
Ariel masih belum meninggalkan area galeri seni ketika Jesica harus pergi lebih dulu karena urusan mendadak.
Saat dirinya akan pergi, suara musik yang mengalun dari tempat yang tak jauh dari tempatnya memarkir mobil membuatnya tertarik.
Ariel menemukan tiga pria memainkan alat musik berbeda bersama-sama. Sayangnya hanya sedikit orang yang mendekati mereka untuk menikmati musik yang mereka mainkan.
Mengurungkan niatnya untuk pulang, Ariel mendekati mereka dan menikmati sebentar permainan musik mereka.
Saat salah satu dari mereka terlihat frustasi karena setelah beberapa lama bermain tetap tidak mendapatkan apapun, Ariel menghampiri pria yang membawa gitar.
"Permisi, bisakah saya meminjam gitar anda sebentar?" tanya Ariel ramah.
"Apakah anda ingin belajar?" jawabnya balas bertanya.
"Tidak, hanya saja, saya hanya ingin melakukan tuning pada gitar anda," jawab Ariel pelan.
"Apa maksudnya?" tanyanya.
"Tolong jangan tersinggung, saya tidak memiliki maksud lain," jawab Ariel.
"Bukan begitu," sanggahnya. "Yang saya maksudkan adalah, apakah anda mendengar ada yang aneh atau anda mengerti tentang gitar?" tanyanya ramah.
"Saya hanya mendengar ada yang bengkok dari nada gitarnya," jelas Ariel.
Pria yang membawa gitar segera melepaskan gitarnya dan memberikannya pada Ariel. Tanpa sepengetahuan Ariel, tak jauh dari tempatnya, Bram terus memperhatikan dirinya.
Ariel mulai memetik gitar itu dengan ringan, dan segera menemukan dimana letak salahnya. Ia mulai menyetel ulang gitar itu, memainkannya dengan lincah sebelum mengembalikan gitar itu pada pemilik gitar.
"Sepertinya gitar itu sudah lama tidak diberi sentuhan," ucap Ariel sembari menyodorkan gitar kembali ke pemiliknya.
"Permainan anda bagus sekali, nona. Maukah anda bergabung bersama kami?" tawarnya.
"Tidak, terima kasih. Ini hanyalah sebuah kebetulan karena saya menyukainya, itu saja," tolak Ariel sopan sembari tersenyum ramah.
"Dan saya sangat menikmati permainan musik yang kalian mainkan, saya yakin banyak dari mereka juga memiliki pemikiran yang sama dengan saya," ucap Ariel tulus.
Sebelum pergi, Ariel memasukan lembaran uang kedalam kotak dan berlalu pergi. Sementara Bram yang menyaksikan hal itu merasa takjub dengan apa yang dilakukan Ariel. Hingga tanpa sadar ia mengejar Ariel dan menghentikannya saat ia akan masuk kedalam mobil.
"Permisi nona," sapa Bram sopan.
Ariel berbalik dan mengerutkan keningnya saat tau siapa orang yang menyapanya.
"Ya?" jawab Ariel datar.
Melihat wajah datar yang ditunjukan Ariel padanya membuat kata-kata yang telah ia susun untuk dikatakan menghilang dari pikirannya begitu saja.
'Uh,,, tadi dia bisa bersikap hangat pada orang-orang itu, kenapa sekarang dia berubah berwajah datar dengan cepat?' keluh Bram dalam hati.
"Ini untukmu," ucap Bram spontan mengulurkan gitar ditangannya.
Ariel menatapnya skeptis, lalu tersenyum kecut.
"Apakah ini usaha anda untuk membuat saya tersinggung?" tanya Ariel dingin.
"Selamat, anda melakukannya dengan sangat baik," sindirnya.
"Apa,?"tanya Bram sedikit panik.
Ia menatap tangannya dan segera mengerti kenapa Ariel bersikp demikian. Secara tidak langsung Bram menunjukan barang yang sempat diincar olehnya dan memberkan itu padanya sama saja seperti meremehkannya.
Ariel memutar tubuhnya dan berniat masuk kedalam mobilnya, namun Bram kembali menahannya.
