
Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Mobil yang dikendarai Bram meninggalkan tempat dimana Ariel pernah berkerja. Ketika tiba-tiba, Bram menghentikan mobilnya saat matanya menangkap kembali Jesica yang tengah bersama pria yang berbeda dengan yang dilihatnya kala itu.
Bram tidak bisa menahan diri lagi dan menghampiri Jesica, berniat untuk mengakhiri hiubungan mereka saat itu juga.
Bram dengan langkah pelan menghampiri Jesica yang tengah duduk menunggu saat pria itu berdiri dan meninggalkannya untuk membeli sesuatu.
"Jesica,,,!" panggil Bram senormal mungkin.
Jesica menoleh dengan wajah terkejut. Sesekali matanya mencuri pandang dimana pria yang bersamanya menghilang untuk sementara waktu.
"Hai, Bram," sambut Jesica.
Jesica menghampiri Bram dan memeluknya. Bram membirkan Jesica hingga dia menarik diri.
"Ini kejutan, aku tak melihatmu selama beberapa hari ini, dan kamu juga sangat sulit dihubungi. Aku merindukanmu," tutur Jesica tanpa rasa bersalah.
Bram menepis tangan Jesica dan menatapnya tajam.
"Apa maksudmu melakukan ini padaku, Jess?" tanya Bram.
"Apa yang kamu maksud, Bram?" tanya Jesica mengerutkan keningnya.
"Kau tau persis apa yang aku maksud," sahut Bram.
"Tck,,, jadi kau melihatnya?" decak Jesica memperlihatkan senyum liciknya.
"Yah,, aku tidak perlu mengelak lagi kalau begitu, yang kau lihat itu adalah benar," ungkap Jesica.
"Lalu,,,???" tanya Jesica menaikan alisnya dengan pandanagan meremehkan.
"Jadi kau mau bilang bahwa aku hanyalah pion yang kau gunakan untuk bermain?" geram Bram mengepalkan tangannya.
"Tepat, memang itu tujuan awalku," jawabnya tersenyum sinis.
"Kau_,,," Bram mengeram kesal dengan telunjuk yang mengarah ke Jesica.
"Dewasalah, Bram. Aku bahkan tidak pernah mengatakan akan menjalin hubungan serius denganmu. Aku hanya bermain-main. Jika aku bosan, aku hanya harus mengantimu dengan yang baru," cibir Jesica.
"Dan sekarang aku memang sudah bosan denganmu, jadi hubungan kita selesai," sambungnya sembari mengangkat wajahnya dengan angkuh.
"Kau menghancurkan hubunganku dengan Ariel hanya untuk ini?" Bram mulai berteriak marah.
"Jaga mulutmu,!!" sentak Jesica.
"Kaulah yang menghancurkan hubunganmu sendiri. Jangan menyalahkan orang lain atas tindakan yang kau lakukan telah merugikanmu. Seharusnya kau bercermin dan lihat seperti apa dirimu," ejek Jesica.
Di sudut lain, kekasih Jesica segera mempercepat langkahnya begitu melihat Jesica yang berhadapan dengan Bram yang berwajah marah.
"Sayang,,, ada apa?" suara lembut di belakang Jesica menyela dengan nada cemas.
Jesica menoleh dan tersenyum manis melihat kekasihnya telah kembali
"Tidak ada apa-apa, sayang. Aku hanya bertemu dengan orang asing yang salah mengenaliku," jawab Jesica lembut.
"Kembalilah dulu ke mobil, aku segera menyusul!" pinta Jesica.
"Apakah kamu baik-baik saja jika ku tinggal?" tanyanya khawatir. " Bagaimana jika dia melukaimu?" sambungnya.
"Tidak akan. Akan kupastikan aku segera kembali dan dalam keadaan baik-baik saja. Aku hanya ingin memberi pengertian padanya bahwa dia memang telah salah mengenali orang," jawab Jesica lembut dan tersenyum manis.
"Baiklah. Aku akan datang kesini lagi jika kamu tidak kembali dalam waktu lima menit," ucapnya.
"Tidak perlu," sela Bram.
"Aku memang telah salah mengenali seseorang. Permisi," ucap Bram sengit.
Bram berbalik meninggalkan Jesica bersama kekasih barunya. Sebelum langkahnya membawanya lebih jauh, Bram kembali berbalik dan berteriak kepada pria yang menjadi kekasihnya.
