I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
25. Yang Telah Berlalu



*** Lima tahun lalu***


"Bram,,,!!!" seruan seorang wanita membuat pria yang di panggil dengan sebutan Bram menoleh.


"Jesica,,!?" sambut Bram dengan wajah terkejut. "Apa yang kau lakukan disini?" sambungnya bertanya.


"Aku hanya mendengar dari Ariel bahwa kau datang, itulah sebabnya aku cepat-cepat menemuimu," jawab Jesica memeluk Bram.


"Aku merindukanmu," ujarnya.


"Jangan seperti ini disini, Jes," ucap Bram mendorong Jesica menjauh. " Ariel bisa melihatnya," sambungnya mengingatkan.


"Sampai kapan kamu akan menyembunyikan hubungan kita? Kita sudah menjalin hubungan selama beberapa bulan," protes Jesica cemberut.


"Bersabarlah sebentar lagi," ucap Bram menyentil hidung Jesica dengan telunjuknya.


"Aku akan mengatakan padanya, dan mengakhiri hubunganku dengannya," janji Bram.


"Sungguh?" harap Jesica.


""Tentu saja. Aku akan melakukan semuanya untukmu," ucap Bram tersenyum.


"Bukankah kamu dan Ariel sudah berhubungan selama beberapa tahun? Kamu rela melepasnya hanya untukku?" ujar Jesica mengerjapkan matanya dengan mengoda.


"Ha ha ha,,, kenapa tidak? Selama beberapa bulan terakhir bersamanya terasa hambar. Dia tidak sepertimu, dia selalu sibuk dengan musik, dan pekerjaannya," keluh Bram.


"Aku mencintaimu, Bram," ucap Jesica memeluk Bram lagi.


Bram membalas pelukan Jesica tanpa menyadari ada sepasang mata yang telah memperhatikan mereka cukup lama dan mendengar semua yang Bram ucapkan.


"Bram,,," desisnya dengan suara parau, matanya telah memerah dengan air mata mengenang di sudut matanya.


"Ariel,,,!" pekik Bram terkejut lalu mendorong Jesica menjauh.


"Apakah kamu menjemputku hari ini hanya untuk memperlihatkan ini padaku?" tanya Ariel menatap nanar kearah Bram dan Jesica secara bergantian.


"Jessi, kupikir kita adalah sahabat. Apakah hal yang kamu lakukan adalah hal wajar yang dilakukan oleh seorang sahabat?" tanya Ariel parau.


"Apa maksudmu kita sahabat? Aku bahkan tidak pernah menganggapmu sebagai teman," cibir Jesica dengan senyum mengejek. "Sahabat? Cih,,, jangan konyol,!" sambungnya.


"Apa,,,???" seru Ariel kaget.


"Jadi selama ini apa? Kamu hanya berpura-pura menjadi temanku? Kita bahkan bersahabat selama beberapa tahun," sanggah Ariel.


"Karena aku punya ambisi. Dan aku harus bertahan dengan orang sepertimu selama beberapa tahun terakhir. Aku harus terus berpura-pura baik dan mendukungmu. Dan saat aku tau kamu bersama Bram, aku memutuskan untuk berhenti berpura-pura, karena aku juga menyukainya. Selain itu, tujuanku juga telah tercapai," ungkap Jesica.


Ariel terkejut dengan pengungkapan yang Jesica lontarkan. Matanya kini beralih kepada Bram yang meletakkan tangannya di pinggang Jesica. Memamerkan keintiman mereka.


"Sekarang aku mengerti," ucap Ariel sedikit menganggukkan kepalanya dan tersenyum getir.


"Tapi kenapa, Bram?" tanya Arie mulai terisak.


"Karena aku bosan denganmu," jawab Bram dingin.


Ariel tersentak. Bukan dengan jawabannya, melainkan suara dingin dan nada bicaranya yang terasa jauh berbeda. Matanya menatap datar pada Ariel. Tatapan yang sama sekali tidak dikenalinya.


"Apa kesalahan yang telah kulakukan, Bram? Aku bisa memperbaikinya," ucap Ariel dengan suara bergetar.


"Tidak ada, aku hanya bosan denganmu. Kamu hanya sibuk dengan pekerjaanmu dan mengabaikanku," jawab Bram.


"Mengabaikan?" sambut Ariel melebarkan matanya. " Aku selalu meluangkan waktuku untukmu. Apa maksudmu aku mengabaikanmu?" sanggah Ariel.


"Ku akui itu. Aku juga menikmati waktuku bersamamu dan saat kamu menemaniku dengan hobiku. Tapi itu tidak cukup," ujar Bram.


"Kalau begitu, beri aku waktu untuk memperbaikinya," harap Ariel meraih tangan Bram.


" Bukankah kamu sudah berjanji padaku bahwa kamu akan tetap bersamaku bahkan ketika aku sibuk dengan pekerjaanku?" harap Ariel.


"Dewasalah Ariel. Apakah kamu mengangap hal itu tetap berlaku saat aku bosan denganmu?" cibir Bram menepis tangan Ariel.


"Baik," jawab Ariel menghapus air matanya.


"Jika itu yang kamu mau, aku terima. Terima kasih," ucap Ariel.


Ariel tersenyum sekali lagi sebelum berbalik meninggalkan Bram dengan luka di hatinya.


Sejak saat itu, Ariel menjadi lebih pendiam dan bersikap dingin kepada pria manapun yang berusaha mendekatinya.


Sementara Bram dan Jesica meneruskan hubungan mereka.


Pada awalnya hubungan mereka berjalan hangat. Hingga suatu saat, entah bagaimana sikap Jesica perlahan mulai berubah.


Pertemuan yang biasanya sangat mudah dilakukan, berubah menjadi sangat sulit. Bahkan pertengkaran kerap terjadi hanya karena masalah kecil.


