
Ariel mengeliat di tempat tidurnya. Untuk kesekian kalinya, ia menganti posisi tidurnya, berharap hal itu bisa membuatnya tertidur. Namun, tetap saja matanya tidak mau terpejam.
Pikirannya terus tertuju pada Joel. Bahkan wajah Joel senantiasa berada di pelupuk matanya.
Joel pergi beberpa jam yang lalu setelah perdebatan panjang yang membuat Joel berpikir Ariel akan kembali pindah.
"Arrghhh,,," geram Ariel mengacak-acak rambutnya.
"Kenapa sulit sekali untuk tidur?" desah Ariel.
Entah kebetulan macam apa yang Ariel dapatkan, ponselnya berdering dengan nama Joel dilayar ponselnya.
"Apakah aku membangunkanmu?"
Suara Joel terdengar tepat saat Ariel menempelkan ponsel ditelinganya. Suara yang terdengar cemas darinya menghadirkan senyum kecil disudut bibir Ariel.
"Aku tengah bermimpi ketika suara ponsel mengangguku," goda Ariel.
"Ah,, maafkan aku, kalau begitu, aku tutup saja, kamu lanjutkan saja tidurmu. Maaf sudah membangunkanmu," ucap Joel panik.
"Hei, tenaglah! Aku bercanda, aku bahkan belum tidur," sambut Ariel tertawa kecil.
"Arielll,,, kau mengejutkanku," protes Joel.
"Haruskah aku meminta maaf? Bahkan ketika aku dengan sengaja melakukannya?" jawab Ariel terkekeh.
"Tck,,, kau sangat suka mengodaku disaat kita jauh?" decak Joel.
"Itu namanya memanfaatkan sebuah peluang, Joel," ucap Ariel membela diri.
"Baiklah, katakan padaku! Ada apa?" tanya Ariel.
"Aku hanya ingin menghubungimu, aku tidak bisa tidur," ucap Joel.
"Oke,,, aku akan jujur, aku juga tidak bisa tidur, dan kurasa kamu datang disaat yang tepat," sambut Ariel.
"Memikirkanku?" goda Joel.
"Anda terlalu percaya diri, tuan muda," kilah Ariel sembari tertawa pelan menutupi rasa gugup yang tiba-tiba muncul.
"Tck,,, jadi ternyata tidak ya? Padahal aku memikirkanmu," decak Joel sedikit kecewa.
"Benarkah? Aku tersetuh," jawab Ariel.
"Aku serius, Arielll,,," tegas Joel.
"Apa yang kamu pikirnya tepatnya?" pancing Ariel.
"Hemmm,,," Joel bergumam diiringi jeda beberapa detik.
"Bibirmu," jawab Joel enteng.
"Haa?? Apakah aku salah mendengar sesuatu?" sambut Ariel.
"Aku sangat yakin kamu tidak salah dengar," jawab Joel.
"Percaya diri sekali," cibir Ariel.
"Bibirmu terasa manis, dan aku tidak bisa melupakannya," ungkap Joel.
"JOELLL,,,,!!" seru Ariel dengan wajah memerah.
"Sekarang aku penasaran, apakah wajahmu memerah? Aku ingin sekali melihatnya," goda Joel.
"Kau masih berhutang satu tamparan dariku," sambut Ariel.
"Silahkan saja, aku tidak keberatan, bahkan jika aku harus mendapatkan sepuluh tamparan dengan satu ciuman darimu sebagai bayarannya, aku akan melakukannya," jawab Joel.
"Diam,,!!!" sambut Ariel dengan wajah merah padam.
Joel tertawa terbahak mendengar jawaban Ariel. Seolah ia tau pasti Ariel tidak marah padanya. Membuat ia ingin terus mengoda Ariel.
"Apa yang membuatmu gelisah?" tanya Joel tiba-tiba merubah nada suaranya.
"Maksudmu?" jawab Ariel balas bertanya,
"Aku merasakan kamu tengah gelisah akan sesuatu, bisa kamu katakan padaku, tentang apa itu?" tanya Joel.
"Itu_,,,," Ariel memutar bola matanya.
"Entahlah, apakah itu tentang aransemen atau bukan aku tidak tau pasti," jawab Ariel.
"Bagaimana jika kamu datang kerumahku besok sore?" tawar Joel.
"Ada apa disana?" tanya Ariel tertarik.
"Tidak ada acara khusus sebenarnya, tapi melihat matahari terbenam terkadang bisa terasa damai. Dan kamu bisa memikirkan dengan benar tentang penawaran yang Albert berikan padamu," ucap Joel.
"Kupikir kamu tidak suka jika aku menerima tawaran itu," sambut Ariel.
"Jujur saja, aku memang tidak suka. Hanya saja, itu seperti jiwamu, sama sepertiku yang menyukai surfing, aku juga akan bersikap sama jika mendapatkan penawaran terlepas dari siapa yang memberikan penawaran padaku," jawab Joel.
"Aku akan memikirkannya, terima kasih sudah mengerti, Joel," balas Ariel.
"Jadi, besok kamu akan datang?" tanya Joel.
"Kurasa itu bukan ide buruk," sambut Ariel.
"Maka jawabannya adalah iya. Aku akan menyiapkan sesuatu sepulang bekerja," ucap Joel girang.
