I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
38. Kejutan 2



"Selamat ulang tahun, Kak," ucap Ken tersenyum.


"Bagaimana kau bisa tau tentang ini?" tanya Ariel melebarkan matanya.


"Tentu saja dari data kakak yang berada di studio," jawab Ken enteng.


"Dan bagimana caramu bisa mendapatkannya?" tanya Ariel lagi.


"Engg,,, itu,,, waktu itu aku tidak sengaja melihat data kakak saat coch Gerry membawanya untuk pertunjukan kakak," jawab Ken mulai gugup.


Ariel melipat tangan dan menyipitkan matanya. Membuat Ken bertambah gugup, takut bahwa apa yang dilakukan olehnya adalah kesalahan hingga membuat Arie akan menjauhinya.


'Ukh,,,, seharusnya aku berpikir lagi sebelum melakukan ini, mungkin saja kak Ariel tidak menyukai hal seperti ini,' rutuk Ken dalam hati.


Detik berikutnya, Ariel tertawa dan kembali mengacak-acak rambut Ken.


"Kenapa wajahmu jadi sesrius itu?" sambut Ariel disela tawanya.


"Kak Ariel tidak marah padaku?" tanya Ken belum menurunkan tangannya.


"Aku tersentuh," jawab Ariel mengulurkan tangan mengambil kotak itu dari tangan Ken.


"Terima kasih banyak, Ken," ucap Ariel tulus.


"Itu bukan hal besar, dan itu juga bukan sesuatu yang terbilang mewah. Tapi, kuharap kakak akan menyukainya," tutur Ken.


"Haruskah ku buka sekarang?" tanya Ariel.


"Itu milik kakak sekarang, jadi kakak bisa membukanya kapan saja. Aku udah cukup puas dengan kakak mau menerimanya," jawab Ken.


Ariel tersenyum dan menatap kotak yang ada ditangannya. Perlahan, ia membuka kotak itu.


Ariel melebarkan matanya begitu melihat isinya. Sebuah gelang dengan manik-manik dan mata gelang berbentuk bintang dengan batu berbentuk daun semanggi berdaun empat didalamnya.


"Indah," gumam Ariel sembari menelusuri gelang itu dengan jarinya.


"Sepertinya ini akan menjadi gelang satu-satunya," ucap Ariel menatap Ken.


"Maksud kakak?" tanya Ken menaikan alisny.


"Bagaimana kau bisa membuat gelang seindah ini?" tanya Ariel.


"Eng,,, " Ken mengaruk kepalanya.


"Bagaimana kakak bisa mengetahuinya?" tanya Ken.


"Saat kamu mengatakan ini bukan hal besar dan berharap aku menyukainya," jawab Ariel.


"Jadi, kakak menyukainya?" tanya Ken penuh harap.


"Sangat," sambut Ariel tersenyum hangat.


"Lega sekali mendengar kakak menyukainya," balas Ken tersenyum lebar.


Ariel meletakkan kotak itu disampingnya. Matanya kembali menatap laut. Ken mengikuti apa yang Ariel lakukan.


"Apakah kakak tidak merayakan ulang tahun kakak?" tanya Ken.


"Tidak,!" jawab Ariel. " Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku merayakannya," jawab Ariel.


"Apakah aku boleh menanyakan hal yang sedikit pribadi pada kakak?" tanya Ken lagi tanpa menatap Ariel.


"Tanyakan saja," jawab Ariel.


"Apakah kakak pernah jatuh cinta?" tanya Ken.


"Pernah," jawab Ariel lirih.


Ken menoleh dan menyadari perubahan suasana di wajah Ariel.


"Maafkan kak, aku tidak bermaksud untuk membuat kakak_,,,"


"Tenanglah,!" potong Ariel " Itu sudah lama sekali, itulah sebabnya aku mengatakan kisahku tidaklah menarik untuk didengar siapapun," sambungnya.


"Sejujurnya, aku justru ingin tau hal apa saja yang kakak lalui," sambut Ken.


"Dan kenapa aku harus melakukannya?" balas Ariel menatap Ken dengan alis terangkat.


"Kakak tidak harus melakukannya, hanya saja mungkin itu bisa sedikit mengurangi kesedihan hati kakak," jawab Ken.


"Aku tidak pandai menghibur orang lain seperti yang biasa kakak lakukan, tapi itu mungkin akan membuat kakak merasa lebih baik jika kakak menceritakannya," imbuhnya.


"Aku yang sekarang merasa lebih baik, Ken. Dengan kamu berkata seperti itu, membuatnya terdengar bahwa kau peduli padaku," tutur Ariel.


"Aku memang peduli pada kakak," sambut Ken.


"Benarkah?" tanya Ariel yang dijawab dengan anggukan kepala Ken.


"Aku jadi merasa memiliki seorang adik sekarang, terima kasih," balas Ariel kembali mengacak-acak rambut Ken.


'Adik? Hanya Adik? Uhh,, kenapa ini justru terasa seperti penolakan sebelum pengakuan?' ratap hati Ken.


Ken tersenyum lebar, menyembunyikan perasaan yang menusuk dihatinya.


