I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
68. Membeli Cello untuk seseorang



### Satu minggu kemudian....


Seorang wanita dengan pakaian casual dengan rambut terikat dan topi baseball dikepalanya tengah berdiri didepan sebuah pusat perbelanjaan.


Ia bersandar didinding seolah tengah melakukan pose pemotretan hingga beberapa orang meliriknya, sesekali matanya melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Merasa tidak ingin menarik perhatian, ia mengeluarkan ponselnya, memainkannya untuk sekedar menyibukkan diri. Satu tangannya ia masukkan kedalam saku celana.


"Hah,,Hahh,, maaf,, maaf,, aku terlambat," suara wanita lain yang menghampirinya dengan berlari dan berhenti dengan terengah-engah didepan wanita itu.


"Apakah kau baru saja berlari, Charlie?" sambut wanita itu yag tidak lain adalah Ariel.


"Aku mendapat tugas tambahan sebelum jam kerjaku selesai, dan aku tidak menyangka akan selesai lebih lama," paparnya dengan wajah menyesal.


"Kamu datang sudah lebih dari cukup untuk menghilangkan kecemasanku, Charlie. Aku sempat berpikir terjadi sesuatu padamu," hibur Ariel.


"Padahal aku sendiri yang meminta bantuanmu, tapi aku sendiri yang datang terlambat," sesalnya.


"Itu bukan keadaan dimana kamu bisa selalu mengatasinya," jawab Ariel.


"Mau cari minum?" tawar Ariel tak tega melihat Charlie seperti kehabisan nafas.


"Hanya jika kau mau menerima minuman yang akan kuberikan padamu," jawab Charlie meringis merasa bersalah.


"Baiklah, jika itu akan membantu membuatmu lebih baik," jawab Ariel.


"Ayo!" ajak Charlie.


Ariel mengikuti Charlie, berjalan beriringan masuk kedalam pusat perbelanjaan. Mereka mulai berkeliling setelah membeli minuman kaleng untuk menemani langkah mereka.


"Aku terkejut kamu memiliki seorang adik. Aku sempat berpikir kamu anak tunggal," ujar Ariel membuka pembicaraan.


"Sebenarnya, aku juga belum lama ini mengetahui hal itu," terang Charlie.


"Tentu kamu memiliki alasan tentang itu bukan?" sambut Ariel tersenyum tanpa desakan pertanyaan.


"Tapi, sungguh, aku kagum padamu yang mengambil alih untuk menjaganya," Ariel menunjukan wajah tulus.


"Aku hanya melakukan apa yang memang harus aku lakukan," jawab Charlie.


"Jadi, alat musik apa yang ingin kamu berikan padanya sebagai hadiah?" tanya Ariel.


Charlie berpikir sejenak, sementara Ariel menunggu dengan sabar, bisa memahaminya tanpa mendesaknya.


Mereka terus berjalan hingga tiba didepan sebuah toko besar yang menjual berbagai macam alat musik.


"Aku memikirkan Cello, karena dia sangat menyukai Cello," jawab Charlie setelah jeda panjang.


"Tapi,,,?" Ariel manaikan sebelah alisnya, seolah membaca pikiran Charlie.


"Aku tidak tau Cello seperti apa yang dia sukai," terang Charlie.


"Seperti apa adikmu?" tanya Ariel.


"Maksudmu?" Charlie menaikkan satu alisnya.


"Maksudku, karakter yang dia miliki," jawab Ariel.


"Apakah itu berhubungan dengan dia yang menyukai Cello?" tanya Charlie.


"Tentu saja," jawab Ariel.


"Karena kami tidak terlalu dekat, aku hanya bisa mengatakan dia sedikit keras kepala, tapi terkadang aku melihatnya bersikap lembut meski bukan ditujukan untukku, dan sedikit pemberontak," papar Charlie.


"Kalau begitu, Cello memang cocok untuknya. Aku hanya menyarankan saja, keputusan tetap berada ditanganmu," ujar Ariel.


Mereka mulai memilih, Ariel membelai lembut Cello yang ia lihat dengan ukiran halus di leher Cello.


"Bagaimana menurutmu dengan ini?" tanya Ariel.


Charlie mengamati Cello yang dipilih Ariel dan menyukainya. Ia menanyakan harga itu pada pemilik toko.


