I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
129. Benarkah kebetulan?



"Ya tolong atur ulang jadwalnya dan berikan padaku besok!" titahnya melalui ponsel yang menempel di telinganya.


Joel yang semula hendak menimpali ucapan Ariel, belum sempat mengatakan apapun ketika mendengar suara yang familiar bagi mereka berdua.


Serentak mereka berdua mengarahkan pandangannya dan melihat sosok yang mereka kenal.


"DARCIE,,,"


Sang pemilik nama menutup ponselnya dan segera menoleh ketika namanya disebut dengan cara yang tidak biasa ia terima dimana orang-orang selalu memanggil dirinya Adonis.


"Joel, Ariel,,?" sambut Darcie dengan mata berbinar.


"Waah,, senang rasanya bertemu kalian lagi," ucap Darcie.


Darcie bangun dari kursinya dan menghampiri Ariel dan Joel. Tepat saat ia akan duduk dikursi kosong disamping Joel, pemilik kursi itu datang.


"Maaf tuan, bisakah kita bertukar tempat duduk? Kebetulan mereka adalah teman lama saya dan kami sudah sangat lama tidak bertemu," ujarnya dengan wajah meyakinkan.


"Ah,, tentu. Silahkan," sambutnya ramah.


"Saya sungguh beruntung, anda sangat baik, terima kasih banyak tuan," sambut Darcie tersenyum senang.


"Saya hanya mengerti dengan yang anda rasakan, silahkan duduk, dan saya akan pindah ke kursi anda," ucap pemilik kursi itu dengan ramah.


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Semoga hari anda menyenangkan," ucap Darcie.


Darcie tersenyum lebar sebelum duduk di samping Joel dengan tawa rendahnya. Sementara Joel dan Ariel berusaha menahan tawa mereka.


"Aku baru tau, ternyata kau seorang pembohong yang baik," sindir Ariel.


"Sssttt,,, jangan sampai orang tadi mendengarnya," sambut Darcie mengecilkan suaranya.


"Lagipula, aku tidak berbohong, kalian adalah temanku dan kita memang sudah lama tidak bertemu bukan?" jawab Darcie dengan wajah tanpa dosa.


"Minus dengan kalimat teman lama," sindir Joel.


"Ahh,, ayolah,," sambut Darcie merangkul Joel dengan akrab seolah mereka memang benar teman lama.


"Aku selalu tidak bisa memiliki waktu untuk bersenang-senang dengan benar, dan melihat kalian berdua sungguh hal tak terduga yang menyenangkan," sanggahnya.


"Apakah ini sisi lain dari dirimu yang belum ku ketahui?" tanya Ariel.


"Aku memiliki banyak hal yang belum kau ketahui, kau tau?" jawab Darcie menyeringai lebar.


"Lalu, katakan padaku!" ucap Darcie memandangi mereka berdua bergantian.


"Berbulan madu?" goda Darcie.


"Darimana kamu tau?" sambut Ariel.


"Jahat sekali," sindir Darcie memasang wajah sedih. "Kalian sudah tidak mengundangku, dan itu pertanyaanmu?" sambungnya.


"Bukan begitu maksudku," sanggah Ariel.


"Kami ingin mengundangmu, tapi kami tidak tau caranya untuk menghubungimu," terang Joel.


"Kau justru menjadi lebih jahat ketika tau kami menikah dan kamu tidak datang," sambung Ariel.


"Aku ingin sekali datang, tapi aku mengetahui pernikahan kalian di hari dimana aku sedang dalam perjalanan ke London," terang Darcie.


"Namun jika kalian memberiku kesempatan, biarkan aku memberikan kalian sesuatu sebagai hadiah pernikahan kalian," sambungnya.


"Tidak perlu. Dengan kamu memiliki niat untuk datang sudah lebih dari cukup," jawab Joel.


"Tidak,, tidak,, tidak,, aku akan tetap memberikannya, tapi sebelum itu, selamat atas pernikahan kalian," ucap Darcie mengulurkan tangannya.


Joel menyambutnya dengan hangat, begitu pula dengan Ariel.