"Jika aku bertanya dari mana kakak belajar musik, apakah kakak mau menceritakannya?" tanya Ken mencoba mengalihkan pikirannya.


"Saat itu, aku bekerja disebuah kedai burger," papar Ariel memulai.


"Di akhir sift kerjaku, aku membuang sampah disamping kedai. Entah kenapa aku tertarik untuk membunyikan tiap tutup sampah yang ada disana. Dah yah, aku melakukanya. Aku semakin tertarik ketika tiap tutup sampah yang diletakan dengan posisi berbeda, menghasilan bunyi yang berbeda,"


"Jadi aku selalu memainkannya setiap selesai bekerja. Hingga tanpa kusadari, aku bisa menirukan suara apapun dengan hanya dengan satu alat musik saja,"


"Saat itu aku mengunakan pianika yang ku pinjam dari orang yang mengadakan orkestra jalanan. Dan saat aku selesai bermain, mereka menyebutku sebagai nada sempurna,"


"Diamana aku bisa tau mereka salah memainkan musik hanya dengan sekali mendengar. Dan disitulah aku mulai terus bermain musik," ungkap Ariel mengakhiri ceritanya.


"Kakak bekerja di kedai burger?"tanya Ken tak percaya.


"Aku perlu makan untuk bertahan hidup bukan?" sambut Ariel.


"Lalu, orang tua kakak?" tanya Ken lagi.


"Entahlah," jawab Ariel mengangkat bahunya. "Mereka meninggalkanku_ lebih tepatnya membuangku saat aku berumur 5 tahun," papar Ariel.


"Apa???" Ken membelalakan matanya.


"Apa-apaan dengan ekspresi itu?" sambut Ariel tertawa.


"Aku hanya tidak menyangka, kakak bahkan mengalami hal yang lebih buruk dariku," ungkap Ken.


"Bukankah itu sepadan?" jawab Ariel tersenyum. " Aku bisa seperti ini sekarang dan itu membuatku bersyukur," sambungnya.


"Yah,,, kakak sungguh luar bisa. Kakak bisa memainkan musik hanya dengan bantuan alat yang sangat sederhana," ujar Ken.


"Jangan mengolokku," sambut Ariel menarik hidung Ken.


"Aaahhh,,," keluh Ken. " Aku hanya jujur," ucap Ken mengusap hidungnya.


"Maksudmu belajar dari tutup tempat sampah?" balas Ariel menyipitkan matanya.


Ken tersenyum lebar sembari mengosok belakang lehernya.


"Tapi itu memang tidaklah salah," ucap Ariel lagi.


Mereka saling menatap satu sama lain lalu tertawa.


Disisi lain pantai, Joel dan Bram muncul, dan dengan langkah tergesa-gesa menghampiri Ariel.


"Tunggu," cegah Joel saat jarak mereka tidak terlalu jauh.


"Apa?" tanya Bram.


"Orang yang bersama Ariel adalah Ken," terang Joel.


"Kau yakin?"tanya Bram.


"Sangat yakin," jawab Joel. "Tapi jika kau ragu, kita pastikan itu sekali lagi," sambung Joel.


Bram mengangguk dan kembali melangkah menghampiri Ariel.


Bram meletakkan tangan dibahu Ariel hingga membuatnya menoleh dan memperlihatkan wajah terkejutnya.


"Apa yang membuat kalian berada disini?" tanya Ariel terkejut melihat Joel dan Bram datang bersama.


Ken menatap dua pria didepan Ariel secara bergantian. Namun Joel dan Bram justru menatap tajam pada Ken.


Ken menghembuskan nafas pelan, memahami situasinya.


"Kami menjemputmu, tapi kamu tidak ada distudio," papar Joel.


"Bukankah sudah aku bilang untuk tidak datang?" sambut Ariel.


"Dari caramu membalas pesanku, aku tau terjadi sesuatu, itu sebabnya kami datang," jawab Joel.


"Kami? Maksudnya kalian datang bersama?" tanya Ariel melebarkan matanya.


"Bisakah kamu pulang sekarang?" tanya Bram.


"Kenapa?" sambut Ariel mengerutkan keningnya.


"Karena ada yang ingin kubicarakan denganmu," jawab Bram.


"Kami," ralat Joel.


"Sepertinya mereka ada urusan dengan kakak," sela Ken.


"Jangan dianggap serius, mereka selalu seperti ini," sambut Ariel.


"Oh benar, dia Ken. Yang kulatih untuk tampil beberapa hari kedepan," ucap Ariel memperkenalkan mereka


" Dan Ken, dia Bram dan ini Joel. Mereka teman-temanku," sambung Ariel.


Ken sedikit membungkukan badanya dan tersenyum hangat.


"Senang bertemu dengan kakak sekalian," ucap Ken ramah.


Bram dan Joel menatap Ken dengan tatapan skeptis. Membuat ia bergerak tidak nyaman. Namun mengingat mereka teman Ariel, membuatnya menutupi perasaan tak nyaman dihatinya.


...>>>>>>--<<<<<<<...