"Tunggu!" cegah Bram tanpa sadar menarik tangan Ariel.
"Tuan, saya bisa saja menyebut sikap anda ini sebagai pelecehan jika anda terus menarik tangan saya," ucap Ariel tajam.
"Maafkan aku," sesal Bram melepaskan tangan Ariel.
"Tapi tolong, tunggu sebentar, ada yang perlu aku katakan kepadamu," harap Bram.
"Sayangnya saya tidak memiliki hal yang harus saya katakan kepada anda," balas Ariel kembali memutar badannya bersiap masuk mobil.
"Baik,, Baik,," ucap Bram mengangkat tangannya menyerah.
"Saya ingin meminta maaf kepada anda atas sikap buruk saya kepada anda. Sayalah yang salah mengenali payung anda sebagai milik saya, dan saya juga minta maaf atas sikap kasar saya di cafe tadi," papar Bram penuh penyesalan.
Ariel segera menoleh saat mendengar Bram merubah nada bicaranya. Ia menatap lekat wajah Bram untuk mencari tau apa maksud dibalik sikapnya. Namun, Ariel hanya melihat penyesalan dimatanya, permintaan maaf yang diucapkan olehnya adalah permintaan tulus.
"Ini payung anda, nona. Saya benar-benar minta maaf atas sikap saya. Karena payung saya dan milik anda sama persis, itu membuat saya ceroboh mengenali payung saya sendiri," sesal Bram.
Bram menyodorkan payung Ariel dengan kepala tertunduk. Sementara Ariel masih tetap bergeming ditempatnya.
Ariel mendesah pelan, namun segera tatapannya melembut menatap Bram yang masih tertunduk didepannya.
"Permintaan maaf anda saya terima," ucap Ariel.
"Sungguh?" tanya Bram dengan cepat mengangkat kepalanya.
Ariel tersenyum tipis sebagai jawaban. Saat ia hendak menerima payung dari tangan Bram, tiba-tiba hujan kembali turun.
Bram segera membuka payung ditangannya untuk melindungi dirinya dari hujan. Namun tidak segera pergi dari sisi mobil Ariel seolah masih menunggu.
"Bagaimana saya mengembalikan payung anda jika saya kembali membawanya?" tanya Bram saat Ariel menurunkan kaca mobil.
"Anda bisa menitipkan itu di galeri seni ini, dan saya akan mengambilnya besok," jawab Ariel.
"Maaf, saya harus pergi, dan terima kasih karena bersedia mengembalikan payung saya. Selamat malam tuan," ucap Ariel tersenyum.
Bram mematung ditempatnya hingga mobil Ariel hilang dari pandangannya, bahkan ia tidak bisa mengatakan sepatah katapun saat Ariel memintanya untuk menitipkan payung ditangannya.
"Argghhh,,, kenapa aku tidak menanyakan namanya?" rutuk Bram kesal baru menyadarinya.
'Aku terus terpaku pada senyumannya, hingga aku lupa menayakan namanya, dasar bodoh!' rutuk Bram dalam hati.
Bram menengadah dan menatap payung itu, gantungan berbentuk piano dengan dua lonceng kecil mengantung disana, sesekali bergoyang saat ia mengerakkan payung itu ketika melangkah.
Beberapa saat kemudian, Bram menghembuskan nafas lega, lalu tersenyum dan bergegas menuju mobilnya.
'Besok. Besok aku akan bertemu dengannya lagi. Yah,,, Besok, senyuman itu, aku akan melihatnya besok,' batin Bram.
Pada keesokan harinya, Bram menunggu di galeri seni. Tidak sabar untuk bertemu dengan Ariel, nama yang hanya ia dengar ketika teman yang bersamanya malam itu memanggilnya.
Sesekali bram memainkan payung itu ditangannya, memperhatikan gantungan piano itu lebih dekat. Terdapat ukiran inisal nama di gantungan itu, A.E.
"Apakah inisial huruf ini adalah namanya?" gumam bram pelan.
Sekian lama Bram menunggu, Ariel tidak kunjung datang, bahkan hingga malam telah tiba, wanita yang ia tunggu tidak muncul.
