
"Sejujurnya aku sudah memaafkanmu, Joel," ungkap Ariel.
"Tapi, kamu masih marah padaku," sambung Joel tertunduk, menjatuhkan tatapannya pada mangkuk ditangannya.
"Bohong namanya jika aku tidak merasa kesal padamu, namun aku juga ingin mencernanya," terang Ariel mengalihkan pandangannya
"Awalnya aku hanya perlu menunggu kamu mengatakannya padaku, tapi apa yang aku lihat kemarin terasa menarik keluar semua pikiran logis yang ada dikepalaku," tambahnya.
"Dia datang untuk minta maaf," jelas Joel.
"Karena dia yang melakukan sabotase?" sambut Ariel.
"Kamu sudah mengetahuinya?" Joel mengangkat wajahnya dengan cepat karena terkejut.
"Bram yang mengatakannya padaku," ungkap Ariel kembali menatap Joel.
"Dia,,, seberapa banyak sebenarnya informasi yang dia miliki?" gerutu Joel.
"Tapi tak bisa di pungkiri, dia juga yang memperingatkanku tentang Christina, dan sekarang aku tau apa alasannya mengatakan itu," ucap Joel.
"Dan aku juga mengerti kenapa dia mengatakan penjelasanmu selalu masuk akal," sambung Ariel.
"Apakah dia mengatakan itu dalam keadaan sadar? Atau dia baru saja minum obat atau kepalanya terbentur mungkin?" cecar Joel .
"Joel,,, kau kasar sekali," sambut Ariel tertawa.
"Hats-chi,,,!"
Suara tawa Ariel terhenti karena bersin, dan dilanjutkan dengan beberapa kali bersin lagi membuat ia mendongakkan kepalanya karena merasa kesulitan bernafas, berharap hal itu bisa membantunya.
Joel mengulurkan kotak tissu yang segera diambil Ariel untuk mengosok hidungnya, meninggalkan bekas merah di hidungnya.
"Argh,,, hidungku benar-benar tidak berfungsi sekarang," keluh Ariel.
"Makanlah, setelah ini kamu bisa meminum obatmu," ujar Joel kembali menyuapi Ariel.
Awalnya Ariel memang memakannya, namun hal itu tidak berlanjut dan berubah menjadi drama menutup mulutnya rapat-rapat.
Joel terus membujuk Ariel agar makan lebih banyak, namun tetap saja Ariel menolak setelah suapan ke lima.
"Cukup, aku tidak mau lagi, kenapa terasa pahit sekali? Bahkan lebih pahit dari obat," keluh Ariel.
"Ini akan terasa berbeda jika kamu sehat," sambut Joel.
"Satu suapan lagi," bujuk Joel kembali menyodorkan sendok berisi sup kentang yang ia buat.
"Kamu saja yang makan, kamu juga pasti belum makan, bukan?" tanya Ariel.
"Aku sudah makan sesuatu, setidaknya tidak mengaduk-aduk makanan dan menjadikannya mainan seperti seseorang," sindir Joel.
"Itu karena makananya basi," kilah Ariel.
"Benarkah? Atau karena lidahmu yang sedang tidak berfungsi dengan benar?" sambut Joel.
Joel meletakkan mangkuk dan membuka bungkus obat, meminta Ariel untuk segera meminumnya dengan membantu memegang gelas saat Ariel minum, dan memintanya kembali berbaring.
"Istirahatlah," ucap Joel mengusap lembut kepala Ariel.
Tepat saat Joel bangun dari duduknya, dan akan meninggalkan Ariel untuk istirahat, gerakannya tertahan karena Ariel meraih pergelangan tangannya, mencegahnya pergi.
"Ada apa?" tanya Joel. "Apa kamu memerlukan sesuatu?" imbuhnya.
"Tidak, bukan itu. Uhm,,, Bisakah kamu tetap disini saja?" pinta Ariel.
Selama beberapa saat, Joel tertegun, namun segera tersenyum dan kembali duduk.
"Aku tidak pergi kemanapun, aku akan tetap disini sampai kamu bangun nanti," jawab Joel menepuk pelan tangan Ariel.
"Aku tidak ingin tidur lagi, aku merasa sudah terlalu banyak tidur sejak kemarin, tapi mataku terasa berat," terang Ariel.
