
Beberapa hari kemudian. . . . .
Hari-hari berlalu begitu saja. Beberapa hari itu juga Jeol masih bisa menghindari bertemu dengan Jesica sejak Charlie memperingatkannya tentang Jesica.
Joel tengah duduk diruangannya dengan sebuah jurnal didepannya. Tangannya memainkan pena, sementara tangannya yang lain mengetuk-ngetuk meja. Tatapan matanya menerawang.
Sesekali matanya melihat jam pada pergelangan tangannya, dan tersenyum setelahnya.
"Kurasa Seth sudah datang di jam seperti ini. Aku bisa pulang," gumam Joel tersenyum tipis.
Saat Joel merasa lega karena berpikir tidak akan bertemu dengan Jesica, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dengan kasar. Memperlihatkan sosok wanita berparas cantik dengan rambut ikal yang dibiarkan terurai.
Senyum lebar segera menghiasi wajahnya begitu melihat Joel berada diruangan yang ia buka.
"JOELLL,,,!" seru wanita itu girang.
"Jesica,,,!" desis Joel kaget.
"Akhirnya aku menemukanmu," pekik Jesica.
Jesica segera berlari kearah Joel dan memeluknya tanpa peduli dengan sekitarya.
"Kenapa sangat sulit untuk menemuimu?" keluh Jesica.
"Apakah kau tau berapa banyak waktu yang kugunakan untuk bisa kembali menemuimu? Saat kita bertemu terakhir kali, aku terus mencarimu. Aku bahkan selalu datang kerumah sakit ini, tapi selalu gagal untuk menemuimu," papar Jesica.
"Aku merindukanmu, Joel," ungkapnya masih belum melepaskan pelukannya.
Joel bergeming. Hatinya bergemuruh menahan emosinya. Matanya menatap lurus kedepan, tidak ingin bertatapan dengan Jesica.
"Joel,,," panggil Jesica melonggarkan pelukannya dan mendongak menatap Joel.
"Kenapa kamu diam saja? Tidakkah kamu merindukaanku?" tanya Jesica memasang wajah cemberut.
"Tidak," jawab Joel dingin.
"Joel,,," sentak Jesica melepaskan pelukannya.
"Apa maksudmu?" tanya Jesica.
"Aku tidak pernah berharap untuk bertemu denganmu lagi," jawab Joel mengarahkan pandangannya pada Jesica.
Joel menatap dingin Jesica yang kini berdiri didepannya, sementara Jesica sendiri terkejut dengan sikap Joel yang masih kasar padanya setelah terakhir kali mereka bertemu. Joel bahkan lebih dingin dari sebelumnya. Tidak ada sedikitpun senyum di bibirnya.
"Jangan menatapku seperti itu, Joel,!" keluh Jesica. "Itu menyakitkan," sambungnya.
" Kau benar, aku tidak seharusnya menatapmu seperti itu," jawab Joel.
"Tentu saja," sambut Jesica tersenyum senang.
Joel berbalik dan meraih telepon diatas mejanya. Menekan tombol dan meletakkan gagang telepon ditelinganya.
"Elena, tolong minta dua security untuk datang keruanganku!" pinta Joel ketika panggilan teleponnya terhubung.
"Baik, dok," jawab Elena dari seberang telepon.
Joel meletakkan gagang telepon dan kembali menatap Jesica dengan wajah datar.
"Aku seharusnya melakukan itu sejak awal," ucap Joel.
"Sekarang kau memiliki waktu untuk pergi dengan kakimu sendiri, atau menunggu security datang menjemputmu," tantang Joe.
"Joel,,,!!!" sentak Jesica menghentakkan kakinya.
"Apa maksudmu melakukan ini?" geram Jesica.
"Apakah itu kurang jelas?" jawab Joel menaikan alisnya.
"Kau cukup cerdas untuk memahaminya bukan?" sambungnya.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini?" tanya Jesica meninggikan suaranya.
