I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
58.Terjalin.



"AKU MENCINTAIMU, JOEL,"


Sebuah kalimat yang selama ini seolah tersngkut di tenggorokan Ariel, akhirnya lolos begitu saja tanpa keraguan.


Joel membeku dengan mata melebar, menatap mata Ariel dengan rasa tak percaya, seolah ia merasa salah mendengar apa yang baru saja ia dengar.


"Maafkan aku karena membutuhkan waktu begitu lama untuk mengatakannya," ucap Ariel menyadari reaksi Joel.


"Rasa sakit yang kurasakan saat membuatmu kecewa, rasa sesak yang tidak kumengerti ketika kamu bersama wanita lain, dan perasaan yang tidak kumengerti selalu muncul ketika kamu berada didepanku, serta rasa takut ketika memikirkan kamu pergi dariku,"


"Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri bahwa aku memang mencintaimu, Joel. Aku sungguh mencintaimu,"


Semua luapan emosi yang mengisi hatinya seolah tumpah begitu saja, hingga tanpa sadar, Ariel kembali menetskan air mata dengan senyum tulus diwajahnya.


"Maafkan aku," Ariel perlahan menurunkan tangannya. "Aku_,,,,"


Kalimat Ariel terputus bahkan sebelum tangannya sepenuhnya turun, Joel lebih cepat menangkapnya dan menarik Ariel kedalam pelukannya. Mendekap tubuhnya dengan erat.


"Aku benar. Aku tidak salah mendengarnya. Aku benar-benar tidak salah mendengarnya, yang aku dengar adalah benar," rancau Joel memeluk Ariel.


"Aku mencintaimu, Ariel. Sangat mencintaimu," balas Joel.


Ariel membalas pelukan Joel dengan perasaan lega yang meluap dari hatinya. Lega ketika akhirnya bisa mengeluarkan apa yang ingin ia katakan, dan selalu ia tahan.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata terus mengawasi mereka dengan kebencian. Matanya berkaca-kaca, namun menyimpan amarah didalamnya. Detik berikutnya, orang itu berbalik dan meninggalkan tempat dimana Ariel dan Joel berada.


Joel melonggarkan pelukan mereka tanpa melepaskannya dan menatap Ariel. Dengan lembut ia menyeka sisa air mata yang berada dipipi Ariel dengan ibu jarinya.


"Aku tidak menyangka penantianku berbuah manis, terima kasih," ucap Joel menempelkan dahinya didahi Ariel.


"Tidak," jawab Ariel mengeleng pelan. "Akulah yang seharusnya berterima kasih padamu. Terima kasih sudah mencintaiku dan menungguku," sambungnya.


"Kamu jauh lebih dari kata layak untuk dicintai, bahkan ditunggu seberapa lamapun itu," sambut Joel.


Mereka saling pandang untuk beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan pelukan mereka, lalu tersenyum.


"Ayo ke rumah, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu," ajak Joel mengulurkan tangannya.


Ariel mengangguk dan menerima tangan Joel. Mereka melangkah bersama menuju rumah Joel dengan jari tangan mereka yang terjalin.


>>>>>>>--<<<<<<<


Disudut lain pantai ditempat yang sama dengan dimana Ariel berada, Bram duduk dibibir pantai menatap lautan didepannya dengan tatapan hampa.


Satu tangannya memainkan pasir disamping yang ia duduki, mengenggam pasir itu, lalu tersenyum getir.


'Padahal aku sudah mempersiapkan hatiku. Tapi, tetap saja terasa sesak dan membuatku sulit bernafas. Apakah ini juga yang di rasakan Ariel saat aku mengkhianatinya? Atau bahkan mungkin lebih menyakitkan lagi? Aku bahkan mengucapkan kalimat pedas itu padanya,' ratap Bram dalam hati.


Ia menengadah menatap langit, dan kembali tersenyum getir saat mengingat apa yang baru saja ia lihat.


Sore itu, Bram bermaksud menemui Joel untuk memberitahunya bahwa Christina adalah orang yang melakukan sabotase saat malam pertunjukan Ariel.


