
Keesokan harinya, Joel terbangun dan mendapati istrinya masih terlelap. Tangannya mengusap lembut kepala sang istri dengan senyum cerah dibibirnya.
Ia segera menegakkan badannya, turun dari tempat tidur lalu merenggangkan badannya. Rasa sakit disekujur tubuhnya menjadi lebih terasa sejak beberapa hari terakhir dimana ia sering kurang tidur dan membuatnya beberapa kali tidak sengaja tertidur dirumah sakit ketika jam istirahat.
Joel membalikkan badannya, mamandangi istrinya yang masih terlelap dengan perut besarnya. Ia tau persis istrinya jauh lebih kesulitan dibandingkan dengan dirinya.
Beberapa kali ia mendapati Ariel tidak mengatakan apapun dan lebih memilih menahan diri meski apa yang dilakukan membuatnya tak nyaman hanya karena ingin Joel bisa tidur nyenyak tanpa gangguan.
Hasil pemeriksaan terakhir pun mengatakan Ariel kurang tidur hingga membuat berat badannya berkurang.
"Ughmmm,,,"
Suara erangan lembut sontak membuat Joel segera tersadar, detik berikutnya melihat istrinya membuka matanya. Ia bergegas menghampiri Ariel untuk membantunya bangun.
"Kapan kamu bangun?" tanya Ariel.
"Baru saja," jawab Joel.
"Aku akan mandi dulu, atau kamu juga ingin mandi?" tawar Joel.
"Nanti saja, pergilah!" jawab Ariel setelah duduk ditepi tempat tidur.
"Baiklah," jawab Joel.
Ariel melakukan aktivitas sebanyak yang ia bisa karena tidak ingin hanya diam dengan alasan kehamilannya.
Selesai manyiapkan pakaian untuk suaminya, ia segera keluar kamar untuk menyiapkan sarapan.
"Hemmm,,," Ariel bergumam pelan sembari melihat isi lemari.
"Kemarin oatmeal, toast juga sudah," gumamnya sembari terus berpikir untuk membuat menu yang tidak pernah dibuat sebelumnya.
"Dia sangat menyukai kentang,,," ujarnya lagi. "Kentang,,, kentang,,, home fries,? Ah benar, menu itu rasanya belum pernah dibuat. Dan kebetulan ada paprika," ujarnya.
Ariel mengeluarkan beberapa biji kentang dan paprika juga paterseli. Sebelum mulai mengupas kentang, ia membuat secangkir kopi dengan mesin yang telah dinyalakan sebelumnya dan meletakkannya di meja.
Ia mulai mengupas kentang, memotongnya dengan potongan tipis, lalu menumisnya setelah dicuci bersih hingga setengah kering. Memberi tambahan potongan daging tipis serta paprika. Terakhir menaburkan potongan paterseli.
Sarapan selesai dihidangkan tepat ketika Joel muncul.
"Kenapa kamu yang menyiapkan sarapan?" tegur Joel saat melihat sarapan telah siap.
"Jika kamu semalaman mengurusku dan memastikan aku bisa tidur, apakah aku tidak boleh melakukan ini untukmu?" sambut Ariel tersenyum. "Kamu bahkan mengabaikan dirimu sendiri," imbuhnya.
Ariel mendekati suaminya yang telah berpakaian rapi mengunakan pakaian yang ia siapkan.
"Lihat ini," ujarnya sembari meletakkan telapak tangannya diwajah Joel yang memiliki lingkaran hitam dibawah matanya..
"Kamu bahkan terlihat jelas kurang tidur, bukankah itu akan mempengaruhi kinerjamu? Apa yang akan terjadi jika disaat kamu sedang melakukan operasi, dan kamu mengantuk disana? Hemm?" lanjutnya.
"Bukan aku satu-satunya yang kurang tidur disini," jawab Joel meletakkan tangannya diatas tangan istrinya.
"Kalau begitu, kita impas," jawab Ariel terkekeh.
"Dasar,," geram Joel gemas sembari menarik hidung istrinya.
"Nikmati kopimu, aku ingin mandi," ucap Ariel.
"Mau kubantu?" tawar Joel.
"Tidak, aku bisa sendiri," tolaknya.
"Baiklah, aku tunggu disini," jawab Joel.
Ariel segera pergi meninggalkan suaminya untuk ritual paginya. Dan kembali lagi untuk menikmati sarapan bersama.