"Kau sudah tau semua jawaban dari pertanyaanmu,!" jawab Joel datar.
"Joel,,, ayolah, aku minta maaf. Aku menyesalinya," ucap Jesica memelas.
"Kau bahkan tidak terlihat menyesal sama sekali atas apa yang telah kamu lakukan," sambut Joel.
"Apa yang sudah aku lakukan hingga kamu semarah ini?" tanya Jesica.
"Apa yang belum kamu lakukan," balas Joel.
"Apa maksudmu, Joel? Aku tau aku salah, dan aku minta maaf. Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya," pinta Jesica.
"Aku tau kamu tidak bersungguh-sungguh mengatakan hal itu, jesica. Kau sedikitpun tidak menyesal atas apa yang telah kau lakukan," tutur Joel tenang.
"Apakah kau mencintai wanita lain?" tebak Jesica meyipitkan matanya.
"Ya," tegas Joel.
"Mustahil," sambut Jesica. "Kau tidak boleh mencintai wanita lain selain aku," sambungnya.
"Jangan bertingkah konyol," sergah Joel.
"Kau tidak berhak menentukan siapa yang harus dan tidak untuk kucintai," sambungnya.
Tok,,,
Tok,,,
Tok,,,
Suara ketukan pintu menghentikan perdebatan mereka.
"Masuk," ucap Joel.
Pintu terbuka dan memperlihatkan dua securty di balik pintu.
"Permisi,," sapa seorang pria sopan. "Apakah anda memanggil kami, dokter?" tanyanya.
"Ya, tolong antar nona ini keluar. Dia menganggu ketenangan pasien yang sedang beristirahat. Dan tolong pastikan nona ini tidak kembali masuk kedalam rumah sakit ini," papar Joel.
"Kau benar-benar mengusirku, Joel?" tanya Jesica membelalakan matanya.
"Ya," tegas Joel.
"Dan kuharap kau tidak lagi datang menemuiku setelah ini," harap Joel.
Dua Security itu segera memegangi tangan Jesica dan berniat membawa Jesica agar meninggalkan rumah sakit. Namun saat tangan security berhasil memegang tangannya, Jesica segera menepis tangan mereka dengan kasar.
"Tidak menemuimu?" tanya Jesica mengarahkan pandangannya pada Joel. "Itu tidak akan terjadi," ucap Jesica bersikeras.
"Nona, tolong tinggalkan tempat ini," pinta salah satu security pada Jesica.
"Hei,,, Joel,, ada apa ini? Kenapa ada dua security disini_,,,,"
Sebuah suara pria lain menyela dan mengalihkan perhatian mereka. Pria itu mengantung kalimatnya ketika telah berada di dalam dan melihat Jesica berada disana.
"Bram,,?"
"Jesica,,?"
Baik Bram maupun Jesica sama-sama terkejut hingga tanpa sadar memanggil nama satu sama lain.
Bram menatap Jesica detik berikutnya mengarahkan pandangannya pada Joel yang masih terlihat jelas amarah menghiasi wajahnya.
"Apa yang kau lakukan disini, Bram?" tanya Jesica sedikit panik.
"Cih,,, apakah menurutmu kau pantas untuk mendapatkan jawabannya?" cibir Bram.
"Kalau begitu, pergilah!" usir Jesica.
" Sangat lucu, dilihat dari situasinya, kaulah yang seharusnya pergi dari tempat ini," sindir Bram.
"Bukankah dengan adanya dua security disini untuk membantumu keluar? Sepertinya kamu membuat keributan," sambungnya.
"Kalian saling mengenal?" sela Joel berjalan menghampiri Bram.
"Yah,, tentu,, aku SANGAT mengenalnya," jawab Bram tidak melepaskan pandangannya pada Jesica.
'Sial,,, kenapa dia masih disini? Apakah itu karena Ariel? Atau justru karena_,,,' batin Bram.
