
Joel berseru panik ketika tiba-tiba Ariel terkulai dipelukannya.
Tubuhnya mengigil seolah kedinginan, namun suhu tubuhnya panas tinggi. Wajahnya berubah pucat.
"Heii,, Ariell,," Joel menepuk pelan pipi Ariel, namun tidak memberikan reaksi apapun.
Segera ia mengangkat tubuh Ariel dan membawanya ke kamar, membaringkannya ditempat tidur dan menyelimutinya.
Joel melihat kamar Ariel dimana disampingnya ada banyak bekas tissu, dan juga gelas berisi air putih yang hampir habis. Ponselnya diletakkan ditempat tidur dalam keadaan terbalik dan sedikit ditutup bantal.
'Sejak kapan dia sakit?' batin Joel.
Ia bergegas mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres, tangannya juga memeriksa denyut nadinya. Selesai dengan itu, Joel mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
"Maaf menghubungimu tiba-tiba, tapi bisakah kamu antarkan beberapa obat demam dan flu untukku? Aku akan mengirimkan lokasinya," harap Joel.
Sesekali matanya melirik Ariel yang tampak mengigil, dan mengeluarkan banyak keringat.
"Dengan senang hati, ada lagi yang harus saya bawakan untuk anda, dokter?" suara diponsel Joel kembali bertanya.
"Satu set infus, itu saja," jawab Joel.
"Baik, saya akan secepat mungkin untuk sampai," jawabnya sopan.
Joel mengakhiri panggilannya dan kembali menghampiri Ariel. Tangannya meraih handuk yang ia letakkan didahi Ariel. Mengulang mencelupkannya kedalam air dan memerasnya, lalu kembali meletakkan didahi Ariel lagi.
"Bagaimana bisa kamu demam tinggi seperti ini?" desis Joel antara rasa khawatir dan menyalahkan diri sendiri.
Joel meninggalkan Ariel untuk menunggu obat yang akan diantarkan perawat yang selalu mendampinginya dibawah. Tangannya terus bergerak tidak sabar ketika yang ia tunggu tidak kunjung datang.
"Maaf dokter, membuat anda menunggu, ini yang anda minta,"
Seorang wanita masih mengenakan pakaian perawat menghampiri Joel yang menunggu dihalaman apartemen Ariel. Ia menyerahkan sebuah tas medis pada Joel yang segera menerimanya dengan wajah lega.
"Terima kasih, aku sangat terbantu," ucap Joel.
"Kalau begitu, saya pamit untuk kembali ke rumah sakit," pamit si perawat.
"Ya, sekali lagi terimakasih," ucap Joel.
"Bukan masalah, dokter. Saya senang bisa membantu anda," sambutnya.
Perawat itu kembali masuk kedalam mobil dan berlalu pergi.
Joel bergegas kembali naik ke apartemen Ariel dan menuju kamarnya. Ia memasang infus dan menyuntikkan obat ke tubuh Ariel.
Kain kompres ia biarkan begitu saja dan keluar dari kamar menuju dapur.
"Bagaimana dia tidak sakit jika hanya makan ini," gerutu Joel saat melihat semangkuk cereal yang tidak jadi Ariel makan, dan tidak ada tanda-tanda Ariel membuat sesuatu atau memesan makanan di luar.
"Dia saja tidak makan dengan benar," imbuhnya.
Joel mulai membuka tiap lemari untuk melihat bahan apa saja yang ada didalamnya, berharap ada sedikit bahan untuk membuat sesuatu.
Kentang, telur, fillet dan paterseli. Joel meletakan semua bahan dimeja counter, menghidupkan kompor untuk mengukus kentang yang telah ia kupas dan cuci bersih sebelumnya.
Ia juga memotong beberapa bawang dan paterseli menjadi potongan halus. Kentang yang telah matang ia lumatkan dengan campuran telur, dan beralih menumis bawang dengan sedikit minyak.
Memasukkan potongan kecil fillet yang telah di rebus sebentar, dan memasukan kentang yang telah dilumatkan juga air kaldu untuk membuat tekstur makanannya menjadi lebih cair.