Rasa penyesalan perlahan merayap didalam hatinya. Perasaan sakit di hatinya pun mulai tumbuh.


Bram mencoba untuk menghampiri Ariel, tapi Ariel telah menghilang dari pandangannya. Bertepatan dengan itu pula, Ia melihat Jesica tengah bersama seorang pria dan terlihat begitu dekat, dengan tangan Jesica yang bergelayutan manja di lengan pria itu.


Amarah Bram meledak begitu saja. Bukan karena melihat Jesica dengan pria lain, melainkan dirinya yang telah menyakiti wanita yang telah mencintainya dan memilih wanita yang tidak mencintainya.


Sosok pria yang hanya dilihat punggungnya tidak membuat Bram penasaran siapa pria itu. Bram segera pergi meninggalkan acara itu, merutuk dirinya sendiri.


Bram berjalan dengan gusar menuju mobilnya, tangannya terkepal sembari mengertakkan giginya. Begitu tiba di mobil, ia segera masuk dan membanting pintu mobil.


Tangannya memukul kemudi dengan amarah yang meluap. Detik berikutnya, ia membenamkan wajahnya di kemudi dengan telapak tangan yang menutupi wajahnya.


"Bodoh," umpat Bram kesal.


"Sial,,,!" umpatnya lagi.


"Kau memang bereng*ek Bram, kau menyakiti wanita selembut dia hanya untuk jala*ng sepertinya," rutuknya dengan tangan mengepal.


Bram manyandarkan kepalanya, menatap langit-langit mobil lalu mendesah panjang.


"Jika aku menemuinya, apakah itu pantas? Tapi jika aku tidak menemuinya, rasanya aku hanya akan terus tengelam dengan perasaan sesak seperti ini." ucapnya pada diri sendiri.


"Aku ingin minta maaf padanya, aku sangat ingin memininta maaf padanya," ratap Bram.


"Sudah berapa tahun ini berlalu? Apakah dia akan melemparkan sesuatu padaku jika aku muncul di depannya?" ucap Bram tersenyum kecut.


Bram kembali mengeluarkan ******* panjang, baru kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Pada keesokan harinya, Bram memarkir mobilnya di tempat biasa ia dulu menjemput Ariel pulang bekerja. Duduk didalamnya, dan menunggu.


Ia berharap, dapat melihat Ariel lagi. Namun, lama menunggu, Ariel tetap tidak muncul. Bahkan ketika Bram menunggu hingga sore hari, Ariel sama sekali tidak terlihat.


Pada akhirnya, ia pulang dengan wajah lesu. Namun, Bram kembali lagi di hari berikutnya. Lagi dan lagi.


Hari berikutnya,,,


Lagi,,,


Lagi,,,


Dan lagi,,,


Hingga tanpa di sadari, Bram telah menunggu setiap pagi selama dua minggu lamanya. Tempat bekerja, apartemen, tempat biasa Ariel menghabiskan waktu, dan banyak tempat yang telah di datangi Bram dengan harapan dapat bertemu lagi dengan Ariel.


Merasa putus asa, Bram akhirnya bertanya pada salah satu orang yang cukup dekat dengan Ariel.


"Maaf menganggu waktumu," sapa Bram ramah saat melihat salah satu teman Ariel yang cukup dikenalnya.


"Aku ingin tau, apakah Ariel tidak lagi bekerja disini?" tanya Bram.


"Lho,,, Bram. Lama sekali aku tidak pernah melihatmu. Kamu bahkan tidak pernah datang menjemputnya lagi," sambutnya tersenyum ramah dan heran secara bersamaan.


"Kamu juga tidak pernah muncul di pertunjukan solo yang di adakan untuk memberi Ariel dukungan. Kupikir dia menerima perpindaahannya kali ini untuk bertemu denganmu di luar kota," cecarnya.


"Dia,,,, Pindah,,,?" mata bram melebar pendengar pernyataan mengejutkan yang bau saj di dengarnya.


"Ya,,, dia pindah bulan lalu. Kupikir dia bersedia pindah demi dirimu. Ada apa dengan kalian? Dia brsikap aneh beberapa tahun terakhir karena menjalin LDR denganmu kan?" cecarnya lagi.


'Jadi, dia tidak menceritakan pada siapapun bahwa hubungan kami berakhir? Kenapa? Jika aku mengatakannya apakah akan timbul masalah baru untuknya?' batinnya. 'Lalu, siapa yang aku lihat waat di galeri seni saat itu?' pikirnya binggung.


"Ke kota mana dia dipindahkan?" tanya Bram.


"Apakah kalian bertengkar? Hingga kamu tidak tau dia pindah?" tanyanya mengerutkan kening.


"Begitulah. Aku ingin minta maaf," dalih Bram.


"Baiklah, aku akan memberikan alamat tempatnya bekerja saat ini, tidak lebih dari itu," jawabnya.


"Aku sudah sangat berterima kasih dengan kamu memberitahuku dimana dia saat ini, terima kasih," sambut Bram senang.


Bram akhirnya mendapatkan alamat dimana Ariel dipindahkan dalam pekerjaanya. Yang membuat Bram terkejut adalah, Ariel kini telah menjadi pelatih khusus untuk orang yang akan melakukan pertunjukan musik.


Selama ini, yang Bram ketahui hanyalah, Ariel mengajar musik hanya untuk anak-anak pemula yang memerlukan bimbingan dalam memainkan alat musik.


Bram pamit undur diri setelah teman Ariel menyerahkan secarik kertas padanya. Dengan langkah ringan, Bram kembali ketempat mobilnya terparkir.


'Venice, santa monica aku datang,' batin Bram tersenyum.


...>>>>>>>--<<<<<<<...