Ariel mengangkat Cello itu dengan hati-hati, lalu duduk dikursi yang ada di sana, tangannya mulai memainkan Cello itu dengan lembut seraya memposisikan senar Cello agar iramanya sesuai.


Charlie terpana tatkala melihat Ariel memainkan Cello yang akan ia beli. Ia menjadi semakin yakin membelinya saat Ariel dengan sempurna menyetel senar Cello itu.


"Wah,, nona, permainan anda sungguh indah," puji penjaga toko.


"Hanya kebetulan," sambut Ariel ramah.


Penjaga toko itu memasukkan Cello kedalam koper sebelum menyerahkannya kepada Charlie, dan menyelesaikan pembayaran.


"Terima kasih banyak, Ariel. Aku sangat terbantu," ucap Charlie.


Mereka meninggalkan toko alat musik dan masuk kedalam cafetaria untuk mengisi perut.


"Tapi aku terkejut kamu bisa memainkan Cello," ungkap Charlie.


"Aku pemusik, Charlie. Bukan pianis," sambut Ariel tertawa ringan.


"Ahh,, kau benar, aku hampir melupakan itu karena hanya melihatmu memainkan piano," jawab Charlie.


Mereka memilih tempat duduk yang segera dihampiri pelayan yang mencatat pesanan mereka. Selesai dengan pesanan,pelayan itu pergi untuk sementara.


"Tapi, katakan padaku, apakah adikmu juga berlatih musik disuatu tempat?" tanya Ariel.


"Ya, dia melakukannya. Tapi, aku tidak tau dimana dia berlatih," jawab Charlie.


"Bagaimana?" Ariel manautkan kedua alisnya tidak mengerti.


"Dia berangkat setelah aku bekerja dan pulang sebelum aku pulang," terang Charlie.


"Baiklah, sekarang aku setuju saat kau menyebutnya keras kepala," ucap Ariel berkomentar.


"Ha ha ha,,, yah,, tapi aku senang dia bersamaku," ungkapnya.


"Itu terlihat sangat jelas bahwa kau menyayanginya," balas Ariel.


"Hei,, omong-omong, aku belum pernah mendengar tentangmu selain kamu seorang pemusik, bagaimana dengan keluargamu?" tanya Charlie.


Jeda keheningan berlangsung hingga pelayan kembali dengan pesanan mereka, dan meletakkannya didepan mereka.


"Apakah aku menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak ku tanyakan?" ucap Charlie lagi merasa bersalah.


Charlie tau kisah Ariel dari Bram, namun ia hanya ingin memastikan bagaimana dengan tanggapan Ariel sendiri.


"Pertanyaanmu tidaklah salah, Charlie," jawab Ariel.


"Hanya saja, aku tidak tau bagaimana caranya aku menceritakan itu disaat aku tidak memiliki kisah untuk ku ceritakan padamu," terang Ariel.


"Maksudmu? Aku tidak mengerti," sambut Charlie.


"Aku tidak bersama mereka entah sejak kapan aku tidak begitu mengingatnya, tapi itu terjadi saat aku masih kecil, mungkin sekitar umur lima tahun," ungkap Ariel mulai menyuap gelato kemulutnya.


"Uhmmm,,,, ini lembut dan dingin," Ariel berbicara dengan memberi komentar pada apa yang ia makan dengan menutup mata.


"Kau akan menjadi vloger makanan terpayah dengan cara seperti itu," celetuk Charlie tertawa.


"Percayalah, aku bahkan tidak pernah memimpikan hal itu," sambut Ariel dengan wajah ngeri.


Reaksi Ariel membuat Charlie tidak bisa menahan tawanya. Ia merasa bagaimana bisa seorang Ariel yang diceritakan Bram dan Ariel yang ada didepannya adalah orang yang sama? Bagaimana cara Ariel menyembunyikan dengan sangat rapat hal yang menimpanya?


Charlie hanya bisa tersenyum tipis membayangkan seorang gadis kecil dengan hidup keras yang dijalani dan kini menjadi sosok lembut dan tengah duduk didepannya.


"Apa yang membuatmu tidak bersama mereka? Maksudku, apakah kamu bersama nenek atau sanak saudara?" tanya Charlie lagi seraya mengigit burgernya.


