I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
13. Pengungkapan Dan Api Unggun



Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~


--------------


Suasana pantai dimalam hari terlihat ramai. Beberapa orang menyiapkan kayu untuk di gunakan membuat api unggun.


Beberapa orang yang lainya menyalakan lampion untuk menghiasi sekeliling pantai yang di gunakan untuk acara api unggun yang akan di mulai sebentar lagi.


Diantara orang-orang yang tengah melakukan persiapan untuk acara, Joel tengah duduk menyendiri, menunggu seseorang.


Tak lama kemudian, seutas senyum tersungging di bibir Joel saat melihat orang yang di tunggunya telah kembali.


"Maaf, aku membuatmu menunggu," ucapnya sebelum duduk di samping Joel.


"Tidak apa-apa. Lagi pula kamu tidak selama itu" sambut Joel.


"Sepertinya acara api unggun akan berlangsung meriah," ucapnya sembari mengedarkan pandagannya.


Orang-orang mulai menghidupkan musik untuk menambah kemeriahan pesta.


Barbeque, minuman dan tarian telah memenuhi area api unggun yang telah menyala.


Ariel duduk merapat di sisi Joel dengan tangan terulur kearah api unggun yang bekobar untuk menghangatkan tubuhnya.


"Maukah kamu menari bersamaku, Ariel?" ajak Joel mengulurkan tangannya.


Ariel tersenyum, matanya melirik ke arah orang-orang yang menari dengan gembira diiringi musik yang menghentak. Melihat hal itu, Ariel menerima uluran tangan Joel dan segera berdiri.


Joel menarik tangan Ariel dengan lembut, bergabung bersama orang-orang yang tengah menari dengan gembira di temani hangatnya api unggun dan angin laut yang menenagkan.


Joel menarik Ariel lebih dekat ke tubuhya, menatap lekat matanya. Mengunci pandagannya hanya untuknya sendiri. Ketika tiba-tiba sebuah tangan menarik tangan Ariel, membuat tubuhnya berbalik kearah seorang pria tinggi dengan tubuh berotot dan rambut panjang terikat.


"Hai, cantik? Menarilah bersamaku. Kau tidak akan mendapat kesenangan jika bersama orang sepertinya," ejek pria itu menatap Joel sinis.


"Hei,,,! Lepaskan tanganmu darinya!" hardik Joel tak suka.


Ariel menahan lengan Joel dan mengengam tangan serta meremasnya pelan. Mecoba menenagkan Joel.


"Apa maksudmu dengan mengatakan orang sepertinya? Kau bahkan tidak mengenalnya," sambut Ariel.


" Kau bahkan tidak lebih tampan darinya, bisa-bisanya kau mengatakan hal konyol itu,'" sambungnya.


Pria itu menatap kesal pada Ariel dan Joel bergantian. Sementara Ariel mengabaikan pria itu dan menarik Joel menjauh dari pria yang telah menganggunya.


"Cih,,, lupakanlah. Pergi saja bersamanya. lagipula kau tidak seseksi itu," teriaknya.


Ariel mengabaikannya, namun hal itu memancing Joel yang segera mengepalkan tangannya dan bersiap kembali.


Sebelum itu terjadi, Ariel menghentikan Joel dan kembali berkata


"Abaikan saja, jangan meladeni orang seperti itu," pinta Ariel.


"Tapi dia_,,,"


"Dia hanya satu dari sekian banyak orang br*gns*k yang tidak memilik kegiatan selain menganggu orang lain," potong Ariel.


Joel terdiam, merasa dirinya tidak berguna karena tidak melakukan apapun saat seseorang menganggu Ariel didepan matanya.


Melihat perubahan wajah Joel, Ariel membawanya menuju bibir pantai dan duduk di atas pasir dengan kaki yang sesekali di terjang ombak.


Membiarkan kaki telanjang mereka merasakan sejuknya air laut dimalam hari dan ditemani cahaya bulan yang terpantul diatas permukaan air laut.


"Ku dengar, mereka memiliki komunitas surfing yang yang cukup dikenal," ucap Ariel membuka suara.


"Aku tidak tertarik," jawab Joel dingin.


"Bukankah kamu menyukai surfing? Dan kamu juga bilang tidak begitu pandai dalam berteman. Hal ini bisa kau jadikan sebagai langkah awal untuk memilii banyak teman, bukan?" tanya Ariel beralih menatap Joel yang memandangi laut.


"Jika orang itu menjadi salah satunya, aku lebih memilih tidak memiliki teman sama sekali," ucap Joel kesal.


"Hei,,, jangan berkata seperti itu, dia hanya salah satunya, bukan berarti semua akan sepertinya," sambut Ariel.


"Dan lagi, kurasa kamu akan bisa menikmati waktumu jika bergabung bersama mereka," sambungnya.


