I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
145. Kabar bahagia lain



Suara bel pintu apartemen Ariel berbunyi ketika hampir tiba waktunya makan malam. Ariel bergegas membuka pintu sementara suaminya masih sibuk menyiapkan meja.


Tepat ketika pintu terbuka, Jesica segera memeluk sahabatnya begitu ia melihat Ariel yang membuka pintu.


"Ahh,, sudah lama sekali,," ujar Jesica.


"Kita bahkan bertemu ketika acara Darcie malam itu," sambut Ariel membalas pelukan Jesica.


"Dan itu sudah cukup lama bagiku," jawab Jesica.


"Kamu terlihat baik, Bram," ujar Ariel setelah melepaskan pelukan Jesica.


"Jauh lebih baik," jawab Bram.


'Lebih tepatnya, sangat baik, bukankah begitu?" sela Joel yang muncul dari belakang Ariel masih memakai apron.


"Astaga, apakah pesta malam ini adalah masakan si mata empat_Aduh,," Bram mengaduh saat Jesica menyikut perut Bram.


"Apa sih," sungut Bram.


"Seharusnya kau melihat wajah orang didepanmu ketika mengatakan itu," ucap Jesica.


Mendengar hal itu, Bram beralih menatap Ariel yang tengah mengerucutkan bibirnya dengan mata menatapnya.


"Ha ha ha,, baik,, baik,, aku hanya bercanda, Ariel," sambut Bram mengangkat kedua tangannya segera mengerti maksud Ariel. "Kau tau aku sangat menikmati masakannya bukan?" imbuhnya.


"Sweety, biarkan mereka masuk dulu, kenapa berdiri didepan pintu begitu?" saran Joel.


"Bisakah kita menendangnya saja?" tanya Ariel menunjuk Bram. "Dia tidak pernah berhenti bersikap menyebalkan," imbuhnya.


"Dan Jesica juga akan pergi bersamanya," balas Joel.


"Kenapa begitu?" sambut Ariel tidak setuju.


"Lihatlah baik-baik jari tangan Jesica, kurasa hubungan mereka meningkat dengan sangat cepat," ujar Joel tersenyum.


Ariel segera mengangkat tangan Jesica dan melihat cincin tersemat di jari manisnya membuat kedua matanya membulat sempurna.


"Aahhhh,,,, Jessi,,," pekik Ariel girang sembari memeluk erat Jesica.


"Ayo masuk, dan Bram tutup pintunya!" perintah Ariel seenaknya.


"Benar-benar, siapa sangka aku mengundang kalian justru menjadi seperti perayaan untuk kalian berdua," ucap Joel ketika mereka duduk disofa.


Joel menyuguhkan minuman untuk kedua sahabatnya, lalu melepas apron yang menempel ditubuhnya.


"Sekarang aku penasaran dengan cerita kalian," ucap Joel duduk di samping Bram.


"Seperti kapan merencanakan hal selanjutnya, dan tentu saja kami akan membantu," ucap Joel.


"Hal pertama, kami harus mempertemukan kedua orang tua kami," jawab Bram.


"Ahh,,, tentu saja. Keadaan kalian berbeda dengan kami. Orang tua kalian tentu saja turut andil dalam hal ini," sambut Joel.


"Kami bisa membantu menyakinkan kedua orang tua kalian, bagaimana?" tawar Joel.


"Yap,,, dan aku juga akan membantu dengan cara apapun," timpal Ariel.


"Tentu saja kamu akan seperti itu," sambut Jesica tertawa ringan.


"Baiklah, sekarang kita nikmati hidangannya, anggaplah sebagai ucapan selamat untuk kalian berdua," ujar Joel tersenyum lebar.


"Terkadang sangat menyebalkan saat kami tidak bisa menyembunyikan apapun dari kalian berdua namun kalian sangat pandai menyembunyikan berbagai hal dari kami," jawab Bram dengan gerutuannya.


