I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
121. Tanpa balasan



Dibalik jeruji besi, seseorang tengah berbaring dengan acuh. Mengabaikan suara ribut yang berlangsung disekitarnya. Hingga suara sipir yang memanggil namanya membuat ia tersentak kaget dan segera bangun dari berbaringnya.


"Christina,!"


Suara itu terdengar dingin baginya, seolah tidak membiarakan dirinya bernafas dengan benar.


"Ya?" sambut Christina.


"Ada seseorang yang datang mengunjungi anda," ungkapnya.


"A-Apa?"


"Mustahil," sanggah Christina.


'Tidak mungkin ada yang mengunjungiku disini, orang tuaku bahkan sangat marah padaku, mereka membenciku,' batin Christina.


Sipir itu membuka pintu, meminta Christina keluar dan mengikutinya ke ruangan kunjungan.


Matanya melebar saat melihat disalah satu meja seseorang yang ia kenal duduk dengan tenang dikursi dengan dua tangan diatas meja. Sipir yang mengawal Christina menuntunya menuju meja itu.


Sang sipir mengunci borgol yang mengekang pergelangan tangan Christina dimeja, lalu pergi untuk membiarkan Christina berbicara dengan orang yang mengunjungi dirinya.


"Lama tak bertemu, Christina," sapanya dengan suara lembut namun terasa dingin.


"Ya,, lama tak bertemu," sambut Christina menundukkan kepalanya.


"Apa yang membuatmu datang menemuiku, Joel?" tanya Christina mulai mengangkat wajahnya.


"Tak ada rencana khusus, hanya mengunjugimu. Setelah ini orang tuamu lah yang akan rutin berkunjung," ucap Joel datar.


"Itu kalimat penghibur yang menyakitkan," sambut Chrstina tersenyum kecut.


"Kau bisa memegang ucapanku, dan melihat buktinya dalma tiga hari kedepan," balas Joel.


"kenapa kau melakukannya?" tanya Christina lirih.


"Aku?" ulang Joel dengan alis terangkat, merasakan hatinya mulai bergejolak.


"Bukan aku, jika itu aku, aku tak akan melakukannya. Tapi dia, termasuk memintaku menyampaikan hal ini padamu sementara dia meyakinkan orang tuamu," papar Joel.


"Mustahil," sanggah Christina dengan tatapan tak percaya.


"Aku tak memintamu untuk percaya," sambut Joel acuh.


"Apakah kalian_,,,"


Christina menelan ludahnya, merasakan rasa pahit yang menyangkut di tenggorokannya. Kalimat yang semula berada di ujung lidah, tertelan kembali. Merasa jika ia menanyakannya, tatapan kebencian dari orang yang berada didepannya saat ini bisa saja semakin membesar.


"Aku dan dia baik-baik saja jika aku tidak salah mengartikan tentang apa yang ingin kau tanyakan," ungkap Joel.


Mata Christina mengerjap haru, namun juga merasakan sakit di saat yang sama.


"Semoga hubungan kalian tetap utuh untuk seterusnya," harap Christina.


"Terima kasih," sambut Joel.


"Baiklah, aku datang hanya untuk mengatakan itu, dan melihatmu sesuai keinginanya," ucap Joel menunjukan tanda akan pergi.


"Kenapa Ariel tidak datang bersamamu?"tanya Christina.


"Percayalah, aku sungguh ingin dia bersamaku saat ini agar kamu bisa melihat bahwa kami memang baik-baik saja," sambut Joel sudah berdiri.


"Tapi, dia memikirkan perasaanmu. Tck,,, jujur saja aku sedikit kesal jika ingat dia mengatakan hal itu," decak Joel.


"Namun, aku juga mengakui apa yang dia katakan memang masuk akal, bahkan sangat masuk akal," imbuhnya.


"Jaga dirimu, Christina, aku pergi sekarang," pesan Joel sebelum berpamitan untuk pergi.


Christina memandangi punggung Joel yang semakin menjauh, merasakan sesuatu yang menghimpit hatinya secara perlahan mulai terangkat.


"Joel,,,!"


Suara panggilan Christina menghentikan langkah Joel yang hampir mencapai pintu hingga dia berbalik dengan alis terangkat.


"Sampaikan pada Ariel, aku minta maaf. Dan aku berharap dari hatiku, hubungan kalian akan tetap terjaga," harap Christina.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum tipis namun tulus terbentuk di bibir Joel saat menatap Christina.


