
#Disisi lain,,,,
Dirumah sakit, Joel menunggu Seth dengan tenang. Wajahnya berubah cerah saat melihat Seth, teman yang memiliki profesi sama dengannya muncul dengan mengatupkan kedua telapak tangan masuk keruangannya.
"Maafkan aku, Joel. Aku tidak menyangka akan memerlukan waktu lebih lama," sesalnya.
"Tak masalah. Lagi pula kau sering membantuku, jadi aku tidak keberatan mengisi jam kerjamu beberapa jam," sambut Joel tersenyum.
"Tapi, waktumu bersamanya sedikit berkurang , benar kan?" tanya Seth.
"Memang benar, tapi dia mengerti. Dan kami berencana mengganti waktu yang terbuang saat libur nanti," jelas Joel.
"Kau benar-benar beruntung," tutur Seth.
"Baiklah, sekarang pulang dan istirahat. Besok kau ada jadwal operasi," ucap Seth mengingatkan.
"Aku tau," sambut Joel.
"Tapi, aku tidak keberatan jika kau besok tidak datang," goda Seth.
"Apa maksudmu?" Joel menaikkan kedua alisnya dengan bingung.
"Yaah,,, mungkin saja kau ingin menghabiskan malam bersamanya," jawab Seth asal.
"Mesum," maki Joel dengan wajah memerah.
"Tapi kau tak akan menolaknya bukan?" goda Seth terbahak melihat reaksi Joel.
"Diam,!" sahut Joel, membuat Seth tertawa puas.
Joel menyerahkan berkas pasien yang harus di kontrol ulang pada Seth dan menjelaskan poin penting yang harus diketahui. Selesai dengan itu, Joel melangkah keluar menuju tempat mobilnya terparkir.
Duduk dibelakang kemudi, ia mengeluarkan ponselnya. Sebelumnya Ariel mengirimkan pesan padanya bahwa malam ini dia menghadiri acara perjamuan bersama murid yang bernama Ken.
Ia ingin memastikan apakah Ariel sudah pulang atau belum karena ini sudah cukup larut, Joel mengulir ponsel dan menekan panggilan dengan nama Sweety di ponselnya.
"Hai,,, Sweety, apakah acaramu sudah selesai?" tanya Joel sembari memasang seatbelt.
"Egh,,,ya? Apa? Siapa?"
"Ariel,,, apa kau baik-baik saja?" Joel mengerutkan keningnya.
"Engh,,, apa sih? Kenapa tidak bicara? Akh,,, Krakk,,,"
"ARIELLL,,,,!!!"
Joel berseru panik saat mendengar suara Ariel yang di akhiri dengan suara benda terjatuh. Panggilan berakhir begitu saja.
"Apa itu tadi? Ada apa dengannya?" gumam Joel gusar.
Dengan rasa khawatir di hatinya, Joel kembali menghubungi Ariel, namun kali ini tidak di angkat. Ia kembali mencoba, panggilan itu tetap terhubung, namun tidak diangkat.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" gumam Joel cemas.
"Ayolah,,, angkat,,!" harap Joel.
Namun tetap saja, itu berakhir sia-sia.
Ia mencoba melacak gps Ariel dan menemukannya. Tanpa banyak berpikir, ia segera melajukan mobilnya menuju titik dimana gps itu menuntunnya.
Tidak peduli dengan banyaknya pengemudi lain yang membunyikan klakson karena Joel mengemudi dengan kecepatan tinggi, ia terus memacu mobilnya menuju titik dimana Ariel berada,( setidaknya itu menurut pemikirannya).
Berulang kali ia harus menepis pikiran buruk yang mungkin terjadi pada Ariel agar ia bisa fokus mengemudi. Namun, kecemasannya bertambah ketika ia hampir mencapai titik lokasi Ariel, gps Ariel justru begerak menjauh.
"WTF,,,, " umpat Joel memukul kemudi dengan kesal.
Sebisa mungkin Joel berusaha agar tidak kehilangan jejak. Ia mulai menyadari arah yang sedang ia tuju adalah menuju apartemen Ariel. Tak lama setelah itu, ia melihat mobil Ariel melaju mulus didepannya.
"Apakah Ariel dalam perjalanan pulang?" gumam Joel.
Joel terus mengikuti mobil Ariel hingga mencapai apartemenya. Ia menjadi terkejut saat melihat yang keluar dari sisi kemudi adalah Ken.
Ken tampak setengah berlari mengitari mobil dan membuka pintu sisi penumpang, hingga Joel melihat Ken mengendong Ariel.
Berpacu dengan kecemasan yang merayap dihatinya, Joel menghentikan mobilnya tepat disamping mobil Ariel, hingga suara decitan ban mobinya terdengar nyaring.
Ken menoleh saat mendengar suara decitan ban mobil yang memekakan telinga, dan segera mengenali pemilik mobil saat Joel keluar dari mobil.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Joel curiga.
"Syukurlah, kakak datang tepat pada waktunya," sambut Ken.
Mereka berdua secara bersamaan mengucapkan kalimat berbeda, namun cukup untuk membuat mereka tertegun selama beberapa saat.
