I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
130. Keluhan Ken



Joel menunjuk jendela dengan dagunya, membuat Ariel membalikkan badanya untuk menghadap jendela. Seketika matanya terbuka lebar setelah melihat apa yang ada di depan matanya.


Terpesona dengan apa yang disajikan alam untuknya. Pantulan sinar mentari yang perlahan muncul memperlihatkan matahari yang baru saja terbit.


"Wwooww,,,,"


Ariel melihat beberapa pulau yang di kelilingi lautan. bahkan beberapa bangunan terlihat berdiri megah di atas air.


Matahari telah muncul sepenuhnya, memperjelas alam yang berada di bawahnya. Perlahan, pesawat mulai bergerak semakin turun, membuat semua yang Ariel lihat sebelumnya menjadi jauh lebih jelas lagi.


Pasir putih, gelombang laut yang tenang, dan beberapa pulau yang terlihat terpisah satu sama lain. Membutuhkan bantuan kapal, speedboat atau sejenisnya untuk menuju pulau satu dengan pulau lainnya.


Suara erangan pelan yang berasal dari samping mereka mengalihkan perhatian Ariel. Ketika ia menoleh, Joel juga melakukan hal yang sama, melihat satu orang lagi yang baru saja terbagun dari tidurnya.


Darcie mengeliat dan perlahan membuka matanya.


"Apakah kita sudah mendarat?" tanya Darcie dengan suara parau


Joel terkekeh pelan diikuti Ariel yang juga tertawa melihat hal yang tidak mereka duga.


"Apa?" tanya Darcie bingung.


"Aku penasaran, berapa hari sebenarnya kamu tidak tidur?" tanya Ariel.


"Ehh,,? Kenapa tiba-tiba bertanya?" tanya Dacie sembari mengusap wajahnya.


"Bukan apa-apa, hanya saja kamu terlihat pulas, uhm,,, atau bisa di katakan kamu baru bangun tidur tapi terlihat seperti baru saja melakukan pekerjaan berat," terang Ariel.


"Ahh,,, itu,, aku hanya terlalu banyak pekerajaan yang membuatku tidak bisa tidur dengan benar," jelas Darcie.


Ariel mengangguk mengerti. Tak lama setelah itu, suara pamugari terdengar untuk memberitahukan kepada penumpang bahwa pendaratan akan segera di lakukan dan meminta semua penumpang untuk duduk.


Ariel membetulkan posisi duduknya, begitu pula dengan Darcie. Ia menyikap selimut yang semula menutupi tubuhnya dan mengembalikannya ke kabin.


Mereka berjalan bersama keluar dari pesawat setelah pendaratan selesai, menelusuri lorong bandara dan mengambil barang bawaan mereka di tempat pengambilan barang.


"Hey,, bisakah aku meminta nomor ponselmu, Joel? Aku harus memastikan bahwa kalian tidak kabur dari undanganku nanti. Pokoknya kalian harus datang," ujar Darcie.


Mereka bertiga berdiri didepan bandara, bersiap untuk berpisah. Joel memberikan nomor ponselnya, tersenyum tipis menyadari Darcie sangat menghargai hubungan mereka.


Mengingat Darcie adalah teman yang lebih dulu di kenal Ariel, dia justru memilih untuk meminta nomor miliknya diandingkan nomor Ariel.


"Baiklah, ini sudah ku simpan," ucap Darcie.


Setelah mengatakan itu, sebuah mobil hitam menepi dan mendekati dimana Darcie berdiri. Pria yang sama dengan yang mereka lihat di cafe saat itu keluar dari mobil dan menghampiri Darcie. Membungkuk hormat.


"Semoga kita bisa bertemu lagi setelah ini, apakah sekedar untuk makan bersama atau apapun itu," ucap Darcie.


"Itu sangat mudah di lakukan selama kamu menyelesaikan pekerjaanmu," sambut Joel.


"Yah,,, kau sangat benar dalam hal ini, andai aku bisa berganti posisi denganmu," seloroh Darcie.


"Aku tidak mengharapkan itu sama sekali," sambut Joel.


"Ha ha,, baiklah, selamat bersenang senang untuk kalian," ucap Dracie.


"Sampai jumpa lagi," sambut Joel.