"Aku senang melakukannya, dan jika kamu mau membantu, katakan saja apa yang kamu suka dan tidak kamu suka. Jangan hanya karena memikirkan aku telah membuatnya, kamu mengabaikan dirimu sendiri," tutur Joel.
"Aku tidak begitu," sagkal Ariel.
"Apa maksudmu tidak? Kamu tidak menyukai pasta tapi, kamu tetap memakannya ketika aku membuatnya saat pertama kali datang ke apartemenmu," sahut Joel.
"Eh,, dari mana kamu ta_,,,"
"Bram mengatakannya padaku saat kamu dan dia datang waktu itu," papar Joel.
"Atau kamu lebih suka jika aku menanyakan detailnya pada Bram?" imbuhnya.
"Tidak! Jangan!" jawab Ariel cepat.
"Jadi, katakan padaku, apa saja makanan yang tidak kamu suka!" perintah Joel.
"Ayolah, Joel,, aku tidak mungkin menyebutkan semuanya satu-persatu," keluh Ariel.
"Apakah itu artinya kamu memintaku untuk mencari tau sendiri?" tanya Joel.
"Kamu akan tau seiring berjalannya waktu," jawab Ariel.
"Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika aku mencari tau dengan cara lain," ancam Joel.
"Hei,,, itu tidak adil," protes Ariel.
"Ha ha ha,,, baiklah, baiklah, aku hanya bercanda. Istirahatlah, dan sampai jumpa besok," ucap Joel.
"Sampai bertemu lagi, Joel," balas Ariel.
"Hei, tunggu, Ariel!" tahan Joel.
"Ya?"
"Ketika aku tidak bisa tidur, aku memiliki kebiasaan meletakkan bantal di pinggang dan kakiku, aku tidak tau apakah itu akan sama jika kamu yang melakukannya, tapi kamu bisa mencobanya," saran Joel.
"Aku akan mencobanya," jawab Ariel.
"Oke,, Bye Ariel," pamit Joel.
"Bye, Joel,"
Ariel meletakkan ponselnya dan mencoba saran dari Joel. Ia meletakkan bantal dibawah pinggang dan kakinya, lalu merebahkan tubuhnya.
"Ugh,,, ini posisi yang kurang nyaman," gumam Ariel.
Ariel mengeliat dan mengeser tubuhnya lagi.
'Semakin lama, posisi ini terasa nyaman,' batin Ariel.
Rasa kantunk berangsur-angsur menghampiri Ariel, hingga tanpa disadari olehnya, ia telah terlelap dengan senyum menghiasi bibirnya.
Disaat yang sama ditempat lain, Joel juga melakukan hal yang sama, dan ketika rasa kantuk itu hampir menguasai sepenuhnya, ponselnya berdering.
Dengan gerakan meraba-raba, Joel meraih ponsel dan melihat nama Christina dilayar ponsel.
"Uhmmm,,, ya?" jawab Joel malas.
"Ah,, apakah kamu sudah tidur, Joel?" tanya Christina.
"Yah,, aku sedikit lelah karena ada pekerjaan, ada apa?" tanya Joel setengah mengantuk.
"Aku tidak jadi keluar kota, lebih tepatnya menunda karena keadaan. Bisakah kita bertemu besok?" pinta Christina.
"Aku bekerja," jawab Joel.
"Kalau begitu, setelah kamu bekerja. Bisa kan?" harap Christina.
"Maafkan aku, Christina. Aku tidak bisa jika besok," tolak Joel dengan halus.
"Apakah kamu mempunyai acara lain?" tebak Christina.
"Benar," jawab Joel.
"Tidak bisakah kamu menemaniku sebentar saja?" bujuk Christina.
"Aku minta maaf, aku tidak bisa membatalkan janji yang sudah kubuat untuk ketiga kalinya," jawab Joel tegas.
"Bahkan untukku?" bujuk Christina lagi.
"Aku tidak bisa jika harus terusmengecewakan seseorang, Christina. Ku harap kamu mengerti," jawab Joel halus.
"Baiklah, aku mengerti. Maaf telah menganggu waktu tidurmu. Selamat malam, Joel," desah Christina kecewa.
Joel menaikkan bahunya dan melemparkan ponselnya kesisi lain diempat tidurnya. Tak butuh waktu lama, Joel terlelap dengan posisi bantal berada dibawah pinggangnya.
"Tck,,, menyebalkan," dengus Christina.
Christina melemparkan ponselnya setelah Joel mengakhiri panggilannya begitu saja tanpa membalas ucapannya.
"Apakah Joel sungguh menyukaiku atau dia hanya bersikap baik padaku?" geram Christina.
"Aku akan menemuimu besok, Joel. Kamu tunggu saja. Aku sudah tau dimana kamu tinggal, dimana kamu bekerja, dan tempat yang menjadi kemungkinan besar akan kamu kunjungi," ucap Christina pada diri sendiri.
Christina mengehmpaskan tubuhnya di tempat tidur dan mencoba untuk memejamkan matanya yang terasa lelah. Membayangkan wajah Joel, ia terlelap begitu saja dengan senyum di bibirnya
...>>>>>>>--<<<<<<<...