
Pria itu membungkuk hormat dan mengulurkan tangan kepada Ariel yang segera menyambutnya dengan senyum ramah.
"Ah,, maaf, betapa tidak sopannya saya, saya menyela anda tanpa menyapa anda dengan benar," pria itu berdiri tegak, lalu menundukkan sedikit kepalanya.
"Bensoir, mademoliselle Ariel. Comment allez-vous? (Selamat malam nona Ariel, bagaimana kabar anda?)" tanyanya.
"Très bien. Merci, et vous? (Sangat baik. Terima kasih. Anda?)" jawab Ariel.
"Très bien. Merci, ( Sangat baik, terima kasih)," sambutnya tersenyum.
"Maaf, bisakah kita berbicara seperti ini saja agar dia juga bisa mengerti dengan apa yang kita bicarakan?" pinta Ariel sopan sembari menunjuk Joel dengan telapak tangannya.
"Ah,, tentu, sesuai dengan keinginan anda," jawabnya ramah.
"Jadi,, katakan padaku, apa yang membuatmu berubah berbicara formal padaku, Oscar," tanya Ariel merubah cara bicaranya menjadi lebih santai.
"Ha ha,,, baiklah, saya tertangkap!" sambut Oscar tertawa pelan sembari mengangkat kedua tangannya.
"Tapi, saya sangat menghormati anda," jawab Oscar tulus.
"Terima kasih, aku tersanjung," sambut Ariel. "Oh, aku akan perkenalkan dia padamu," menoleh kearah Joel.
"Ini Joel, aku kemari bersamanya. Joel, ini Oscar. Dia adalah penanggung jawab tempat ini," ucap Ariel memperkenalkan Joel kepada Oscar.
"Anda datang bersama seseorang merupakan hal yang tidak biasa," ucap Oscar yang dibalas dengan senyum simpul dari Ariel.
Oscar mengulurkan tangannya, dan Joel menyambutnya dengan hangat. Mereka saling menyebutkan nama mereka satu sama lain dengan senyum ramah di wajah mereka.
"Saya tau banyak tentang anda, dokter Joel, apakah saya salah?" ucap Oscar setelah menurunkan tangannya.
Joel terkejut mendengar pertanyaan yang di lontarkan Oscar padanya, begitu juga dengan Ariel yang memberikan reaksi sama.
"Bagaimana anda_,,,"
"Bukan saya, lebih tepatnya kedua orang tua saya," potong Oscar.
"Mereka selalu menyebutkan nama anda, banyak bercerita tentang anda, bahkan mereka memamerkan kepada saya saat mereka foto bersama dengan anda saat mereka akhirnya keluar dari rumah sakit," papar Oscar.
"Ah,, begitu rupanya. Tapi, maaf sekali, sepertinya saya tidak bisa mengingat siapa yang anda maksud," sambut Joel.
"Rumor tentang anda berhubungan baik dengan para pasien sepertinya memang benar adanya," ucap Oscar tersenyum maklum.
"Namun, saat saya datang ke rumah sakit, pihak rumah sakit mengatakan anda pindah ke kota lain," tutur Orcar.
"Itu sudah cukup lama," sambut Joel.
"Benar, namun saya senang bisa bertemu dengan anda disini.
Tiba-tiba, Bram masuk diantara Ariel dan Joel, meletakkan kedua lengannya di bahu mereka berdua.
"Siapa sangka, kalian berdua juga memiliki hubungan baik dengan Oscar," ucap Bram.
"Bram? Bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Ariel terkejut.
"Singkirkan tanganmu," ucap Joel menepis tangan Bram dari bahunya.
"Kasar," cibir Bram.
"Kamu mengenalnya, Oscar? Tapi bagaimana?" tanya Ariel.
"Bahasa sederhananya adalah bisnis," jawab Bram menyela.
"Aku di sini juga karena mendapatkan undangan darinya," jelas Bram.
"Yang tidak aku duga adalah, kau dan si mata empat ada disini juga," imbuhnya sembari melirik Joel.
Joel menyipitkan matanya ke arah Bram seolah akan protes, namun kemudian memalingkan wajahnya.
