
Pusat perbelanjaan yang semula tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing terhenti ketika malihat sebuah keluarga yang saling bergandengan tangan dengan orang tua yang di apit kedua anak mereka.
Yang membuat mereka tidak mengalihkan pandangan mereka adalah dua anak kembar berbeda gender.
Mereka terpisah ketika kedua anak mereka saling menarik orang tua mereka kearah yang berbeda. Anak laki-laki menarik ibunya kearah kiri sedangkan si anak perempuan menarik sang ayah kearah kanan.
"Sebentar, Jo," ucap Ariel sedikit kesulitan mengimbangi langkah anaknya yang sedikit berlari dengan menarik tangannya menuju sebuah toko musik.
"Kenapa tidak bersama-sama saja?" tanya Ariel ketika melihat Jordan memandangi ratusan kaset yang berjajar di sebuah rak di toko itu.
"Joie selalu lama memilih barang yang mau dia beli," jawab Jordan beralasan.
"Dan dia selalu protes ketika aku lama memilih yang aku inginkan," imbuhnya.
"Apa yang ingin kamu beli?" tanya Ariel mengerutkan keningnya.
"Tidak tau," jawab Jordan sembari mengosok tengkuknya.
"Tapi pengen melihat-lihat di toko ini," imbuhnya.
"Kalau nanti ada yang bagus, aku boleh membelinya kan Mom?" harap Jordan.
"Baiklah, sekarang pilihlah sesukamu," jawab Ariel.
"Terima kasih, Mom," sambut Jordan girang.
Jordan mulai menelusri deretan kaset musikal dari yang terdekat dengannya. Memandangi semua kaset didepannya dengan mata berbinar.
Sampai seorang pria menghampiri Ariel yang tengah melilih kaset yang berada tidak jauh dari anaknya.
"Hai,,," sapanya.
Ariel menoleh dan mendapati seorang pria tersenyum ramah padanya.
"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" sambut Ariel tersenyum ramah.
"Ehm,,, tidak,,, hanya,,, apakah kamu datang sendirian?" tanyanya dengan suara gugup.
"Tidak," jawab Ariel. "Saya bersama_,,,"
"Mom,,," seru Jordan segera berlari mendekati ibunya dan berdiri didepan Ariel seraya memberikan tatapan tidak suka pada pria didepan ibunya.
"Ada apa?" tanya Ariel. " Sudah menemukan apa yang ingin kamu beli?" imbuhnya.
"Tidak jadi, kita pergi bersama Daddy saja," jawab Jordan.
"Baiklah," jawab Ariel.
"Ah,, maaf, saya bersama keluarga saya, apakah anda membutuhkan sesuatu?" tanya Ariel beralih pada pria yang bertanya tadi.
Pria itu tertegun selama beberapa saat setelah mengetahui wanita didepannya telah berkeluarga.
"Ah tidak, saya hanya ingin mengobrol sebentar karena anda terlihat mirip dengan seseorang yang saya kagumi," jawab pria itu.
"Kalau begitu, silahkan lanjutkan kegiatan anda, maaf sudah menyela," imbuhnya.
"Permisi," pamit pria itu sembari membungkukkan badannya.
"Ayo, Mom!" ajak Jordan.
Jordan kembali mengandeng tangan ibunya, berjalan menuju tempat dimana mereka terpisah. Di saat yang sama, Joel dan Joie juga tengah menuju tempat yang sama dan mereka kembali berkumpul.
Tanpa diduga, Joie dan Jordan berjalan bersama sembari saling berbisik menuju area arcade.
"Tadi ada tante genit deketin Daddy," adu Joie dengan suara pelan.
"Tadi juga ada paman nyebelin deketin Mommy," balas Jordan.
"Jadi, kita main berdua saja, biar Daddy bisa terus bersama Mommy," ujar Joie.
"Umm,," sambut Jordan mengangguk setuju.
Mereka yang tiba-tiba akur menimbulkan kerutan didahi Ariel. Menatap kedua anaknya dengan tatapan bertanya.
"Mereka akhir-akhir ini sering bersikap aneh," ujar Ariel.
"Jika melihat Jo yang seperti itu, apakah tadi ada yang mendekatimu?" tanya Joel.
Ariel menoleh dengan kerutan dikeningnya, menatap suaminya yang tengah mengandeng tangannya.