"Karena kau terlalu payah menyembunyikan perasaanmu," jawab Joel.


"Ya,,, ya,,, ya,,, bahkan jawabanmu sama dengan jawaban Ariel seperti bisanya," balas Bram.


Mereka memulai makan malam mereka dengan ditemani obrolan ringan, seolah merayakan kabar baik yang mereka dapatkan. Sesekali bercanda dan saling menimpali perkataan satu sama lain.


Sampai ketika Bram melihat kue yang Joel buat pagi ini dan berniat untuk membuka penutupnya, Joel gagal mencegah Bram untuk tidak memakannya disana.


"Tunggu,, jangan makan itu disini!" ujar Joel.


"Kenapa? Apa kau tidak ingin menyajikan ini?" jawab Bram sembari memasukan kue itu kedalam mulutnya.


"Bukan begitu," sanggah Joel. "Aku justru ingin kamu membawa semua kue itu pulang," sambungnya.


Namun Bram justru kembali memakannya seolah tak peduli.


"Hei,, tolonglah, berhenti memakannya disini," tegur Joel tidak sabar saat Bram kembali memakan kue nya.


"Karena ini favorit istrimu?" tanya Bram.


"Ariel,, kamu kenapa?" tanya Jesica cemas.


Mendengar suara itu, Joel serta Bram segera menoleh dan melihat Ariel melesat ke kamar begitu saja. Meninggalkan raut wajah bingung dua sahabatnya.


"Hahhh,,," desah Joel. "Padahal dia baru makan malam ini setelah seharian tidak mau makan," keluhnya.


"Apakah Ariel marah karena aku memakan ini?" tanya Bram merasa bersalah.


"Bukan," jawab Joel menutup rapat kembali kotak kue dan memberikannya pada Bram.


"Bantu aku menghabiskan ini dan bawa keluar, jangan memakannya disini karena dia tidak menyukai aromanya," terang Joel.


"Bukankah dia menyukai ini? Bahkan Charlie juga tau tentang itu," tanya Bram bingung.


"Sebentar," ujar Joel meninggalkan sahabatnya untuk menyusul Ariel.


"Apa kau sakit?" tanya Jesica cemas. "Sekarang kamu terlihat agak pucat," imbuhnya.


"Tidak," jawab Ariel tersenyum.


"Sebenarnya, kami mengundang kalian karena ingin mengatakan ini. Tapi kalian juga memberi kami kejutan dengan hubungan kalian," tutur Joel.


"Aku tak akan memakan kuenya lagi jika kamu mempermasalahkan hal itu," ucap Bram.


"Sudah ku bilang bukan itu," jawab Joel.


"Lalu apa?" sela Jesica tak sabar.


"Ariel tengah mengandung, dan dia akan mual hanya dengan aroma kue yang kubuat pagi ini," ungkap Joel.


Bram dan Jesica melebarkan mata mereka, memberikan Ariel tatapan bertanya yang sama tentang apa yang di ungkapkan Joel pada mereka. Begitu melihat Ariel mengangguk, Jesica segera memeluk sahabatnya dan memberikan ucapan selamat untuk mereka berdua.


"Jadi, kau bawa saja kuenya," ujar Joel lagi.


"Tapi, jika dia tidak suka aromanya, kenapa kamu membuatnya?" tanya Jesica.


"Semula aku juga tidak tau kalau dia akan berbalik arah menjadi tidak suka kue ini. Tapi setelah kue ini baru saja keluar dari pemanggang, Ariel memberikan reaksinya," terang Joel.


"Begitu rupanya," jawab Bram.


"Jadi, sekarang apa? Apakah kamu ingin sesuatu yang lain?" tanya Bram merasa bersalah.


"Aku bisa mencarikan apapun yang ingin kamu makan, Ariel," ucap Bram.


"Tidak, aku kurang berselera sekarang," jawab Ariel.


"Dan ini bukan karenamu, okey?" tambahnya.