Namun, dirinya justru mendapati Joel tengah bersama Ariel. Dan Ariel telah mengungkapkan perasaanya. Ia segera pergi karena tidak ingin melihat lebih jauh apa yang akan terjadi selanjutnya, karena saat itu juga dirinya merasakan hatinya bergejolak.


Bram menundukkan kepalanya, merasa seolah pijakan kakinya telah runtuh, namun ia juga tidak ingin merusak hubungan Ariel yang berakibat akan kembali menyakiti Ariel.


"Aku pernah menyakitinya, aku hanya seorang bre*g*sek yang dulu mengenggam tangannya lalu melepaskannya, mempermainkan cinta yang dia berikan padaku, juga mengoreskan luka yang mendalam dihatinya. Jika aku bermuka tebal terus memintanya kembali padaku, itu hanya menunjukan betapa egoisnya aku," gumam Bram pelan.


"Jika kau sebegitunya mencintai, Ariel, kenapa tidak kau rebut saja dia darinya? Kamu bisa mengklaim Ariel sebagai milikmu dengan satu cara,"


Sebuah suara menyela pikiran Bram dari belakang punggungnya. Segera ia menoleh dan terkejut saat melihat Jesica berdiri tak jauh darinya.


"Aku dengan senang hati akan membantumu mendapatkan Ariel kembali," ucap Jesica lagi.


"Kamu selalu membantuku, ketika kau tutup mulut," jawab Bram datar.


"Cih,,," cibir Jesica.


Jesica menghampiri Bram dan duduk disampingnya, sedikit terkejut ketika melihat wajah muramnya yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


"Jika kau masih mencintainya, kamu bisa mendapatkannya, Bram. Kau lebih mengenal dan mengerti Ariel dibandingkan siapapun," ucap Jesica dengan mata mengarah ke laut.


"Terima kasih, aku setuju denganmu, tapi kemudian kita berdua salah. Jika kau ingin tau hal terbaiknya, kau terdengar lebih baik dengan mulut tertutup," sambut Bram dingin tanpa menatap Jesica.


"Bisakah kau pergi dari sini? Atau setidaknya bersikaplah seolah kau tak mengenalku atau melihatku, maka aku akan sangat berterima kasih padamu," sambung Bram.


"Cih,,, menyebalkan. Sarkasmemu benar-benar meningkat, Bram," cibir Jesica sedikit kesal.


"Karena kau satu-satuna orang yang tidak kuharapkan muncul didepanku," sambut Bram acuh.


"Hei,,, kaulah yang menemuiku lebih dulu dan menuduhku tanpa bukti," sembur Jesica.


"Apa kau pikir masuk akal jika sekarang kau mengatakan jangan muncul di hadapanmu sementara kau sendiri yang menemuiku?" desis Jesica.


"Langsung saja, apa yang kau inginkan dariku?" tanya Bram menoleh sesaat untuk menatap Jesica.


"Anehnya, sama sekali tidak ada yang aku inginkan," jawab Jesica menaikkan bahunya acuh.


"Lucu sekali, jika kau pikir aku akan percaya padamu," sambut Bram dingin.


"Oh,,, tenang saja, aku bahkan tidak berniat untuk membuatmu percaya padaku," jawab Jesica sedikit mencemooh.


"Senang mendengarnya, sekarang kau bisa meninggalkan tempat ini, silahkan," ucap Bram.


Bram kembali menatap laut di depannya, berharap Jesica segera pergi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Jesica tetap bergeming ditempatnya tanpa bicara. Membuatnya kembali merasa terganggu.


"Tck,,, Kenapa kau masih disini?" decak Bram mulai kesal.


"Pantai ini tempat umum, bukan milikmu ataupun keluargamu, kenapa aku tidak boleh disini?" sanggah Jesica.


Bram mendengus kesal dan segera berdiri, meninggalkan Jesica yang masih tetap duduk dengan mata mengikuti langkah Bram.


