I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
29.Rasa Kesal



Di toko coklat, Joel tengah bersama Christina untuk membeli coklat yang akan diberikan kepada ibu Christina.


Joel menemani Christina lantaran Cristina menghubunginya dan meminta bantuannya yang segera diterima olehnya kerena ia libur bekerja.


Hal yang disesalinya adalah, ia melupakan janjinya dengan Ariel pergi ketempat David untuk mengambil Cello yang Ariel titipkan disana untuk diperbaiki.


"Tak apa, Joel. Aku bisa pergi sendiri. Akan lebih baik jika kamu besama Christina. Dia memang jauh lebih membutuhkan bantuanmu. Dia masih baru dikota ini," ucap Ariel pagi itu ketika Joel baru saja menerima ajakan Christina.


"Dia pasti akan kecewa jika kamu membatalkan janjimu hanya dalam hitungan menit," ucap Ariel mengingatkan.


"Tapi kaulah yang kecewa sekarang," keluh Joel.


"Aku bisa mengerti, dan aku merasa kamu memang lebih baik menemaninya. Siapa lagi yang akan dia mintai tolong jika bukan kamu, Joel?" bujuk Ariel.


"Lagi pula, tempat David tidaklah jauh," sambungnya.


"Baiklah,,, tapi hubungi aku jika ada seuatu atau apapun itu," pinta Joel.


"Tentu, Joel," jawab Ariel.


Dan disinilah dirinya sekarang. Menemani Christina ditoko coklat. Sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama hanya untuk menghindari Christina mengetahui apa yang Joel rasakan.


Beberapa kali Joel memeriksa ponselnya dan kembali memasukannya kedalam saku celananya.


"Joel, apakah menurutmu ibuku akan menyukainya?" tanya Christina tidak menyadari suasana hati Joel yang terlihat berbeda dari sebelumnya.


"Tentu saja, dia pasti akan menyukainya. Di toko ini coklat itu cukup digemari," terang Joel.


Joel menekan perasaan bersalahnya dan memusatkan perhatiannya pada Christina.


Christina masih sibuk memilih coklat mana yang akan ia berikan untuk ibunya. Sementara Joel kembali memeriksa ponselnya, berharap Ariel mengirimi ia pesan.


Namun matanya justru menangkap sosok Ariel tengah menikmati makan siang bersama Bram. Joel melihat Ariel mencondongkan tubuhnya dan mengusap sudut bibir Bram.


'Apakah karena hal itu, dia tidak mengabariku sama sekali?' gerutu Joel dalam hati.


Tangan Joel terkepal menahan rasa kesalnya. Namun sisi hatinya yang lain masih ingin mempercayai apa yang pernah Ariel katakan padanya.


Bahwa Ariel tidak mungkin mencintai Bram lagi. Tapi sisi hatinya yang satu lagi memikirkan kemungkinan hal itu bisa saja terjadi.


"Joel,," panggil Christina seraya menyentuh bahunya.


"Ah,, Eh,, Ya,? Kenapa? Kamu mengatakan sesuatu?" Joel tersentak saat Christina menyentuh bahunya.


"Ada apa?" tanya Christina cemas.


"Ah,, tidak,,, tidak ada apa-apa. Maaf pikiranku teralihkan," ucap Joel mengarahkan pandangannya pada Christina.


"Apakah kau mengatakan sesuatu,?" tanya Joel.


"Kamu tidak harus terus bersamaku ketika kamu ada kepentingan lain Joel, kau tau itu kan?" jawab Christina.


"Tidak, pikiranku hanya teralihkan sesaat. Bukan karena hal penting," kilah Joel.


"Apakah kamu sudah memutuskan pilihan mana yang akan kamu ambil?" tanya Joel mengalihkan pembicaraan.


"Iya, sudah. Aku bahkan sudah meminta mereka untuk membungkusnya," terang Christina.


"Mau makan siang?" tawar Joel.


"Astaga,,, aku melupakan jam makan siang kita," pekik Christina ketika melihat jam tangannya.


"Maafkan aku, Joel," sesal Chritina.


"Hei,,, tenanglah. Itu tidak terlewat terlalu jauh," ucap Joel tenang.


"Bagaimana kalau kita ke bistrot yang berada diseberang toko ini?" tawar Christina.


"Sepakat," jawab Joel.


'Ku harap Ariel masih disana," batin Joel.


Ketika Christina menyelesaikan pembeliannya, Joel melihat Bram tengah mengandeng Ariel keluar dari Bistrot dan pergi meninggalkan tempat itu dengan Ariel yang memasuki mobil Bram.


"Ayo," ajak Christina menarik tangan Joel menuju Bistrot yang telah mereka sepakati.


Joel hanya menurut saat Christina menarik tangannya. Tak bisa memikirkan hal lain selain Ariel bersama Bram saat itu.


'Apakah Ariel meminta Bram untuk menemaninya karena aku membatalkan janjiku?' pikir Joel.


'Sial,,, jika dia mendekati Ariel lagi, sama saja aku tertinggal satu langkah darinya,' batin Joel.


Joel menikmati makan siang dengan pikiran tidak pada tempat dimana dirinya berada saat ini. Meski begitu, ia masih bisa menutupinya dari Christina hingga dia tidak menyadarinya.


>>>>>>>>>>


Sementara itu, disisi lain di waktu yang sama.


"Venice Boardwalk,?" Ariel mengerutkan keningnya sembari menatap Bram bingung.


"Kenapa membawaku kesini?" tanya Ariel.