"Jadi, kemana tujuanmu sekarang?" tanya Joel.


"Karibia, mereka_ah maksudku perusahaan yang kami ajak untuk menjalin kerjasama menerima tawaran kerjasama kami, dan meminta kami untuk datang agar bisa mentandatangani kontrak," kilah Darcie.


"Itu kabar baik, selamat untukmu," sambut Joel. "Dan kebetulan yang tak terduga," imbuhnya.


"Kebetulan?" ulang Darcie mengerutkan keningnya.


"Disanalah tujuan kami" jelas Joel.


"Apakah kamu yakin ini kebetulan, Bunny?" sela Ariel.


"Maksudmu?" sambut Joel dengan kening berkerut.


"Kamu yakin ini bukan dalih yang dia buat? Lihat saja bagaimana caranya tadi dia dengan sangat lancar berbohong pada orang itu," ucap Ariel menatap lekat Darcie yang juga menatapnya dengan mata melebar.


'Bagaimana dia bisa menebaknya dengan benar?' batin Darcie mulai merasa was-was.


Darcie menelan ludahnya, menatap Ariel dan Joel secara bergantian. Ia baru saja akan mengatakan permintaan maafnya sebelum akhirnya mendengar Joel terkekeh pelan.


"Pft,,, ha ha ha, kamu seharusnya melihat wajah mu sendiri," ucap Ariel di sela tawanya.


"Kamu terlihat seperti pencuri yang tertangkap basah," sambung Ariel.


"Dasar,,,! Aku sempat berpikir kamu tak percaya dengan alasanku datang ke karibia," jawab Darcie.


"Aku bahkan tidak memiliki alasan untuk tak percaya padamu," ucap Joel.


"Tapi, aku tak mengerti dengan satu hal," timpal Ariel.


"Apa?"tanya Darcie.


"Mencari peluang bisa dengan cara apa saja, kau tau?" sambut Darcie.


"Meski itu berakhir tidak menguntungkan, tapi selalu ada yang bisa kita dapatkan dari apa yang kita lakukan," terang Darcie.


"Baiklah,,, sekarang itu terdengar berat untuk di dengarkan," sambut Ariel.


"Ha ha ha,, aku akan mengatakan hal sama padamu ketika kamu membicarakan tentang musik," balas Darcie.


"Ah,,, aku jadi teringat akan sesuatu," ujar Darcie berhasil menarik perhatian Joel dan Ariel.


"Dalam beberapa minggu nanti, akan ada acara perayaan di perusahaanku, dan aku ingin mengundang kalian berdua untuk datang. Tapi, aku juga ingin mengundangmu untuk bermain piano atau alat musik yang kamu sukai," ucap Darcie menatap Ariel.


"Aku tak masalah dengan berapapun biaya untuk itu, karena aku mengundangmu sebagai Ariel Esther, bukan Ariel temanku,"


"Jadi,,, Uhm,, apakah kamu mau mempertimbangkannya?" tanya Darcie.


Ariel mengarahkan pandangannya pada Joel yang memberinya angggukan pelan.


"Kami akan usahakan untuk datang, tapi aku hanya akan bermain sebagai temanmu," jawab Ariel.


"Eehh,,?? T-Tapi,,, bagaimana jika orang-orang meremehkanmu?" sambut Darcie.


"Terima atau tidak sama sekali?" tanya Ariel.


"Aku sangat senang menerimanya, namun aku khawatir itu akan mempengaruhi image yang ada padamu," sanggah Darcie.


"Aku tidak menerima bayaran dari temanku sendiri," jawab Ariel. "Dan aku tidak datang sendirian, apa lagi yang harus kukhawatirkan?" imbuhnya.


Selama beberapa saat Darcie tertegun, ia memandangi pasangan yang berada didepannya secara bergantian.


'Mereka pasangan sempurna,' batin Darcie.


"Kamu adalah teman kami, dan yang kamu minta hanyalah permintaan sederhana," timpal Joel.


