
Joel tersenyum lembut dan mengangguk, ia segera masuk kedalam kamar mandi sementara Ariel menyiapkan pakaian untuknya.
Setelah beberapa menit, Joel keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit dipinggangnya. Butiran air dari rambut yang menetes di dada bidangnya membuat Ariel selama beberapa saat menatap suaminya tanpa berkedip.
"Apa yang kamu lihat?" goda Joel.
"Bukan apa-apa," kilah Ariel segera memalingkan wajahnya.
"Benarkah?" sambut Joel seraya mendekati istrinya.
"Pakaianmu sudah siap, aku mandi dulu," ucap Ariel mengalihkan pembicaraan dan segera melenggang masuk kedalam kamar mandi.
"Manis sekali," ujar Joel terkekeh. "Padahal sudah bertahun-tahun, tapi dia masih bisa menunjukan wajah manis seperti itu," gumamnya.
Joel melihat pakaian yang telah disiapkan istrinya dan kembali tersenyum. Kemeja panjang coklat dan vest dengan warna sama namun sedikit lebih terang, serta celana hitam.
"Bagaimana bisa, dia selalu tau apa yang sedang ingin aku pakai," gumam Joel meraih pakaian yang berada diatas tempat tidur dan segera memakainya.
Saat Joel selesai dengan pakaiannya, Ariel keluar dari kamar mandi dengan balutan bathrobe dan handuk lain menutupi kepalanya.
"Duduklah! aku bantu mengeringkan rambutmu," ucap Joel menepuk kursi yang berada didepan meja rias.
"Apa kamu yakin?" sambut Ariel menyipitkan matanya.
"Apa artinya tatapan itu?" jawab Joel.
"Aku bahkan sering melakukannya setelah kamu melahirkan mereka," sambungnya.
"Aku hanya bercanda," jawab Ariel.
Ariel duduk dengan tenang sementara Joel mengeringkan rambutnya. Hal itu membuat ia teringat dimana ketika istrinya baru melahirkan kedua anaknya.
Disaat sang istri kesulitan untuk melakukan banyak hal, entah bagaimana dirinya menyukai ketika Ariel meminta tolong untuk mengeringkan rambut panjangnya sementara kedua tangannya subuk menyusui anaknya.
Atau disaat istrinya kelelahan dengan pekerjaan dan mengurus kedua anaknya hingga tidak sempat lagi mengurus dirinya sendiri, rambut basahnya pun lebih sering dibiarkan kering dengan sendirinya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Ariel menarik kembali Joel kedalam kenyataan.
"Bukan apa-apa, hanya teringat ini adalah hal yang sering aku lakukan untukmu saat itu," jawab Joel.
"Ah,, saat aku baru saja melahirkan mereka?" tanya Ariel.
"Ya,"
"Itu sudah lama sekali, dan mereka sudah sebesar itu sekarang," sambut Ariel.
Joel mengangguk, hingga ia menghentikan kegiatannya ketika melihat rambut istrinya telah kering. Ia memperhatikan istrinya yang tengah memilih pakaian, tangannya menarik sebuah midi dress tanpa berpikir lama, namun dress itu justru terlihat cocok dengan pakaian yang ia kenakan sekarang.
Midi Dress Sleeveless champagne tanpa lengan dengan menambahkan ikat pinggang yang memiliki warna senada. Rambutnya dibiarkan terurai begitu saja tanpa menambahkan aksesoris apapun, namun justru menambah kesan elegan.
Joel bersandar pada pintu dan melipat kedua tanganya terus memadangi istrinya yang kini merias wajahnya dengan riasan tipis. Ariel segera berbalik setelah merasa selesai dengan riasannya.
"Apa?" tanya Ariel heran melihat suaminya terus memandanginya.
"Apakah aku terlihat aneh?" tanya Ariel.
"...."
"Atau, haruskah aku menata rambutku?" tanya Ariel lagi.
"....."
Ariel menghampiri suaminya yang masih berdiri bersandar pada pintu, melambaikan tangannya didepan wajah suaminya.
Dengan gerakan cepat, Joel mencekal pergelangan tangan Ariel dan segera membaliknya hingga tubuh Ariel yang kini bersandar pada pintu.
"Aku harus memeriksakan mataku jika mengatakan penampilanmu aneh Love. Sebaliknya, aku justru merasa kamu sedang mengodaku sekarang," ucap Joel.
"Bagaimana jika iya?" tantang Ariel meletakkan satu tangannya di dada suaminya.
"Aku berharap kamu mengatakan itu," jawab Joel menyeringai.
Kedua tanganya kini berpindah di pinggang Ariel, menarik tubuh mungil sang istri kearahnya. Sementara Ariel melingkarkan kedua tangannya dileher suaminya.
Tubuh tingginya membungkuk dan menemukan tempat yang selalu ia rindukan, meraup bibir lembut yang telah ia klaim sebagai miliknya beberapa tahun lalu, dan tidak pernah bisa untuk berhenti memujanya.
Joel terus mencium bibir istrinya ketika sebuah ketukan pintu dari luar menyela mereka.
"Daddy,, Mom,, apakah masih lama?"
Suara teriakan Joie menghentikan aktivitas mereka, membuat mereka melepaskan diri dan saling pandang sejenak sebelum akhirnya tertawa pelan.
"Keluarlah lebih dulu sebelum mereka merusak pintu," saran Ariel.
"Aku perlu memperbaiki riasanku," sambungnya.
Joel terkekeh pelan melihat lipstik istrinya sedikit berantakan karena ulahnya. Ia mengecup bibir itu sekali lagi dan bergegas keluar.