"Kau tau dimana bisa menemuiku jika kau berubah pikiran, Bram. Tawaranku akan tetap berlaku, aku bisa membantumu mendapatkan Ariel kembali kepelukanmu," ucap Jesica.


Langkah Bram terhenti dan segera berbalik, menatap marah pada Jesica yang hanya tersenyum tipis membalas tatapannya.


"Dan kau mendapatkan Joel sebagai bayarannya?" sindir Bram dengan alis terangkat.


Jesica hanya menaikan bahunya dengan acuh, namun tidak menghilangkan seringai diwajahnya, seolah menikmati kemarahan yang terpancar dari mata Bram hanya karena satu orang.


"Satu-satunya hal yang akan kulakukan adalah menghentikanmu dengan cara apapun ketika kau memaksa masuk kedalam ruang diantara mereka berdua,"


"Perkataanku bukan hanya sebuah ancaman, tapi aku akan melakukannya jika kau merusak hubungan Ariel dan Joel," tegas Bram.


"Karena aku pantas mendapatkannya atas apa yang pernah aku lakukan pada Ariel dulu," jawab Bram.


Bram kembali berbalik dan meninggalkan Jesica yang tampak tertegun ditempatnya, menatap penuh harap saat punggung Bram yang semakin menjauh.


Bram menutup pintu mobilnya dengan keras saat ia berada di dalam, meletakkan kepalanya di kemudi mobil dan menghembuskan nafas dengan kasar.


Perlahan, tangan Bram merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Mengulir ponsel dan berhenti saat ia membuka sebuah foto dari ponselnya.


Foto dirinya bersama Ariel saat mereka masih menjadi sepasang kekasih. Saat Ariel berhasil menjahili dirinya di hari ulang tahunnya.


"Bagaimna bisa aku masih menyimpan foto ini? Aku tidak bisa menghapusnya," keluh Bram pelan sembari menegakkan tubuhnya.


Dengan duduk bersandar dan mata menerawang, Bram mengingat kembali saat dimana ia pertama kali bertemu Ariel.


###Beberapa tahun lalu,,,


Disebuah kedai kopi dimalam hari, saat itu hujan menguyur dengan derasnya. Bram tengah duduk disalah satu meja kedai kopi dengan secangkir kopi masih mengepul didepannya.


"Permisi,"


Suara sapaan ramah dari seorang wanita membuat Bram yang saat itu fokus dengan ponselnya mendongak untuk melihat siapa yang mengusiknya.


"Ya?" Bram menaikan alisnya merasa terganggu.


"Maaf tuan, apakah saya bisa satu meja dengan anda karena semua meja telah penuh?" ucapnya sopan dan penuh harap.


Wanita itu dalam keadaan sedikit basah, bram hanya bepikir mungkin wanita itu kehujanan saat ingin masuk ke kedai. Untuk sesaat, Bram mengagumi kecantikan wanita didepannya, namun segera menepisnya lantaran dirinya merasa terganggu.


Bram mengedarkan pandangannya, dan benar saja semua meja telah penuh dengan pengunjung karena di luar tengah diguyur hujan. Ia mentap wanita itu dengan menyipitkan kedua matanya.


"Anda masih bisa duduk dikursi yang ada didepan meja bar, nona, silahkan anda ke sana saja," ucap Bram dingin.


Wanita itu mengerutkan keningnya dan menatap Bram dengan tatapan tak percaya, lalu tersenyum kecut.


"Terima kasih, anda sungguh BAIK," jawabnya sambil menekan suaranya.


Wanita itu membalikkan tubuhnya dengan kesal dan pergi meninggalkan meja Bram.


"Wanita aneh," desis Bram pelan.


Bram kembali fokus pada ponselnya., mengabaikan wanita yang baru saja menghampirinya. Selang beberapa menit, ia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, lalu berdiri.


Setelah membayar tagihan minuman milikny, ia keluar dari kedai kopi dan mendapati hujan belum reda.


"Sebentar lagi pembukaan geleri seninya akan dibuka, dan hujan masih belum reda juga," gerutu Bram.


"Aku tidak mungkin melewatkan perlelangan kali ini," gumam Bram.


