I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
79. Ingin Menjelaskan



Pergerakan dibawah selimut pagi itu memunculkan wajah Ariel yang tampak malas untuk bangun.


Terlebih lagi ia libur bekerja hari ini, membuat ia semakin enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya.


Namun, perutnya justru melakukan drama panjang dengan terus berbunyi meminta segera disisi karena ia tidak makan dengan benar selama beberapa hari terakhir.


"Aku malas, tapi aku juga lapar," keluhnya.


Menyingkap selimut dari tubuhnya, ia segera pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual paginya.


Dalam benaknya, ia terus berkata tidak akan keluar kemanapun hari ini dan ingin bersantai.


Ariel mengeledah dapur untuk mencari apa yang bisa ia masak untuk sarapan selain cereal. Karena beberapa hari kemarin ia tidak berbelanja untuk kebutuhan dapurnya. Dengan alasan sederhana, berada didepan rumah Joel hingga tengah malam, dan pagi hari setelahnya ia hanya makan diluar (Lebih tepatnya makanan yang di pesan tak tersentuh sama sekali).


"Ah,, sudahlah. Aku makan cereal saja, aku malas memasak kentang dan telur, itu memerlukan banyak waktu," gerutu Ariel ketika hanya menemukan bahan kentang dan telur didapurnya.


Setelah mengatakan itu, ia segera meraih kotak cereal dan susu dilemari penyimpanan sekaligus mengeluarkan satu mangkuk dan sendok.


"Hats-chi,,,,"


Ariel kembali bersin, dan merasakan tubuhnya semakin tidak enak dibandingkan semalam, bahkan ketika menyuap cereal kedalam mulutnya, itu terasa pahit dilidahnya, menyebabkan ia berhenti makan.


Tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi, membuat ia menoleh kearah pintu dan melirik jam dinding.


"Siapa yang datang sepagi ini?" gumam Ariel.


Ariel mengintip dari lubang pintu dan kembali melihat Joel masih mengenakan pakaian yang sama dari yang dia kenakan tadi malam.


"Apa dia gila, dia tidak pulang dan menunggu didepan semalaman?" decak Ariel.


Dengan kesal, ia segera kembali kekamarnya, kembali menghidupkan ponselnya.


Banyaknya panggilan dan pesan dari Joel muncul dilayar ponselnya, hingga membuatnya tertegun.


'Ting,,'


'Ting,, '


Notif pesan baru kembali muncul, dan itu dari Joel. Namun Ariel segera mengabaikannya dan melemparkan ponsel di atas tempat tidurnya.


"Ugh,,, sekarang kepalaku berdenyut, menyebalkan sekali," keluh Ariel mencengkram kepalanya.


Tanpa ia sadari, matanya kembali terpejam setelah Ariel menjatuhkan kepalanya diatas batal. Rasa sakit dikepalanya membuatnya kembali tertidur.


Rasa tak nyaman diperutnya membangunkan tidurnya , membuat Ariel bergegas bangun dan turun dari tempat tidurnya.


Beberapa kali Ariel melirik kearah pintu, bertanya-tanya apakah Joel masih disana atau sudah pergi. Dengan jalan mengendap, Ariel mendekati pintu dan mengintip dilubang pintu, namun tidak menemukan siapapun disana.


"Baguslah kalau dia sudah pergi, akan merepotkan kalau dia pingsan disini," gumam Ariel. "Dan siapa yang akan mengangkat tubuh besarnya?" imbuhnya.


Ariel menuju dapur dengan gelas kosong di tangannya, lalu mengisi lagi gelas itu dan kembali kekamar.


Membaringkan tubuhnya, Ia meletakkan tangan didahinya, menutupi setengah matanya.


"Aku ingin keluar untuk mencari obat, tapi berdiri terlalu lama saja aku merasa dunia berputar, jika aku berjalan keluar rasanya aku bisa roboh kapan saja," keluhnya pelan.


Ariel menarik selimutnya lagi, merasakan hawa dingin menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Tubuhnya mulai mengigil, membuat ia menaikkan selimut hingga menutupi kepalanya.


'TEETT,,,,'


'TEETT,,,'


Suara bel pintu kembali terdengar, membangunkan Ariel dari tidurnya. Tepat saat Ariel membuka selimut, ia tertegun ketika hari telah berubah gelap.


"Berapa lama sebenarnya aku tertidur?" gumamnya.


"Akh,,,," erangnya pelan sembari mencengkram kepalanya, merasakan sakit yang menjadi semakin kuat menyerangnya.


