I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
149. Hari bersejarah



Altar pernikahan yang sama dan berada ditempat terbuka dengan hiasan bunga mawar putih yang diatur dengan sedemikian rupa menghadirkan nuansa elegan dengan kain lembut yang menjuntai menyentuh tanah dengan perpaduan warna hijau dan biru.


Deretan kursi yang berada di depan altar berwarna kayu disiapkan untuk para tamu. Hamparan karpet merah menutupi jalan setapak dimana jalan itu akan dilalui sang mempelai.


Satu hal yang tampak menarik perhatian disana adalah sebuah piano dengan warna putih berada di satu sisi altar dengan satu kursi khusus yang diletakkan disamping piano.


Nuansa putih yang memenuhi setiap sudut seolah ingin mengatakan kepada semua orang tentang pengungkapan janji suci yang akan dilakukan hari itu.


Banyak tamu yang hadir untuk menyaksikan janji suci yang akan dilangsungkan. Mereka yang berasal dari kalangan bisnis kelas atas pun turut hadir dalam acara itu, termasuk semua kolega dari kedua orang tua mereka.


Disalah satu ruangan, Ariel masih menemani Jesica dalam proses riasannya. Ariel lebih banyak menghabiskan waktunya dengan duduk sejak ia tidak sanggup lagi berdiri terlalu lama namun pandanganya tak pernah berpaling dari sahabatnya yang tampak cantik dengan balutan gaun putihnya.


"Katakan saja jika kamu ingin mengurungkan niatmu untuk bermain piano, Ariel. Aku tidak tega melihatmu seperti ini," ucap Jesica merasa iba setiap kali melihat Ariel memerlukan usaha lebih hanya untuk berdiri.


"Aku masih bisa melakukannya, lagipula aku hanya duduk ketika memainkan piano nanti," jawab Ariel. "Dan aku sangat menantikan hari ini, jadi jangan merusaknya," imbuhnya.


"Apakah menjadi seorang ibu akan membuat orang menjadi lebih keras kepala dari sebelumnya?" celetuk Charlie.


"Diamlah!" sungut Ariel melempar buket bunga kewajah Charlie.


"Ha ha ha,,, benar-benar diluar dugaan," sambut Charlie menangkap bunga yang dilempar Ariel padanya.


"Tapi, kau masih sangat cantik, Ariel. Membuatku berpikir ada dua orang yang akan menikah hari ini," ujarnya.


"Aku setuju," sambut Jesica.


"Kamu masih bisa tampil menawan seperti sebelumnya, Ariel" puji Jesica.


"Ya,, ya,, ya,, sejauh yang aku tau, seorang Jessi memang pandai berkata manis," sambut Ariel.


"Baiklah,, Baiklah,,, sekarang sudah cukup," lerai Charlie.


"Sudah waktunya bagi kita untuk keluar," sambungnya.


"Benar," jawab Ariel seraya berdiri.


Charlie segera membantu Ariel bangun dari duduknya, meninggalkan Jesica dimana sang ayah telah menunggu didepan pintu ruang rias Jesica.


"Kami permisi tuan," ucap Charlie membungkukan sedikit badannya ketika berpapasan dengan ayah Jesica.


"Terima kasih sudah membantu, Charlie. Dan tak lupa aku juga berterima kasih padamu, Ariel," ucapnya dengan gestur seorang ayah sempurna.


"Dengan senang hati, tuan" sambut Ariel tersenyum.


Mereka bergegas pergi, namun sebelum mereka benar-benar sampai di kursi yang telah disiapkan, ayah Bram telah menunggu Ariel didepan jalan masuk menuju altar.


"Bisakah aku berbicara sebentar denganmu, Ariel?" pintanya dengan senyum ramah.


"Tentu, tuan," sambut Ariel.


"Pergilah lebih dulu, Charlie. Aku segera menyusul," pinta Ariel.


"Kau yakin?" tanya Charlie ragu.


"Aku yakin, aku akan baik-baik saja," jawab Ariel.