"Tapi_,,,"


"Ayolah,,, aku sedang bahagia dengan hubungan kalian, jadi jangan merusaknya!" potong Ariel.


"Sebagai gantinya, kalian harus memberi kami kabar tentang rencana kalian selanjutnya," pinta Ariel.


"Baiklah," jawab Bram.


Mereka kembali mengobrol menghabiskan waktu malam mereka hingga tiba saatnya bagi Bram dan Jesica untuk pamit pulang.


Ariel mengantarkan kepulangan mereka didepan pintu apartemen, terus memandangi mereka hingga mereka masuk kedalam lift dan pintu lift tertutup.


Ariel menuju meja untuk membereskan meja, namun gerakan tangannya terhenti saat Joel bergerak lebih cepat menghentikan tangannya.


"Apa yang kamu pikir akan kamu lakukan, Sweety?" tanya Joel.


"Hanya membereskan ini, bukankah adil jika aku membersihkannya disaat kamu sudah memasak semuanya?" sambut Ariel.


"Tidak, aku bisa melakukannya sendiri, istirahat saja. Bukankah besok kamu juga ada jadwal untuk melatih?" tanya Joel.


"Itu memang benar, tapi kan_,,,"


"Duduk saja jika memang ingin membantuku. Itu sudah lebih dari cukup," potong Joel.


"Baiklah, kamu menjadi lebih suka memerintah sekarang," sungut Ariel.


"Sebut aku apa saja sesukamu, tapi aku tetap tidak mengijinkan kamu melakukan pekerjaan," tegas Joel.


"Kamu bahkan tidak makan apapun mulai dari pagi tadi hingga sekarang," keluhnya.


"Aku kan tadi makan," jawab Ariel.


"Dan mengeluarkannya lagi?" balas Joel.


"Baik,, baik,, aku tidak melakukan pekerjaan dan akan menunggumu sampai selesai," jawab Ariel.


Joel mulai membersihkan meja dan mencuci semua peralatan makan yang kotor, sementara Ariel duduk disofa menunggu suaminya selesai untuk masuk ke kamar bersama.


...>>>>>>>--<<<<<<<<<...


Hari berlalu dengan cepat, setelah berusaha meyakinkan orangtua Jesica dan juga Bram, kedua belah pihak akhirnya setuju dengan pernikahan anak mereka.


Joel yang terus meyakinkan orang tua Jesica membuahkan hasil manis, begitu pula Ariel yang berusaha meyakinkan orang tua Bram yang tidak lain adalah Mr.Evrad.


Setelah mendapatkan lampu hijau dari orang tua mereka, mereka akhirnya menentukan tanggal pernikahan mereka. Kehamilan Ariel yang semakin telihat dengan perutnya yang mulai membesar seolah tidak menghentikannya untuk membantu sahabatnya mengurus persiapan pernikahan.


Ariel hampir menghabiskan semua waktu siangnya untuk membantu Jesica. Pergi ke berbagai tempat untuk memilih perlengkapan yang terbaik.


Hari itu, Joel baru saja selesai membantu Bram untuk meninjau lokasi acara, sementara Ariel mengurus undangan serta sovenir. Hingga membuatnya lupa waktu dan Joel menjemputnya di kediaman Jesica ketika hari telah gelap.


"Jo, tidak bisakah kamu mengatakan padanya untuk berhenti membantuku?" bisik Jesica ketika melihat Joel datang untuk menjemput istrinya.


"Aku sudah mencoba segala cara, tapi dia menjadi lebih keras kepala dari sebelumnya," balas Joel dengan berbisik.


"Aku sangat khawatir dia kelelahan, meski aku tidak melihatnya sampai sekarang bahwa dia lelah, tapi tetap saja," ucap Jesica lagi.


"Dia bahkan sekarang sangat dekat dengan Steve," imbuhnya seolah memancing Joel agar melarang istrinya dalang lagi ke rumah Jesica.


,,,,,


,,,,,


To be Continued...