Setelah merasa semua telah matang sempurna, ia menaburkan paterseli di atasnya.
Joel segera mencuci tangannya dan kembali kekamar Ariel untuk melihat keadaannya. Ia meletakkan punggung tangannya di pipi Ariel, dan tidak merasakan perubahan apapaun.
Dengan hati-hati, Joel menarik kursi yang beraada tak jauh darinya untuk duduk disamping tempat tidur. Tangannya mengenggam tangan Ariel, lalu mengecupnya lembut.
"Cepatlah bangun, Sweety, kumohon," harap Joel.
>>>>>>>--<<<<<<<
Kedatangan Gerry yang menjadi teman Ariel ke ruang latihan Ariel sedikit membuat Ken terkejut. Menurutnya itu bukan hal yang biasa terjadi. Namun, Ken lebih terkejut ketika Gerry mengatakan Ariel sakit dan tidak bisa melatih.
"Kalian bisa tetap latihan, hanya saja tolong tetap mematuhi aturan. Karena apapun yang terjadi hari ini tetap menjadi tanggung jawabnya meskipun Ariel tidak datang," jelas Gerry.
"Baik," jawab mereka serentak.
"Pantas saja kak Ariel masih tidak datang sampai sekarang," gumam salah satu dari mereka.
"Mau mengunjunginya?" ajak yang lain.
"Kau tau dimana kak Ariel tinggal?" timpal teman lain.
"Tidak, tapi mungkin Ken tau sesuatu," jawabnya sembari melirik Ken yang tengah melamun.
'Apakah kakak baik-baik saja? Sakit apa? Beberapa hari kemarin aku hanya merasa kakak terserang flu ringan, dan aku pikir itu bukan hal besar. Aku juga masih belum bisa menyapa kak Ariel sampai sekarang. Apakah sebaiknya aku kesana? Tapi bagaimana jika kak Ariel marah padaku?'
Perdebatan panjang berlangsung didalam pikiran Ken, hingga ia tidak mendengar teman-temannya berulang kali memanggil namannya.
"Hei!! KEN!!" salah satu dari mereka menguncang bahu Ken.
"Ada apa denganmu?" tanyanya.
"Jelas-jelas pikiranmu tidak berada disini, masih mencoba mengelak," gerutunya.
"Apa kau tau dimana kak Ariel tinggal?" tanyanya.
"Aku tau, kenapa?" jawab Ken balas bertanya.
"Bisakah kami meminta alamatnya? Atau kau mengatarkan kami kesana. Kami ingin berkunjung sekalius menjenguknya," pinta mereka.
"Kenapa kalian tidak meminta pada coach Gerry saja," saran Ken.
"Aku tau, tapi kalau kamu juga tau alamatnya, kami lebih nyaman bertanya padamu," jawabnya beralasan.
"Disini hanya kamu yang dekat dengan kak Ariel, selain Oliver dan Gina tentunya. Tapi Gina dan Oliver sedang tidak ada disini," timpal yang lain.
"Apa kalian yakin kak Ariel akan menyukai ide kalian dengan berkunjung bersama-sama seperti itu?" tanya Ken.
Pertanyaan Ken membuat mereka terdiam dan berpikir sejenak. Mereka mengenal Ariel sebagai orang yang tegas. Meskipun sangat jarang melihatnya marah, namun ketika marah siapapun tidak ada yang berani mengangkat wajahnya untuk menatap Ariel.
"Selama ini, kak Ariel hanya benar-benar marah karena memang seseorang melakukan kesalahan, kami hanya mengunjuginya karena mendapat kabar sakit, aku yakin kak Ariel tidak akan marah," salah satu dari mereka membuka suara yang segera disetujui oleh yang lain.
"Aku tidak mengatakan kakak akan marah, tapi aku bertanya apakah kalian yakin kak Ariel akan menyukainya?" ulang Ken.
"Aku memang tidak begitu yakin, tapi jika kedatangan kami membuat kak Ariel tidak nyaman, aku akan pergi. Jadi aku ingin tetap mengunjungi kak Ariel," jawabnya tegas.