"Dia akan senang mendengarnya, dan ada satu hal yang akan ku sampaikan padamu,"


"Kami akan menikah," ungkap Joel.


"Aku sudah menduganya," sambut Christina berusaha tersenyum.


"Selamat tinggal," ucap Joel langsung berbalik dan pergi.


"Sampai jumpa lagi, Joel," ucap Christina lirih.


"Saatnya bagi anda kembali ke ruangan anda," sela sang sipir yang entah sejak kapan telah berdiri di belakang Christina.


"Baik," sambut Christina.


Diluar tempat tahanan, Joel menghembuskan nafas dengan kasar saat ia telah berada di luar. Untuk sesaat, dirinya berbalik menatap bangunan kokoh disana, dimana Chritina ditahan sebagai hukuman atas kesalahannya.


"Kau benar, bangunan dingin ini terasa suram, dan Christina harus menghabiskan waktunya selama beberapa tahun disini,"


"Meski begitu, rasanya aku sangat ingin meluapkan amarahku padanya karena dia pernah menyakitimu,"


"Di saat yang sama, aku juga merasa iba padanya," ucapnya lirih.


Joel masuk kedalam mobilnya, benrniat meninggalakan tempat itu sampai suara ponsel di saku celananya membuat Joel mengurungkan niatnya untuk menyalakan mobil.


Nama Sweety yang tertera di layar ponselnya cukup untuk membuatnya tersenyum. Jarinya mengeser posel untuk menerima panggilan dari kekasihnya, rasanya ia sudah merindukannya meski pagi ini telah bertemu.


\ \ \ \ "Coba ku tebak,,," sambut Joel lebih dulu sebelum Ariel mengeluarkan suara.


"Kau berhasil meyakinkan mereka, itu sebabnya kamu menghubungiku sekarang," tebak Joel.


"Itu memang benar,,," sahut Ariel tak bersemangat.


"Hei,,Hei,,, Apa yang terjadi dengan suaramu? Kenapa lesu begitu?" tanya Joel heran.


"Ya, besok aku bekerja. Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Joel bingung dengan sikap Ariel.


"Itu,,,, Uhm,,, "


"Katakan! Ada apa?" tanya Joel tidak sabar.


"Bram ingin kita melihat tempat yang akan di gunakan untuk acara. Dia memberi tiga pilihan tempat yang berbeda,"


"Masalahnya, Jessi juga meminta di hari yang sama, dan dia memberi empat pilihan,"


"Bagaimana menurutmu?" tanya Ariel.


"Astaga,,,, Sweety, aku sempat berpikir ada sesuatu yang terjadi. Itu sederhana saja, kau pergi dengannya dan aku akan bersama, Bram. Itu saja," sambut Joel.


"Mereka ingin kita melihatnya, bukan salah satu dari kita," jawab Ariel.


"Dengan serius? Apakah mereka berkata begitu?" tanya Joel menepuk dahinya.


"Ya, mereka yang mengatakannya. Haruskah kita tolak keduanya dan mencari sendiri?" tanya Ariel.


"Aku tak yakin mereka akan melepaskanmu begitu saja jika kamu sampai melakukan apa yang kamu pikirkan sekarang," sambut Joel.


"Kalau begitu turuti saja, katakan saja kita akan menemui mereka secara bergantian, biarkan aku memeriksa lagi jadwal untuk besok," saran Joel.


"Baiklah," jawab Ariel.


"Sweety,,,"


"Ya,,?"


"Hari ini, mungkin aku akan lembur, jika aku tidak bisa di hubungi, kamu bisa menghubungi Seth atau Elena. Aku sudah memasukan nomor mereka di ponselmu. Apakah ada sesuatu atau tidak, kamu tidak perlu menahan diri untuk menghubungiku, apa kamu mengerti?" tanya Joel.


"Baiklah, aku mengerti, hanya saja, kamu harus menjaga dirimu dan jangan memaksakan diri," sahut Ariel.


"Pasti," jawab Joel


"Bye,,,"


"Bye,,," / / /


Joel mengakhiri panggilan suaranya, menghembuskan nafas pelan.


Tanpa terasa waktu berjalan dengan begitu cepat. Rasanya seperti baru kemarin dirinya memutuskan untuk melamar pujaan hatinya, kekasihnya.