Bram melirik Joel yang kini berada tidak jauh darinya. Membaca reaksi diwajahnya. Mata Joel menatap Jesica dengan menahan amarah.
'Sekarang aku mengerti, Jesica berada disini karena Joel. Jangan sampai Ariel tau tentang hal ini,' pikir Bram.
"Jadi, apakah security disini untuk mengusirnya?" tanya Bram pada Joel.
"Yah,,, tapi sepertinya akan ada drama panjang disini," desah Joel.
"Tidak akan, akan sangat mudah mengusirnya," sambut Bram.
"Kau tidak bisa mengusirku begitu saja, Bram," sentak Jesica.
"Kenapa tidak?" cibir Bram menaikan alisnya.
"Joel adalah temanku disini, apakah menurutmu aku akan membiarkannya bersama wanita sepertimu?" sindir Bram dengan seringai menghiasi wajahnya.
"Jangan mencampuri urusanku," dengus Jesica.
"Jika Joel termasuk didalam urusanmu, maka aku akan berada didalamnya," sambut Bram tegas.
"Jadi, lebih baik kau segera pergi dari sini," usir Bram.
"Bukan kau yang menentukan aku harus pergi dari sini," sambut Jesica kesal.
"Tck,,, Kau ingin pergi dengan kakimu sendiri atau kau ingin lebih dulu mendengar aku membuka semua tentangmu disini dengan security sebagai tambahan pendengarnya?" ancam Bram mulai kesal.
"Kau_,,," degus Jesica mengacungkan telunjuknya.
Matanya melebar karena marah. Namun di detik berikutnya matanya juga melirik pada security dibelakangnya, lalu beralih pada Joel yang juga tengah menatapnya tanpa ekspresi.
'Ini akan menjadi lebih sulit,,, Tck,,, sial,, aku sama sekali tidak tau kalau mereka berteman,' batin Jesica.
Jesica menghentakkan kakinya lalu pergi dengan langkah gusar. Meninggalkan wajah bingung pada dua security dan Joel. Karena Jesica pergi dengan mudah hanya dengan ancaman dari Bram.
Security itu segera pamit dan mengikuti Jesica dari belakang, memastikan Jesica benar-benar pergi meninggalkan rumah sakit.
"PLAKK,,,,!!!"
Suara tamparan dibahu Joel terdengar nyaring, hingga Joel mengeluh saat merasakan panas ditempat Bram memukulknya.
"Apa-apaan kau ini?" geram Joel.
"Jangan bilang kalau kau juga pernah menjalin hubungan dengan wanita gila itu," ujar Bram.
"Juga?" Joel menaikkan alisnya. " Maksudmu kau juga,,,?" Joel bertanya tanpa menyelesaikan kalimatnya.
"Ya," jawab Bram tegas.
"APAAA,,,,???" seru Joel melebarkan matanya.
"Ini benar-benar masalah," gumam Bram mengabaikan keterkejutan Joel.
"Apa maksudmu?" tanya Joel.
"Ada urusan apa Jesica disini?" Bram balas bertanya.
"PLAKK,,,!"
"Aarhh,,, Apa sih?" sungut Bram saat kepelanya dijitak Joel.
"Kau terus saja mengabaikan pertanyaanku," dengus Joel.
"Jawab saja dulu pertanyaanku," balas Bram.
"Haahhh,,," desah Joel.
"Dia meminta untuk memperbaiki hubungan kami yang telah terputus," ungkap Joel.
"Dan kau menolak?" tanya Bram.
"Tentu saja," jawab Joel cepat.
"Bagus," sambut Bram.
"Sekarang kita harus sebisa mungkin menghindaran dia bertemu dengan Ariel," ujar Bram serius.
"Kenapa?" tanya Joel bingung.
"Mereka pernah berteman," ungkap Bram.
"APAAAA,,,,,???" ....
...>>>>>>>--<<<<<<<...