"Kenapa Daddy lama sekali?" protes Joie.
Joel memandangi putrinya yang telah siap dengan jens putih panjang dan atasan pendek dengan rambut terikat dan topi baseball putih.
Tanpa diduga, Jordan juga mengenakan pakaian yang senada namun dengan topi baseball hitam.
"Mommy kenapa tidak keluar?" tanya Jordan ketika melihat hanya ayahnya yang keluar.
"Sebentar lagi," jawab Joel.
"Apakah Mom yakin akan pergi dengan penampilan seperti ini?" tanya Jordan memasang wajah tak rela.
"Kenapa?" tanya Ariel heran. "Apakah terlihat aneh?" imbuhnya.
"Kalau ada yang mengoda Mommy bagaimana?" timpal Joie.
"Ehh,,, dari mana kamu belajar bahasa itu?" sambut Ariel terkejut.
"Orang tua teman-teman selalu berkata begitu," jawab Joie langsung jujur.
"Apakah Mommy tidak cocok memakai ini?" tanya Ariel lagi seraya berdiri disamping Joel.
"Uhmm,,, Mommy sangat cantik," jawab Joie.
"Serasi sama Daddy," timpal Jordan.
Ariel tersenyum geli sembari mengelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya yang terasa di luar dugaannya.
"Ayo pergi," ajak Joel.
Mereka mengangguk dan segera keluar rumah, menaiki mobil yang telah berada di luar. Hingga suara deru mesin terdengar mulai menjauh dari rumah mereka.
Mobil yang dikemudikan Joel berhenti didepan sebuah restaurant yang telah ia reservasi sebelumnya. Saudara kembar itu tanpa menunggu kedua orang tuanya lebih dulu keluar dari mobil dengan antusias.
Jordan segera mengandeng tangan Ariel, sementara Joie mengandeng tangan Joel. Seolah mengatakan pada semua orang bahwa kedua orang tuanya hanya milik mereka.
Joel tak luput dengan mengandeng tangan istrinya, membuat kehadiran mereka di restoran itu menjadi pusat perhatian dimana pasangan dengan anak kembar laki-laki dan perempuan sangat jarang ditemukan.
Mereka segera diarahkan ke meja yang telah dipesan. Ketika seorang pelayan akan melakukan pelayanan mereka, Jordan bergerak lebih dulu menarik kursi untuk ibunya.
Hal yang sama juga terjadi dengan Joie yang menarik kursi untuk ayahnya. Membuat Joel menatapnya selama beberapa saat, lalu tersenyum.
"Bukankah itu seharusnya terbalik,?" tanya Joel.
"Tidak apa-apa kan, Dad? Aku kan hanya manarik kursi untuk Daddy saja, kalau sama orang lain, tidak mau," jawab Joie polos.
Sikap saudara kembar itu membuat pelayan yang akan melayani mereka menatap kagum dengan kesopanan yang mereka miliki. Pelayan segera menarik kursi untuk dua bersaudara dan menyapa ramah tamu mereka seraya memberikan buku menu pada mereka.
"Baiklah, sekarang katakan apa yang ingin kalian makan?" tanya Joel.
"Uhm,,, Apakah kita bisa pesan satu set menu keluarga saja, Dad?" tanya Jordan.
"Kenapa?" Joel balas bertanya.
"Lebih cepat," timpal Joie.
"Apa Daddy lupa? Jo kan tidak bisa menahan lapar," ledeknya.
"Padahal kamu juga sama," balas Jordan.
"Siapa bilan_,,,"
"Joie,,,!" panggil Ariel.
Kalimat Joie terputus begitu saja saat ibunya memotong lebih cepat.
"Maaf, Mom," ucap Joie menunduk.
"Hey,,, maksud Mommy, kita bisa pesan menu keluarga, tapi kamu juga bisa pesan menu tambahan lain," jelas Ariel.
"Tidak, Mom! Menu keluarga saja kita belum tentu bisa menghabiskannya," tolak Joie
"Bagaimana dengan deseert?" tawar Joel.
"Daddy saja yang pilihkan," jawab Joie dan Jordan serentak.
"Bagaimana denganmu, Love?" tanya Joel beralih pada istrinya.
"Aku mengikuti mereka," jawab Ariel. "Kamu lebih bisa diandalkan dalam memilih menu," imbuhnya.
"Okey,,, kalau begitu kalian dilarang protes," jawab Joel.
Pelayan segera mencatat menu yang di pesan Joel dan berlalu pergi setelah selesai mencatat semua menu yang diinginkan.
"Dad,," panggil Joie.
"Ada apa?" jawab Joel.
"Apakah setelah makan malam kita bisa jalan-jalan sebentar?" harap Joie.
"Boleh saja, kemana?" jawab Joel balas bertanya.
"Pusat perbelanjaan, aku ingin main arcade," jawab Joie.
"Baiklah, kita akan kesana setelah ini," jawab Joel.
"Asikk,,," sambut Joie girang sembari mengosok kedua telapak tangannya.
Ariel tersenyum lembut memandangi suaminya yang menuruti keinginan anaknya, namun ada saat dimana suaminya juga bisa menempatkan diri untuk bersikap tegas, membuat kedua anaknya tidak bersikap egois dan ingin menang sendiri. Hingga saat pesanan mereka telah datang, mereka menikmati makan malam mereka dengan menerapkan standar etika makan di luar yang berbeda dengan ketika mereka makan di rumah.
...>>>>>>>>--<<<<<<<...
...See You Next Ya :) :) :)...