Joel dan Ariel menatap kepergian Darcie hingga mobil itu menghilang dari pandangan mereka. Tak lama setelah itu, mobil yang menjemput mereka datang untuk mengantarkan mereka ke hotel yang telah Joel pesan sebelumnya.


"Seberapa banyak sebenarnya hal yang telah kamu siapkan?" tanya Ariel memecah keheningan di dalam mobil.


"Aku hanya memastikan kamu merasa nyaman sampai kita pulang nanti," jawab Joel.


"Ah,,, mengenai itu, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Joel seraya menatap wajah Ariel.


"Apa?" tanya Ariel.


"Apakah kita perlu untuk membeli rumah atau apartemen baru yang terletak di tengah-tengah antara tempatmu bekerja dan tempatku bekerja?" tanya Joel.


"Kita bisa menempati tempat manapun yang kamu mau," sambung Joel.


"Aparteman jelas lebih dekat jika di bandingkan dengan rumah, tapi aku juga tidak masalah tinggal dimanpun," jawab Ariel.


"Baiklah, kita akan pikirkan itu nanti secara perlahan," sambut Joel.


Ariel mengangguk setuju, ia menyandarkan kepalanya dibahu Joel, sampai mereka akhirnya tiba di hotel. kedatangan mereka disambut ramah resepsionis yang melayani mereka, barang bawaan mereka segera di ambil alih porter (petugas yang membawakan barang) yang mamandu mereka menuju kamar.


Begitu pintu kamar dibuka, Ariel tidak bisa menyembunyikan decakan kagum di wajahnya. Kamar yang dipesan Joel sangat luas dengan balkon yang menghadap laut.


"Terima kasih, tuan," ucap sang porter ketika menerima tip dari Joel.


"Selamat menikmati waktu anda," ucapnya lagi.


Joel hanya mengangguk dengan senyum ramah diwajahnya. Ia mengunci pintu setelah porter itu pergi dan menghampiri Ariel yang telah berada di balkon.


Kedua lengannya melingkari pinggang Ariel dari belakang, mendaratkan dagunya di bahu Ariel.


"Apakah kamu lelah?" tanya Joel.


"Tidak terlalu, terlebih lagi pemandangan ini seolah menjadi penghilang lelah," jawab Ariel meletakan tangannya di atas tangan Joel.


"Ingin menyegarkan diri?" tawar Joel.


"Aku sudah memesan makanan, dan itu mungkin akan datang tak lama lagi,"


"Kamu bisa mandi duluan sementara aku menunggu makanan datang," ucap Joe tanpa melepas pelukannya.


Ariel membalikan badannya, menghadap suaminya hingga wajah mereka saling berhadapan.


"Kenapa sekarang aku justru merasa apa yang kamu katakan hanya dalih? Hemm?" ujar Ariel menaikan alisnya.


"Kau terlalu mengenalku," sambut Joel tertawa pelan. Menempekan dahinya di dahi Ariel.


"Room service,,,"


"Ya?" sambut Joel setelah membuka pintu.


"Saya membawakan pesanan anda," ucapnya dengan senyum ramah.


"Ah,, terima kasih, biar aku saja," sambut Joel segera mengambil alih makanan dari petugas Room service.


Petugas room service itu tersenyum penuh pengertian, dan segera pergi meninggalkan tamunya.


"Sweetie,,, apa kamu ingin makan sekarang_,,,?"


Joel mengedarkan pandangannya, namun tidak menemukan istrinya. Dengan hati-hati, ia meletakan makanan dimeja dan melangkah menuju kamar mandi untuk memastikan Ariel berada disana.


Tangannya baru akan mengetuk pintu kamar mandi ketika tiba-tiba ia menghentikan gerakannya. Seringai lebar mulai menghiasi wajahnya seraya melepaskan kacamatanya.


"Jika aku mengetuk pintu, dia hanya akan kembali mengodaku," Joel bergumam pelan.


Dengan gerakan hati-hati, Joel membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak di kunci tanpa bersuara. Suara gemericik air dari shower membuat senyumannya kian melebar, hingga matanya menangkap sosok yang tengah memunggungi dirinya dibawah guyuran shower yang mengalir deras.


Dengan langkah pelan, Joel mendekati Ariel yang masih tidak menyadari kehadiran Joel di belakangnya. Matanya terpejam membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya, seolah hal itu bisa menghanyutkan rasa lelah selama perjalanan yang masih tersisa.