"Ah,, tadi ada pria yang menanyakan sesuatu, dan Jo tiba-tiba menyela, apakah itu yang kamu maksud?" tanya Ariel.
"Tepat," sambut Joel. "Jo tidak suka jika ada orang lain yang mendekatimu," imbuhnya.
"Ada-ada saja," jawab Ariel.
"Sepertinya sisi cemburuan mereka berdua berasal darimu," sindir Ariel.
"Aku justru merasa lega dengan hal itu," sambut Joel. "Dengan begitu, mereka bisa di andalkan untuk menjagamu, bukan?" imbuhnya.
"Dasar,,," jawab Ariel mendaratkan pukulan pelan didada suaminya.
"Hey,,, sebentar lagi mereka ulang tahun," ucap Joel. "Menurutmu, apa yang bisa kita berikan pada mereka sebagai hadiah?" tanya Joel.
"Awalnya aku berniat mengundang Jessi sekaligus merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Tapi, Jessi sedang diluar kota, dan mustahil kembali ditanggal itu," ujar Ariel.
"Tapi kita bisa mengadakan acara ulang tahun mereka dengan mengundang teman-teman kita," balas Joel.
"Mungkin Liam bisa datang, bukankah mereka cukup dekat dengan Liam?" imbuhnya.
"Jadikan kedatangan Liam sebagai kejutan untuk mereka saja, karena jika kita berpura-pura lupa tanggal ulang tahun mereka, itu hanya akan membuat mereka memikirkan hal aneh," tutur Ariel.
"Aku akan mengaturnya," sambut Joel.
Mereka memutuskan untuk menunggu di kursi panjang yang tersedia tak jauh dari area arcade. Menunggu anak-anak mereka puas bermain.
Sementara dua saudara itu justru tengah melihat seorang anak kecil yang sedang asik bermain dengan kakaknya. Membuat mereka berdua lupa dengan tujuan awal mereka berada di area arcade hingga waktu mereka telah habis dan kembali menghampiri kedua orang tua mereka tanpa bermain apapun.
Mereka berdua meminta pulang dan lebih banyak diam selama perjalanan pulang. Keheningan berakhir ketika akhirnya Joie membuka suara.
"Mom,, Dad,,, jika aku meminta satu permintaan dan sebagai balasannya ulang tahun nanti tidak perlu dirayakan dan memberiku hadiah apapun, apakah Mommy dan Daddy mau mengabulkannya?" tanya Joie.
"Kenapa suasananya berubah berat?" sambut Joel melirik putrinya melalui kaca spion.
"Bukan begitu," sanggah Joie.
"Aku juga punya permintaan dan sama seperti Joie," sambung Jordan.
"Ulang tahun nanti tidak perlu dirayakan dan aku tidak meminta hadiah apapun," imbuhnya.
Ariel segera menoleh kebelakang dimana Jordan dan Joie duduk dibelakang. Memandangi wajah kedua anaknya secara bergantian.
"Ada apa? Kalian tidak biasanya seperti ini," tanya Ariel dengan suara lembut.
Mereka berdua saling pandang dan merasa apa yang dipikirkan mereka sama.
"Di rumah saja, Mom. Sebentar lagi kita sampai," jawab Jordan.
Ariel mengerutkan keningnya. Tidak bisa menebak apapun tentang apa yang membuat kedua anaknya gelisah.
Hingga ketika mereka telah berada di rumah, mereka masih memerlukan waktu lebih dari tiga puluh menit untuk berbicara. Ariel dan Joel menunggu dengan sabar, meneguk minuman yang mereka ambil dari lemari pendingin sebelum mereka duduk untuk mengisi jeda panjang yang terbentuk diantara mereka.
"Jika aku ingin merawat seorang adik, apakah Mom dan Daddy menginjinkannya?" tanya Joie dan Jordan bersamaan.
'BUURRR,,,,!'
"UHUUKK,,,,,!!!"
Joel menyemburkan minuman yang baru saja ia teguk, sementara Ariel tidak jadi memuntahkan minumannya hingga membuat ia tersedak.
Pertanyaan dua saudara yang sangat mengejutkan bagi mereka, bahkan membayangkan pertanyaan itu tak pernah sedikitpun terlitas dipikiran Joel dan Ariel..
Joel dan Ariel menatap kedua anak mereka, seolah bertanya dari mana ide itu berasal.