"Itu tandanya obatnya sedang bekerja, dan sudah seharusnya kamu tidur lebih banyak," jawab Joel.
"Apakah semua obat memiliki reaksi sama?" tanya Ariel.
Ariel tidak lagi bisa mendengar apa yang di katakan Joel padanya. Kesadarannya berangsur-angsur memudar, matanya terasa semakin berat hingga ia tidak bisa menahannya dan terlelap dalam tidurnya.
"Semoga saja keadaanmu membaik saat kamu bangun nanti," ucap Joel pelan seraya mengecup lembut kening Ariel dan merapikan posisi selimut.
Sementara Ariel tertidur, Joel keluar dari apartemen Ariel untuk membeli beberapa bahan makanan. Tanpa menyadari seseoang telah menunggu kesempatan untuk masuk diam-diam kedalam apartemen Ariel.
Entah bagaimana, orang itu bisa dengan mudah masuk kedalam apartemen Ariel mengunakan kunci lain dan menerobos masuk kedalam kamar.
Orang asing yang menutupi kepalanya dengan hudie jaket dan penutup wajah itu segera menghampiri Ariel yang tengah tertidur, mencabut paksa infus di tangannya dan mengangkat tubuhnya.
Namun, bertepatan dengan orang itu yang akan membawa Ariel pergi, Joel kembali ke apartemen lebih cepat karena meninggalkan dompetnya.
Joel melihatnya tepat di depan pintu saat ia baru akan melangkah keluar dari lift. Sontak saja, ia segera menerjang orang itu dan berusaha merebut Ariel dari tangan orang asing itu.
"Hei!!! turunkan dia!!" perintah Joel sebelum menerjangnya.
Pria itu menendang Joel yang segera terlempar dan menghantam dinding karena tidak siap dengan perlawanannya.
'BUGH,,!!!'
'UKH,,!!" Joel meringis saat tubuhnya menghantam dinding, namun tetap berusaha maju lagi.
Joel menyerang dengan lebih hati-hati dan tidak gegabah seperti sebelumnya dan berhasil mendesaknya.
Merasa terdesak, orang itu menurunkan Ariel dan berniat secepatnya menyelesaikan urusannya dengan Joel.
Orang itu terus menyerang Joel, keadaan berbalik hingga Joel-lah yang menjadi terdesak. Beberapa pukulan mendarat telak mengenai wajahnya, bahkan kacamatanya terlempar entah kemana, memperlihatkan perbedaan jauh bahwa orang itu lebih terampil. Hingga, dari sudut bibirnya telah mengeluarkan darah.
Joel tersungkur ketika orang itu kembali menendangnya, dan kembali membentur dinding.
Orang itu mendengus kesal, kemudian mengabaikan Joel, dan kembali menghampiri Ariel yang masih tertidur karena efek obat. Saat orang itu akan membawa Ariel, pintu lift kembali terbuka dan Ken beserta teman-temannya muncul.
Selama beberapa saat mereka terdiam melihat apa yang ada didepan mereka, secara bergantian mereka menatap Joel dan orang itu, lalu beralih pada Ariel dan luka di tangannya.
Melihat hal itu, mereka segera menyerang orang itu bersama-sama, membuat orang itu terdesak dan terpaksa kabur karena salah satu teman Ken menghubungi polisi, dan berakhir dengan gagal membawa Ariel.
"Kakak berdarah, kita ke rumah sakit," ucap Ken seraya membantu Joel berdiri.
"Aku tidak apa-apa," jawab Joel menepis tangan Ken dan menghampiri Ariel.
"Biar aku saja," ucap Ken saat melihat Joel akan mengendong Ariel.
"Aku bisa melakukannya," jawabnya.
Teman-teman Ken yang baru pertama kali melihat Joel terheran dengan sikap Joel. Bertanya-tanya dalam benak mereka siapakah Joel yang bisa masuk dengan bebas ke apartemen Ariel bahkan sampai masuk kedalam kamarnya.
Salah satu teman Ken memungut kacamata milik Joel yang tampak rusak, dan memberikannya pada Ken.
"Kamu mengenalnya?" tanyanya pada Ken dengan suara pelan.
"Ya, dia kekasih kak Ariel," ungkap Ken.
"EEEHHHH,,,,,!!!!!"
Serentak semua teman Ken mengeluarkan suara terkejut.
"Kak Ariel memiliki kekasih?"
"Sejak kapan?"
"Kenapa kau tidak mengatakan apapun pada kami? Setidaknya kami tidak akan terus salah paham dengan kedekatanmu dengan kak Ariel"
Secara bergantian mereka mengajukan pertanyaan pada Ken, namun perhatian Ken justru tertuju pada Ariel yang sedang di obati Joel.
Darah dipergelangan tangan Ariel keluar cukup banyak, membuatnya khawatir dan segera menghampiri Joel diikuti teman-temannya.
"Kenapa kak Ariel tidak bangun? Bahkan saat tangannya terluka?" tanya Ken.
"Dia baru saja meminum obat, dan efeknya baru saja bekerja," jelas Joel tanpa menoleh.
"Apakah sakitnya parah? Sebenarnya kak Ariel sakit apa?" tanya Ken lagi.
"Demam tinggi, dan dia menolak untuk ke rumah sakit," jawab Joel. "Semoga saja demamnya segera turun setelah ini," imbuhnya berharap.
Joel berbalik setelah selesai mengobati tangan Ariel, dan tidak memasang infus lagi. Menyelimuti tubuhnya yang masih tertidur, ia meminta Ken beserta semua temannya keluar.
"Terima kasih, Ariel selamat berkat kalian," ucap Joel memberikan tatapan penuh rasa terima kasih.
"Tolong rahasiakan kejadian ini darinya, aku hanya tidak ingin dia terlalu banyak memikirkan hal yang akan menekan pikirannya," pinta Joel saat mereka duduk di sofa.
"Kami mengerti," jawab mereka serentak.
"Kak Joel, ini kacamatanya,,,Ehm,, apakah kakak baik-baik saja seperti ini?" tanya Ken ragu.
Joel melihat kacamatanya yang telah rusak, lalu tersenyum.
"Aku baik-baik saja tanpa itu, meskipun sedikit membatasi pergerakanku, namun tidak masalah selama aku tidak sedang melakukan operasi," terang Joel.
"Operasi?" ulang salah satu teman Ken dengan kening berkerut.
"Kak Joel seorang dokter," jelas Ken.
Jawaban Ken membawa decakan kagum dari wajah mereka, memandangi Joel yang tampak sempurna dimata mereka. Tampan, tinggi, mata hazel yang sangat jarang ditemui dan terasa hangat ketika bertatapan dengannya. Dia juga seorang dokter. Sedetik kemudian wajah mereka berubah serius, termasuk Ken dan juga Joel.
"Siapa sebenarnya orang itu?" tanya Ken.
"Aku tidak tau," desah Joel mengusap wajahnya.
Merasakan masalah terus datang, dan selalu menargetkan Ariel.
"Apakah kalian datang untuk menjenguknya?" tanya Joel memecah keheningan.
"Benar, tapi sepertinya kami tidak bisa bertemu langsung karena kak Ariel masih istirahat," jawab salah satu dari mereka.
"Jadi, kami akan pulang," sambung yang lain.
"Begitu rupanya, baiklah, aku akan sampaikan padanya nanti kalau kalian datang," sambut Joel.
"Aku juga akan pulang," ucap Ken.
"Tidak menunggunya bangun?" tawar Joel.
"Tidak, kakakku akan banyak bertanya jika aku pulang terlambat, dan aku malas menjawabnya," terang Ken.
"Baiklah, sekali lagi terima kasih atas bantuan kalian," ucap Joel.
Joel mengantar mereka mencapai pintu dan menutupnya setelah mereka pergi. Memberikan kunci ganda di pintu apartemmen Ariel.
"Aku harus menganti kuncinya, tapi aku juga harus membicarakan ini dengan Ariel,"
"Tapi alasan apa yang masuk akal untuk kukatakan padanya?" gumam Joel mengaruk kepalanya.
Joel duduk dan menyandarkan kepalanya di sofa, menghela nafas panjang sembari meletakkan tangan didahinya. Merasakan lelah dengan semua hal yang terjadi begitu cepat.
"Jam tangan yang dipakainya,,, dimana aku pernah melihatnya?" gumam Joel pelan.
Berusaha mengigat sesuatu tentang jam tangan yang dipakai orang itu, postur tubuh yang tidak asing baginya, seakan menguras tenaganya, hingga tanpa ia sadari, ia telah terlelap.
...>>>>>>>--<<<<<<<...