Waktu berjalan cepat hingga apa yang sempat Joel dan Ariel bicarakan tentang tanggal dan semua yang di perlukan beberapa minggu lalu sempat menyita waktunya kini tanggal yang telah mereka sepakati bersama semakin dekat.


Dari lubuk hatinya, betapa ia sangat beruntung bisa mendapatkan wanita yang ia cintai juga mencintai dirinya. Sahabat melebihi saudara, dua hal itu cukup untuk membuat dirinya terasa lengkap meski tanpa orang tua yang memang tak pernah menganggap dirinya pernah ada.


Hal serupa juga dirasakan Ariel, dimana ia sendiri bahkan lupa bagaimana wajah orang tua yang telah membuang dirinya.


Sekali lagi, Joel menghembuskan nafas panjang. Menarik tuas kemudi dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan gedung tahanan yang baru saja ia kunjungi menuju rumah sakit.


...>>>>>>>--<<<<<<...


###Disisi lain diwaktu yang sama


"Kak,,,"


Ken memanggil dirinya tepat setelah ia menutup panggilannya dengan Joel. Dimana ia baru saja tiba di studio saat menghubungi Joel.


"Ya, Ken, ada apa?" sambut Ariel.


"Ini daftar orang-orang baru yang akan melanjutkan tahap latihan mereka, kakak memiliki tiga puluh orang yang memilih kakak sebagai pelatih mereka," ungkap Ken.


"Tunggu,, APA?? Bagaimana bisa sebanyak itu?" sambut Ariel kaget.


"Tentu saja, mereka menyukai kakak sebagai alasan utama. Sisanya, mengatakan karena kakak bisa mengetahui kesalahan kecil dengan sangat tepat dan itu bisa membuat mereka berlatih lebih keras," jelas Ken.


"Tidak bisa," sanggah Ariel.


"Pilihlah hanya sepuluh orang saja, lakukan seleksi atau apapun untuk mereka, mari kita lihat siapa yang serius dan siapa yang hanya menginginkan nama," pinta Ariel.


"Baik," sambut Ken patuh. "Bagaimana jika seandainya mereka lebih dari sepuluh?" tanya Ken lagi.


"Aku akan melihat seberap dia bersungguh-sungguh dalam musik, bukan hanya sekedar ingin di anggap hebat," jawab Ariel.


"Baik, aku mengerti," jawab Ken.


"Lalu, bagaimana denganmu, Ken?" tanya Ariel.


"Maksud kakak?" jawab Ken balas bertanya.


"Kenapa kamu tidak bergabung dalam grup orkestra yang aku sarankan seperti halnya yang lain? Bahkan Gina dan Oliver juga masuk, tapi kenapa kamu justru bertahan disini dan memilih menjadi asistenku?" tanya Ariel.


"Jika dibandingkan, kamulah yang paling unggul, kamu bahkan bisa memainkan tiga jenis alat musik berbeda," imbuhnya.


"Bukankah aku sudah bilang? Aku lebih nyaman berada disini bersama kakak, bukan berarti aku tidak ingin keluar dari zona nyamanku sendiri, tapi aku ingin membangun mimpiku sendiri tanpa bergabung dengan grup orkestra. Aku lebih ingin mereka yang mengundangku, bukan aku yang mengajukan diri," papar Ken.


"Baiklah,,, tapi bagaimana jika aku tidak lagi melatih disini?" tanya Ariel.


"Karena kakak ingin membuka studio sendiri?" tebak Ken.


"Salah satunya," jawab Ariel menaikan bahunya.


"Mungkin tetap mengikuti kakak, atau akan kembali ke dunia bisnis, namun bisnis yang aku inginkan," sambut Ken tenang.


"Baiklah,,, kau semakin dewasa sekarang, pergilah," ucap Ariel.


"Aku akan menemui kakak lagi setelah selesai," ucap Ken.


Ariel mengangguk dan melihat punggung Ken menghilang di balik pintu. Sejujurnya dirinya sangat terbantu saat Ken menawarkan diri untuk menjadi asisten untuk dirinya. Mengingat Ken telah lulus dan bisa masuk dalam pertunjukan orkestra manapun, dan ia juga bisa bermain solo jika dia mau.


Dan sekarang, dirinya akan kembali memulai lagi dengan orang-orang baru yang akan menjadi muridnya.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


To be Continued