
Suara hembusan nafas panjang kembali terdengar disaat Ken masih memandangi foto yang ia letakkan di atas nakas. Foto bersama di hari pernikahan Ariel dan Joel.
Didalam foto itu, bukan hanya Ken, namun Bram, Jesica, Charlie juga turut berfoto bersama dengan pengantin yang berada di tengah sementara mereka berpose konyol.
Tiba-tiba, bayangan ketika Ariel berada dalam pengaruh obat yang membuatnya mencium bibir Ariel untuk pertama kali berkelebat didepan matanya.
"Arrgghh,,, apa-apaan ini?" geram Ken mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Itu sudah berlalu sangat lama, bagaimana bisa aku kembali mengingat kejadian bodoh itu?" rutuknya pada diri sendiri.
Ken membalikkan badannya, membelakangi foto yang berada di atas nakas dan berusaha untuk tidur. Melupakan semua bayangan yang terus berputar didepan matanya yang mencoba menyiksa dirinya.
...>>>>>>>>--<<<<<<<<...
Ditempat lain, Jesica baru saja keluar dari kantor ketika malam telah cukup larut. Wajahnya tampak lelah setelah semua pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini.
Ia baru saja akan berjalan menuju mobilnya ketika suara klakson mobil lain membuat dirinya menoleh. Sebuah mobil yang ia kenali berheti tak jauh dari tempatnya berdiri yang segera menurunkan kaca mobilnya.
"Naik!" titahnya.
"Dalam mimpimu," jawab Jesica menjulurkan lidahnya.
"Tck,," decaknya seraya keluar dari mobil dan menarik lengan Jesica.
"Apa-apaan kau, Bram! Lepas!" sentak Jesica.
"Sshh,,,, diamlah!" sambut Bram memelankan suaranya.
"Masuk kedalam mobilku, dan akan aku jelaskan," pinta Bram memasang wajah serius.
Melihat keseriusan diwajah Bram, ia menurut masuk kedalam mobil saat Bram membukakan pintu untuknya, Bram segera mengitari mobil dan masuk dari sisi lain dan duduk di belakang kemudi.
"Katakan! Ada apa?" tanya Jesica.
"Tidak ada," jawab Bram sembari menaikan bahunya dengan santai.
"Apa?" Jesica menyipitkan matanya.
Bram hanya tersenyum lebar sembari menjalankan mobilnya.
"Kau sudah sangat sering pulang larut dan dalam keadaan lelah. Aku hanya ingin mengantarmu pulang," ujar Bram tanpa beban.
"Kau,,,," desis Jesica kesal.
Jesica segera melayangkan kepalan tangannya di lengan Bram, merasa dirinya di permainkan.
"Aduh,, Hei,, sudah,, cukup!" keluh Bram sembari berusaha menangkis pukulan dari Jesica.
"Aku sedang mengemudi," ujar Bram lagi.
"Aku sedang tidak ingin bercanda," sungut Jesica.
"Aku tak bermaksud begitu," sanggah Bram.
"Aku hanya berpikir bagaimana kamu akan mengemudi dalam keadaan lelah seperti itu? Dan aku khawatir tentang itu," terang Bram.
"Berhentilah bersikap baik padaku!" pinta Jesica memalingkan wajahnya. "Itu hanya akan membuatku mengharapkan hal lebih dan aku tidak ingin kembali bersikap serakah," imbuhnya
Bram menepikan mobilnya, mengarahkan pandangannya pada Jesica yang enggan menatapnya.
"Aku tak bermaksud untuk menyakiti hatimu dengan sengaja, Jes. Dan aku tau ini akan terasa tidak adil bagimu karena kamu beranggapan bahwa apa yang aku lakukan sekarang hanyalah pengalih perhatian setelah pernikahan Ariel,"
"Aku tidak akan menyangkalnya, tapi hal itu juga tidak benar sepenuhnya," tutur Bram hati-hati.