"Baiklah," jawab Charlie.


Charlie menjauh dari Ariel, namun diam-diam bergegas menuju tempat dimana Joel berada karena merasa khawatir.


"Apa yang ingin anda bicarakan, Mr.Evrad?" tanya Ariel.


Selama beberapa saat, Evrad memandangi Ariel yang kini tengah mengandung, dan hanya menunggu hitungan hari hingga melahirkan.


Sosok wanita yang tak pernah ia sangka akan berubah menjadi begitu kuat setelah apa yang telah dia lalui.


"Kamu terlihat sehat, Ariel," ucap Evrad lirih.


"Saya sangat beruntung karena seseorang menjaga saya dengan sangat baik," jawab Ariel tersenyum hangat.


"Bram adalah satu-satunya yang kumiliki saat ini, dan aku sangat berterima kasih karenamu dia bisa berubah dan memiliki sikap yang jauh lebih baik dibandingkan ayahnya,"


"Kau bahkan berhasil membuatku melihat sisi yang tak pernah ku lihat sebelumnya, dan kini anakku akan menikah. Aku hanya ingin berterima kasih padamu," ujar Evrad.


"Saya tidak melakukan banyak hal, Mr.Evrad. Melainkan Bram sendiri yang melakukan untuk dirinya sendiri, termasuk anda," jawab Ariel.


"Apa yang sedang kau lakukan disini?"


Sebuah tangan tiba-tiba mendarat dibahu Ariel disertai suara yang familiar baginya, membuat Ariel segera menoleh.


"Darcie,,?" sambut Ariel senang.


Darcie hanya tersenyum tipis sebelum mengarahkan pandangannya pada Evrad dengan tatapan tajamnya seperti biasa.


"Selamat untuk pernikahan putra anda, tuan Evrad," ucap Darcie seraya mengulurkan satu tangannya yang masih bebas sementara tangan lain masih berada di bahu Ariel.


"Terima kasih tuan Adonis," sambut Evrad menyambut uluran tangan Darcie. "Sebuah kehormatan anda berkenan hadir diacara pernikahan putra saya," imbuhnya.


"Saya tidak mungkin mengabaikan undangan teman baik saya," jawab Darcie.


Evrad tersenyum canggung, dan bergegas pamit meninggalkan Ariel dan Darcie keruangan dimana anaknya berada. Tepat saat Evrad pergi, Joel muncul dengan wajah cemas.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Joel.


"Pft,,, ha ha ha,,, rasanya aku jadi semakin ingin mengodanya melihat reaksi suamimu, Ariel," ujar Dracie dengan nada santainya.


"Bukankah itu salahmu karena meninggalkan istri cantikmu sendirian?" sambung Darcie memanasi Joel.


"Jika itu kamu, aku tidak khawatir," jawab Joel.


"Begitukah?" balas Darcie dengan seringai diwajahnya.


Joel hanya menaikan bahunya, dan menatap istrinya untuk memastikan sesuatu.


"Apakah Charlie menemuimu?" tebak Ariel.


"Yah,,, dia khawatir, itu sebabnya dia menemuiku," jawab Joel. "Lagipula, ini sudah waktunya," sambungnya.


"Ah,,, benar," sela Darcie.


"Ayo kita kesana," ajaknya.


Joel dan Ariel mengangguk. Darcie mengangkat tangannya dan berjalan beriringan bersama meraka. Mereka duduk di barisan paling depan, sementara yang barisan belakang mereka merupakan para tamu yang diundang oleh kedua pengantin.


Ariel maju untuk duduk dikursi yang disiapkan untuk memainkan piano. Sementara Joel duduk tak jauh darinya untuk menjaga sang istri. Penampilan mereka berdua pun tak kalah menarik decakan kagum dari para tamu.


Hingga ketika Ariel mulai memainkan piano sebagai tanda pengantin pria akan datang, suasan berubah hening. Bram telah berdiri didepan altar, kini menunggu pengantin wanita yang tengah berjalan menuju kearahnya.


