I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
70. Pertama kalinya memanggil kakak



"BRRAKKK,,,,,!!!!!!!"


Suara benturan keras dari pintu yang di buka dengan kasar memekakan telinga. Suara keras yang berhasil membuat seseorang didalamnya terlonjak kaget.


"KENN,,,,!!!! Apa-apaan itu?" sentak Charlie.


Ken melongos dan mengabaikan Charlie. Berjalan melewatinya begitu saja dan berencana menuju kamarnya.


"Dari mana saja kau?" tanya Charlie sedikit kesal. "Kenapa pulang selarut ini?" imbuhnya.


Ken masih bungkam. Ia terus berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dengan langkah kaki yang tampak seperti orang kehilangan tenaga pada kakinya. Seolah telah kehabisan kesabaran, Charlie menarik tangan sang adik dan memutar tubuhnya agar menghadapnya dengan paksa.


Merasa sikap adiknya telah melewati batas yang terus bersikap seenaknya dirumahnya sendiri. Namun, Charlie justru tertegun saat melihat wajah muram sang adik ketika berhasil membuat dia berdiri didepannya.


"Hei,,, ada apa? Kenapa memasang wajah seperti ini? Apa yang terjadi?" tanya Charlie melembutkan suaranya, mencengkram lembut bahu sang adik.


"Diamlah!" jawab Ken menepis tangan Charlie dari bahunya.


"Aku ingin sendiri," imbuhnya.


Ken baru akan berbalik untuk menuju kamar ketika Charlie dengan cepat menghentikannya, kembali membalik paksa tubuh sang adik kembali menghadapnya. Barulah ia menyadari mata adiknya yang berwarna merah, tidak seperti biasanya. Dan tercium bau alkohol darinya.


"Kau mabuk?" emosi Charlie kembali terpancing.


"Berhentilah bersikap seperti seorang bocah! Kau sudah dewasa, Ken. Sampai kapan kau akan bersikap seperti anak kecil seperti ini?" hadrik Charlie.


"Berisik,,!" sentak Ken menepis tangan Charlie dengan kasar.


"Memangnya kakak tau apa? Kakak tidak tau apa yang aku rasakan. Kakak tidak tau apapun tentangku. Dan kakak juga tidak tau apapun tentang hidupku. Tidak perlu mengajariku tentang apa yang harus dan tidak harus aku lakukan,"


Ken meluapkan emosinya, hingga tanpa ia sadari telah menyebut Charlie dengan sebutan kakak.


Charlie tertegun sesaat, merasa bahagia, namun juga ada kesedihan didalamnya. Ia senang Ken telah menyebutnya kakak, namun ia berharap mendengar itu bukan disaat adiknya meluapkan emosinya. Terutama dalam keadaan mabuk.


"Kenapa? Apakah salah jika aku menyukai seseorang? Apakah salah jika aku mencintainya? Kenapa rasanya sakit sekali saat melihat dia bersama orang lain? Kenapa dia mencintai orang lain? Kenapa bukan aku? Kenapa?"


Ken merancau menyebutkan tentang perasaannya. Membuat Charlie tidak bisa mengatakan apapun.


Untuk pertama kalinya, ia melihat sang adik yang begitu rabuh, sisi keras dalam dirinya seolah menguap tanpa bekas. Kini Ken memeluk Charlie, terisak dibahunya dan terus merancau tentang wanita yang tidak disebutkan namanya oleh Ken.


"Kenapa dia tidak melihatku sekali saja? Kenapa harus orang itu? Kenapa pria itu? Aku sudah merubah semuanya yang tampak buruk didalam diriku, tapi kenapa dia tetap tidak melihatku?"


Charlie menuntun adiknya yang masih terus merancau masuk kedalam kamar, membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan melepaskan jaket serta sepatu yang dipakainya, lalu menyelimuti tubuhnya.


Ia mengedarkan pandangannya di kamar Ken dan tidak menemukan apapun yang bisa membantunya untuk mengetahui siapa sebenarnya yang di cintai sang adik.


Rancauan Ken mulai berhenti, digantikan dengan hembusan nafas tenang dan teratur.