"Aku melakukannya karena aku memang ingin melakukannya. Dan aku sekalipun tidak pernah menjadikanmu sebagai pelarianku semata,"
Perlahan Jesica mengarahkan pandangannya pada Bram. Sebuah ketulusan terlihat jelas dari matanya, namun ia justru merasa hal itu tak layak untuk ia dapatkan.
"Kau dan aku sama-sama terjebak dalam masa lalu dan menganggap aku tak layak untuk mendapatkan apa yang aku inginkan,"
"Tapi, seperti yang pernah Ariel katakan padaku, aku perlu berdamai dengan diriku sendiri. Hal itu juga berlaku untukmu," tutur Bram.
Jesica hanya diam, namun dalam hatinya membenarkan apa yang di katakan Bram. Bahkan Ariel juga mengatakan hal yang sama padanya.
"Kau tau? Setelah kau mengatakan bahwa ayahku sendiri yang menjadi penyebab dari rasa takut yang selama ini menghantui Ariel selama bertahun-tahun membuatku merasa, apa yang aku lakukan untuknya tak akan pernah cukup untuk menebus semua waktu yang telah dia habiskan,"
"Ariel sangat menyukai pantai, namun ketakutan ketika masuk kedalm air, dan hal terakhir yang menimpanya adalah, dia tengelam,"
"Namun, disaat yang sama, dia justru tidak menginginkan aku terus berada di posisiku saat ini, dan dia juga tidak ingin kau terus menekan dirimu sendri," papar Bram.
"Aku tau itu," sambut Jesica kembali memalingkan wajahnya.
"Dan aku juga tau, ayahku kembali menemuimu, juga mengancammu," ucap Bram kembali mengarahkan pandangannya ke depan dan menjalankan mobilnya.
Jesica menoleh dengan gerakan cepat, namun Bram tidak lagi melihat kearahya. Hingga keheningan terus berlangsung sampai Bram sampai di depan gerbang manison Jesica.
"Mobilmu ada di belakang, kau bisa minta penjaga keamanan atau siapapun untuk memasukan mobilmu," ucap Bram setelah menghentikan mobilnya.
"Terima kasih," ucap Jesica.
"Bukan masalah, dan maafkan aku jika sikapku justru membuatmu tidak nyaman. Aku akan berhenti melakukannya," tutur Bram memasang wajah serius.
"Aku sangat menghargainya, terima kasih, Bram," sambut Jesica. "Aku juga minta maaf telah bersikap kasar padamu, aku hanya lelah karena pekerjaanku," sambungnya.
"Aku sagat mengerti akan hal itu," sambut Bram.
"Aku tak melarangmu jika kamu ingin menemuiku, Bram. Terima kasih karena puduli padaku," tutur Jesica.
Bram mengangguk pelan, terus memperhatikan Jesica ketika dia akan keluar dari mobilnya dan di gantikan Sam setelahnya.
"Sampai jumpa," ucap Bram melambai ringan pada Jesica yang segera membalasnya.
Jesica masih terus berdiri didepan gerbang sembari nenatap kepergian Bram. Satu sisi hatinya, ia ingin terus tetap menjaga pertemanan dengan Bram.
Namun sisi hati lainnya ia juga merasa kesal padanya dimana ia hanya mengingat Ariel. Seberapa sering dan seberapa kuat ia bertahan rasaya tetap menyesakkan baginya meskipun ia bisa menerima alasannya.
"Pada dasarnya, aku memang telah melakukan kesalahan sejak awal, tapi aku tidak menyesalinya. Setidaknya, sekarang aku benar-benar bisa melindungi sahabatku dengan tanganku sendiri, bukan berada di posisi tidak berdaya seperti waktu itu," gumam Jesica pada dirinya sendiri.
"Selamat datang, nona. Anda pulang sangat larut hari ini," sapa pria paruh baya yang menjaga gerbang.
"Yah,,, terlalu banyak pekerjaan," jawab Jesica. "Ah,,, tolong masukkan mobilnya," sambungnya.
