
"Eeehhh,,,,"
.....
.....
Baik Ken maupun Charlie saling pandang satu sama lain. Mempertanyakan hal yang sama.
"Kapan kami pernah bertemu?" tanya Charlie dan Ken serentak.
"Eehh,,, Bagaimana bisa kalian berdua sama-sama melupakannya?" sambut Ariel heran.
Ariel menatap dua kakak beradik di depannya yang tengah menatapnya seolah meminta penjelasan.
"Ingat saat kau datang ke tempatku? Maksudku studio," tanya Ariel menghadap Charlie.
"Ya, aku ingat. Aku datang bersama Joel dan Bram. Lalu?" jawab Charlie kembali bertanya.
"Haahh,,,," desah Ariel.
"Kau bertemu dengannya disana, dan bertemu lagi di pertunjukan musik dimana Ken tampil," jelas Ariel.
"Ken,, kau bahkan membawakan minuman untuknya, apa kau juga melupakannya?" tanya Ariel beralih ke arah Ken.
"Aku,,,, tidak mengingatnya sama sekali," jawab Ken menunduk. "Aku hanya ingat kak Joel dan kak Bram," imbuhnya.
"Kompak sekali," sindir Ariel.
Ariel memandangi mereka berdua secara bergantian, lalu tertawa.
"Aku tidak tau bagaimana harus menyebutnya, ini kebetulan yang terlalu mengejutkan," ucap Ariel.
Charlie mempersilahkan Ariel duduk seraya mengambilkan roti lapis panggang yang ia buat.
Tanpa sadar, Ken juga ikut duduk, memunculkan kerutan tajam di dahi Charlie.
"Tak biasanya kau tetap duduk ketika aku kedatangan seorang teman, kenapa?" sindir Charlie.
"Karena yang datang kak Ariel, kenapa aku tidak bisa menemaninya?" balas Ken.
"Karena aku yang memintanya untuk datang, dan ini urusan kami para wanita, kau mengerti?" jawab Charlie.
"Hanya karena kau yang meminta kak Ariel untuk datang, itu bukan alasan aku tidak bisa menemani kak Ariel," balas Ken.
"Kau bahkan tidak pernah memanggilku kakak," cibir Charlie.
"Dan kau iri akan hal itu?" ledek Ken.
"Omong kosong! Kenapa aku harus iri dengan hal konyol seperti it_,,,,"
"Woow,, Charlie, roti lapis ini enak, apa kau membuatnya sendiri?" sela Ariel memotong ucapan Charlie.
"Eh,, Ah,, iya, aku membuatnya sendiri, senang mendengarnya kalau kau menyukainya," sambut Charlie sedikit tergagap, hampir melupakan ada Ariel disana.
Ariel menyadari kekakuan diantara keduanya, dan memutuskan untuk menyela pertengkaran kecil mereka. Bahkan Ariel juga merasakan adanya emosi dalam suara Charlie, namun tidak bisa menebak apa alasannya.
"Melihat kalian berdua, sekarang aku mengerti kenapa kalian baru bertemu setelah sekian lama terpisah," ucap Ariel sembari mengigit roti lapis ditangannya.
"Kenapa?"
Sekali lagi, Charlie dan Ken mengucapkan kalimat yang sama, menumbuhkan senyum lembut diwajah Ariel.
"Kalian memiliki emosi yang sama, dimana ketika kalian merasa lelah menahannya itu akan meledak dengan cara yang sama," ucap Ariel.
"Akan tetapi, kalian saling peduli satu sama lain. Kalian hanya perlu saling terbuka sedikit saja," lanjutnya.
"Apa hubungannya?" sambut Ken.
"Tidak ada," jawab Ariel cepat.
"Eh,,,?" Ken menatap Ariel dengan wajah bingung.
"Aku sedang membicarakan tentang Joel dan Bram," ucap Ariel mengelak.
Namun, Ariel tau Charlie menangkap apa maksud perkataan yang ia katakan sebenarnya. Charlie menyadari bahwa Ariel merasakan kekesalan didalam hatinya.
"Mereka selalu bertengkar, namun pada akhirnya mereka juga saling peduli, meski menunjukknnya dengan cara yang sedikit berbeda. Bahkan, kalaupun pertengkaran itu tidak ada pada awalnya, namun sikap sederhana mereka justru menunjukkannya dengan sangat jelas, dan aku melihat hal yang sama dalam diri kalian berdua," jelas Ariel.
"Baiklah, ku akui, aku memang sedang sedikit kesal dengannya. Dan aku tak menyangka kau menyadarinya dengan cepat," jawab Charlie mengangkat kedua tangannya.