Mengantar sang suami sampai di pintu depan, dan mendapatkan balasan dengan sang suami yang mengecup keningnya seolah menjadi kegiatan rutin penganti mereka sejak Ariel tidak lagi harus berangkat ke studio. Ia hanya akan ke studio ketika ada keperluan penting.
Seperti hari ini, ia berencana ke studio setelah mengantarkan menu makan siang ke rumah sakit. Untuk menghabiskan waktunya menunggu siang tiba, Ariel kembali melakukan aransemen.
>>>>>>--<<<<<<<
Disiang harinya.
Ariel baru saja turun dari taksi didepan sebuah rumah sakit dimana suaminya bekerja. Betapa seringnya ia datang kerumah sakit membuat beberapa perawat dan dokter lain segera mengenalinya ketika ia datang.
Mereka bahkan membantu Ariel dan mengantarnya keruangan Joel. Kedatangan Ariel yang tiba-tiba membuat Joel terkejut, meski rasa senangnya juga tidak bisa di tutupi.
"Terima kasih sudah mengantanya, Seth," ujar Joel saat melihat istrinya datang dengan di antar Seth ke ruangannya.
"Bukan masalah," jawab Seth.
"Kalau begitu, nikmati waktu istirahatmu," ujarnya sebeum menutup pintu.
"Kenapa tidak bilang kalau mau kemari?" tanya Joel membantu Ariel duduk.
"Hanya mengantarkan makan siang, sekaligus aku ingin bilang mau pergi ke studio," jawab Ariel.
"Studio?" ulang Joel.
"Uhmm,," jawab Ariel mengangguk. "Hanya ingin memantau sebentar dan memberikan pratitur pada mereka," jelas Ariel.
"Aku temani,!" balas Joel.
"Tidak perlu," jawab Ariel.
"Tapi, aku meminta di jemput sore nanti," sambungnya.
"Baiklah," jawab Joel lesu.
"Aahh,,, kenapa harus selalu memasang wajah seperti ini?" keluh Ariel sembari menarik hidung suaminya.
"Aku hanya ingin tetap bergerak aktif meski dengan keadaanku yang sekarang. Jika aku hanya diam saja, rasanya sangat bosan, dan aku justru menjadi lebih cepat lelah," jelas Ariel.
"Aku mengerti, hanya saja jangan terlalu memaksakan diri," ucap Joel mengingatkan.
"Aku tau tentang itu, ada lagi yang ingin anda sampaikan, Dokter?" goda Ariel tersenyum.
"Pft,,, baik,, baik,,sekarang habiskan makan siangnya, aku berangkat ke studio," pamitnya.
"Baiklah, kirimi aku pesan ketika kamu sampai disana," pinta Joel.
Ariel menganggukan kepala sebagai tanggapan, meninggalkan suaminya kembali bekerja, sementara dirinya pergi ke studio.
Semua orang yang berada di studio yang sudah mengetahui tentang Ariel memandang dengan rasa kagum. Kini ia menjadi orang yang disegani sejak peristiwa di acara Darcie beberapa bulan lalu.
Mereka semakin mengagumi sosok Ariel ketika melihat Ariel tetap datang untuk melatih meski dalam keadaanya yang sekarang. Mereka bahkan bisa mengobrol santai dengan Joel ketika datang untuk menjumput istrinya.
...>>>>>>>--<<<<<<<<...
Menit,,, Jam,, Hari,, Minggu,,,
Tanpa terasa waktu terus berjalan tanpa ada yang bisa mencegahnnya. Hari dimana ditetapkan sebagai tanggal pernikahan Jesica semakin dekat.
Ketika Ariel disibukkan dengan membantu sahabatnya, Joel justru sibuk dengan membeli barang yang hampir mencapai setengah dari kamar mereka.
Ariel menepuk dahinya ketika melihat suaminya pulang kembali dengan babarapa barang ditangannya.
"Apakah kamu berencana membuka toko sendiri? Gudang kita bahkan sudah tidak bisa memuat barang yang kamu beli," gerutu Ariel.
"Sekarang apa lagi yang kamu beli?" tanya Ariel berkacak pingang.
"Ini?" jawab Joel sembari mengangkat barang ditangannya.
"Mainan yang digantung diatas tempat tidur," terang Joel dengan senyum lebar.