"Baik," sambutnya.
Jesica melenggang kedalam dan kembali di sambut ramah oleh butler yang sengaja menunggu majikannya pulang.
"Kenapa kau belum tidur, Steve?" tanya Jesica saat sang Butler mengambil alih tas milik majikannya.
"Saya menunggu anda, nona," sambutnya dengan senyum hangat menghiasi wajahnya.
"Kau tidak harus melakukannya ketika aku lembur, itu mengurangi jam tidurmu. Dan kau bangun lebih pagi dariku," tegur Jesica dengan wajah khawatir.
"Saya akan baik-baik saja, nona," sambut Steve.
"Belakangan ini anda menjadi lebih sibuk setelah acara pernikahan sahabat anda, tidakkah anda ingin bersantai meski sejenak saja, nona?" tanya Steve dengan nada khawatir.
"Setelah pekerjaan yang ini selesai, aku akan istirahat beberapa hari, jadi jangan khawatir," jawab Jesica.
Jesica masuk kedalam kamarnya diikuti Steve yang segera meletakkan tas majikannya di tempat penyimpanan setelah membersihkannya. Ia berpindah ke kamar mandi untuk mengisi air dan menyiapkan segala yang di butuhkan seperti biasanya.
"Air anda sudah siap, nona. Saya akan membuatkan anda minuman hangat dan membawakan anda kudapan ringan," ucap Steve.
"Terima kasih, Steve," sambut Jesica.
"Sudah menjadi tugas saya, nona," jawab Steve sopan.
"Saya permisi, nona," sambungnya sembari membungkukkn adanya dan melagkah keluar meninggalkan kamar Jesica.
"Hahhh,,, aku beruntung ada Steve yang mengurusku di sini. Tapi, Ariel selalu mengurus dirinya sendiri," gumamnya pelan.
Jesica melangkah ke kamar mandi, menenangkan diri dengan berendam sekaligus melepas lelah yang ia rasakan.
"Nona,,,"
Suara Steve terdengar dari balik pintu, menandaakan ia telah kembali.
"Ya?" sabut Jesica.
"Saya meletakan makanan di meja anda, tolong beritahu saya jika anda menginginkan sesuatu," ucap Steve.
"Tidak, Steve. Sudah cukup, kau bisa istirahat," jawab Jesica.
"Baik, saya undur diri. Anda bisa membangunkan saya jika anda membutuhkan sesuatu," balas Steve.
Hening. . . .
Jesica keluar dari kamar mandi setelah beberapa menit, duduk di tepi tempat tidur setelah meraih cangkir berisi teh yang masih mengepul.
"Chamomile,," ucap Jesica setelah menghirup aroma teh di tangannya.
"Dia bahkan tau aku sedang tidak bisa tidur, dan teh buatannya adalah yang terbaik,"
Ia menyesap teh ditangannya perlahan, aroma Chamomile menguar memenuhi indra penciumannya, dan membuatnya merasa ketegangan di ototnya mengendur.
"Kau sungguh yang terbaik, Steve," puji Jesica.
Jesica meletakkan cangkir di meja yang berada tak jauh dengan tempat tidurnya, dan kembali duduk di tepi tempat tidur. Memainkan ponselnya sebentar dan pergi tidur ketika merasakan kantuk yang datang lebih cepat dari biasanya.
...>>>>>>>--<<<<<<<<...
##Di Hotel. Pagi hari.
Joel masih terlelap dibawah selimut ketika tiba-tiba tanganya bergerak meraba-raba disisi tempat tidur disampingnya yang ternyata telah kosong. kedua matanya seketika terbuka lebar, dan ia tidak menemukan siapapun disisinya.
....
To be Continued...
Penjelasan:
Teh Chamomile\=> Teh Chamomile sangat efektif untuk membuat seseorang mudah mengantuk, mengurangi kecemasan, mengendurkan otot, meredakan gejala flu dan meningkatkan kualitas tidur.