"Haruskah aku mengatakan bahwa kau cukup buruk dalam menyembunyikan emosimu?" goda Ariel.
"Jangan bercanda! Kaulah yang mengerikan dengan ketajaman perasaanmu," tukas Charlie.
Tak lama kemudian Charlie tertawa, merasakan sedikit lega di hatinya melihat Ariel bersikap biasa saja didepan Ken. Namun, ia masih harus memastikan satu hal lagi.
"Omong-omong, jika kamu yang melatih Ken selama ini, itu berarti orang yang diajak Ken dipertemuan bisnis keluarga kami, apakah itu kamu?" tanya Charlie.
"Benar," jawab Ariel.
Disamping Ariel, Ken tampak gelisah dalam duduknya. Ia tidak menyangka Charlie akan bertanya tentang itu secara langsung pada Ariel. Ken sudah menyembunyikan tentang pertemuan bisnis itu dari Charlie, tapi Charlie menyelidiki hal itu lebih jauh dari perkiraannya.
"Benarkah?" sambut Charlie melebarkan matanya.
"Tampaknya aku memperlihatkan sisi keluargaku yang sedikit menyebalkan," ujar Charlie.
"Dan Ken berhasil membungkam mereka dengan sangat baik," jawab Ariel.
"Apa??" seru Charlie terkejut.
"Astaga,,, kau bahkan tak mengetahuinya? Berapa banyak rahasia yang saling kalian tutupi?" sambut Ariel menepuk dahinya.
Charlie mengosok belakang lehernya dengan canggung. Sementara Ken hanya terdiam. Memikirkan kembali semua sikapnya selama ia tinggal bersama Charlie.
Baik Charlie dan Ariel kembali mengobrol, bahkan saat Ariel menyelesaikan makannya, Ken segera membereskan semua peralatan dan mencucinya, termasuk peralatan makan Charlie.
Hingga, dering ponsel Ariel menyela mereka, membuat mereka menghentikan pembicaraan yang sedang berjalan.
"Tunggu sebentar," ucap Ariel seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Ya?" sambut Ariel.
"Baiklah, aku keluar sekarang," jawab Ariel lagi.
Sesaat setelah Ariel mengakhiri panggilannya, Charlie menatapnya dengan tatapan jahil.
"Hooo,,, seberapa dekat sekarang kamu dengan Joel?" goda Charlie.
"Kau teman yang buruk jika sampai tidak tau bahwa kak Ariel dan kak Joel adalah sepasang kekasih," celetuk Ken.
"Heee,,, benarkah? Dan kau tak mengatakan apapun padaku?" sambut Charlie.
"Itu karena dia sendiri yang memintanya, dia hanya tidak ingin hubungan kami merubah hubungan lain yang sudah terjalin," jelas Ariel.
"Ahh,, aku mengerti, itu berkaitan dengan Bram," balas Charlie mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Terima kasih banyak untuk hari ini, Charlie. Aku sangat menikmati makan bersama kalian berdua," ucap Ariel.
Charlie mengantar Ariel sampai didepan rumahnya, dimana mobil Joel sudah menunggu.
"Jujur saja, aku sangat senang dia kembali tersenyum seperti itu, dan itu semua berkatmu," ucap Charlie dengan tulus.
"Aku juga sangat berterima kasih karena kakak membantu memperbaiki hubungan kami," timpal Ken.
Charlie menoleh kearah Ken dengan cepat. Raut wajahnya berbeda dari sebelumnya. Obrolan singkat dengan Ariel hari ini, tanpa sengaja justru membuka hati Ken bahwa ia memang peduli akan Charlie, kakak perempuan satu-satunya yang ia miliki, termasuk satu-satunya keluarga yang mendukungnya.
"Aku tidak tau pasti dengan apa yang aku lakukan, tapi aku bisa merasakan kasih sayang yang terjalin dihubungan kalian meskipun itu masih terasa baru," tutur Ariel.
"Baiklah, aku tidak akan menahanmu lebih lama, pergilah, dia sudah menunggumu," goda Charlie sembari melirik kearah Joel.
"Baiklah, sampai jumpa lagi, Charlie, Ken," ucap Ariel menatap mereka secara bergantian.
"Sampai jumpa, dan selamat bersenang-senang," sambut Charlie dan Ken serentak.
Ariel kembali tertawa melihat tingkah mereka, lalu berbalik dan meninggalkan rumah mereka menuju mobil Joel yang sudah menunggunya.