Hingga ia merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang.


"Joel,,," pekik Ariel terkejut.


"Aku belum selesai, tunggulah di luar sebentar," pinta Ariel dengan keterkejutan yang masih tersisa.


"Kenapa aku harus menunggu di luar ketika aku bisa di sini sekarang?" balas Joel enggan melepaskan pelukannya.


"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan padaku bahwa kamu akan menunggu di luar?" ucap Ariel mengingatkan.


"Benarkah? Apakah aku mengatakannya?" tanya Joel.


"Ya, kamu yang mengatakan akan menunggu, jadi keluarlah," pinta Ariel.


"Kamu bahkan membuat pakaianmu basah," sambungnya.


"Coba ulangi lagi apa yang aku katakan padamu," pinta Joel.


"Dan kamu akan keluar?" tanya Ariel.


"Hanya jika kamu tidak mambuat kesalahan," jawab Joel.


"Aku bisa mandi duluan sementara kamu menunggu makanan datang," ucap Ariel mengulang apa yang Joel katakan sebelumnya.


"Aneh,, aku tak merasa pernah mengatakannya," sambut Joel mengeratkan pelukannya.


"Haiss,,, baik,, baik,, aku mengerti,!" gerutu Ariel melonggarkan tangan Joel yang melingakari pinggangnya.


Ariel berbalik, melingkarkan tangannya di leher Joel. Memandangi wajah suaminya dibawah guyuran air, satu tangannya bergerak ke wajah Joel, menelusuri garis pipinya dengan jari-jarinya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Senyum penuh kemenangan menghiasi wajah Joel yang segera mencondongkan tubuhnya, menahan Ariel dengan kedua tangannya ketika ia menggikis jarak yang ada diantara mereka.


...>>>>>>>--<<<<<<<<...


"Aaarrghhhhh,,,,,!!!"


Ken mengerang kesal ketika melihat tumpukan kertas di depannya. Data beberapa orang yang telah mendaftar dan telah ia seleksi masih bertahan di angka dua puluh lima orang.


Dan sekarang ia harus melakukan aransmen sendiri di saat Ariel tidak ada untuk membantunya.


"Kepalaku rasanya mau meledak," geramnya sembari meletakkan kepalanya diatas meja.


"Apakah kak Ariel juga seperti ini? Dan kak Ariel bisa melakukannya? Aku penasaran kak Ariel bahkan tidak botak," ujarnya blak-blakan.


'PLETAK,,,!!'


Suara jitakan keras mendarat tepat setelah Ken menyelesaikan ucapaannya.


"Aduhh,,," erang Ken langsung menoleh.


"Kakak,,," geram Ken. "Apa sih? Kan sakit," gerutu Ken mengusap kepalanya.


"Kau bicara tanpa rem seperti itu dan terus mengeluh. Pekerjaanmu tak akan selesai hanya dengan keluhanmu," tegur Charlie.


"Bukankah kau sendiri yang mengatakan bisa menyerahkan semuanya yang berhubungan dengan studio? Itu juga alasanmu menjadi asistennya bukan?" ujar Charlie lagi.


"Memang benar,," sambut Ken menurunkan tangannya.


"Aku hanya tidak menyangka akan membuatku sampai buntu seperti ini," keluh Ken.


Charlie memperhatikan beberapa kertas yang tersebar di meja, beberapa bahkan di lantai yang telah di remas hingga berbentuk bola.


Tumpukan kertas yang berisi data orang-orang yang telah lulus tahap seleksi masih cukup banyak.


Ken kembali menjatuhkan kepalanya di atas meja seperti orang yang baru saja gagal menghadapi ujian tertulis.


Charlie tersenyum sembari megelengkan kepalanya, lalu bangun dari duduknya dan berjalan menuju dapur, meninggalkan adiknya sendirian.


"Kakak jahat sekali, bahkan terlihat tidak peduli," gerutu Ken.


"Kak Charlie menyebalkan!" umpatnya.


.....


.....


To be Continued...


Penjelasan..


-Aransmen\=> adalah penyesuaian komposisi musik dengan suara penyani atau instrumen lain yang didasarkan pada sebuah komposisi musik yang sudah ada sehingga esensi musiknya tidak berubah.