"Biarkan aku yang mengambil alih," ucap Joel.
Ken hanya mengangguk setuju saat Joel mengambil alih mengendong Ariel. Sementara Ken membawakan barang Ariel dan mereka melangkah bersama menuju apartemen Ariel.
"Bisa kau ceritakan padaku apa yang terjadi?" tanya Joel saat mereka didalam lift.
"Aku tidak tau pasti, aku tidak bersama kak Ariel selama beberapa menit karena ada yang harus aku urus, dan kak Ariel menunggu disudut ruangan,"
"Saat aku kembali menemui kak Ariel, saat itu kakak sedang minum moctail yang memang disediakan utuk semua tamu, dan para pelayan yang membagikannya. Setelah menghabiskan minumannya, kakak jadi bertingkah aneh dan berakhir seperti ini," terang Ken.
Joel mengerutkan keningnya, merasa apa yang diceritakan Ken terdengar tidak masuk akal.
"Bagaimana mungkin?" sanggah Joel.
"Aku juga tidak tau bagaimana cara menjelaskannya," jawab Ken menatap Ariel dengan sisa rasa khawatirnya.
"Karena kak Joel sudah disini, kakak tidak keberatan kan kalau merawat kak Ariel? Kak Ariel pergi meninggalkan acara begitu saja sebelum hilang kesadaran, jika tidak di jelaskan, itu hanya akan membuat mereka berpikir buruk, jadi aku ingin keadaan ini bisa dikendalikan," ucap Ken beralasan.
"Baiklah, tapi bagaimana kamu akan kesana?" tanya Joel.
"Aku bisa naik taksi," jawab Ken.
"Kalau begitu, berhati-hatilah dalam perjalanan," ucap Joel.
Ken mengangguk pelan, ia menyerahkan tas milik Ariel kepada Joel setelah pintu apartemen Ariel terbuka, dan pergi meninggalkan mereka berdua. Berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
Joel membaringkan Ariel di tempat tidur, tas yang semula ia terima dari Ken, sudah ia letakkan di sofa. Tanpa membuang waktu, ia mengambil air dan handuk kecil, berniat untuk membersihkan tubuh Ariel yang tiba-tiba mengeluarkan banyak keringat.
Setelah mengulung lengan kemejanya, Joel mencelupkan handuk kecil itu dan mulai menyeka keringat di wajah Ariel.
Samar-samar, Ariel merasakan sensasi dingin menyentuh pipinya. Masih belum sadar sepenuhnya atas apa yang terjadi. Namun cukup untuk membuatnya kembali merasakan hawa panas di tubuhnya.
Joel yang saat itu tengah membersihkan wajah Ariel menggunakan handuk basah dikejutkan dengan Ariel yang tiba-tiba menarik tangannya, membuat tubuhnya tertarik hingga membuatnya menindih Ariel.
"A-Ariell,,, apa yang kamu lakukan?" ucap Joel terkejut.
"Apakah kamu datang untuk menjemputku, Bunny?" ucap Ariel tersenyum mengoda.
Tatapannya berubah sayu, tatapan yang jelas sangat tidak Joel kenali, tangannya terus mencekal pergelangan tangan Joel yang memegang handuk. Perlahan melingkarkan tangannya dileher Joel.
"Ariell,,, apa kau mendengarku?" Joel bertanya berusaha melepaskan dirinya sendiri.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Joel.
"Disini sangat panas," gumam Ariel pelan.
"Ac dalam keadaan menyala, Ariel," sambut Joel.
Joel yang berada di atas Ariel menopang tubunhnya sendiri dengan kedua tangannya. Menatap Ariel yang berada dibawahnya, membuat ia berkali-kali menelan ludahnya, dan terus berusaha melepaskan diri.
"Lepaskan tanganmu, Ariel. Apakah kau sadar apa yang sedang kau lakukan?" ujar Joel penuh peringatan.
"Apa? Apakah aku tidak terlihat cantik bagimu? Tidak menarik? Apakah kau tidak menginginkanku?" rancau Ariel menarik wajah Joel mendekat.
"Kamu cantik, sangat. Dan aku juga menginginkannya, tapi tidak dengan cara seperti ini," jawab Joel.
"Aku menginginkanmu, Joel. Sekarang! rasa panas ini benar-benar menganggu," bisik Ariel.
"Aku mencintaimu, Bunny, aku mencintaimu, Joel,"
Setelah mengatakan itu, Ariel mel*umat bibir Joel, serta mengeratkan tangan yang melingkar di lehernya. Kesadarannya telah diambil alih sepenuhnya oleh hasrat didalam dirinya. Sebuah hasrat yang ia tidak tau dari mana datangnya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Joel kehilangan kendali dirinya sendiri. Tanpa di sadari, Joel telah mengukung Ariel dibawah tubuhnya, membalas semua yang dilakukan Ariel terhadapnya. Sementara Ariel secara perlahan melepaskan kancing kemeja Joel satu persatu.
...>>>>>>>--<<<<<<<<...