Bram berjalan menuju tempat dimana ia meletakkan payung miliknya. Saat dirinya telah berhasil meraih payung itu, tangan lain juga meraih payung yang sama.


Bram mendengus kesal dan mengarahkan pandangannya pada pemilik tangan yang menyentuh payungnya.


"Kau,,," desis Bram dengan mata melebar.


Bram terkejut saat melihat pemilik tangan itu ternyata adalah wanita yang mendekati mejanya di kedai kopi.


"Apa begitu caramu untuk menarik perhatian pria yang kau inginkan?" ucap Bram sarkas.


"Maaf? Saya tidak mengerti apa yang anda maksud," jawab wanita itu menahan emosinya.


"Lalu, kenapa kau tak juga melepaskn payungku?" tukas Bram kesal.


"Payungmu?" kening wanita itu mengerut bingung.


"Jelas-jelas ini adalah payung milik saya, mungkin anda salah mengenali payung say sebagai milik anda," ucapnya tetap menjaga kesopanan dan menahan emosinya.


"Apa kau pikir aku bodoh tidak bisa mengenali payungku sendiri?" geram Bram.


"Berikan padaku!" ujar Bram sembari menarik payung itu kearahnya.


"Tidak bisa, saya masih harus menghadiri acara penting, dan saya tidak ingin datang dalam keadaan basah," jawab Wanita itu menarik kembali payung ditangan Bram.


Bram mendengus kesal dan mentap wanita itu. Sekilas ia melirik payung ditangannya, lalu menyeringai licik. Posisi payung di tangannya sangat menguntungkan bagi Bram saat pegangan payung berada ditangannya.


Tanpa pikir panjang, ia segera menekan tombol payung dan menyebabkan payung terbuka.


"Aakh,,,!!" pekik wanita itu melepaskan tangannya dan menutupi wajahnya.


"Sungguh menyenangkan bertemu anda, nona. Terima kasih banyak sudah melepaskan payungnya," ucap Bram tertawa puas dan segera pergi meninggalkan wanita itu yang tampak tertegun ditempatnya.


Perlahan ia meraba wajahnya yang terasa sedikit panas karena terkena payung yang di buka Bram.


"Ariell,,!!!"


Teriakan dari wanita lain membuat wanita itu menoleh, lalu tersenyum kecut.


"Dari mana saja kamu? Aku mencarimu, galeri seninya hampir dibuka. Bukankah kamu sendiri yang bilang tidak ingin tertinggal?" sembur wanita itu.


"Bisakah kamu tidak marah-marah dulu? Aku kehilangan payungku, Jessi," sungut Ariel masih mengusap wajahnya.


Wanita yang di sebut Jessi yang memiliki nama Jesica memiringkan kepalanya menatap Ariel heran.


"Ha,,? Bagaimana bisa? Tunggu!! Kenapa wajahmu? Apakah ada yang menamparmu?" tanya Jesica khawatir.


"Ceritanya nanti saja, ayo ke galeri seni dulu. payungmu masih cukup kan kalau hanya untuk melindungiku dari hujan?" ucap Ariel seraya manarik tangan Jesica.


"Eehh,,, tunggu dulu,,," protesan Jesica di abaikan Ariel.


Mereka segera berlari kecil menuju galeri seni yang jaraknya memang tidak jauh dari kedai kopi dengan satu payung diatas kepala mereka.


Sementara itu, Bram yang telah sampai di galeri seni dan menurunkan payung ditangannya.


Saat ia melipat payungnya, tangannya menyentuh sesuatu dengan gemerincing lembut. Bram mengerutkan keningnya dan memeriksa payungnya, menganggap wanita itu telah merusak payung miliknya.


"Ehh,,,"


Bram melongo sesaat saat melihat gantungan berbentuk piano dan dua lonceng kecil mengantung di payung itu. Saat itulah ia menyadari bahwa itu memang bukan payung miliknya.


"Celaka,,," desis Bram menepuk dahinya.


...>>>>>>>--<<<<<<<...