'TEETT,,,,'


'TEETT,,,'


'TEETT,,,'


Lagi, suara bel pintu apartemenya berbunyi lagi. Tak lama setelah itu, ponselnya berdering.


Ariel tidak begitu melihat layar ponselnya, dan segera menerima panggilan. Menempelkan ponsel ditelinganya hingga tersadar setelah mendengar suara seseorang yang menghubunginya.


"Hallo,,," sapa Ariel.


"Ariell,,, terima kasih sudah menerima panggilanku," ucap Joel lega.


"Aku mohon Ariel, dengarkan penjelasanku sebentar saja," pinta Joel penuh harap.


"Bisakah kamu membuka pintunya? Aku ingin bicara sebentar," harap Joel.


"Katakan,!" titah Ariel singkat.


"Tolonglah, Ariel. Buka dulu pintunya," pinta Joel memelas.


"Katakan atau kumatikan," ucap Ariel singkat.


"Ini bukan hal yang bisa dikatakan melalui ponsel, Ariel. Aku mohon, sebentar saja buka pintunya," pinta Joel.


'KLIK,,'


Ariel memutuskan pangilannya dengan Joel begitu saja. Dan kembali membenamkan kepalanya dibantal.


"Dia datang lagi," gumam Ariel.


"Kenapa aku harus bersikap seperti ini? Jelas-jelas Bram sudah menjelaskannya dan aku bisa menerima penjelasan itu, tapi kenapa aku tidak menemuinya sedangkan aku juga merindukannya?" ucap Ariel lirih.


"Tapi, aku juga tidak bisa melupakan begitu saja apa yang aku lihat, padahal aku ingin melupakan saja apa yang aku lihat kemarin," lanjutnya.


Ariel hanya mengandalkan air minum yang ia bawa kekamar sebelumnya, dan lagi-lagi ia tidak sadar matanya kembali terpejam. Ia terbangun di keesokan harinya, dan merasakan kondisinya menjadi lebih buruk lagi, bahkan wajahnya memucat.


Ariel meraba-raba tempat tidurnya, dan meraih ponselnya, berusaha mencari nomor yang akan ia hubungi dan mengeser tombol panggil.


"Bisakah aku minta tolong padamu, Gerry?" tanya Ariel.


"Tentu, katakan saja apa itu," jawab Gerry.


"Katakan pada mereka, aku tidak melatih hari ini," ucap Ariel.


"Kenapa?" tanya Gerry terdengar heran.


"Badanku rasanya tidak enak sekali, aku bahkan perlu usaha keras untuk turun dari tempat tidur," ungkap Ariel.


"Kamu sakit?" tanya Gerry cemas.


"Sepertinya hanya flu atau demam. Aku akan ke klinik nanti untuk membeli obat, jadi tolong katakan pada mereka, hari ini libur, tapi aku tidak melarang mereka berlatih sendiri," tutur Ariel.


"Baiklah, aku mengerti. Aku akan sampaikan pada mereka, dan mengunjungimu nanti setelah selesai," ucap Gerry.


"Terima kasih, aku sangat terbantu," sambut Ariel lega.


"Bukan masalah, istirahat saja," ucap Gerry.


Ariel mengakhiri panggilannya dan melihat layar ponsel yang penuh dengan notif pesan, dan semua pesan dari Joel.


Ariel membalik ponsel ditempat tidurnya, merasa semakin pusing dengan tulisan pesan yang terasa bergerak baginya.


'TEETT,,,,'


'TEETT,,,'


Suara bel pintu serasa menerornya, membuat Ariel memaksakan kakinya untuk berjalan menuju pintu meski perlu usaha lebih untuk melakukannya.


"Ariell,,,"


Suara Joel kembali terdengar dibalik pintu, terdengar sedih bercampur rasa penyesalan.


"Aku tau kamu ada didalam, kamu tidak melatih hari ini juga karena ingin menghindariku, aku mohon Ariel, buka pintunya. Aku ingin bicara, aku akan menjelaskan semuanya," ratapnya.


"Apa yang kamu lihat kemarin tidak seperti yang kamu pikirkan,"


"Aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk melakukan hal seperti itu didepan bahkan dibelakangmu,"


"Aku juga tidak tau kenapa dia tiba-tiba datang,"


"Tapi, kamu tetap melakukannya, Joel," jawab Ariel.


"Ariell,,," sambut Joel lega namun juga senang.


Suara Joel berubah setelah mendengar suara Ariel yang menanggapi ucapannya, dan berusaha agar tidak kehilangan kesempatan untuk dapat berbicara dengan Ariel.