Baik Charlie dan juga Ken kembali masuk kedalam rumah setelah mobil Joel pergi dengan Ken berada di belakang. Ia menatap punggung Charlie dengan rasa bersalah. Ketika Ken menutup pintu, ia kembali membuka suara.
"Aku tidak melakukan apapun padanya, sungguh,"
Perkataan Ken yang tiba-tiba berhasil membuat Charlie berhenti, lalu berbalik menatap Ken dengan alis terangkat.
"Seorang wanita menyarankan hal itu, dan dengan bodohnya aku menerima tawarannya. Tapi, aku bersumpah aku tidak tau apapun tentang obat itu, dia hanya mengatakan ingin membantuku mendapatkannya, lalu memberika sisa obatnya padaku,"
"Aku bahkan terkejut saat mendengar obat itu memiliki efek samping. Aku benar-benar tidak melakukan apapun padanya, maksudku_,,, itu hampir, tapi aku benar-benar tidak melakukannya,"
"Tolong, percayalah padaku satu kali ini, kak. Aku minta maaf,"
Ken mengucapkan semuanya dengan suara begetar, dan penuh rasa penyesalan. Satu kata yang sangat mengejutkan Charlie adalah, Ken memanggilnya 'KAK' .
"Apa kau mencintai, Ariel?" tanya Charlie.
Ken menundukkan kepalanya, lalu mengangguk pelan.
"Tapi aku tau bukan aku yang dia cintai, dan aku bisa menerimanya sekarang," ucap Ken lirih.
"Apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Charlie lagi.
"Kak Ariel mengatakan hal yang membuatku menyadarinya," jawab Ken masih mnundukkan kepalanya.
"Lalu, siapa wanita itu?" tanya Charlie.
"Aku tidak mengenalnya, tapi dia mengenal kak Ariel. Dan sekarang aku juga sadar wanita itu membenci kak Ariel," terang Ken mengangkat wajahnya, membuat mata mereka saling bertemu.
Charlie melihat kejujuran di mata Ken, namun masih belum memberikan respon atas pengakuan yang Ken katakan.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, apa yang harus aku lakukan untuk membuat kakak percaya padaku?" desah Ken putus asa.
Charlie tersenyum, lalu memeluk sang adik dengan pelukan hangat. Pada awalnya, Ken terkejut, namun sesaat kemudian ia merasakan kehagatan keluarga yang tak pernah ia rasakan.
"Aku percaya padamu," ucap Charlie ditelinga Ken.
Mendengar hal itu, Ken membalas pelukan sang kakak dengan hati terbuka. Menerima sepenuhnya sosok kakak yang hadir untuknya.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
Beberapa saat sebelumnya.....
Joel baru saja keluar dari rumah sakit setelah memeriksa jadwal cutinya. Ia datang ke rumah sakit setelah mengantar Ariel ke rumah Charlie pagi ini. Dan berencana menjemputnya setelah urusan dirumah sakit selesai.
Dalam perjalanan, ia menyempatkan untuk singgah di sebuah butik untuk membeli coat dan juga syal untuk Ariel.
Namun, saat ia keluar dari butik, ia merasakan seseorang mengikutinya. Bahkan, ketika ia masuk kedalam mobil, orang itu juga mengikutinya menggunakan mobil. Saat ia menambah kecepatan mobilnya pun, kecepatan mobil yang mengikutinya juga melakukan hal sama.
Hingga, ia memilih untuk mangambil jalan memutar untuk mencapai rumah Charlie, berusaha mengecoh orang yang mengikutinya. Setelah beberapa kali ia berbelok dan akhirnya mobil itu tak lagi terlihat, Joel menghembuskan nafas lega.
Merasa telah lolos, ia pun menuju rumah Charlie, dan mengeluarkan ponselnya setelah berada tepat didepan rumah Charlie.
"Hai, Sweety, aku sudah selesai. Bagaimana denganmu?" ucap Joel dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
"Kamu sudah selesai? Cepat sekali, apa kau yakin?" sambut Ariel
"Tentu saja, aku sudah didepan sekarang," jawab Joel.
"Baiklah," jawab Ariel.
Joel mengakhiri panggilannya dan tetap menunggu didalam mobil saat melihat Charlie, dan juga Ken mengantar Ariel sampai didepan rumah.
Mereka mengatakan sesuatu yang tidak Joel dengar, namun satu pertanyaan besar ada didalam pikirannya.
'Kenapa Ken bisa berada disana?'
Ariel masuk kedalam mobilnya setelah melambaikan tangan kepada Charlie dan juga Ken.
.....
.
.