Disisi lain, Albert dan teman-temannya membelalakan mata mereka setelah mengetahui Ariel mengenal orang yang telah mengundang mereka untuk tampil.
Mereka juga terkejut saat mendengar pria yang bersama Ariel adalah seorang dokter. Dan lebih mengejutkan lagi Ariel mengenal Bram.
Marc dan Marius yang kebetulan tau siapa Bram menelan ludah mereka. Keluarga mereka bekerja di perusahaan milik Bram, jika Ariel mengatakan apa yang telah mereka lakukan, bisa di pastikan keluarga mereka yang bekerja di perusahaan Bram akan kehilangan pekerjaan mereka.
'Tuan Oscar sampai bersikap seperti itu, sebenarnya siapa dia sebenarnya?' batin John.
'Siapa dia sebenarnya? Jika dia sampai menceritakan apa yang sudah aku katakan padanya, orang tuaku bisa di pecat,' batin Marc.
'Dan dia juga mengerti bahasa prancis?' batin Marc mengusap wajahnya dengan frustasi
'Aku sangat ingin menghilang dari bumi sekarang,' batin Marius.
'Marc dan Marius telah berurusan dengan orang yang salah,' batin Dennis tersenyum miris.
"Lalu, katakan kepada saya, nona!" ucap Oscar.
Suara Oscar berhasil menarik mereka yang terpaku kembali ke kenyataan yang ada didepan mereka.
"Jika anda sampai bersedia bermain bersama mereka, apakah itu berarti anda mengakui kemampuan mereka?" tanya Oscar.
"Yah,,, tak bisa dipungkiri, mereka luar biasa. Aku bahkan berani merekomndasikan mereka," ucap Ariel seraya menatap mereka secara bergantian.
"Jika anda sampai berkata demikian, saya bisa pastikan mereka akan kembali tampil di acara mendatang," janji Oscar.
Albert dan semua temannya melebarkan mata mereka saat Oscar dengan mudahnya menjanjikan hal itu kepada Ariel.
"Kalian sungguh beruntung, kalian mendapatkan rekomndasi langsung dari nona Ariel. Itu akan membuat kalian lebih mudah lagi," ucap Ascar beralih kearah Albert dan teman-temannya.
"Maaf, tuan Oscar. Tapi, siapa dia sebenarnya?" tanya Albert.
"Heee,,,?" Oscar melebarkan matanya menatap mereka secara bergantian.
"Kalian bahkan sampai bermain bersama dan tidak tau siapa dia?" sambut Oscar terkejut.
Mereka hanya menggelengkan kepala, menegaskan bahwa mereka benar-benar tidak tau.
"Bukankah kalian juga sudah mendengar permainan pianonya? Permainan piano yang memiliki ciri khas yang hanya nona Ariel saja yang bisa melakukannya,"
"Nona Ariel. Ariel Esther," ungkap Oscar.
"EEEEHHHHH,,,,,,?????"
"Bisakah kamu memanggilkan keamanan kemari untuk menendang mereka berdua dari sini, Oscar?" tanya Ariel. "Mereka benar-benar membuat keributan," imbuhnya.
"EEEHHH,,,,?"
"Kenapa aku juga kena?" protes Joel.
"Mata empat yang memulai lebih dulu, kenapa aku yang di tendang? Bukankah lebih baik dia? Toh dia bisa mengobati dirinya sendiri," cibirnya.
"Apa maksudnya sekarang?" Joel menyipitkan matanya.
"Bukankah kau seorang dokter? Tugasmu mengobati orang sakit bukan?" jawab Bram.
"Ya, lalu?" tanya Joel.
"Kau bisa mengobati lukamu sendiri," jawab Bram enteng.
"Woww,, apakah itu cara terbaikmu untuk memberikan pujian padaku?" balas Joel tersenyum.
"Memberimu pujian?" Bram memberikan raut wajah tidak rela. "Tidak akan," imbuhnya.
"Oscar, panggilkan keamanan sekarang?" pinta Ariel.
"EEhh,,, tunggu,," ucap Bram dan Joel serentak menoleh kearah Ariel.
"Aku akan diam," Joel dan bram kembali mengatakan hal yang sama secara bersamaan.