"Kamu orang yang menyenangkan, Joel. Dan aku yakin banyak dari mereka yang akan merasa nyaman saat berada di sekitarmu," ungkap Ariel.


"Kamu merasa begitu?" tanya Joel ragu.


"Tentu saja," sambut Ariel tersenyum.


Joel balas tersenyum dan menatap lekat mata Ariel yang balas menatapnya. Perlahan, wajahnya kian mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Saat jarak mereka semakin dekat,,,


"Bolehkah aku,,?" tanya Joel seraya mengarahkan pandangannya kebibir Ariel.


Ariel tersenyum dan mengangguk mengijinkan, membuat sebuah senyum tersungging dibibir Joel.


Dengan Ariel yang mengijinkannya, Joel akhirnya menutup jarak diantara mereka, mengecup lembut bibir Ariel.


Tangannya bergerak kearah pinggang Ariel dan menariknya lebih dekat. Memeluknya dan mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Ariel lalu berbisik.


"Aku mencintaimu, Ariel," ungkap Joel.


Ariel mendorong Joel dan menatap matanya, menurunkan tanganya lalu melangkah mundur.


"Apa maksud ungkapanmu ini, Joel?" tanya Ariel.


Hatinya mulai bergejolak. Awalnya, dirinya hanya menganggap Joel hanya salah bicara, tapi kini Joel mengulang ungkapannya.


"Aku tidak memiliki maksud apapun padamu, aku hanya ingin mengatakan apa yang aku rasakan terhadapmu," terang Joel.


"Aku tidak tau bagaimana ini bisa terjadi, tapi rasa kesal yang aku rasakan saat kamu dekat dengan orang lain, selalu mengusikku. Dan hal itu juga membuatku khawatir kamu akan bersama orang lain," paparnya.


"Dan akhirnya aku sadar, bahwa aku mencintaimu Ariel," sambung Joel.


" Aku sangat berharap ini adalah lelucon," tukas Ariel.


"Sayangnya, ini adalah kebenaran, Ariel," balas Joel.


"Alasan kenapa aku bisa merasa nyaman saat bersamamu, aku bisa bertindak sesuka hatiku dengan menjadi diriku sendiri hanya saat kamu ada disisiku," papar Joel


" Awalnya aku tak tau kenapa aku bersikap demikian. Tapi kejadian siang ini, saat aku merasa aku mungkin tidak bisa kembali membuatku takut kamu tidak mengetahui apa yang aku rasakan, hal itu menjadi alasan kuat bahwa perasaaku memang nyata," sambungnya.


Ariel tertegun, dalam hatinya, dirinya sudah menutup rapat untuk siapapun yang ingin masuk kedalamnya. Namun, diding yang telah ia bangun tiba-tiba goyah saat mendengar pengungkapan Joel.


Hatinya juga tidak tau apakah dirinya juga merasakan apa yang Joel rasakan. Hal itu membuat Ariel terdiam dan tidak tau bagaimana dan apa yng harus dilakukan.


"Kamu tidak perlu membalasnya, Ariel," ucap Joel setelah terdiam beberapa saat.


"Aku mengatakan perasaanku padamu, bukan berarti kamu juga harus mengatakan hal yang sama padaku sebagai balasnnya. Aku sudah merasa cukup dengan kamu mengetahui bagaimana perasaanku, dan aku akan tetap selalu menintaimu walaupun kamu mengatakan tidak," terang Joel.


"Tidakkah itu akan terasa egois bagimu?" tanya Ariel menatap mata Joel.


Joel tersenyum lembut dan mengelengkan kepala. Berusaha menyebunyika rasa kecewanya.


"Aku hanya memohon satu hal padamu, bersikaplah seperti biasanya, anggaplah ini lelucon terpayah yang pernah kamu dengar," harap Joel.


Ariel kembali terdiam. Satu sisi ingin sekali memberi Joe kesempatan, namun di sisi lain, dirinya tidak ingin menyakitnya jika memberinya harapan yang belum tentu bisa dikabulkan olehnya.


"Haruskah kita kembali ke api unggun?" tanya Joel menghentika lamunan Ariel.


" Kurasa, kita bisa tetap disini, disana sudah mulai terlihat liar karena mabuk," tolak Ariel.


"Kamu terlihat kedinginan, Ariel," sambut Joel.


" Agak, tapi aku tidak keberatan untuk tetap disini," balas Ariel.


"Kalau begitu, aku akan mengambilkan minuman untukmu," ucap Joel.


Joel beranjak dari tempatnya setelah melihat Ariel menganggukan kepalanya.


Mereka menghabiskan sisa malam dengan memandangi laut lepas dan ditemani sebotol champagne. Obrolan mereka mengalir begitu saja, hingga tanpa terasa botol mereka kosong dan memutuskan untuk pulang.


...>>>>>>--<<<<<<<...