"Hei,,, sobat. lebih baik kau kenali dulu siapa wanita yang ada di sampingmu sebelum kau di hancurkan olehnya," saran Bram.
"Apa maksudmu," sambutnya marah.
"Aku hanya memberimu saran gratis. Mau menerimanya atau tidak, itu terserah padamu," balas Bram lalu berlalu pergi.
"Apa maksudnya yang dikatakannya itu?" geramnya.
"Apakah kamu yakin tidak mengenalnya Jess?" tanyannya.
"Maaf telah berbohong," sesal Jesica dengan wajah sendu. "Aku memang mengenalnya. Dia mengejarku sejak lama dan dia kembali mendekatiku lalu aku menolaknya. Lantas dia marah padaku," kilah Jesica.
"Aku mengerti," ucapnya sembari mengusap kepala Jesica dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, di sisi lain, Bram memacu mobilnya menuju rumahnya untuk segera berkemas dan mengurus perjalananya besok pagi.
Sebelum keberangkatannya, Bram mencari informasi tentang apartemen yang d sewakan ataupun di jual.
Bram akhirnya mendapatkan apartemen sesuai keinginannya. Sebuah apartemen yang terletak tidak jauh dari tempat Ariel bekerja.
"Aku akan segera bertemu denganmu lagi, Ariel," gumam Bram pelan dengan senym mengembang.
>>>>>>>>>>
Di sebuah bandara, Bram muncul di pintu keluar dengan ponsel di tangannya. Sesekali matanya melihat sekeliling lalu ke ponsel lagi.
Tangannya melambai untuk memanggil taksi dan meminta sopir mengantarnya ke apartemen miliknya.
Bram sedikitpun tidak membuang waktu ketika tiba di apartemen. Mengganti pakaiannya dan pergi keluar setelahnya.
Bram kembali menggunakan taksi untuk mengantakannya ke tempat Ariel bekerja. Menunggu di sebuah kedai dengan mata terus mengawasi setiap orang yang keluar masuk di sebuah gedung musik.
Tik,,,
Tok,,,
Tik,,,
Tok,,,
Bram memeriksa jam tangannya dan mendesah pelan. beberapa jam telah berlalu, dan Ariel sama sekali tidak terlihat.
'Apakah dia tidak bekerja hari ini?' pikir Bram.
Bram pergi meninggalkan tempat itu dengan tangan kosong. Namun, hal itu tidak menghentikannya. Bram kembali datang lagi dan lagi. Hingga suatu hari, Bram sudah tidak bisa menahan diri lagi dan memutuskan untuk bertanya dimana Ariel sebenarnya.
"Ariel? Apakah anda temannya?" tanya seorang pria yang Bram temui di tempat Ariel bekerja.
"Iya, saya kesulitan untuk menghubunginya beberapa hari ini. Dan dia juga tidak telihat datang kesini untuk bekerja," tutur Bram sopan.
"Ariel memang tidak datang selama dua minggu terakhir. Dan dia biasanya tidak mengajar selama sebulan ketika menyelesaikan pertunjukan yang dia lakukan," terangnya.
"Kenapa kamu tidak menemuinya di apartemennya saja?" tanyanya heran.
"Aku sudah mencoba, tetapi apartemennya selalu kosong," ucap Bram berbohong.
"Ahh,,, begitu. Kurasa dia sering ke pantai dan mungkin menginap di hotel walaupun sebenarnya apartemen dia tidak jauh dari pantai," ungkapnya.
"Kamu cek saja di pantai, mungkin dia masih berada di sana," sarannya.
"Terima kasih banyak," ucap Bram .
"Bukan masalah," sambutnya.
Bram mengikuti sarannya dan pergi menuju pantai. Tak perlu bertanya pun, Bram tau pasti pantai seperti apa yang akan dikunjungi Ariel hingga bersedia menginap di hotel walalupun apartemennya tidak jauh dari pantai.
'Dia ingin melihat pantai ketika bangun tidur. Dan selama aku di sini, aku sudah tau banyak tempat yang mungkin di kunjungi Ariel. Tapi aku melupakan pantai, dasar bodoh,!' rutuk Bram dalam hati.
Bram memacu mobilnya menuju pantai dengan wajah berseri. Namun untuk kesekian kalinya, Bram kembali menelan keekcewaan.