"Aku bersumpah tidak bermaksud untuk melakukannya, saat itu kupikir suara yang mengedor pintu rumahku adalah anak-anak sekitar yang bermain. Aku juga terkejut karena itu Christina," jelas Joel.


",,,,"


",,,,"


"Ariel,,, apakah kamu masih disana?" panggil Joel setelah menunggu hanya mendapatkan keheningan.


"Apakah ucapanmu sungguh bisa dipercaya?" tanya Ariel.


"Aku bisa membuktikannya," jawab Joel cepat.


"Kamu tau persis bukan itu yang aku maksud bukan?" jawab Ariel balas bertanya.


"Itu,,, aku bisa menjelaskannya, tapi tolong, buka pintunya. Aku akan mengatakan semuanya, alasan kenapa aku berbohong padamu, alasan tidak memiliki waktu untukmu hingga terlihat seperti aku mengabaikanmu, tapi aku tidak bermaksud begitu," terang Joel.


Joel berdiri tepat didepan pintu, telapak tangannya menyentuh pintu dimana disisi yang sama Ariel juga melakukan hal yang sama. Keheningan kembali menyelimuti mereka, membuat Joel berpikir Ariel tidak akan membukakan pintu untukknya.


"Baiklah, aku akan pergi, aku hanya ingin kamu tau bahwa kamulah yang aku cintai, bukan dia. Aku sudah cukup lega dengan bisa mendengar suaramu, aku minta maaf karena tidak mengatakan hal yang sebenarnya sejak awal," ucap Joel putus asa.


Gemuruh di hati Ariel menolak untuk membiarkan Joel pergi, ia tidak ingin Joel melangkah meninggalkan dirinya. Ia merasa jika Joel melangkah pergi, maka ia tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi.


Mengabaikan sakitnya, dengan perlahan tangannya terulur membuka kunci dan memutar knop pintu. Segera setelah pintu terbuka, Joel menatap Ariel sedikit terkejut karena akhirnya Ariel membuka pintu untuknya.


Joel terlihat berusaha menahan diri untuk tidak memeluk Ariel, namun perasaannya tidak bisa ia bendung hingga akhirnya mendekap erat Ariel yang hanya berdiri mematung.


"Maafkan aku, kumohon maaflkan aku," ratapnya ditelinga Ariel.


Ariel hanya mematung tanpa membalas pelukan Joel padanya. Setelah beberapa saat, Joel melepaskan pelukannya dan meletakkan tangan dibahu Ariel.


Joel merasa Ariel masih marah padanya, hingga membuatnya menundukkan kepala, sementara Ariel, sebenarnya berusaha menjaga kesadarannya agar tetap utuh.


Pandangannya mulai berputar didepannya, ia bahkan merasa Joel berputar-putar, saat ia berkedip, Ariel justru melihat semua yang ada didepannya memiliki jumlah ganda.


'Tidak bisakah kau pulang saja, Joel? Aku melihatmu ada dua, dimana kamu yang asli aku tidak bisa membedakannya,' batin Ariel.


"Kamu bisa menghukumku apa saja, tapi jangan hukum aku dengan kamu menghindariku, aku tidak bisa menerimanya, aku juga akan melakukan apapun agar kamu percaya dengan apa yang aku katakan," ucapnya masih dengan kepala tertunduk.


Ariel tetap bergeming, bahkan tidak mengatakan sepatah katapun setelah membuka pintu. Perlahan Joel mengangkat wajahnya, dan saat itulah Joel baru menyadari wajah Ariel tampak lebih pucat.


"Ariel,,," desis Joel terkejut.


"Hei,,, ada apa denganmu?" tanya Joel cemas.


Tangannya terulur menyentuh wajah Ariel, dan terkejut setelahnya. Joel melebarkan matanya saat menyentuh pipi Ariel yang terasa panas.


"A-Ariell,,, tubuhmu panas sekali,, hei,, apa kamu mendengarku?" Joel mengoyang pelan bahu Ariel yang masih tetap berdiri mematung.


Ariel merasa lidahnya kelu, ia ingin mengatakan sesuatu, namun terasa sangat sulit, ia juga mendengar Joel yang khawatir padanya, namun lidahnya menolak untuk mengatakan sesuatu. Suara dengungan di kepalanya semakin kuat, kakinya mendadak lemah, dan dalam sekejap saja, kegelapan memeluknya dengan erat.


"ARIELLL,,,,"


Joel berseru panik Ketika tiba-tiba Ariel terkulai di pelukannya.


...>>>>>>>--<<<<<<<...