"Lihat, Ariel marah karenamu," gerutu Bram.
"Apa maksudmu?" tanya Joel. "Kenapa menjadi salahku?" imbuhnya.
"Itu salahmu karena tidak membiarkan aku bergabung liburan ke Belharra," jawab Bram.
"Aku tidak setuju karena kau menganggu," balas Joel.
"Apa maksudnya aku menganggu? Aku bahkan sempat membantu kalian berdua disaat kalian sedang berteng_,,, hemph,,"
Joel dan Ariel serentak membekap mulut Bram. Menatap tajam pada Bram seolah ingin membunuhnya.
"Bisa di pastikan kalian akan menjadi pembunuh terbaik dengan cara ini," gerutu Bram setelah berhasil melepaskan diri.
"itu bukan ide buruk," sambut Joel.
"Dan kaulah yang akan menjadi orang pertama yang akan kami bunuh," timpal Ariel.
"Wah,, sebuah kehormatan bagiku, tapi aku menolaknya, terima kasih," jawab Bram tersenyum.
Detik berikutnya, Bram menghilangkan senyum di bibirnya, berubah menjadi memajukan bibirnya.
"Apakah nona Ariel adalah kekasih anda tuan Bram?" sela Oscar dengan senyum jahil.
"Yap,, itu benar," jawab Bram tersenyum lebar.
"Hei,,, siapa yang kau sebut kekasihmu?" sembur Joel.
Bram menyemburkan tawa sembari memegangi perutnya, Oscar terkekeh pelan sementara Ariel meletakan telapak tangan didahinya sembari menghela nafas panjang.
Albert beserta teman-temannya bahkan tidak bisa menahan tawa mereka lagi. Hal itu membuat Joel dan Bram menoleh kearah mereka, membuat mereka kembali terdiam.
"Sepertinya mereka sudah tidak setegang tadi," ucap Joel.
"Bukankah terapi kita selalu berhasil?" sambung Bram tersenyum kearah Ariel.
Seolah baru saja tersadar, Albert beserta semua temannya saling pandang selama beberapa saat, lalu tersenyum canggung.
Joel dan Bram sengaja membuat suasana mencair dengan bertingkah konyol yang akan membuat siapapun tertawa.
"Apakah ketegangan di hati kalian sudah menghilang?" tanya Ariel tersenyum hangat.
"Ehm,,,, itu,,, Ariel,, maaf, nona,," Albert menjadi salah tingkah dengan apa yang akan ia katakan.
"Aku tidak akan mengigit kalian, Astaga,,,,," erang Ariel menepuk dahinya.
"Kenapa kalian setegang ini? Kalian bahkan bisa sangat tenang sebelum bahkan saat kalian di panggung," sambung Ariel.
"Apakah aku menjadi penyebabnya?" sela Bram.
"Kenapa kamu?" Ariel mengerutkan keningnya.
"Karena aku mengenal mereka berdua," ujar Bram menunjuk Marc dan Marius yang kebetulan berdiri berdampingan.
Albert dan yang lain sejak awal memang sudah tau tentang keluarga mereka satu sama lain, termasuk keluarga Marc dan Marius yang bekerja di sebuah perusahaan ternama dan memiliki posisi yang bisa dikatakan cukup baik.
Namun mereka tidak menyangka bahwa Bram adalah pemilik dari perusahaan tempat keluarga mereka bekerja.
"Keluarga mereka bekerja di perusahaanku yang ada di sini," ungkap Bram.
"Sejak kapan perusahaanmu pindah?" tanya Ariel terkejut.
"Disini hanyalah cabang, dan yang mengurus sepenuhnya adalah orang-orang yang aku percaya," jelas Bram.
"Heee,,, mengesankan," ucap Ariel pelan.
"Apakah mereka bersikap buruk padamu?" tanya Bram.
"Sejak aku melihat mereka semua, mereka berdua terlihat paling gelisah dibandingkan dengan yang lain," sambungnya dengan nada suara datar.
DEG...!!!!
Mereka menundukkan kepalanya. Merasa sedang berada di tengah persidangan
.....
.....
.
.
To be Continued