"Sikap kalian membuatku bertanya-tanya, bagaimana caranya kalian bisa bertemu?" tanya Darcie dengan wajah kagum.


"Aku sendiri juga bertanya-tanya kenapa kami bisa sampai sejauh ini," sambut Joel.


"Tolong jelaskan lebih spesifik lagi," pinta Darcie.


"Kami bertemu sebagai dokter dan pasien," ungkap Joel.


"Ahh,, aku mengerti. Ariel sakit dan kaulah dokter yang merawatnya, apakah begitu?" tanya Darcie.


"Benar," jawab Joel.


"Sungguh mengesankan, kurasa kisah kalian akan terdengar unik," sambut Darcie.


Mereka bertiga tertawa ringan bersama, tidak merasakan mereka telah lepas landas sejak beberapa menit yang lalu. Membawa mereka dan penumpang lain yang memiliki tujuan berbeda, beberapa dengan satu tujuan dan beberapa melanjutkan penerbangan lain setelah pesawat yang mereka naiki mendarat di bandara nanti.


Mereka kembali bertukar cerita seolah mereka telah mengenal satu sama lain dalam waktu yang lama. Tidak ada kecanggungan didalamnya.


Obrolan mereka mereda ketika Joel merasakan sedikit beban di bahunya, dan segera menyadari Ariel tertidur dengan bersandar di bahunya.


"Dia terlihat kelelahan," ucap Darcie pelan.


"Yah,,, itu mungkin karena di lelah ketika perjalanan darat yang kami lakukan," papar Joel tanpa memberikan penjelasan yang lebih spesifik.


"Kalau begitu, kau juga perlu beristirahat, lagipula penerbangan ini masih membutuhkan waktu beberapa jam lagi, mungkin kita akan sampai di tujuan pagi hari," saran Darcie tetap mempertahankan suara pelannya.


Joel mengangguk dan menyarankan hal yang sama. Tangannya beralih pada tombol sandaran kursi yang di duduki Ariel dan menurunkan sedikit sandaran. Semua gerakannya dilakukan dengan hati-hati, tidak ingin gerakan kecilnya justru membangunkan Ariel.


Darcie membantu mengambilkan selimut yang telah tersedia di kabin dan memberikannya pada Joel.


"Terima kasih banyak," ucap Joel.


"Bukan masalah," jawab Darcie tersenyum.


Darcie mengambil selimut lain untuk dirinya sendiri, menurunkan sandaran kursinya dan menyandarkan kepalanya, mencari posisi nyaman baginya untuk tidur.


Entah berapa lama Darcie tertidur, ia kembali terbangun dan melihat Joel dan Ariel masih terlelap. Joel bahkan tidak merubah sedikitpun posisinya hanya karena tidak ingin membuat Ariel terbangun.


'Kuharap, hubungan kalian akan bertahan selamanya,' gumam Darcie pelan.


Ia kembali menyandarkan kepalanya untuk tidur lagi, langit yang masih tampak gelap menandakan perjalanan mereka masih lama, hingga ia akhirnya kembali tertidur.


Beberapa pramugari berkeliling untuk memastikan tiap penumpang merasa nyaman dalam perjalanan mereka, merapikan posisi selimut beberapa penumpang yang tidak sengaja terjatuh, atau menawarkan minuman bagi penumpang yang masih terjaga.


Hingga, tanpa terasa waktu berjalan cepat, Joel terlihat sedikit mengeliat. Matanya sedikit terbuka dan melihat langit tidak lagi segelap sebelumnya.


"Sweety,,, bangunlah, kita hampir sampai," ucap Joel pelan sembari menepuk lembut pipi Ariel.


"Mhm,,,, apa kita sudah sampai?" tanya Ariel dengan suara parau.


"Masih belum, tapi aku yakin kau tidak ingin melewatkan ini," jawab Joel tersenyum.


"Melewatkan apa?" tanya Ariel.


Joel menunjuk jendela dengan dagunya, membuat Ariel membalikkan badannya menghadap jendela. Seketika matanya melebar, terpesona dengan apa yang ia lihat dari jendela.


....


.


To be Continued...