Di bibir pantai, Bram melihat Ariel tengah bersama seorang pria yang tidak dikenalnya. Ariel terlihat menikmati kebersamaan bersama pria itu. Bejalan beriringan, kemudian berdiri menghadap lautan yang terbentang di depan mereka.
Sesekali mereka tertawa bersama.
'Siapa? Dia siapa? Siapa yang sedang bersamamu, Ariel?' ratap hatinya.
Bram memutuskan untuk mundur, dan pergi dari pantai itu begitu saja. Pikirannya kacau dan menolak semua kemungkinan yang mungkin terjadi.
'Ada apa denganku? Kenapa aku sekesal ini melihatnya bersama pria lain? Aku bahkan tidak kesal sedikitpun saat Jesica bersama pria lain. Lalu kenapa aku harus marah? Ariel bukan lagi keasihku,'
Bram terus berkata dalam hatinya. Hingga tanpa disadarinya, dirinya berhenti di depan sebuah toko kue.
Entah bagaimana, toko kue itu seperti menarik perhatiannya dan membuatnya turun dari mobilnya, memasuki toko kue itu dan melihat kue yang sangat dikenalinya.
'Cih,,, apakah aku sudah gila? Aku tidak berniat memasuki toko ini, tapi aku justru melihat kue favoritnya,' batin Bram.
Bram membeli kue yang hanya tinggal satu-satunya dan membawanya ke mobilnya.
"Sekarang kenapa aku membeli ini?" gumam Bram mengangkat kue itu di depan wajahnya.
"Aku bukan pengemar kue, lalu kenapa aku membelinya?" gumamnya lagi.
"Hhaahh,,," desahnya pelan sembari meletakkan kue itu di kursi penumpang. Duduk merenung dengan meletakkan kepalanya di kemudi.
Bram mulai menjalankan mobilnya, berniat pulang, saat menyadari malam semakin larut. Tepat saat Bram behenti dilampu merah, setelah mengambil jalan memutar matanya menagkap sook Ariel hendak menyeberang jalan.
" Ariel???" desis Bram. " Dia baru saja keluar dari toko yang tadi ku datangi? Apakah dia ingin membeli kue ini?" gumamnya pelan.
Bram menepikan mobilnya di dekat sebuah toko bunga. Menunggu Ariel yang tengah menyeberang.
Tepat saat itulah Bram melihat sebuah mobil menabrak Ariel.
Jarak antara Bram dan Ariel berdiri tidak memberinya waktu untuk menyelamatkan Ariel. Ia kembali kehialangan jejak Ariel ketika pria yang menabrak Ariel, memasukan tubuhnya yang berlumuran darah kedalam mobil pria itu.
Tanpa pikir panjang, Bram mengejar mobil yang membawa tubuh Ariel. Hingga ketika ia tiba di rumah sakit, Ia segera menyusul Ariel ketika sebuah tangan menhentikannya.
"Apa-apaan,,?!?!?" sentak Bram menepis tangan yang menahannya.
"Ini benar-benar kamu Bram?" sapa seorang wanita.
"Jesica,,??" sambut Bram terkejut.
"Tidak di sangka, apakah kau mengikutiku? Sungguh tidak tau malu,!" cibir Jesica.
"Mengikutimu? Cih,,, kau pikir kau ini siapa? Aku bahkan tidak bermimpi untuk melihat wajahmu," balas Bram sengit.
"Lalu kenapa kau ada di kota ini?" tanya Jesica sinis.
"Kau bahkan tak berhak untuk mengetahui alasanku berada disini," sambut Bram dingin.
Bram mengabaikan Jesica dan melangkah menuju pintu masuk rumah sakit ketika tiba-tiba ia teringat keberadan Jesica.
'Jika Jesica sampai tau Arie ada disini, aku khawatir Jesica akan berbuat sesuatu pada Ariel. Aku harus mengalihkan perhatiannya lebih dulu. Jesica pasti akan menyelidiki alasanku berada di rumah sakit ini. Aku lebih baik datang lagi besok,' pikir Bram.
Bram merubah langkahnya. Menjauhi pintu masuk rumah sakit dan mengambil jalan memutar untuk kembali menuju mobilnya.
...>>>>>>>>--<<<<<<<<...