Pengantin wanita yang menjadi pusat perhatian itu berjalan perlahan bersama sang ayah yang mengantarnya menuju altar untuk menyerahkan putrinya pada orang yang akan mengantikan dirinya untuk menjaga putrinya.


Acara berjalan dengan khidmat ketika sang imam mulai membaca doa didepan pengantin.


Bram menyematkan cincin di jari manis Jesica, begitu juga dengan Jesica yang menyematkan cincin pada Bram. Hingga ketika mereka selesai dengan sumpah janji mereka, dan mereka berciuman. Suara gemuruh tepuk tangan dan sorakan para tamu memenuhi tempat dimana menjadi tempat terjalinnya janji suci mereka berdua.


Ariel memainkan lagu diakhir acara sebagai ucapan selamat yang ia ucapkan untuk sahabat terbaiknya. Hingga acara terus berlanjut sampai malam.


Jesica sudah bersiap pergi bersama orang yang kini menjadi suaminya. Ken dan Joel merangkul Bram serta memberi ucapan selamat.


"Apakah setelah ini kau yang akan menikah?" bisik Joel pada Ken.


"Apa sih," sambut Ken dengan wajah memerah.


"Kudengar namanya Alice. Itu mana yang indah bukan?" timpal Bram.


"Lebih baik kak Bram pergi sana," usir Ken membuat dua orang yang mengodanya tertawa puas.


Joel dan Ken memberikan pelukan singkat pada Bram sebelum dia masuk kedalam mobilnya.


Sementara Ariel masih enggan melepaskan pelukannya pada Jesica.


"Kuharap kau tidak terlalu lama," ujar Ariel merasa berat melepas kepergian Jesica.


"Kuharap juga tidak, karena aku sangat menantikan mereka yang akan memanggilku Aunty," seloroh Jesica. "Aku sangat berharap bisa melihat mereka lahir," imbuhnya.


Ariel tersenyum tipis dan secara perlahan melepaskan pelukanya, membiarkan sahabatnya pergi bersama suaminya.


Joel memeluk singkat Jesica untuk memberikan ucapan selamat sebelum dia masuk ke mobilnya. Melambaikan tangannya ketika pada akhirnya mobil yang mereka berdua naiki bergerak menjauh.


"Apakah kamu masih ingin mengobrol bersama Charlie?" tanya Joel pada istrinya.


"Apakah itu artinya aku masih bisa disini sebentar lagi?" balas Ariel bertanya.


"Tidak, lebih baik kau pulang saja," sela Charlie.


"Padahal kita sangat jarang bisa bertemu, tapi kau mengusirku," sungut Ariel.


"Aku memiliki acaraku sendiri, dan tak baik untukmu jika kamu berada diluar lebih lama lagi," jawab Charlie.


"Apakah kau memiliki jadwal kencan dengan seseorang?" celetuk Ariel.


"Anggaplah begitu," jawab Charlie sekenanya.


"Eh,, benarkah?" sambut Ariel dengan mata melabar tak percaya.


"Siapa? Kenapa kau tidak mengenalkannya padaku?" cecar Ariel.


"Aku akan mengenalkanya lain kali, sekarang pulanglah," saran Charlie.


"Hahhh,,, baiklah," desah Ariel.


"Ayo pulang," ajak Ariel pada suaminya.


Joel tersenyum tipis, lalu menganggukan kepalanya. Ia segera mengandeng istrinya menuju mobil mereka. Namun, sebelum mereka mencapai mobil, tiba-tiba Ariel menghentikan langkahnya, dahinya mengernyit tajam sembari memengangi perutnya.


Satu tangannya yang lain mencengkram lengan suaminya dengan kuat ketika ia merasakan rasa sakit luar biasa pada perutnya hingga membuat ia tak mampu untuk berdiri.


"Sweety,,,,?"


Joel berseru panik ketika tiba-tiba istrinya berhenti melangkah dan berlutut sembari memegangi perutnya.


.....


To be Continued....