"Melepaskan kekesalan_,, mungkin," jawab Bram menaikkan bahunya.


"Maksudmu, bermain skate?" tanya Ariel lagi.


"Tepat," jawab Bram menjentikan jarinya.


"Kau tau dengan jelas kalau aku tak mahir dalam hal itu bukan?" sambut Ariel menyipitkan matanya.


"Oh ayolah,, apakah kau lupa aku menghabiskan waktuku untuk melatih disini," jawab Bram tersenyum penuh kemenangan.


"Selain itu, kamu selalu memyukai skate, entah kamu bisa ataupun tidak, hal itu tidak membuatmu berhenti bermain skate," sambung Bram.


Ariel memutar bola matanya, tidak lagi bisa mengelak.


"Jadi, apakah kau mau bermain?" tany Bram mengulurkan tangannya.


"Atau kita pergi ke apartemenku untuk membuat sesuatu untuk makan malam?" tawar Bram saat Ariel tidak menyambut tangannya.


"Skate pilihan yang lebih baik dari itu," jawab Ariel cepat sembari menyambut tangan Bram.


"Astaga,,, Ariel,, reaksimu seolah mengatakan aku akan memasukan racun kedalam makanan yang akan kamu makan," sambut Bram terbahak.


"Mungkin, racun justru lebih baik dari itu," sambut Ariel trsenyum ngeri ketika mengingat mencicipi masakan yang Bram buat tidak bisa ditelan olehnya.


"Apakah masakanku semengerikan itu?" tanya Bram menepuk dahinya.


"Masakan sopirmu bahkan lebih baik," jawab Ariel.


Mereka tertawa terbahak ketika mengingat hal yang sama saat Ariel mengatakan tentang sopir yang berkerja pada Bram.


"Kurasa aku harus belajar darinya hanya untuk membuatmu terkesan," ucap Bram setelah tawanya mereda.


"Dan berapa lama kau pikir bisa melakukannya?" sambut Ariel tertawa lagi.


"Aku bahkan tidak memikirkan apakah aku akan sanggup atau tidak," jawab Bram.


"Apa kau tau satu hal, Bram?" sambut Ariel.


"Apa itu?" tanya Bram.


"Kau tidak perlu berusaha membuat orang lain terkesan padamu. Dengan apa yang kau miliki, semua orang akan terkesan dengan sendirinya padamu," terang Ariel.


"Itu berarti, kamu adalah pengecualian. Buktinya saja, kamu tidak terkesan padaku," sambut Bram.


"Karena aku sudah lama mengenalmu. Dan sejujurnya aku juga terkesan padamu. Dimana kamu bisa mengelola perusahaan dengan sangat baik, dan menjadi atasan yang baik bagi mereka yang bekerja padamu," ungkap Ariel.


"Tapi aku gagal memperlakukanmu dengan baik," balas Bram menundukkan kepalanya.


"Setiap orang melakukan kesalahan untuk diperbaiki, Bram. Dan kau sudah melakukannya. Kamu memperbaiki apa yang telah kau rusak," ucap Ariel.


"Hal itu juga tidak merubah fakta bahwa aku sudah merusaknya," sangkal Bram.


"Itu tidak benar, aku bisa merasakannya bahwa kamu telah berubah," sanggah Ariel mengelengkan kepalanya. "Setiap orang harus memulai di suatu tempat. Seperti siklus yang mendorongmu untuk menjalani kehidupan," lanjutnya.


"Kau tau? Kamu telah membuka pikiranku untuk hal-hal yang tidak pernah aku duga akan membuatku jatuh cinta," ungkap Bram.


"Tapi dalam hal ini, aku akan selalu mendukungmu apapun keputusan yang kamu ambil. Aku tidak akan memasamu, aku sudah merasa cukup hanya dengan bisa selalu bersamamu sebagai teman seperti sekarang," sambungnya.


Ariel tertegun. Hatinya kembali terusik dengan perbahan Bram, namun juga tidak bisa berhenti memikirkan Joel. Seolah semua usahanya untuk menyangkal perasaannya berakhir sia-sia.


Untuk pertama kalinya, hatinya memutuskan untuk membiarkan semua mengalir begitu saja.


"Dan untuk sekarang,,," ucap Bram mengerakkan kepalanya keluar jendela mobilnya.


"Ayo kita bersenang-senang," ajak Bram.


Ariel tersenyum sekali lagi sebelum menganggukkan kepalanya. Menerima ajakan Bram.


Bram keluar dari mobilnya diikuti Ariel dan membuka bagasinya. Mengeluarkan dua pasang Quad Skate untuk mereka.


"Apakah kau sudah menyiapkan semua ini sejak awal?" tanya Ariel menyipitkan matanya.


"Aku memang selalu membawa ini didalam mobilku," jawab Bram.


"Ya,, ya,, ya,, aku hampir lupa, kau memang selalu membawa itu dimobilmu. Dan bermain dimanapun tempat yang kau kunjungi," sambut Ariel.


Bram tergelak sesaat, dan memandangi dua pasang Quad Skate yang ada ditangannya. Mengingatkannya kembali saat dimana mereka bermain bersama.


Bram membantu Ariel memakainya beserta dengan pengaman siku dan lutut. Tangan yang saling berpegangan, dan memastikan Ariel tetap aman, mereka mulai meluncur dengan diselingi canda tawa. Menikmati waktu menjelang sore yang ditemani hembusan angin laut.


...> >>>>>>--<<<<<<<...