"Tidak," Ariel mengeleng pelan masih terus menyuap gelato kemulutnya.


"Mereka hanya tidak menyukaiku dan aku memilih jalan hidupku sendiri_,,, mungkin," jawab Ariel sedikit ragu.


Ia menatap gelato disendok yang ia pegang didepan wajahnya, seolah memikirkan ulang jawaban yang akan ia keluarkan.


"Kau memilih jalan hidupmu sediri di usia itu? Apa kau gila?" sembur Charlie.


"Bukankah biar bagaimanapun juga mereka adalah orang tuamu? Mereka bisa saja mengkhawatirkanmu_,,,"


"Mereka dengan sengaja membuangku, Charlie," potong Ariel.


"Mereka membuangku disaat aku sedang demam tinggi, meletakkanku di bangunan hampir roboh dan meninggalkanku hanya dengan pakaian yang melekat ditubuhku. Kurasa terdengar konyol jika mereka khawatir," sambungnya tertawa sumbang.


"Haahhh,,, lega sekali rasanya bisa mengeluarkan kalimat itu setelah bertahun-tahun memendamnya," ungkapnya.


Ariel merenggangkan badannya, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Maaf, Ariel. Aku menyesal telah membuatmu kembali mengingat hal yang seharusnya kamu lupakan," sesal Charlie.


Sungguh ia tak menyangka cerita langsung dari Ariel justru terdengar lebih menyesakkan baginya. Charlie tak pernah membayangkan bagaimana orang tua bisa begitu kejam meninggalkan anak mereka dalam keadaan sakit dan tanpa apapun?


"Tak perlu menyesal, aku bahkan tidak bisa melupakannya walau aku sangat ingin. Hanya saja aku tidak lagi mengingat wajah mereka, dan aku bersyukur akan hal itu," tutur Ariel kembali tersenyum hangat.


"Kau wanita hebat pertama yang aku kenal, dan betapa beruntungnya aku bisa mengenalmu," ungkap Charlie tulus.


"Aku bahkan lebih beruntung mengenal petugas wanita hebat sepertimu," balas Ariel.


Mereka saling melempar senyum, lalu tertawa. Ariel melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, dan memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka.


Mereka berpisah didepan pusat perbelanjaan dengan tujuan yang berbeda. Ariel memacu mobilnya menuju rumah sakit, berharap bisa bertemu dengan Joel setelah satu minggu ini tidak bisa bertemu dengannya.


Bahkan menghubunginya sedikit lebih sulit dalam tiga hari terakhir. Terkadang dirinya sendiri begitu sibuk hingga tidak bisa menerima panggilan dari Joel.


Ariel sengaja memakai topi dan menyembunyikan rambutnya didalam topi. Menutupi wajahnya menggunakan masker hitam dan memakai kacamata bening, serta menyemprotkan parfum yang tak pernah ia pakai.


Bercermin sekali lagi, Ariel keluar dari mobil dan melangkah dengan langkah ringan menuju ruangan Joel.


Tok,,,


Tok,,,


Tok,,,


Ariel mengetuk pintu pelan, dan menyembunyikan senyum lebarnya dibalik masker.


"Masuk,,"


Terdengar suara dari dalam menjawab, suara sesorang yang ia rindukan, dan Ariel juga tau pasti sekarang adalah jam pulang bagi Joel.


Terbukti, saat Ariel membuka pintu, Joel segera merubah raut wajahnya yang kecewa menjadi senyum hangat, menyambut ramah pasien yang datang meski itu hanya sekedar cek kesehatan.


"Uhuk,,, permisi dokter, apakah saya datang diwaktu yang tidak tepat?" tanya Ariel.


Dengan sengaja, Ariel merubah suaranya menjadi serak, seolah tengah terserang batuk akut.


"Ah,, tidak sama sekali, mari silahkan," sambut Joel mempersilahkan pasien duduk.


"Saya hanya melihat,, uhuk uhuk,, dokter seperti mengatakan agar saya menemui dokter lain,"


Seketika Joel tercekat, seolah ditodong senjata ketika ucapan orang didepannya mengenai sasaran tepat. Sementara Ariel berusaha menahan tawanya.


...>>>>>>>--<<<<<<<...