"Siapa sebenarnya orang yang kau maksud, Ken?" desah Charlie pelan.


Charlie membersihkan tubuh sang adik menggunakan handuk yang telah ia celupkan kedalam air. Menyeka wajahnya yang telah tertidur pulas. Setelah seleai, ia segera keluar setelah mematikan lampu kamar.


Pada keesokan harinya, Charlie menyapkan sup mabuk dimeja makan sebelum ia berangkat bekerja.


Tak lupa, ia juga meletakkan koper Cello ditempat yang mudah terlihat agar Ken bisa melihatnya.


"Enghh,,,,"


Ken mengeliat diatas tempat tidurnya, mengerang pelan saat merasakan kepalanya berdenyut entah apa penyebannya.


Ia mengedarkan pandangannya dengan linglung. Merasa aneh dengan kamarnya sendiri.


"Apakah aku berhasil pulang?" gumamny pelan.


Namun ia segera menyadari ia tidak lagi memakai jaket dan sepatu yang sebelumnya ia pakai. Bahkan sepatu dan jaket itu telah berada di keranjang pakaian kotor.


Seolah terkena sengatan listrik, Ken segera merogoh kebawah bantal, dan mengeluarkan bingkai foto yang masih tetap berada disana.


"Apakah Charlie yang membawaku kamari? Apakah dia melihat foto ini?" gumam Ken.


Ia merasa sedikit was-was jika Charlie mengetahui dirinya menyembunyikan foto seseorang dikamarnya.


"Sudahlah, jika dia bertanya, aku hanya perlu membuat alasan," ucap Ken acuh.


Dengan menyeret tubuhnya sendiri, Ken segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dan turun.


Ken mengerutkan keningnya saat melihat sup mabuk yang telah siap di meja makan, dan sebuah koper Cello di kursi dengan sebuah memo tertempel disana.


'Untukmu, semoga kau menyukainya,'


Dan satu lagi di samping mangkuk sup.


'Semoga mabukmu hilang setelah makan ini,'


Ken mengenali tulisan itu adalah tulisan tangan kakaknya. Hal itu membuatnya semakin yakin bahwa tadi malam Charlie telah masuk kedalam kamarnya.


"Kuharap aku tidak mengatakan hal aneh padanya," harap Ken.


"...."


"...."


"Kenapa rasanya seperti Cello ini dari kak Ariel?" gumam Ken heran.


Ia merasakan Cello telah di setel dengan baik, dan terasa sama seperti ketika Ariel yang menyetelnya.


Ken segera menepis semua pikiran yang memenuhi pikirannya, merasa tidak mungkin Charlie mengenal Ariel yang menjadi pelatih musiknya. Tak ingin terlalu banyak berpikir, ia segera memakan sup yang telah di siapkan untuknya. Ingin segera bersiap untuk berangkat ke studio untuk berlatih.


##########


*Di studio.


Untuk kesekian kalinya, Ken mendapatkan teguran keras dari Ariel. Hal itu disebabkan Ken terus kehilangan fokus dan mengacaukan sesi latihan bersama, membuat melodi yang dimainkan tidak selaras.


"Kalian bisa istirahat," ucap Ariel. "Kembali lagi setelah tiga jam," imbuhnya.


"Baik,,"


Sebuah jawaban serentak terdengar, bersamaan dengan itu, mereka yang dilatih Ariel keluar meninggalkan ruang latihan, kecuali Ken. Ia masih merenungi apa yang salah dengan dirinya? Kenapa sulit sekali untuk tetap fokus?


Dua pertanyaan itu berputar dalam benaknya tanpa bisa ia jawab. Bahkan saat Ariel berdiri di sampingnya, ia tidak menyadarinya.


"Apa yang terjadi denganmu, Ken?" tanya Ariel meletakkan tangan dibahu Ken yang tampak termenung.


"Kenapa permainanmu sangat kacau dalam sebulan ini?" tanyanya dengan intonasi lembut, tanpa desakan.


"Maaf, kak," sesal Ken menundukkan kepalanya.


"Aku bertanya, Ken. Bukan ingin mendengar kau meminta maaf," sambut Ariel.