"Lalu, yang ini,,, marakas, pianika, dan_,,,"
"Tunggu sebentar," potong Ariel.
"Kenapa kamu membeli pianika?" tanya Ariel dengan kerutan di keningnya.
"Bukan tidak mungkin salah satu dari mereka bisa menjadi pemusik sepertimu," jawab Joel enteng.
"Astaga,,, Bunny,,," geram Ariel gemas. "Mereka itu bayi, bahkan mereka masih belum lahir," sambungnya.
"Lalu kenapa? Bisa jadi mereka suka membunyikan ini dan akan menarik minat mereka," jawab Joel.
'Ahh,,, terserah,," jawab Ariel mengibaskan tangannya dan berlalu meninggalkan suaminya ke kamar.
"Hey,,,Sweety,,, kenapa marah?" tanya Joel dengan wajah polos.
"Berhentilah membeli barang, dua hari lagi pernikahan mereka," ujar Ariel sebelum masuk ke kamar.
"Apa hubungannya pernikahan mereka dengan aku membeli barang?" tanya Joel dengan kening berkerut.
Ariel mengeluarkan hembusan nafas panjang dengan telapak tangan diwajahnya merasa frustasi dengan sikap suaminya yang berubah seperti anak-anak jika sudah membahas tentang membeli sesuatu.
Memutar bola matanya, Ariel melanggang masuk kamar tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"Hey,,,Sweety,,, " panggil Joel segera menyusul istrinya.
"Kamu marah?" tanyanya dengan suara memelas.
"Hey,,, ayolah,,," bujuk Joel menghampiri Ariel yang duduk di tepi tempat tidur.
"Baik,, baik,, aku tidak membeli barang lagi," ujar Joel duduk berlutut di depan sang istri sembari mengenggam tangannya.
Ariel memandangi wajah suaminya yang tampak memelas berusaha membujuknya agar tidak marah. Dan sejujurnya Ariel merasa senang dengan apa yang Joel lakukan. Hanya saja itu sedikit berlebihan baginya.
"Aku tau apa alasanmu melakukan semua ini, dan aku sangat menghargai hal itu," ujar Ariel.
"Namun, kasih sayang bukan hanya ditunjukan dengan kita membeli apapun untuk mereka, kita bisa melakukannya dengan hal lain yang lebih sederhana," lanjutnya.
"Aku tau," jawab Joel mengecup tangan sang istri.
"Hanya saja, sulit rasanya untuk menahan diri tidak membelinya ketika aku melihat ini dan teringat akan mereka yang tidak lama lagi akan hadir," tutur Joel.
"Hahhh,,, baiklah,, kau menang," desah Ariel.
"Tapi,katakan padaku! Apa saja yang sudah kamu siapkan?" tanya Ariel.
"Segalanya," jawab Joel tersenyum simpul.
"Segalanya?" ulang Ariel mengerutkan keningnya.
Joel mengangguk, tangannya beralih mengelus perut sang istri dengan posisi masih berlutut.
"Rumah sakit, mereka yang siap dengan panggilanku kapan saja, perlengkapan mereka berdua, dan tentu saja apapun yang dibutuhkan ibu yang melahirkan mereka," terang Joel.
"Kapan kamu menyiapkan semua itu?" tanya Ariel dengan mata melebar tak percaya.
"Bukankah kamu memberiku waktu cukup lama? Delapan atau sembilan bulan adalah waktu yang cukup untuk menyiapkan itu," jelas Joel tanpa beban.
Joel mendekatkan telingannya diperut Ariel, senyum bahagia yang terlukis diwajahnya sedikitpun tidak bisa disembunyikan.
"Dasar,,, entah kenapa aku merasa mereka mengambil alih sepenuhnya tempat dihatimu," sindir Ariel.
"Eeehh,,, kenapa?" tanya Joel menjauhkan wajahnya dan menatap sang istri.
"Apakah istriku cemburu?" goda Joel.
Ariel hanya tersenyum sembari mengelengkan kepalanya, tangannya terulur melepaskan kacamata suaminya dan menempelkan dahinya didahi Joel.
"Aku merasa sempurna," ucap Ariel.
Joel balas tersenyum, mengecup lembut bibir Ariel sebelum menjawab.
"Kaulah yang menjadikan kehidupanku sempurna," balasnya.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
To be Continued....