Ken hanya menghembuskan nafas panjang, dan setuju untuk mengantar mereka siang nanti di jam istirahat jadwal latihan mereka.
Ken menjelaskan Ariel baru pagi ini mengatakan tidak enak badan, dan tentu saja akan memerlukan istirahat, dengan alasan itu cukup membuat mereka mengangguk mengerti dan tidak mendesak untuk segera kesana.
Mereka meneruskan latihan mereka, namun tidak demikian dengan Ken. Pikirannya hanya tertuju pada Ariel. Ia juga terus menyalahkan dirinya sendiri jika mengingat kejadian di malam beberapa hari yang lalu.
Ia terus menghindari Ariel bahkan ketika Ariel menghampirinya, atau sekedar ingin menanyakan sesuatu saja Ken terus menghindar.
'Lebih baik aku minta maaf dari pada terus-terusan gelisah seperti ini, dan membuat kak Ariel berpikir kakak melakukan kesalahan hingga aku menghindarinya. Padahal akulah yang melakukan kesalahan. Saran dari kak Joel juga sangat masuk akal,' batin Ken.
Ken berusaha mengalihkan perhatiannya dan mulai memainkan Cello ditangannya. Berlatih bersama teman-temannya tanpa Ariel yang biasa mendampingi mereka.
>>>>>>>--<<<<<<<
Sentuhan lembut ditangan Ariel membuat ia perlahan membuka matanya, bertanya-tanya siapa yang tengah mengenggam tangannya.
Mengerjapkan matanya, Ariel melihat sekeliling dan menyadari ia masih berda dikamarnya.
'Apakah aku yang menemui Joel hanya mimpi?' batin Ariel.
Namun, beberapa saat kemudian, ia menyadari sesuatu menempel didahinya, dan tertegun ketika melihat pergelangan tangannya telah terpasang infus.
Joel tertidur dengan posisi duduk membungkuk dengan kepala di atas tempat tidurnya, menghadap kearahnya.
"Apakah kamu tidak tidur semalaman? Kamu terlihat lelah," ucap Ariel pelan.
Tagannya tergerak untuk menyentuh pipi Joel, gerakan lembutnya justru membuat Joel terbangun dan menegakkan tubuhnya ketika melihat Ariel menatapnya.
"Kamu sudah bangun?" sambut Joel lega.
"Maaf, sudah membangunkanmu," sesal Ariel.
"Aku justru berharap kamu melakukannya," sambut Joel tersenyum.
Tangan Joel meraih handuk kompres didahi Ariel, namun ia merasakan suhu tubuh Ariel masih belum ada perubahan.
"Demammu masih belum turun, kita ke rumah sakit saja, ya?" bujuk Joel.
Ariel mengeleng lemah, merasakan pandangannya kembali berputar.
"Aku tidak ingin kesana," jawabnya.
"Kalau begitu, makan dulu, dan minum obatnya, tunggu sebentar," ucap Joel segera bangun dari duduknya dan keluar kamar.
Beberapa saat kemudian, Joel kembali dengan nampan berisi mangkuk dan segelas air, juga beberapa obat.
"Aku membuat ini sebelum kamu bangun, makanlah meski sedikit," bujuk Joel.
Joel membantu Ariel duduk dan meletakkan bantal dipunggung Ariel untuk bersandar. Sementara Ariel terus menatap Joel yang memperlakukannya dengan sangat hati-hati.
"Kenapa kamu tidak pulang?" tanya Ariel.
"Aku tidak ingin pulang tanpa melakukan apapun, aku ingin menjelaskannya lebih dulu padamu," jawab Joel mulai menyuapi Ariel.
"Tapi aku bahkan tidak membuka pintu untukmu, kenapa kamu harus menunggu semalaman?" tanya Ariel lagi.
"Karena aku tidak ingin kehilanganmu," jawab Joel menatap manik mata Ariel dengan kesungguhan.
Ariel terdiam selama beberapa saat, tersentuh dengan pengungkapan Joel padanya. Sedetik kemudian, ia tersenyum.
"Sejujurnya, aku sudah memaafkanmu,"
...>>>>>>>--<<<<<<<...