"Aku_,,,," Ken menggantung kalimatnya, menundukkan kepalanya semakin dalam.


"Ada apa?" tanya Ariel.


"Jika aku minta tolong pada kakak untuk menemaniku ke acara pertemuan bisnis keluarga, bisakah kakak menerimanya?" harap Ken.


"Entah kenapa, aku merasa pertemuan kali ini akan melibatkan aku untuk bermain musik di depan semua orang, dan mereka berharap aku gagal agar bisa memanfaatkan hal itu untuk membuatku berhenti," papar Ken.


Sebenarnya Ken tau, orang tuanya kerap menghubungi Charlie agar membujuk Ken untuk hadir di acara pertemuan bisnis keluarganya. Namun, Charlie selalu menutupi itu darinya, merasa itu hanya alasan agar Ken datang dan bisa dipermalukan di depan banyak orang hanya karena ia menyukai musik.


Akan tetapi, Ken juga tidak ingin terus-terusan berada dalam perlindungan kakaknya, ia ingin bisa menunjukan kepada keluarganya bahwa musik bukanlah hal yang bisa diremehkan. Namun, hal itu justru menekan pikirannya, di tambah dengan Ken yang melihat Ariel tampak mesra bersama seorang pria direstoran yang membuat emosinya kian memuncak.


"Kapan?" tanya Ariel.


Ken menatap Ariel dengan mata melebar, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Besok malam," jawab Ken.


"Baiklah, aku bisa menemanimu," jawab Ariel.


"Sungguh? Kakak tidak harus menemui mereka, mungkin itu jauh lebih baik. Karena aku juga tidak ingin mereka mengintimidasi kakak," terang Ken.


"Aku cukup bisa melihat kakak saja jika memang mereka memintaku untuk bermain,"


"Baiklah, tapi untuk sekarang, perbaiki dulu permainanmu," titah Ariel.


"Baik, terima kasih banyak, kak," sambut Ken.


Ken terlihat lebih baik dari sebelumnya, namun entah kenapa Ariel merasa ada yang disembunyikan Ken darinya.


Permainan Ken memang kembali seperti semula, namun terdengar penuh keraguan. Seperti ada hal yang membuatnya bimbang.


Hingga, tanpa terasa acara yang dibicarakan Ken tiba. acara itu tampak dipenuhi dengan orang-orang yang hanya membicarakan tentang bisnis. Dan benar saja, dugaan Ken menjadi kenyataan.


Ketika Ken datang dengan Ariel disampingnya, semua yang hadir disana tampak meremehkannya. Dengan terang-terangan keluarganya mendorong Ken untuk bermain alat musik yang telah disediakan oleh mereka, Piano dan Cello.


Ken tampak berusaha menahan emosinya ketika beberapa orang memandang rendah Ariel yang berada disampingnya. Namun, Ariel menenangkannya dan membujuk Ken menuruti permintaan mereka dengan bermain musik.


"Bungkam saja mereka dengan permainanmu," ujar Ariel pelan.


"Tapi, bagaimana jika mereka menganggu kakak disaat aku sedang bermain?" balas Ken berbisik.


"Aku bisa mengurusnya," jawab Ariel tenang.


Dengan dorongan dari Ariel, akhirnya Ken menurut dan memainkan lagu singkat menggunakan Cello.


Disudut lain, seorang wanita mendekati pelayan yang bertugas mengantarkan minuman dan memberikan sebungkus obat pada pelayan itu, meminta sang pelayan memberikan minuman yang dicampur obat kepada Ariel. Tak lupa wanita itu memberikan beberapa lembar uang kepada si pelayan sebagai tip.


Diluar dugaan keluarganya, semua orang justru berdecak kagum saat mendengar permainan yang ditunjukkan Ken.


Sementara Ariel hanya berdiri di sudut ruangan, mengawasinya dengan senyum puas diwajahnya. Ia mengambil segelas minuman yang diantarkan seorang pelayan padanya.


Hal yang tidak ariel sadari adalah, pelayan itu memperlihatkan senyuman yang tidak bisa diartikan. Senyuman di bibir pelayan itu kian melebar saat melihat Ariel meneguk minuman ditangannya.