"Apa yang membuat kalian berpikir tentang hal itu?" tanya Ariel menyeka mulutnya.
"Darimana kalian mendapat ide tentang hal itu?" tanya Joel.
Dua pertanyaan berbeda yang diucapkan kedua orang tua mereka membuat mereka menunjukan wajah serius kepada orang tuanya. Menciptakan keheningan panjang diantara mereka.
"Haahh,,," desah Ariel.
"Kembalilah ke kamar kalian, sudah waktunya untuk tidur," pinta Ariel.
"Apakah artinya tidak boleh, Mom?" tanya Jordan dengan raut wajah kecewa.
"Bukan begitu," sanggah Ariel bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan anaknya.
"Seorang adik bukan seperti barang yang bisa kalian ambil dan rawat begitu saja seperti kalian membeli hewan peliharaan," sela Joel.
"Kami tau, karena pernah membaca buku," jawab mereka serentak.
Sekali lagi Joel dan Ariel membulatkan mata mereka. Antara ngeri dan bangga karena pemahaman kedua anaknya diatas anak seusianya.
"Pergi tidur, kita bahas ini lain kali," jawab Joel kehabisan akal.
"Baik,,!" jawab mereka kembali serentak namun terdengar lesu.
Mereka berdua masuk ke kamar masing-masing. Begitu pula dengan Joel dan Ariel.
"Apakah aku melakukan kesalahan dalam mendidik mereka?" ucap Ariel ketika mereka berdua berada di kamar.
"Kenapa kamu berpikir begitu?" sambut Joel duduk di tepi tempat tidur sementara istrinya di kursi meja rias sembari menghapus riasan diwajahnya..
"Mereka bahkan belum genap sepuluh tahun, tapi bagaimana bisa mereka memikirkan hal seperti itu?" gerutu Ariel.
"Kenapa kamu sekesal itu?" sambut Joel tertawa.
"Aku hanya khawatir mereka belajar tentang hal yang belum saatnya untuk mereka pelajari," jawab Ariel.
"Apakah kamu tidak melihat bagaimana wajah mereka saat bertanya?" tanya Joel.
"Aku melihatnya," jawab Ariel lalu tertunduk.
"Mereka tau dan menyadari dengan apa yang mereka tanyakan. Justru itu masalahnya," sambungnya.
"Aku tidak merasa itu ada masalah," jawab Joel bangun dari duduknya, melangkah menghampiri Ariel yang masih duduk di kursi meja rias.
"Mereka ingin bertanggung jawab menjaga seseorang yang mereka sayangi serta melindunginya, hanya itu," ucap Joel seraya melingkarkan kedua lengannya dibahu istrinya.
"Kamu berkata begitu hanya karena kamu menginginkannya, bukan?" selidik Ariel menatap bayangan suaminya di cermin.
"Tidak sama sekali," jawab Joel menderatkan dagunya di kepala istrinya.
"Sejujurnya aku juga memikirkannya," jeda sesaat.
"Tentang bagaimana jika kita memberi mereka seorang adik," ucap Joel dengan suara lirih.
"Sekarang kamu memanfaatkan kesempatan yang ada," sindir Ariel.
"Jika kesempatan itu jelas datang, kenapa tidak?" balas Joel.
"Uhh,,, kamu bahkan menjadi sangat berbakat dalam memainkan kata," jawab Ariel.
Joel membimbing istrinya untuk berdiri, menghadapkan tubuhnya kearahnya.
"Mereka sudah sepuluh tahun, bukankah hal wajar jika mereka ingin bisa melindungi seseorang yang lebih kecil dari mereka?" tanya Joel menatap lekat mata istrinya.
"Memang benar, tapi_,,,"
"Mungkin kita bisa mendapatkan kembar lagi, mereka mendapatkan masing-masing satu," seloroh Joel.
Ariel membulakan matanya dan segera meninju dada suaminya.
"Kamu gila,!" rutuk Ariel memajukan bibirnya.
Joel terkekeh melihat reaksi istrinya, tangannya melingkari pinggang istrinya, mendaratkan ciuman penuh kasih dikeningnya, hingga berakhir di bibir istrinya.
...>>>>>>>--ENDING--<<<<<<<...
...SEE YOU...
...DI KARYA SELANJUTNYA.......
...🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷...