang merusak papan surfing mereka karena gagal menjaga pijakan mereka dan berakhir terluka karena batu karang yang berada didalam air cukup tajam," terang Lanzo.


"Itulah sebabnya pantai ini selalu memiliki tantangan tersendiri, dan diperuntukkan untuk orang yang sudah menguasai surfing. Jika anda ingin melihat pantai dengan ombak yang lebih tenang, tempat itu tidak jauh dari sini," ucap Lanzo.


"Seperti tempat untuk seorang pemula belajar surfing," imbuhnya.


"Terdengar menarik, bisakah anda menceritakan lebih banyak?" pinta Ariel.


"Dengan senang hati, tapi, bolehkah saya berbicara tidak formal kepada anda, nona?" tanya Lanzo,


"Ijin di berikan," jawab Ariel tersenyum.


"Terima kasih," sambutnya tersenyum senang.


"Orang-orang sering menyebut Saint Jean de Luz sebagai tempat untuk berselancar. Apakah itu pemula, ataupun profesional, mereka bisa melakukanya disini. Itensitas ombak tiap musim juga bisa berubah,"


"Untuk para pemula, mereka biasanya lebih memilih untuk ke Hendaye. Alasannya, menikmati sejarah dan pesona Saint Jean de Luz akan lebih mudah berjalan di kota perbatasan yang indah untuk sesi pertama mereka diatas ombak,"


"Tempat ini terlindung dengan baik dari gelombang besar dari arah tepi pantai Spanyol dan memiliki teluk besar dengan dasar pasir serta banyak sekolah surfing yang ditawarkan," terang Lanzo.


"Woww,, mereka bahkan memiliki sekolah untuk surfing? Menakjubkan," sambut Ariel.


"Bagaimana dengan kuliner?" tanya Ariel antusias.


"Tempat makan terbaik, hemm" Lanzo merenung sesaat, lalu kembali meneruskan kalimatnya.


"Jika berdasarkan peminat pengunjung, Bodega Koko, berada di peringkat paling atas dengan piring kecil yang kreatif. Lokasinya berada di jantung kota. Mereka juga menyediakan anggur Prancis dan Spanyol,"


"Ada juga Le Kaiku dan Ocean Coffe Bar . Dalam hal ini aku hanya tau tentang Bar, tempat yang tepat untuk sarapan sebelum surfing,"


"Namun kamu bisa mengunjungi Less Halles, atau Rue Gambetta. Tempat ini memang seperti tempat perbelanjaan atau pasar pada umumnya, namun jika kamu datang di hari selasa atau jumat, kamu akan menemui banyak sekali produk lokal yang di jual disana,"


"Atau mungkin Casino La Pergola, kalaupun kamu datang kesana tidak untuk bermain kartu ataupun mesin slot, mereka memiliki restoran dan juga bar dengan teras yang menawarkan pemandangan panorama teluk di Saint Jean de Luz," papar Lanzo.


"Itu membuatku semakin tertarik untuk menjelajah kota," sambut Ariel.


"Sepertinya aku bisa menentukan tujuanku sekarang setelah mendengar penjelasan darimu," tutur Ariel.


"Senang bisa membantu," sambut Lanzo.


"Hei, bisakah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Lanzo.


"Tentu, apa itu?" jawab Ariel balas bertanya,


"Apakah kamu datang kemari sendi_,,,"


Kalimat Lanzo terputus karena dering ponsel dari saku celananya, dan segera mengeluarkannya.


"Maaf, aku permisi sebentar," ucap Lanzo seraya berdiri.


Ariel hanya mengangguk, namun pandangannya mengikuti kemana Lanzo pergi dengan raut wajah bertanya. Sampai Ariel merasakan sesuatu yang basah dan dingin menyentuh wajahnya, membuat ia segera menoleh.


.....


....


.


.


To be Continued