Hari berikutnya, Bram kembali menunggu. Berharap kali ini akan bertemu. Namun, sekali lagi Bram kecewa karena Ariel masih tidak datang.
Hingga Bram terus menunggu dihari berikutnya, dan masih mendapatkan hal yang sama. Merasa menyerah, ia memutuskan untuk menitipkan payung itu di malam kedelapan dimana ia terus menunggu dan merasa harapan untuk bertemu telah hilang, saat itu jugalah Bram akhirnya bertemu lagi dengan Ariel.
Mereka bertemu tepat saat Bram baru saja menyerahkan payung itu keseorang petugas penitipan barang hilang dan berpapasan dipintu masuk.
"Kamu_,, ah, (mengelengkan kepalanya) maaf. Apakah anda ingin mengambil payung anda?" tanya Bram canggung.
"Benar," jawab Ariel singkat.
Petugas penitipan barang segera memberikan payung itu kepada Ariel saat ia mengatakan ingin mengambilnya.
Bram menunggu didepan pintu hingga Ariel selesai. Ketika ia melihat Ariel melangkah keluar, Bram menghampiri Ariel.
"Apakah anda membutuhkan sesuatu?" tanya Ariel heran melihat sikap Bram.
"Ah,, tidak. Hanya saja, tidakah anda merasa lebih baik memeriksa payung and dulu?" tanya Bram beralasan.
"Tidak perlu," jawab Ariel singkat.
"Begitukah? Ehm,,, Bolehkah saya menanyakan sesuatu kepada anda nona?" tanya Bram.
"Tentu, apa itu?" jawab Ariel.
"Malam itu anda mengatakan akan mengambil payung itu pada pagi harinya, tapi kenapa anda baru mengambilnya sekarang? Maksud saya itu sudah satu pekan," tanya Bram.
"Ah,, itu. Hanya sedikit tidak enak badan saja karena kelelahan dengan pekerjaan," jawab Ariel.
"Tapi, anda tidak menunggu di sini dan langsung menitipkan payung ini kan?" tanya Ariel.
!DEG,,!
"Ha ha,, tentu saja tidak, kebetulan hari ini saya memiliki urusan disini, dan baru saja menyelesaikannya," kilah Bram sembari mengosok belakang lehernya dengan canggung.
"Ehm,,, Saya Bram, apakah anda keberatan jika saya menanyakan nama anda nona?" tanya Bram sopan seraya mengulurkan tangannya.
"Ariel," sambut Ariel menyambut uluran tangan Bram.
Sejak saat itu, Bram terus berusaha untuk menemui Ariel bagaimanapun caranya. Menciptakan drama kebetulan, mencari tau apa yang disukai dan tidak disukai, hingga dirinya tau bahwa Ariel adalah pelatih alat musik untuk junior pemula yang baru saja belajar musik.
Bram bahkan tau bahwa impian Ariel adalah bisa tampil di panggung untuk pertunjukan solo suatu hari nanti, dan menjadi pelatih untuk mereka yang akan tampil. Bukan hanya sekedar melatih pemula.
Saat hubungan mereka semakin dekat, hingga Bram mengungkapkan perasaannya yang segera dibalas.
Namun, hal yang tidak ia duga adalah dirinya justru berpaling dan tidak bisa menjaga hatinya. Mengkhianati Ariel yang tulus mencintainya dan selalu ada untuknya.
Pada akhirnya Ariel mewujudkan impiannya sendiri. Bram yang pernah berjanji akan membantu Ariel mewujudkan impiannya, seolah tak pernah terucap.
####Flashback Off
Bram mendesah panjang. Menutup matanya dengan sisa perasaannya yang terasa berat.
"Jika aku tidak menghapus foto ini, apakah itu akan baik-baik saja?" gumam Bram pelan.
Menarik nafas dalam-dalam, Bram mengeleng pelan, sebelum akhirnya memuuskan untuk pergi dari area pantai, memberikan waktu untuk Ariel dan Joel bersama.
...>>>>>>>--<<<<<<<...